Chapter Eighteen
Izin Tanpa Harapan
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bu Ratna, Bintang, Damar (lewat pesan)
Ibu menungguku di ruang tamu.
Aku pikir dia sudah tidur. Lampu ruang tamu mati dan TV mati, dan aku sudah menyiapkan diri untuk menyelinap ke kamar dan menangis di lantai seperti biasa.
Tapi begitu aku menutup pintu, ada suara dari kegelapan:
“Udah pulang orangnya?”
Aku hampir menjerit.
“Ya ampun, Bu.”
Ibu menyalakan lampu. Dia duduk di kursi rotan dengan selimut di pangkuan, dan aku tidak tahu sudah berapa lama dia di situ.
“Duduk.”
“Bu, aku capek—“
“Duduk, Allysa.”
Aku duduk.
Ibu memandangiku agak lama. Rambutnya sudah dilepas dari ikatan; itu artinya dia sudah siap tidur sejak tadi dan memilih untuk tidak.
“Itu tadi yang namanya Bintang,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Iya.”
“Yang teriak-teriak di gang.”
“...Iya.”
“Yang kamu tungguin di halte sampe jam sembilan malem setahun lalu.”
Aku mengangkat wajah.
Ibu balas menatapku dengan ekspresi yang membuatku merasa berumur sembilan tahun lagi.
“Kamu kira Ibu nggak tau?” katanya. “Kamu pulang basah kuyup, bawa payung yang kering. Payungnya kering, Lys. Berarti kamu berdiri di halte dan nggak pernah bukain payungnya.”
Aku menunduk ke lantai.
“Terus habis itu tiap malem kamu nangis di kamar.”
“Aku nggak—“
“Rumah ini kecil.” Ibu mengangkat bahu. “Ibu denger semuanya. Ibu cuma nggak nanya.”
Kulkas berdengung dari arah dapur.
“Kenapa Ibu nggak nanya?” kataku pelan.
Dan Ibu diam agak lama sebelum menjawab.
“Karena Ibu nggak tau caranya,” katanya akhirnya. “Sama kamu.”
Dan itu — dari semua yang terjadi malam itu, dari semua yang terjadi sepanjang empat ratus empat puluh hari terakhir — itu yang akhirnya membuatku menangis di depan ibuku untuk pertama kalinya sejak SD.
Aku menangis di kursi rotan itu dengan cara yang tidak bisa kukendalikan, dan Ibu tidak memelukku, karena kami bukan keluarga yang berpelukan, karena kami tidak pernah diajari.
Dia cuma mengulurkan tangan dan menaruhnya di lututku.
Dan dia membiarkannya di situ sampai aku selesai.
Yang terjadi setelah malam itu adalah sesuatu yang paling sulit kutulis, karena tidak ada dramanya sama sekali.
Bintang menepati apa yang dia katakan di depan pagar, dan aku menepati apa yang tidak kukatakan.
Aku boleh mengirim pesan. Aku mengirim, kira-kira dua minggu sekali.
Dan sekarang dia membalas.
Bukan panjang. Bukan hangat.
Aku lagi ngerjain buku baru. Tentang anak yang takut gelap.
Bagus. Semoga lancar.
Itu contoh percakapan terpanjang kami di tiga bulan pertama.
Dan aku ingin menuliskan sesuatu di sini yang mungkin terdengar aneh: balasan itu lebih menyakitkan daripada diamnya.
Waktu dia tidak membalas sama sekali, aku bisa mengarang apa pun di kepalaku. Mungkin dia membacanya sambil tersenyum. Mungkin dia menyimpan satu-dua yang berkesan. Mungkin ada malam di mana dia hampir membalas dan tidak jadi.
Sekarang aku punya bukti tertulis tentang persis seberapa besar tempatku di dalam hidupnya.
Enam kata. Bagus. Semoga lancar.
Tidak ada kemarahan di dalamnya. Tidak ada dendam. Tidak ada satu pun jejak dari sepuluh tahun.
Dia benar. Yang dulu ada di sana memang sudah tidak ada. Bukan pindah, bukan disimpan.
Nggak ada.
Ada satu percakapan di bulan kedua yang tidak akan pernah kulupakan.
Kami bertemu — tidak sengaja, sungguh tidak sengaja, aku bersumpah — di toko buku di mal Blok M. Aku sedang mencari buku untuk keponakan Bu Ratna. Dia sedang berdiri di rak buku anak, memegang dua buku bergambar, membandingkannya.
Aku hampir berbalik dan pergi.
Tapi dia sudah melihatku.
“Eh,” katanya. “Halo.”
“Halo.”
Kami berdiri di lorong rak buku anak selama beberapa detik yang canggung.
“Kamu—“ Dia mengangkat buku di tangan kanannya. “Ini bagus nggak? Buat anak lima tahun.”
Aku mengerjap.
“Aku nggak tau apa-apa soal anak lima tahun.”
“Ya aku juga nggak.” Dia mengangkat bahu. “Cuma kata orang kantor, kalau mau tau bukumu bagus apa nggak, taruh di sebelah buku orang lain terus liat mana yang kamu ambil duluan.”
Dia membalik kedua buku itu, melihat harganya, lalu menaruh yang kanan kembali ke rak.
Dan aku berdiri di situ menonton laki-laki itu berdiri di toko buku, di hari Sabtu siang, memilih buku anak untuk pekerjaannya, dengan punggung lurus dan wajah yang tidak sedang meminta maaf kepada siapa pun.
Sehat.
Kata itu yang muncul di kepalaku, dan begitu muncul, aku tidak bisa menghapusnya.
Laki-laki ini sehat.
Dan aku bukan bagian dari kesembuhannya sama sekali. Tidak satu persen pun. Semua yang membuatnya jadi seperti ini — pekerjaannya, Damar, ibunya, perempuan yang memasak sup di dapur kos — semuanya terjadi di ruangan yang aku tidak pernah masuki.
“Lys?”
“Hah?”
“Kamu bengong.”
“Maaf.” Aku memaksa senyum. “Aku duluan ya.”
“Oh. Oke.”
Aku berjalan tiga langkah, lalu berhenti dan menoleh.
“Bintang.”
“Hm?”
“Kamu keliatan sehat.”
Dia menatapku beberapa saat.
Lalu dia mengangguk sekali, sopan, dan bilang: “Makasih.”
Bukan hangat. Bukan dingin.
Cuma sopan.
Aku berjalan ke parkiran mal itu dan duduk di dalam mobil selama empat puluh menit tanpa menyalakan mesin.
Aku ingin menulis tentang bagian ini dengan jujur, karena inilah yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang sedang menebus, dan tidak ada yang pernah menceritakannya.
Aku pikir yang paling berat adalah tidak dimaafkan.
Bukan.
Yang paling berat adalah tidak ada yang terjadi.
Kalau dia membenciku, akan ada percakapan. Akan ada pertengkaran, akan ada air mata, akan ada malam-malam panjang di mana kami saling meneriakkan sepuluh tahun itu sampai habis. Itu berat, tapi itu sesuatu. Itu bergerak.
Yang terjadi adalah: Senin, Selasa, Rabu, Kamis.
Aku bangun jam enam. Naik lift ke lantai sembilan belas. Bekerja. Pulang. Makan malam bersama Ibu. Tidur.
Dua minggu sekali aku mengirim satu pesan dan mendapat enam kata.
Dan itu terus begitu selama berbulan-bulan, tanpa perubahan, tanpa tanda, tanpa satu pun peristiwa yang bisa kutunjuk dan kubilang nah, ada gerakan.
Ini yang membuat orang menyerah. Bukan penolakan.
Penolakan itu jelas. Penolakan itu punya bentuk, punya tanggal, bisa ditangisi dan dilewati.
Yang menghabisi orang adalah bulan-bulan yang datar.
Aku hampir menyerah di bulan keempat.
Aku ingat malamnya. Aku sedang lembur di kantor, jam sebelas malam, sendirian di lantai sembilan belas dengan lampu yang setengah dimatikan otomatis.
Dan tiba-tiba saja, tanpa pemicu apa pun, satu pikiran masuk ke kepalaku dengan sangat jelas:
Ini nggak akan pernah selesai.
Dan pikiran keduanya, yang datang setengah detik kemudian, jauh lebih menakutkan:
Terus buat apa?
Aku duduk di kursi kantor itu dan membiarkan pertanyaan itu berdiri di depanku.
Buat apa.
Kalau dia tidak akan pernah kembali — dan dia tidak akan, dia sudah mengatakannya di depan pagar dengan sangat jelas dan aku percaya sepenuhnya — maka apa gunanya semua ini?
Apa gunanya delapan poin di daftar itu? Apa gunanya tidak memakai pengetahuan yang kupunya? Apa gunanya minta maaf ke Bagas, apa gunanya memutus Vinka, apa gunanya menulis dua ratus tiga belas halaman?
Tidak ada satu pun yang menghasilkan apa-apa.
Aku duduk di sana sangat lama.
Dan yang menyelamatkanku bukan sesuatu yang mulia. Aku ingin sekali menulis bahwa aku mendapat pencerahan; tidak.
Yang terjadi: aku membuka ponselku dan tanpa sengaja membuka aplikasi catatan, dan yang terbuka adalah halaman yang sudah lama tidak kubuka.
Daftar itu. Delapan poin.
Dan mataku jatuh ke poin nomor lima, yang kutulis di malam pertama, di lantai kamar, empat ratus lebih hari yang lalu:
5. Semua ini nggak akan pernah cukup. Ya udah. Tetep lakuin.
Aku menatap kalimat itu di layar yang menyala di ruangan gelap.
Perempuan yang menulis itu sudah tahu. Dia sudah tahu sejak malam pertama. Dia menulisnya persis untuk malam seperti ini, untuk aku yang duduk di lantai sembilan belas jam sebelas malam empat bulan kemudian sambil bertanya buat apa.
Ya udah. Tetep lakuin.
Aku mematikan komputerku dan pulang.
Aku tidak merasa lebih baik. Aku ingin menegaskan itu: aku tidak merasa lebih baik sama sekali.
Aku cuma berhenti bertanya.
Ada satu hal lagi dari bulan-bulan itu yang perlu kutulis, dan ini yang paling penting.
Aku berhenti menghitung.
Dulu — di enam bulan pertama, waktu aku masih mengirim pesan tiap malam — ada bagian dari diriku yang menyimpan neraca. Berapa pesan yang kukirim. Berapa hari sejak terakhir dia membalas. Berapa hal yang sudah kulakukan.
Neraca itu tidak pernah kuakui, bahkan pada diriku sendiri. Tapi ada.
Dan neraca selalu berarti satu hal: kamu masih menunggu pembayaran.
Aku menyadarinya di bulan kelima, waktu aku sedang menyeberang jalan menuju kantor dan aku otomatis berpikir udah dua puluh tiga hari sejak dia bales, dan aku berhenti di tengah zebra cross sampai diklakson orang.
Malam itu aku menghapus semua percakapan kami dari ponselku.
Bukan memblokir. Bukan menghapus nomornya. Cuma riwayat pesannya — empat ratus lebih malam, tersusun rapi ke bawah, semuanya.
Aku menekan hapus dan layarnya jadi kosong.
Aku duduk memandangi ruang kosong itu, dan aku merasa seperti orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat dan tidak menyadari beratnya sampai diletakkan.
Karena selama ini aku menyimpan percakapan itu bukan untuk mengenang.
Aku menyimpannya sebagai bukti. Sebagai kuitansi.
Dan orang yang menyimpan kuitansi adalah orang yang suatu hari berniat menagih.
Aku menambahkan poin terakhir ke daftar itu malam itu. Yang kesembilan.
Aku tidak pernah menambahkan apa pun lagi setelahnya, dan daftar itu tetap sembilan poin sampai hari aku pergi ke Surabaya bertahun-tahun kemudian.
9. Kamu bukan lagi nunggu dia maafin kamu. Kamu lagi belajar jadi orang yang nggak butuh dimaafin buat bisa bener.
Aku membacanya sekali, mengunci ponselku, dan tidur.
Dan besoknya aku bangun jam enam, naik lift ke lantai sembilan belas, dan bekerja.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis.
[Bersambung ke Bab 19 — POV Bintang]
- 1 Barang yang Tidak Kubawa
- 2 Empat Kalimat
- 3 Suara yang Sudah Tujuh Tahun Tidak Kudengar
- 4 Pintu yang Tidak Dibuka
- 5 Tangan yang Masih Ingat
- 6 Nomor Satu
- 7 Dibaca Jam Sebelas Malam
- 8 Es Teh Dua
- 9 Sepuluh Nama
- 10 Sepuluh Tahun Lagi
- 11 Yang Tidak Bisa Ditarik
- 12 Hal yang Tidak Kupakai
- 13 Bulan Kedelapan
- 14 Perempuan yang Naik Tangga
- 15 Paket Tanpa Nama Pengirim
- 16 Yang Kutulis untuk Dibaca Sekali
- 17 Aku Tahu
- 18 Izin Tanpa Harapan reading
- 19 Dari Seberang Jalan
- 20 Yang Tidak Kuketahui
- 21 Sebelah Kiri
- 22 Aturan Ruang Rapat
- 23 Ruangan yang Terkunci
- 24 Satu Kali Membantu
- 25 Ibu Datang ke Jakarta
- 26 Laki-laki yang Tidak Salah Apa-apa
- 27 Sekarang Aku Tahu
- 28 Lembar di Tangan
- 29 Kalimat yang Ditarik Kembali
- 30 Sembilan Jam
- 31 Empat Puluh Menit
- 32 Hal yang Paling Berbahaya
- 33 Bayar Utang ke Orang Lain
- 34 Teman
- 35 Kabar Baik
- 36 Kota yang Tidak Ada Dia di Dalamnya
- 37 Enam Baris
- 38 Halaman yang Butuh Empat Belas Tahun
- 39 Cara Meminta
- 40 Perempuan yang Punya Rumah
- 41 Yang Kubawa dari Jakarta
- 42 Empat Puluh Satu Hari
- 43 Dua Sisi
- 44 Yang Tidak Bisa Kuterima
- 45 Kursi di Samping Kasur
- 46 Satu Hal Terakhir
- 47 Lunas
- 48 Sebelas Kalimat
- 49 Orang yang Nyentuh Duluan
- 50 Jam Sebelas Malam
- 51 Epilog — Sebelah Kiri