← Chapters Ch. 23 / 51

Chapter Twenty Three

Ruangan yang Terkunci

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Kirana, Damar, Bu Sri (lewat telepon), Allysa (dari jauh)


Proyek Lumina berjalan delapan bulan, dan delapan bulan itu adalah masa paling sehat sekaligus paling tidak jujur dalam hidupku.

Sehat karena aku bekerja dengan baik. Tiga buku baru selesai tepat waktu. Yang kedua, Anak yang Takut Gelap, jadi yang paling banyak diunduh di aplikasi itu selama empat bulan berturut-turut, dan aku mendapat bonus yang cukup untuk membeli kasur yang layak untuk pertama kalinya seumur hidup.

Tidak jujur karena aku menghabiskan delapan bulan itu dengan satu ruangan terkunci di dalam diriku, dan aku tidur di sebelah seseorang yang bisa merasakan pintunya.


Kirana bukan orang yang cemburu.

Aku perlu mengatakan itu dengan jelas, karena kalau ada yang membaca ini dan mengira dia curiga, mengira dia menginterogasi, mengira dia memeriksa ponselku — tidak. Tidak sekali pun, dalam dua tahun.

Yang dia lakukan jauh lebih sulit dihadapi daripada cemburu.

Dia bertanya.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Bintang.”

“Beneran nggak apa-apa.”

“Oke.”

Dan dia berhenti. Dia benar-benar berhenti — dia tidak mengungkitnya lagi malam itu, tidak menyindir, tidak diam dengan cara yang menghukum.

Lalu tiga hari kemudian dia bertanya lagi, dengan nada yang sama santainya, seolah yang pertama tidak pernah terjadi.

Delapan bulan begitu.

Dan tiap kali aku bilang tidak apa-apa, aku bisa merasakan sesuatu yang sangat kecil bergeser di antara kami — tidak retak, belum, cuma bergeser sepersekian milimeter — dan aku tahu bahwa kalau ini diteruskan cukup lama, geserannya akan jadi jarak.

Aku tahu itu dan aku tetap melakukannya.


Yang paling sulit dijelaskan adalah bahwa aku tidak sedang menyembunyikan Allysa.

Kirana tahu perempuan itu ada. Dia bertemu dengannya di ruang rapat sekali dua minggu selama delapan bulan. Dia pernah bercerita tentangnya di rumah — bahwa dia galak, bahwa dia bagus, bahwa dia satu-satunya orang di Lumina yang benar-benar membaca naskahnya sampai habis.

Kalau ini cerita tentang perempuan yang disembunyikan, akan jauh lebih mudah.

Yang kusembunyikan bukan orangnya.

Yang kusembunyikan adalah sepuluh tahun yang tidak pernah terjadi di dunia ini.

Dan itu bukan rahasia yang bisa dibuka pelan-pelan. Tidak ada versi kecilnya. Aku tidak bisa memberitahu Kirana sepuluh persennya dulu untuk melihat reaksinya.

Kalau aku membuka mulut, aku harus mengatakan: aku pernah mati, umurku sebenarnya tiga puluh delapan, dan perempuan yang duduk di seberang meja rapat itu pernah menghabisiku selama sepuluh tahun di kehidupan yang tidak pernah ada.

Dan perempuan yang kucintai — dan aku memang mencintainya, aku ingin sangat jelas soal ini — akan duduk di seberangku dan mendengarkan sampai selesai dengan wajah yang makin lama makin takut.

Lalu dia akan bertanya apakah aku sudah tidur cukup.

Sama seperti Damar, tiga tahun lalu, di telepon.

Aku memikirkan itu ratusan malam, dan tiap kali hasilnya sama, dan tiap kali aku sampai ke titik yang sama juga:

Ada bagian dari hidupku yang tidak bisa dipindahkan ke siapa pun.

Dan ada satu orang di dunia yang tidak perlu diberi tahu.


Ulang tahun Kirana yang kedua bersamaku jatuh di bulan Oktober.

Aku merencanakannya tiga minggu. Aku menggambar sesuatu untuknya — dua belas halaman, dijilid, cuma satu eksemplar di dunia. Cerita tentang perempuan yang memelihara naskah seperti orang memelihara anak orang lain.

Dia menangis waktu membacanya. Di restoran, di depan orang.

Dan malam itu, di kamarnya, dengan buku itu di pangkuannya, dia bilang:

“Bintang.”

“Hm?”

“Kamu tuh sayang banget sama aku, ya.”

“Iya.”

“Aku tau.” Dia mengelus sampul buku itu dengan ibu jari. “Aku bisa ngerasain. Setiap hari.”

Aku menunggu.

“Tapi aku selalu ngerasa—“ Dia berhenti, mencari kata, dan Kirana tidak pernah mencari kata. “Kayak ada satu kamar di rumah kamu yang nggak boleh aku masukin.”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak marah,” lanjutnya cepat. “Serius. Semua orang punya kamar kayak gitu. Aku juga punya.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Cuma punya kamu tuh kayaknya kamar utama.”

Aku duduk di tepi kasurnya dan memandangi lantai selama sangat lama.

“Ran.”

“Hm.”

“Kalau aku bilang ada hal yang nggak bisa aku ceritain ke kamu — bukan nggak mau, tapi nggak bisa — kamu percaya nggak?”

Kirana menaruh bukunya.

“Percaya,” katanya.

“Beneran?”

“Beneran.” Dia menyandarkan punggung ke tembok. “Tapi Bin, percaya sama nggak apa-apa itu beda.”

Dan itu — kalimat itu, yang dia ucapkan dengan tenang di malam ulang tahunnya sendiri sambil memegang hadiah yang kubuat selama tiga minggu — kalimat itu yang seharusnya menghentikanku waktu itu juga.

Kalau aku lebih berani, aku akan mengakhirinya malam itu.

Aku tidak lebih berani.

Aku bilang, “Maaf ya.”

Dan dia bilang, “Nggak usah minta maaf. Sini.”

Dan dia menarikku ke pelukannya, dan aku menaruh kepalaku di bahunya, dan dia mengelus rambutku sampai aku tertidur.

Dan aku membiarkan perempuan itu memelihara hubungan ini sendirian selama satu tahun lagi setelah malam itu.

Itu hal terburuk yang pernah kulakukan pada siapa pun di dua kehidupan, dan aku melakukannya dengan lembut, dengan hadiah dan makan malam dan pesan selamat pagi, yang justru membuatnya lebih buruk.


Aku tidak pernah menyentuh Allysa selama delapan bulan proyek itu.

Tidak sekali pun. Tidak salaman, tidak tidak sengaja bersenggolan di lift.

Aku menghitungnya. Aku benar-benar menghitungnya, dan menyadari bahwa aku menghitungnya membuatku sadar bahwa aku sedang tidak sesehat yang kukira.

Kami berbicara rata-rata sebelas menit per rapat, semuanya tentang pekerjaan. Kami tidak pernah berdua saja — dan aku baru menyadari bertahun-tahun kemudian bahwa itu bukan kebetulan, bahwa ada aturan tertulis di sampul belakang buku catatan seseorang tentang hal itu.

Dan satu hal yang tidak pernah dia lakukan lagi, tidak sekali pun setelah restoran padang itu, adalah menyebut apa pun tentang sepuluh tahun.

Termasuk gelas.

Aku memperhatikannya. Itu bagian yang paling memalukan untuk kutulis: aku memperhatikannya.

Tiap kali gelas dibagikan di ruang rapat, ada bagian di dalam diriku yang menunggu, selama sepersekian detik, apakah dia akan mengatakan sesuatu lagi.

Tidak pernah.

Delapan bulan.

Dan pada suatu titik di bulan keenam, aku mengerti kenapa, dan pemahaman itu membuatku duduk diam di kursi ruang rapat selama beberapa detik terlalu lama sampai Bagas menanyakan apakah aku baik-baik saja.

Perempuan itu mengucapkannya sekali dan memutuskan itu jatahnya.

Dia punya persediaan penuh. Dia punya sepuluh tahun tentangku di dalam kepalanya — hal-hal yang tidak diketahui Kirana, tidak diketahui Damar, tidak diketahui Ibu. Dia bisa mengeluarkan satu tiap bulan selama bertahun-tahun dan tiap kali akan menembus pertahananku dengan cara yang tidak bisa kutolak.

Dia tidak melakukannya.

Dia mengambil satu, memakainya, lalu menutup kotaknya.

Dan aku duduk di ruang rapat lantai sembilan belas dan menyadari bahwa aku sedang berhadapan dengan seseorang yang, selama tiga tahun terakhir, telah membangun pengendalian diri yang lebih keras daripada apa pun yang pernah kubangun.


Damar menikah di bulan Maret.

Aku jadi salah satu yang mengangkat tandu adat, dan aku memakai jas sewaan yang terlalu panjang di lengan, dan aku menangis di bagian yang seharusnya tidak perlu ditangisi.

Setelah semuanya selesai, jam sebelas malam, kami duduk di belakang gedung resepsi dengan dua piring makanan sisa.

Damar masih memakai baju pengantinnya, dasinya sudah dilepas.

“Bin.”

“Hm.”

“Lo bakal nikah sama Kirana nggak?”

Aku berhenti mengunyah.

Dan aku duduk di kursi plastik belakang gedung resepsi itu, dengan sahabatku yang baru saja menikah di sebelahku, dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

“Bin?”

“Gue nggak tau.”

Damar menoleh.

“Lo pacaran dua tahun.”

“Gue tau.”

“Dua tahun, Bin. Dan lo nggak tau?”

Aku menaruh piringku.

“Mar, kalau gue nikah sama dia,” kataku, “berarti gue harus nutup pintunya selamanya.”

“Pintu apaan?”

Aku diam.

Dan Damar — yang tidak pernah sekali pun menanyakan apa “hal paling besar” itu, selama tiga tahun, sejak warung kopi dengan dangdut dari radio kecil — Damar menaruh piringnya juga.

“Bin,” katanya. “Gue nggak akan nanya lagi apa itu. Gue udah janji.”

“Iya.”

“Tapi gue mau nanya satu hal lain.”

“Apa?”

Dia menatap ke arah lampu-lampu gedung resepsi yang sedang dimatikan satu per satu oleh petugas.

“Lo nyimpen pintu itu buat siapa?”

Aku tidak menjawabnya malam itu.

Aku memikirkannya di jalan pulang, dan di kamar, dan selama berbulan-bulan setelahnya, dan tiap kali jawaban yang muncul membuatku ingin membantahnya sendiri.

Aku tidak menyimpannya untuk Allysa.

Aku bersumpah demi apa pun bahwa itu benar — aku tidak menginginkan perempuan itu, aku tidak merindukannya, aku bahkan belum sepenuhnya berhenti marah padanya.

Aku menyimpan pintu itu karena di balik pintu itu ada sepuluh tahun hidupku.

Dan kalau aku menguncinya selamanya, artinya aku setuju bahwa sepuluh tahun itu tidak pernah ada.

Sepuluh tahun. Tiga ribu enam ratus lima puluh hari. Semua yang kuderita, semua yang kutanggung, semua yang membentuk aku jadi orang yang bisa duduk di sini malam ini dengan punggung lurus.

Dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu itu terjadi.

Kecuali satu.

Dan selama satu orang itu masih ada di suatu tempat di kota ini, sepuluh tahun itu masih nyata.

Itu bukan cinta.

Aku ingin sekali itu cinta, karena cinta bisa dilawan, cinta bisa dipilih untuk tidak dituruti.

Ini bukan cinta. Ini jauh lebih sulit dilepaskan.


Ibu menelepon dua minggu setelah pernikahan Damar.

Kami bicara dua puluh menit seperti biasa. Cabai. Kucing gudang yang sekarang sudah beranak lagi. Tetangga.

Menjelang tutup telepon, dia bertanya:

“Kamu kapan bawa Kirana ke sini?”

Aku diam terlalu lama.

“Bin?”

“Nanti, Bu.”

“Nanti kapan? Udah dua tahun.”

“Iya.”

Ibu diam di seberang.

“Bintang.”

“Iya, Bu.”

“Ibu nggak akan maksa,” katanya. “Tapi Ibu mau ngomong satu hal, terus Ibu nggak akan ngomongin lagi.”

“Iya.”

“Kalau kamu nggak bisa bawa dia pulang,” kata Ibu, “berarti kamu masih nyimpen tempat buat orang lain.”

Aku memegang ponsel itu dan menatap tembok kamar kos.

“Ibu udah tua, Bin. Ibu udah pernah liat orang kayak gitu.”

“Iya, Bu.”

“Ya udah. Ibu mau ke pasar.”

Dan telepon ditutup, karena begitulah Ibu.

Aku duduk di kamar selama sangat lama setelahnya.

Dan yang paling membuatku tidak bisa tidur malam itu bukan bahwa Ibu benar.

Tapi bahwa aku ingin sekali membantahnya — aku ingin mengangkat telepon lagi dan menjelaskan bahwa dia salah, bahwa aku tidak menyimpan tempat untuk siapa pun, bahwa yang kusimpan itu bukan orang —

dan aku tidak bisa menemukan satu pun kalimat yang bisa menjelaskan bedanya.


[Bersambung ke Bab 24 — POV Allysa]