← Chapters Ch. 7 / 51

Chapter Seven

Dibaca Jam Sebelas Malam

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Damar, Allysa (lewat pesan), Bu Sri (lewat telepon)


Empat lamaran. Tiga penolakan. Satu tidak membalas sama sekali.

Yang pertama masuk lima hari kemudian, template, dua paragraf. Yang kedua sembilan hari, juga template. Yang ketiga tiga minggu, dan yang ini agak lebih menyakitkan karena ditulis manusia:

Karyanya bagus, tapi terlalu sepi untuk buku anak. Coba pertimbangkan ilustrasi yang lebih ceria.

Aku membaca itu di warnet sambil memakan roti isi seharga tiga ribu, dan aku duduk memandangi layar cukup lama.

Terlalu sepi.

Aku mengirim gambar meja makan dengan satu kursi kosong ke penerbit buku anak dan aku berharap mereka bilang apa?

Aku menutup emailnya dan berjalan pulang, dan sepanjang jalan aku melakukan sesuatu yang menurutku patut dicatat: aku tidak menganggapnya sebagai vonis.

Ini terdengar kecil. Bukan.

Di hidup pertamaku, penolakan pertama yang kudapat — desain logo untuk kedai kopi, tahun pertama, klien bilang “kurang sreg” tanpa penjelasan — penolakan itu langsung kupasang di dinding kepalaku sebagai bukti permanen. Nah. Ternyata memang.

Butuh satu penolakan untuk membuktikan sesuatu yang sudah kupercayai duluan.

Sekarang aku tiga puluh empat tahun di dalam tubuh dua puluh empat, dan aku sudah tahu bagaimana rasanya menjalani sepuluh tahun berdasarkan keyakinan bahwa aku memang tidak cukup, dan aku sudah melihat buku sketsa di kardus itu, dan aku sudah tahu bahwa keyakinan itu bohong.

Jadi aku membaca terlalu sepi untuk buku anak dan yang muncul di kepalaku bukan aku memang tidak bisa.

Yang muncul: ya, memang. Gambar itu bukan untuk anak-anak. Salahku ngirim.

Lalu aku pulang dan mulai menggambar hal lain.


Aku menggambar anak-anak selama tiga minggu.

Bukan anak-anak yang manis. Aku mencobanya dan hasilnya mengerikan — kaku, seperti orang dewasa yang dikecilkan. Jadi aku pergi ke taman dekat kos tiap sore membawa buku sketsa dan duduk di bangku beton dan menggambar apa saja yang bergerak di sana.

Anak yang menangis karena esnya jatuh. Anak yang berdiri terlalu lama di depan pagar kandang burung. Anak yang menendang bola terlalu keras lalu langsung menoleh ke ibunya untuk mengecek apakah dia dalam masalah.

Yang terakhir itu membuatku berhenti menggambar selama lima menit.

Karena aku mengenali gerakannya. Aku pernah jadi anak itu. Menendang, lalu langsung menoleh. Mengecek dulu apakah aku sudah merepotkan.

Kamu jangan ngerepotin ya, Bin.

Ibu selalu mengucapkannya dengan sayang. Sungguh, itu selalu dengan sayang. Ratusan kali sepanjang masa kecilku, sambil membenahi kerah bajuku, sambil menyisir rambutku, sambil menyerahkan bekal.

Dan aku selalu menjawab, “Iya, Bu.”

Aku duduk di bangku beton itu dan sesuatu bergerak di dadaku, sesuatu yang bentuknya belum jelas, dan aku mendorongnya menjauh lagi seperti minggu lalu.

Belum. Belum saatnya.

Aku menggambar anak itu — badan mungil yang sudah menoleh sebelum bolanya mendarat — dan aku memberinya judul di sudut kertas: sudah minta maaf sebelum salah.

Gambar itu tidak kukirim ke mana-mana. Aku menempelkannya di tembok, di sebelah gambar meja makan.


Pesan Allysa datang tiap hari.

Aku ingin menulis bagian ini dengan hati-hati, karena kalau tidak, aku akan terdengar seperti orang yang menikmatinya. Aku tidak menikmatinya. Aku bersumpah aku tidak menikmatinya.

Polanya selalu sama. Satu pesan, sekitar jam sembilan atau sepuluh malam. Tidak pernah dua. Tidak pernah pagi.

Dan isinya —

Itu yang membuatnya sulit.

Kalau isinya rayuan, aku akan gampang. Kalau isinya menuntut, kalau ada satu saja kata kok, kalau ada satu saja tanda tanya yang meminta jawaban, aku akan langsung punya alasan untuk menutup pintu dengan bersih.

Tidak ada.

Hari ini aku lihat orang gambar di kantin. Aku nggak nyapa. Aku cuma pengen bilang gambarnya bagus.

Aku nggak minta dibales. Beneran. Kalau kamu risih aku berhenti, tinggal bilang.

Hari ini aku putus temenan sama seseorang. Bukan gara-gara kamu. Gara-gara aku.

Tadi ujan. Kamu bawa payung nggak? Nggak usah dijawab.

Setiap malam. Selama tiga puluh hari.

Aku membacanya semua.

Aku perlu jujur soal ini karena kalau aku bohong di sini, sisa ceritanya tidak akan ada gunanya: aku tidak pernah sekali pun melewatkan satu pesan pun. Aku tidak pernah menghapus. Aku tidak memblokir nomornya, padahal aku bisa, padahal itu tiga sentuhan di layar.

Tiap malam sekitar jam sebelas, sebelum tidur, aku membuka ponsel dan membacanya.

Kalau ada yang bertanya kenapa — dan Damar akhirnya bertanya, tiga bulan kemudian, dan aku tidak bisa menjawabnya — jawaban yang paling dekat dengan kebenaran adalah ini:

Bukan karena aku merindukannya.

Tapi karena di seluruh dunia ini, cuma ada satu orang yang tahu bahwa sepuluh tahun itu pernah terjadi.

Aku menjalani hari-hariku di antara orang-orang yang baik, di kota yang sibuk, dengan ibu yang masih hidup dan sahabat yang belum pernah kutinggalkan. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa laki-laki yang duduk di depan mereka pernah mati di perempatan Jalan Kemuning sambil mengkhawatirkan apakah seseorang akan salah paham.

Aku menyimpan seluruh hidup pertamaku sendirian. Semuanya. Setiap hari.

Dan tiap jam sebelas malam, ada satu pesan masuk dari satu-satunya orang di dunia yang tahu.

Aku tidak membalas. Tidak sekali pun, selama berbulan-bulan.

Tapi aku membacanya.

Dan aku tahu persis apa artinya itu, dan aku tetap melakukannya, dan itu bagian dari diriku yang belum bisa kuperbaiki di titik itu.


Yang mengubah keadaan datang di minggu keempat, dan datangnya dari arah yang tidak kusangka.

Allysa — 22.47

Aku nemu ini di kampus. Kayaknya buat kamu.

Lalu satu foto.

Selebaran, ditempel di papan pengumuman fakultas seni. Lomba ilustrasi buku cerita anak, diselenggarakan salah satu penerbit besar. Hadiahnya tidak seberapa. Yang penting bukan hadiahnya.

Pemenang dan sepuluh finalis akan diundang untuk wawancara kerja.

Aku menatap foto itu.

Batas pengumpulan: sembilan hari lagi.

Dan pesan berikutnya masuk sebelum aku sempat berpikir:

Udah, gitu aja. Aku nggak akan nanya kamu ikut apa nggak.

Selamat malam, Bintang.

Aku duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak aku bangun di pagi 14 Maret itu, aku merasakan sesuatu yang mendekati marah.

Bukan karena dia membantu.

Karena aku ingin sekali menolak bantuan itu, dan aku tidak bisa, karena itu bodoh.

Ada peluang di depanku. Peluang nyata, yang di hidup pertamaku pasti lewat begitu saja karena di titik ini aku sedang sibuk pindah ke apartemen seseorang. Dan satu-satunya alasan untuk tidak mengambilnya adalah karena informasinya datang dari orang yang salah.

Itu logika orang yang masih terikat.

Orang yang benar-benar sudah lepas akan mengambil informasinya dan pergi tanpa merasa berhutang apa-apa.

Jadi aku mengambilnya.

Aku ikut lomba itu, dan aku tidak membalas pesannya, dan aku tidak berterima kasih.

Dan tiga tahun kemudian, waktu semuanya sudah berubah, aku akan menyadari sesuatu tentang malam itu yang tidak kusadari saat itu:

Dia mengirim selebaran itu tahu persis bahwa aku tidak akan berterima kasih. Dia bahkan menutup pintunya sendiri — aku nggak akan nanya kamu ikut apa nggak — supaya aku tidak perlu merasa berhutang.

Dia sudah menghitung itu sebelum mengirim.

Waktu itu aku tidak melihatnya. Aku cuma kesal.


Ibu menelepon hari Minggu.

“Kamu makan nggak?”

“Makan, Bu.”

“Bohong. Suaramu kecil.”

Aku tertawa. “Beneran makan.”

“Ibu kirimin rendang ya. Lewat Bu Har, anaknya ke Jakarta hari Rabu.”

“Nggak usah repot.”

“Ya udah nggak jadi.”

“Eh—“

Ibu tertawa di seberang, puas sekali, dan aku menempelkan ponsel lebih rapat ke telinga.

Kami bicara dua puluh menit. Tentang kucing di gudang yang beranak lima dan yang satu matanya belum bisa buka. Tentang tetangga yang pasang keramik baru. Tentang harga cabai, lagi, karena harga cabai adalah topik abadi di rumah itu.

Di hidup pertamaku, aku menelepon Ibu rata-rata sekali sebulan. Kadang lebih jarang. Selalu pendek, selalu di sela-sela sesuatu, selalu dengan suara pelan karena Allysa ada di ruangan yang sama dan entah kenapa aku merasa sedang melakukan sesuatu yang memalukan.

Sekarang aku menelepon tiap hari Minggu, dan tidak pernah kurang dari dua puluh menit.

Menjelang tutup telepon, Ibu berhenti sebentar.

“Bin.”

“Iya?”

“Waktu kamu pulang kemarin itu.”

Aku menunggu.

“Kamu kenapa toh, sebenernya?”

Aku memandangi tembok kamarku. Dua gambar tertempel di sana dengan selotip: meja makan dengan kursi kosong, dan anak yang menoleh sebelum bolanya mendarat.

“Aku kangen aja, Bu.”

“Ya masa kangen sampai nangis kayak orang kesurupan.”

“Ya kangen banget.”

Ibu diam agak lama. Ada suara TV di belakangnya, sinetron, seperti biasa.

“Ya udah,” katanya akhirnya. Dan lalu, dengan nada yang berbeda, lebih pelan, “Kamu jangan sungkan kalau ada apa-apa, ya. Sama Ibu.”

“Iya.”

“Ibu tuh nggak repot kok kalau sama kamu.”

Aku menutup mata.

Ibu tuh nggak repot kok kalau sama kamu.

Perempuan itu tidak tahu apa yang baru saja dia lakukan. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja mengambil satu batu bata dari dinding yang dia sendiri bangun tanpa sadar dua puluh tahun lalu, dan dia tidak akan pernah tahu, karena dinding itu tidak pernah kelihatan dari luar.

“Iya, Bu,” kataku. “Makasih.”


Aku mengirim karyaku ke lomba itu di hari terakhir, jam sebelas malam, dari warnet yang sama.

Judulnya Anak yang Menoleh. Delapan halaman. Ceritanya tentang anak laki-laki yang selalu minta maaf sebelum melakukan apa pun, sampai suatu hari dia bertemu seseorang yang bertanya, “Kamu minta maaf buat apa?” — dan anak itu tidak bisa menjawab.

Waktu aku menekan kirim, ponselku bergetar di saku.

22.51.

Selamat malam, Bintang.

Cuma itu. Tidak ada yang lain malam itu.

Aku berdiri di depan komputer warnet yang masih menyala, memegang ponsel, dan untuk sepersekian detik ibu jariku bergerak ke kolom balasan.

Aku menahannya.

Lalu aku membayar delapan ribu dan berjalan pulang, dan udara malam itu dingin, dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan aku merasa seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu untuk dirinya sendiri.


[Bersambung ke Bab 8 — POV Allysa]