← Chapters Ch. 50 / 51

Chapter Fifty

Jam Sebelas Malam

POV: Allysa

Karakter: Allysa, Bintang


Sepuluh tahun.

Aku menyadarinya di bulan Februari, waktu sedang menyusun jadwal kuartal di kantor dan mataku jatuh ke kalender.

Empat belas Maret.

Sepuluh tahun sejak halte itu. Sejak hujan yang tidak ada di ramalan cuaca. Sejak sebelas kalimat yang kuhapus dan sesuatu yang berantakan yang keluar sebagai gantinya.

Aku duduk di meja kantorku dan menghitung ulang tiga kali karena aku tidak percaya angkanya.

Dan lalu aku menghitung yang lain, dan yang kedua ini membuatku menaruh pulpenku.

Sepuluh tahun juga.

Yang pertama, di kehidupan yang tidak pernah ada.

Empat belas Maret sampai empat belas Maret. Dari halte sampai perempatan Jalan Kemuning.

Dua sepuluh tahun. Sama persis. Dengan dua orang yang sama.

Dan aku duduk di meja kantorku, lima puluh lima tahun, dan aku memutuskan sesuatu yang tidak kuceritakan kepada siapa pun selama tiga minggu berikutnya.


Aku mengambil cuti hari Sabtu itu.

Bintang di Jakarta minggu itu — seminggu tiap bulan, seperti sepuluh tahun terakhir, urusan studio. Dia pulang hari Sabtu, kereta malam, sampai Surabaya jam enam pagi hari Minggu.

Aku menghubunginya hari Kamis.

Bin, kamu bisa pulang Sabtu siang nggak? Naik pesawat aja.

Bisa. Kenapa?

Nggak apa-apa. Aku pengen kamu di rumah.

Dan dia membalas:

Oke.

Cuma itu.

Sepuluh tahun dan laki-laki itu masih tidak pernah menuntut penjelasan lebih dulu, dan tiap kali aku masih terkejut, dan tiap kali aku masih harus menaruh apa pun yang sedang kupegang.


Aku mulai memasak jam sepuluh pagi.

Aku bukan orang yang pandai memasak. Aku sudah lima belas tahun mengambil kelas dan berhenti dan mengambil lagi, dan hasil terbaikku masih di bawah rata-rata, dan Bintang tidak pernah sekali pun mengeluh dan itu justru yang membuatku terus mencoba.

Hari itu aku memasak enam masakan.

Semuanya masakan yang dia suka. Aku hafal semuanya sekarang — bukan dari sepuluh tahun yang pertama, karena di sepuluh tahun yang pertama aku tidak tahu apa-apa.

Aku hafal karena sepuluh tahun terakhir aku bertanya.

Aku memasak dari jam sepuluh sampai jam empat sore. Aku menggosongkan satu, mengulangnya, dan menggosongkan lagi, dan akhirnya memakai yang kedua walaupun bagian bawahnya kehitaman.

Jam lima aku menata mejanya.

Enam piring. Dua tempat duduk.

Dan aku menaruh gelasnya.

Yang punyaku di sebelah kanan piring.

Yang punyanya di sebelah kiri.


Dia mengirim pesan jam enam.

Pesawat delay. Belum tau berapa lama.

Aku duduk di meja makan yang sudah tertata dan membaca pesan itu.

Nggak apa-apa. Aku tunggu.

Kamu makan duluan aja.

Nggak.

Lys, aku belum tau delay-nya berapa lama.

Dan aku mengetik jawabannya, dan waktu mengetiknya tanganku mulai gemetar dan aku tidak tahu kenapa:

Nggak apa-apa, Bin. Aku tunggu.


Jam tujuh.

Jam delapan.

Aku memanaskan dua masakan sekali, lalu berhenti, karena aku sadar aku sedang mengelola sesuatu.

Aku duduk di kursiku di meja makan itu dan tidak melakukan apa-apa.

Dan di jam kesembilan, di apartemen yang sunyi, dengan enam piring yang mulai dingin di depanku, aku akhirnya mengerti kenapa aku melakukan ini.

Bukan untuk mengulang.

Aku sudah berpikir begitu selama tiga minggu — bahwa aku sedang menyiapkan pengulangan, versi yang benar, penebusan yang rapi untuk malam ulang tahun tahun kedua.

Bukan.

Aku duduk di meja makan itu jam sembilan malam dan menyadari bahwa aku sedang duduk di kursi yang salah.

Malam itu, dua puluh sembilan tahun lalu, ada seorang laki-laki yang duduk di kursi ini.

Dia memasak seharian. Dia menata mejanya. Dia menunggu.

Dan aku baru tahu bagaimana rasanya sekarang.

Bukan sakitnya — aku sudah tahu sakitnya sejak lama, aku sudah membacanya di halaman lima puluh dan aku sudah mendengarnya dari mulutnya sendiri di sebelas bulan itu.

Yang baru kutahu malam itu adalah bagaimana rasanya jam-jamnya.

Jam tujuh masih ringan. Kamu masih memasak-masak kecil, kamu masih mengecek ponsel dengan santai.

Jam delapan kamu mulai memanaskan sesuatu supaya ada yang dikerjakan.

Jam sembilan tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, dan kamu duduk, dan makanannya di depanmu, dan kamu tidak boleh memakannya, dan kamu tidak melakukan apa-apa selain menunggu.

Dan pikiranmu mulai bergerak sendiri ke tempat-tempat yang tidak kamu suruh.

Mungkin dia lupa.

Mungkin dia nggak mau.

Mungkin ini nggak sepenting yang aku kira.

Aku duduk di meja makan itu jam sembilan lewat dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Karena laki-laki itu duduk di sini selama empat jam, dua puluh sembilan tahun lalu, dengan seluruh pikiran itu berjalan di kepalanya.

Dan waktu aku akhirnya pulang jam sebelas lewat dua puluh dan melihat mejanya, aku bilang:

“Aku udah makan.”

Empat kata.

Aku tidak sedang menyakitinya waktu mengucapkannya. Aku sedang duduk di basement selama dua puluh menit sebelumnya memastikan wajahku benar.

Dan itu tidak membuatnya lebih baik sama sekali.


Kunci masuk ke lubangnya jam sebelas lewat lima.

Aku mengangkat wajahku.

Pintunya terbuka dan Bintang masuk dengan tas di bahu dan wajah orang yang sudah duduk enam jam di bandara.

Dan dia berhenti di ambang pintu.

Karena dia melihat mejanya.

Aku melihat laki-laki itu berdiri di ambang pintu apartemen kami, lima puluh enam tahun, dengan tas masih di bahu, memandangi meja makan dengan enam piring yang sudah dingin dan dua gelas dan satu perempuan yang duduk sendirian.

Aku melihat dia menoleh ke jam dinding.

Aku melihat wajahnya berubah.

Dia tahu.

Tentu saja dia tahu. Dia hidup di dalam malam itu. Dia menulis di buku bersampul abu-abu malam itu juga, dan dia memakan sisanya sendiri selama tiga hari karena tidak bisa membuangnya.

“Lys—“

Dan aku sudah menyiapkan diri untuk apa pun.

Aku sudah menyiapkan diri untuk dia menangis. Untuk dia mengucapkan sesuatu yang besar. Untuk kami berdua duduk di meja itu dan membicarakannya sampai jam tiga pagi seperti yang sudah kami lakukan puluhan kali dalam sepuluh tahun terakhir.

Yang dilakukan laki-laki itu bukan salah satu pun.

Dia menaruh tasnya di lantai.

Dia melepas sepatunya, sepasang, dan menaruhnya di rak.

Dia berjalan ke meja makan, menarik kursinya, dan duduk.

Dan dia bilang:

“Maaf telat.”


Dan dia mengambil piring.

Dan dia mulai makan.

Dan aku duduk di kursi seberangnya di apartemen Gubeng jam sebelas lewat lima malam dan menangis tanpa suara, dan laki-laki itu tidak berhenti makan dan tidak menghiburku dan tidak mengatakan apa-apa.

Dia cuma makan.

Dan sesekali dia menyodorkan sesuatu ke arahku — piring nasi, sendok sayur — dan aku mengambilnya.

Dan kami makan bersama, jam sebelas lewat, dengan makanan yang sudah dingin dan satu masakan yang gosong di bagian bawahnya.


“Yang ini gosong,” katanya, di suapan keenam.

“Aku tau.”

“Kenapa nggak dibuang?”

“Aku udah bikin dua kali. Yang kedua gosong juga.”

Dan Bintang menoleh ke arahku dengan sendok di tangan.

“Kamu masak ini dua kali?”

“Iya.”

“Dari jam berapa kamu masak?”

Aku memandangi piringku.

“Jam sepuluh.”

“Pagi?”

“Iya.”

Dan laki-laki itu menaruh sendoknya.

Dan dia menutup wajahnya dengan satu tangan, dan bahunya berguncang, dan dia tidak mengeluarkan suara sama sekali selama mungkin satu menit.

Aku tidak menyentuhnya.

Aku sudah belajar. Sepuluh tahun. Kalau kamu memeluk orang yang sedang menangis, sering kali kamu sedang menghentikannya untuk kenyamananmu sendiri.

Jadi aku duduk di seberang meja dan menunggu.

Dan waktu dia menurunkan tangannya, matanya merah dan hidungnya berair dan dia mengambil sendoknya lagi.

“Enak kok,” katanya. “Yang gosong.”

“Bohong.”

“Bohong,” katanya.

Dan dia makan sampai habis.


Kami mencuci piring bersama malam itu, jam dua belas lewat.

Dia yang mencuci, aku yang mengeringkan, seperti sepuluh tahun terakhir, seperti ribuan malam yang tidak ada bedanya satu sama lain.

Dan di tengah, dengan tangan di bawah air, dia bilang:

“Lys.”

“Hm?”

“Kamu nunggu berapa lama tadi?”

Aku menaruh piring yang sedang kukeringkan.

“Dari jam lima.”

“Enam jam.”

“Iya.”

Dia mematikan kerannya.

Dan dia berdiri di depan wastafel dengan tangan basah, tidak berbalik, memandangi tembok dapur.

“Lys,” katanya. “Aku mau kamu tau satu hal, dan aku cuma akan bilang sekali.”

“Iya.”

“Kalau suatu hari aku telat lagi,” katanya, “kamu makan duluan.”

Aku membuka mulut.

“Aku serius.” Dia berbalik. “Kamu makan duluan. Kamu nggak usah nunggu aku. Kamu nggak usah manasin apa-apa.”

“Bintang—“

“Lys, aku nggak mau kamu duduk enam jam di meja.”

Dan aku berdiri di dapur itu dengan lap di tangan dan bilang sesuatu yang membuat laki-laki itu berhenti bergerak:

“Kamu duduk empat jam.”

Dia tidak menjawab.

“Empat jam, Bin. Sendirian. Dua puluh sembilan tahun lalu.”

Aku menaruh lapku.

“Dan kamu nggak pernah nyuruh aku makan duluan. Kamu masak lagi tahun depannya.”

Dapur itu sunyi kecuali bunyi air yang menetes dari keran yang tidak ditutup rapat.

“Aku cuma pengen tau rasanya,” kataku. “Sekali. Itu doang.”

Dan Bintang berjalan dua langkah dan memelukku di dapur itu, dengan tangan yang masih basah, dan tidak berkata apa-apa selama sangat lama.


Kami duduk di balkon setelahnya, jam satu pagi, dengan dua gelas teh.

Sepuluh tahun. Dua sepuluh tahun.

“Bin.”

“Hm?”

“Kamu inget nggak yang kamu bilang di halte?”

“Yang mana?”

“Yang ‘aku mau juga’.”

Dia menoleh.

“Inget.”

Aku memandangi lampu-lampu Surabaya di bawah.

“Kamu masih mau?”

Dan laki-laki itu tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia mengulurkan tangannya — telapak menghadap ke atas, di antara kami, tanpa mengambil apa pun.

Persis seperti di halte, sepuluh tahun lalu, dalam hujan.

Dan aku menaruh tanganku di situ.


[Bersambung ke Epilog]