Chapter Sixteen
Yang Kutulis untuk Dibaca Sekali
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bu Ratna, Vinka, Bintang (disebut)
Butuh empat belas bulan untuk menulisnya sampai selesai.
Aku ingin memperjelas satu hal sebelum apa pun: aku tidak menulisnya untuk dikirim.
Selama empat belas bulan itu, tidak sekali pun terlintas di kepalaku bahwa Bintang akan membacanya. Kalau terlintas — kalau ada satu saja momen di mana aku membayangkan matanya bergerak di atas kalimat-kalimat itu — aku akan langsung berhenti, karena begitu ada pembaca di kepalamu, kamu mulai menulis untuk pembaca itu.
Dan aku sudah tahu apa yang akan terjadi kalau aku menulis untuk Bintang.
Aku akan melunak. Sedikit saja. Satu kata di sini, satu keterangan waktu di sana. Waktu itu aku lagi capek banget. Sebenernya aku sempat mau balik tapi. Aku tau ini kedengerannya jahat, tapi maksudku bukan begitu.
Dan setelah dua ratus halaman melunak sedikit-sedikit, yang tersisa bukan lagi daftar kejahatan.
Yang tersisa adalah pembelaan yang menyamar.
Jadi aku menulisnya untuk satu pembaca saja: aku.
Aku menulisnya seperti orang membuat berita acara. Tanggal, kejadian, apa yang kulakukan, apa yang dia lakukan. Titik.
Tidak ada perasaanku di dalamnya. Tidak sekali pun. Dua ratus halaman dan tidak ada satu pun kalimat yang berbunyi aku menyesal — karena penyesalanku adalah milikku, dan penyesalan yang ditempelkan di sebelah kejahatan selalu berfungsi untuk mengecilkan kejahatannya.
Ini aturan yang kubuat di halaman pertama, dan aku memegangnya sampai halaman terakhir:
Tulis seperti kamu jaksa, bukan pengacara.
Cara menulisnya begini.
Tiap malam, jam sepuluh, setelah pulang kantor, aku duduk di lantai kamar dan membuka satu tahun. Aku mulai dari Januari dan berjalan maju bulan per bulan, dan aku memaksa diriku mengingat.
Bukan mengingat yang besar. Yang besar mudah — yang besar sudah menempel sendiri di dinding kepalaku dan tidak perlu dicari.
Yang sulit adalah yang kecil.
Karena kejahatan besar cuma ada sepuluh atau dua belas dalam sepuluh tahun. Ulang tahun tahun kedua. Ayahnya. Pesta Vinka. Ibunya. Foto studio. Demam tiga hari.
Sisanya, sembilan puluh sembilan persennya, adalah hal-hal sekecil ini:
Tahun 3, sekitar Mei. Dia cerita tentang film yang dia tonton. Aku bilang “hm.” Terus aku buka HP. Dia berhenti cerita di tengah. Dia nggak pernah lanjutin.
Tahun 3, Juli. Dia potong rambut. Aku nggak nyadar sampai dia bilang sendiri tiga hari kemudian. Aku bilang “oh iya ya.”
Tahun 4, Februari. Dia bilang punggungnya sakit. Aku bilang “makanya jangan bungkuk.”
Tahun 6, entah kapan. Dia nanya “kamu masih sayang aku nggak?” Aku bilang “kalau nggak, ngapain aku masih di sini?” Terus dia ketawa. Terus aku ngerasa udah jawab.
Yang terakhir itu butuh tiga malam sebelum aku sanggup mengetiknya.
Karena aku ingat nada suaranya waktu bertanya. Ringan. Bercanda. Dia bertanya sambil tertawa, dengan cara yang membuat pertanyaannya gampang dibuang.
Dan sekarang aku tahu bahwa orang yang bertanya begitu sudah menyiapkan jalan keluar untukmu sebelum kamu menjawab. Dia sudah membungkus pertanyaannya dalam lelucon supaya kalau jawabannya buruk, dia bisa pura-pura memang cuma bercanda.
Laki-laki itu bertanya apakah dia masih dicintai, dengan cara yang paling aman yang bisa dia susun, setelah enam tahun.
Dan aku menjawabnya dengan pertanyaan balik.
Ada satu hal yang tidak kutulis di dalamnya, dan aku sudah memutuskan sejak awal untuk tidak menulisnya.
Aku tidak menulis bahwa aku mencintainya selama sepuluh tahun itu.
Karena aku memang mencintainya. Itu fakta, dan itu bukan pembelaan — itu justru dakwaan yang paling berat.
Kalau aku tidak mencintainya, seluruh sepuluh tahun itu cuma cerita tentang perempuan dingin yang tidak peduli, dan itu menyedihkan tapi bisa dimengerti.
Yang sebenarnya terjadi jauh lebih buruk.
Aku mencintai laki-laki itu, dan justru karena itu aku mengecilkannya. Karena kalau dia besar, kehilangannya akan membunuhku. Karena Ibu berdiri di dapur lima belas tahun lalu dan berkata jangan memberi terlalu banyak, dan aku menyimpulkan bahwa satu-satunya cara aman untuk mencintai seseorang adalah dengan memastikan dia tidak pernah tahu.
Setiap luka yang kubuat adalah asuransi.
Aku memperkecilnya sedikit demi sedikit, tahun demi tahun, sampai ke ukuran yang aman untuk hilang.
Dan pada tahun keempat, sesuatu bergeser, dan aku juga tidak menuliskan yang ini:
Aku mulai jijik padanya.
Karena dia bertahan. Karena tiap kali aku menaikkan tekanannya, dia menyerap, dan dia memaafkan, dan besoknya dia masih membuatkan kopi. Dan ada bagian di dalam diriku yang menonton itu dan berkata: kenapa kamu diam saja? Berdiri. Lawan. Bentak aku sekali saja.
Dan waktu dia tidak melakukannya, aku membencinya.
Aku membencinya karena membuktikan bahwa cinta bisa direndahkan sedalam itu dan tetap tidak mati. Aku membencinya karena dia adalah bukti hidup bahwa ibuku benar tentang segalanya.
Aku tidak menulis kedua hal itu.
Bukan karena aku menyembunyikannya darinya. Aku menyembunyikannya dari diriku sendiri — karena aku belum sanggup, karena tiap kali aku sampai ke tepi kalimat itu, tanganku berhenti.
Nanti. Aku akan menuliskannya nanti, tiga puluh bab lagi, di halaman terakhir, dengan tangan gemetar, sebelum aku pergi ke Surabaya.
Tapi malam-malam itu aku belum bisa.
Yang membuatku memutuskan mengirimnya terjadi di hari Selasa yang biasa saja.
Aku sedang di ruang rapat kantor, lantai sembilan belas, mempresentasikan sesuatu tentang alur pendaftaran pengguna.
Ada seorang junior designer di ujung meja — anak baru, dua puluh dua tahun, namanya Bagas. Dia mengangkat tangan di tengah presentasiku dan menyampaikan keberatan tentang salah satu langkah.
Keberatannya salah. Aku tahu itu dalam dua detik; dia melewatkan satu hal yang memang tidak dijelaskan dalam dokumen, jadi wajar dia salah.
Dan aku menjawabnya.
Aku menjawabnya dengan tenang, dengan lengkap, dengan senyum kecil di sudut mulut. Aku menjelaskan kenapa dia salah dalam empat kalimat yang sangat rapi, dan di kalimat terakhir aku menutupnya dengan:
“Tapi bagus kok, nanya. Nanti lama-lama ngerti.”
Semua orang tertawa kecil.
Bagas juga tertawa.
Dan aku melanjutkan presentasiku, dan rapat selesai, dan aku kembali ke mejaku dan merasa sangat baik-baik saja selama kira-kira empat puluh menit.
Lalu aku pergi ke pantry untuk mengambil air, dan aku melewati meja Bagas, dan aku melihatnya sedang menatap layarnya tanpa mengerjakan apa pun.
Dan aku berhenti berjalan.
Nanti lama-lama ngerti.
Aku mendengar suaraku sendiri mengucapkannya. Ringan. Bercanda. Dengan senyum yang tepat.
Aku sudah menghancurkan anak itu di depan sebelas orang, dan aku melakukannya dengan cara yang membuatnya tidak bisa marah, karena aku membungkusnya sebagai pujian.
Dan yang paling membuatku dingin bukan bahwa aku melakukannya.
Tapi bahwa aku tidak menyadarinya sampai empat puluh menit kemudian.
Empat belas bulan. Dua ratus halaman. Delapan aturan di daftarku.
Dan aku masih bisa melakukannya tanpa sadar, di ruang rapat, hari Selasa, kepada anak yang baru bekerja dua bulan.
Aku berdiri di pantry memegang gelas kosong dan aku mengerti sesuatu yang seharusnya sudah kumengerti sejak lama:
Menulis dua ratus halaman di kamar sendirian itu aman.
Tidak ada yang membacanya. Tidak ada yang menilai. Aku bisa duduk di lantai tiap malam dan merasa sedang menebus, padahal yang kulakukan cuma memelihara penyesalanku sendiri di tempat yang hangat dan tertutup, tempat penyesalan itu tidak akan pernah bertemu udara.
Dan penyesalan yang tidak pernah bertemu udara itu bukan penebusan.
Itu hobi.
Sorenya aku minta maaf ke Bagas.
Di depan mejanya, bukan lewat pesan. Tidak di ruang rapat — aku tidak berhak menyeretnya ke depan sebelas orang untuk kedua kalinya demi rasa lega diriku sendiri.
“Bagas.”
“Eh, iya Mbak?”
“Tadi di rapat saya salah.”
Dia mengerjap. “Yang mana ya?”
“Yang saya bilang ‘nanti lama-lama ngerti’.” Aku memaksa diriku tetap menatapnya. “Pertanyaan kamu wajar. Yang kamu tanyain emang nggak ada di dokumen. Itu salah saya nulis dokumennya, bukan salah kamu.”
Bagas menatapku dengan wajah yang benar-benar bingung.
“Oh. Nggak apa-apa kok, Mbak.”
“Nggak apa-apa gimana?”
“Ya nggak apa-apa.” Dia tertawa canggung. “Saya sih santai aja.”
Dan aku berdiri di sana melihat anak dua puluh dua tahun itu mengucapkan nggak apa-apa dengan senyum yang sudah dipasang, dan aku merasa seperti ditusuk.
Karena aku tahu senyum itu.
Aku tidur di sebelah senyum itu selama sepuluh tahun.
Aku menyelesaikan halaman terakhir malam itu juga, dan aku memutuskan mengirimnya sebelum aku sempat berubah pikiran.
Aku mencetaknya di tempat fotokopi dekat kantor keesokan paginya. Dua ratus tiga belas halaman, jilid spiral, sampul mika bening yang kutolak — aku minta yang polos, kertas biasa, dan aku menulis judulnya sendiri dengan spidol di depan orang fotokopi yang menunggu sambil bingung.
Aku tidak menulis surat pengantar.
Aku sempat mencobanya. Tiga kali. Semuanya kubuang.
Karena tiap surat pengantar yang kutulis, sepanjang apa pun, isinya selalu berakhir jadi permintaan. Tolong baca. Kamu nggak usah bales. Aku cuma pengen kamu tau.
Dan poin nomor empat di daftarku berbunyi: kalau kehadiranku membuatnya tidak nyaman, pergi tanpa perlu disuruh.
Surat pengantar adalah cara paling halus untuk tetap tinggal di dalam amplop.
Jadi aku mengirimnya kosong. Tanpa nama pengirim. Tanpa satu pun kalimat yang ditujukan kepadanya.
Kalau dia membuangnya tanpa membuka, tidak apa-apa. Itu haknya.
Kalau dia membacanya dan tidak pernah menghubungiku seumur hidup, itu juga tidak apa-apa, dan itu memang yang kuharapkan terjadi.
Karena buku itu bukan permintaan maaf. Permintaan maaf selalu menunggu jawaban.
Buku itu adalah pengakuan.
Dan pengakuan tidak butuh apa-apa dari orang yang membacanya.
Aku menyerahkan amplop itu ke kurir tanggal 3 Juni, jam sebelas pagi.
Lalu aku kembali ke lantai sembilan belas dan bekerja seperti biasa, dan malamnya aku pulang dan makan malam bersama Ibu dan mendengarkan cerita tentang cabai di pot yang akhirnya berbuah, dan aku tidur.
Dan besoknya, tanggal 4 Juni, aku bangun jam enam pagi dan berdiri di kamar mandi memandangi wajahku di cermin.
Hari ini dia menerimanya.
Aku tidak tahu jam berapa. Aku tidak tahu apakah dia akan membukanya. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelahnya.
Untuk pertama kalinya sejak 14 Maret, ada sesuatu yang berjalan di dunia ini yang tidak bisa lagi kukendalikan, kutarik kembali, atau kuperbaiki.
Aku mengikat rambutku, memakai kemeja, dan berangkat kerja.
Dan sepanjang hari itu, aku memeriksa ponselku nol kali.
Aku menghitungnya. Nol.
Itu bukan kekuatan. Itu ketakutan yang begitu besar sampai berubah bentuk jadi sesuatu yang mirip ketenangan.
Malamnya, jam setengah sepuluh, aku sedang mencuci piring di rumah waktu ponselku bergetar di meja makan.
Ibu yang mengambilnya.
“Lys. Ada telepon.”
“Dari siapa, Bu?”
Ibu memicingkan mata ke layar.
“Bintang.”
Piring di tanganku jatuh ke dalam bak dan pecah jadi tiga.
[Bersambung ke Bab 17 — POV Bintang]