← Chapters Ch. 6 / 51

Chapter Six

Nomor Satu

POV: Allysa

Karakter: Allysa, Vinka, Bu Ratna


Vinka bukan orang jahat.

Aku perlu menuliskan itu duluan, karena kalau tidak, semua yang kutulis setelah ini akan terdengar seperti orang yang sedang mencari kambing hitam. Dan aku sudah bersumpah — di lantai dapur, sepuluh tahun dari sekarang — bahwa aku tidak akan pernah lagi melakukan itu.

Vinka Larasati, dua puluh tiga tahun, teman sekelasku sejak semester dua. Dia lucu. Dia setia; kalau kamu temannya, dia akan membelamu di depan siapa pun tanpa bertanya duduk perkaranya. Dia yang menemaniku ke UGD jam dua pagi waktu aku keracunan seafood di tahun kedua kuliah dan dia menunggu sampai subuh sambil main game di ponselnya.

Vinka bukan orang jahat.

Masalahnya bukan Vinka.

Masalahnya adalah aku, waktu bersama Vinka, adalah versi terburuk dari diriku, dan aku menikmatinya.


Ada semacam bahasa di antara kami. Sudah terbentuk sejak semester dua, pelan-pelan, tanpa ada yang menyepakatinya.

Bahasa itu bunyinya begini: segala sesuatu di dunia ini pada dasarnya konyol, dan tugas kami adalah menyebutkan kekonyolannya lebih dulu dari orang lain.

Dosen yang bersemangat menjelaskan materi? Konyol. Anak yang duduk di depan dan bertanya banyak? Konyol. Pasangan yang gandengan tangan di kantin? Konyol. Orang yang menulis caption panjang di media sosial tentang perasaannya? Sangat konyol; itu bahan tertawaan kami selama tiga hari.

Dan yang membuatnya terasa enak — ini bagian yang tidak akan kuhaluskan — adalah rasa aman yang datang bersamanya.

Kalau kamu selalu jadi orang yang menertawakan, kamu tidak akan pernah jadi orang yang ditertawakan.

Kalau kamu selalu berada di luar, menonton, memberi nilai, maka tidak ada yang bisa memberi nilai kepadamu.

Aku menghabiskan bertahun-tahun di posisi itu dan aku merasa pintar. Sungguh. Aku benar-benar merasa aku sedang menang.

Dan Bintang —

Bintang adalah orang yang menulis caption panjang tentang perasaannya. Bintang adalah orang yang bersemangat menjelaskan sesuatu yang dia suka sampai lupa berhenti. Bintang adalah orang yang gandengan tangan di kantin dan tidak peduli.

Bintang adalah segala sesuatu yang bahasa kami dirancang untuk ditertawakan.

Dan aku membawanya masuk ke dalam ruangan itu, ke dalam bahasa itu, dan aku membiarkannya berdiri di sana selama enam tahun sampai akhirnya aku sendiri yang mengucapkan kalimat itu di ulang tahun Vinka.

“Dia bukan siapa-siapa. Cuma nebeng.”

Semua tertawa.

Kalian tahu kenapa aku mengatakannya?

Bukan karena aku ingin menyakitinya. Sungguh, bukan.

Aku mengatakannya karena Bintang sedang berdiri di sana dengan tangan terulur dan mata berbinar dan seluruh badannya bilang aku senang bisa kenal kalian — dan itu terbuka, dan terbuka itu berbahaya, dan aku tidak tahan melihat orang berdiri seterbuka itu di ruangan yang isinya orang-orang seperti aku.

Jadi aku menembaknya duluan.

Supaya tidak ada orang lain yang sempat.

Itu penjelasannya. Itu bukan pembelaan. Aku sudah bertahun-tahun mencoba mencari cara mengucapkan kalimat itu supaya terdengar seperti sesuatu selain kekejaman, dan tidak pernah ketemu, karena memang tidak ada.


Aku mengajak Vinka ketemu hari Rabu, di kantin belakang kampus.

Dia datang telat dua puluh menit dan langsung duduk sambil mengeluh soal dosen pembimbing, dan aku mendengarkan sambil memutar es teh dengan sedotan.

Lalu di tengah dia bercerita, dia berhenti dan bilang:

“Eh, ngomong-ngomong. Si Bintang yang temen kampus lo itu.”

Aku mengangkat wajah terlalu cepat.

“Kenapa?”

“Kemarin gue liat di kantin. Sendirian. Gambar-gambar.” Vinka mengambil kerupuk dari piringku tanpa izin, seperti biasa, seperti tujuh tahun terakhir. “Lo tau nggak, gue tuh selalu penasaran sama orang kayak gitu.”

“Kayak gitu gimana?”

“Ya kayak gitu.” Dia mengunyah. “Yang keliatan banget nggak punya apa-apa tapi tetep sok asik. Kayak—“ dia tertawa kecil, “—kayak nggak sadar aja gitu lho.”

Dan lima belas tahun bahasa kami langsung terbuka lebar di depanku, menunggu.

Aku tahu persis apa yang harus kukatakan. Aku bahkan sudah merasakan bentuknya di mulutku. Satu kalimat pendek, satu putaran yang lebih lucu dari punya Vinka, dan kami akan tertawa dan kerupuknya akan habis dan hari itu akan lewat seperti ribuan hari sebelumnya.

Aku bisa merasakan tubuhku ingin melakukannya.

Itu bagian yang paling menakutkan. Bukan bahwa aku pernah jadi orang seperti itu.

Bahwa aku masih.

Aku menaruh gelasku.

“Vin.”

“Hm?”

“Gue mau ngomong sesuatu dan gue nggak mau lo motong sampe gue selesai. Bisa?”

Vinka berhenti mengunyah. Dia menaruh kerupuknya. Aku tidak pernah bicara begitu kepadanya, tidak sekali pun dalam lima tahun.

“...Oke.”

Aku menarik napas.

“Gue nggak bisa temenan sama lo lagi.”

Kantin itu ramai. Ada suara sendok dan penggorengan dan seseorang tertawa di meja belakang. Tapi di antara kami berdua hening total, seperti seseorang menutup pintu.

“...Hah?”

“Bukan karena lo jahat.” Aku memaksa diriku menatap matanya, karena aku tahu kalau aku menunduk, aku akan mengucapkannya dengan cara yang membuat ini jadi tentang aku. “Lo nggak jahat, Vin. Lo pernah nungguin gue di UGD sampe subuh.”

“Terus kenapa—“

“Karena gue jahat kalau lagi sama lo.”

Vinka menatapku.

“Gue jadi orang yang ngetawain orang,” lanjutku, dan suaraku mulai tidak stabil, jadi aku bicara lebih cepat. “Terus gue ngerasa keren. Terus itu makin lama makin gampang. Dan gue—“

Aku berhenti.

Dan gue bakal bunuh orang pake itu.

Tidak bisa kuucapkan. Tidak akan pernah bisa kuucapkan ke siapa pun di dunia ini, seumur hidupku, kecuali satu orang yang tidak mau membuka pintunya.

“Gue nggak mau jadi orang itu,” kataku akhirnya. “Dan gue nggak cukup kuat buat nggak jadi orang itu kalau ada lo di sebelah gue. Itu masalah gue, bukan masalah lo. Tapi gue tetep harus berhenti.”

Hening lagi.

Lalu wajah Vinka berubah, dan yang muncul di sana bukan marah.

Sakit hati.

Dan itu jauh lebih buruk, karena itu artinya aku benar tentang satu hal: Vinka menyayangiku. Sungguhan. Selama ini.

“Jadi gue racun,” katanya pelan.

“Bukan itu—“

“Lo baru aja bilang gue bikin lo jadi orang jahat, Lys.”

“Gue bilang gue jadi orang jahat kalau sama lo. Bedanya jauh.”

“Buat gue nggak.”

Vinka mengambil tasnya. Tangannya bergetar sedikit waktu mengaitkan resletingnya, dan aku melihat itu, dan aku ingat bahwa perempuan ini pernah duduk di kursi plastik rumah sakit sampai jam lima pagi sambil main game supaya aku tidak sendirian.

“Lo tau nggak yang paling nyebelin?” katanya sambil berdiri. “Gue selalu ngerasa lo mandang gue dari atas. Selalu. Dari dulu. Gue selalu mikir gue kepedean.”

Dia menyandang tasnya.

“Ternyata nggak.”

Lalu dia pergi.

Dan aku duduk di kantin itu sendirian dengan es teh yang esnya sudah habis, dan aku sadar aku baru saja melakukan hal yang benar dengan cara yang menyakiti seseorang yang tidak bersalah, dan tidak ada satu pun cara untuk melakukannya tanpa itu.

Aku pikir menebus akan terasa seperti membersihkan sesuatu.

Ternyata rasanya seperti memotong.


Aku pulang dan Ibu sedang memasak.

Rumah kami kecil, dapurnya menyatu dengan ruang makan, jadi kalau Ibu memasak seluruh rumah akan bau apa pun yang sedang dia buat. Sore itu baunya sayur asem.

Aku berdiri di ambang dapur dan memandangi punggungnya.

Lima belas tahun lalu, di dapur yang sama ini, perempuan itu menata piring dengan tangan gemetar dan mengucapkan sebelas kata yang membentuk seluruh hidupku.

“Ibu terlalu banyak memberi. Sampai nggak ada yang tersisa buat dijaga.”

Aku sudah memikirkan momen ini sepanjang minggu. Aku sudah menyusun kalimatnya, seperti aku menyusun kalimat untuk halte itu.

Aku akan bilang, Bu, Ibu inget nggak pernah ngomong apa ke aku waktu aku SD?

Dan Ibu akan bilang tidak ingat, dan aku akan mengingatkannya, dan dia akan mengerti, dan sesuatu akan terurai.

“Bu,” kataku.

“Hm?” Ibu tidak menoleh; dia sedang menuang air ke panci.

Dan aku berdiri di sana, membuka mulut, dan tidak ada satu pun kalimat yang mau keluar.

Karena aku baru sadar sesuatu yang seharusnya jelas sejak awal:

Perempuan itu tidak akan ingat.

Bagi Ibu, sore itu cuma satu sore biasa dalam ribuan sore setelah suaminya pergi. Dia sedang hancur, dia sedang bicara ke ruangan kosong, dan kebetulan ada anak sembilan tahun berdiri di pintu dapur.

Dia tidak sedang mengajariku apa-apa. Dia sedang tenggelam.

Dan aku yang mengambil kalimat itu, membawanya pulang, merawatnya selama lima belas tahun, dan memberinya kunci ke seluruh rumah.

“...Nggak jadi,” kataku.

“Apa sih. Ngomong yang jelas.”

“Aku bantu ngiris, ya.”

Ibu menoleh sedikit, kaget. Aku tidak pernah membantu di dapur. Tidak sejak SMP.

“Ya udah,” katanya, curiga. “Bawang merahnya di situ.”

Kami memasak bersama selama empat puluh menit dan hampir tidak bicara.

Bukan rekonsiliasi. Belum. Itu masih jauh sekali — tiga puluh lima bab dari sekarang, di ruang tamu yang sama, dengan air mata yang belum siap kutumpahkan.

Tapi sore itu aku mengiris bawang merah di sebelah perempuan yang tidak tahu apa yang pernah dia lakukan, dan untuk pertama kalinya aku tidak membencinya.

Aku cuma merasa sedih untuknya.

Yang ternyata jauh lebih berat.


Malam itu aku membuka catatan di ponselku.

Ada satu daftar di sana, dibuat sebelas hari lalu sambil berjalan pulang di bawah hujan. Judulnya tidak ada. Isinya baru satu baris.

1. Putus sama Vinka.

Aku menekan lama, mencentangnya, dan garis coret muncul di atasnya.

Lalu aku menatap layar kosong di bawahnya cukup lama.

Aku bisa menulis banyak hal di situ. Bikin dia balik. Bikin dia percaya lagi. Bikin dia mau ketemu.

Semuanya salah. Semuanya adalah versi baru dari perempuan yang sama — perempuan yang memperlakukan orang lain sebagai sesuatu yang bisa diatur hasilnya.

Aku mengetik pelan-pelan:

2. Jangan pernah minta dia balik.

3. Cari tau apa yang dia mau — bukan apa yang aku mau kasih.

4. Kalau kehadiranku bikin dia nggak nyaman, pergi. Nggak usah nunggu disuruh.

Aku menatap keempatnya.

Lalu aku menambahkan satu lagi, yang paling sulit, yang butuh waktu delapan menit sampai jariku mau mengetiknya:

5. Semua ini nggak akan pernah cukup. Ya udah. Tetep lakuin.

Aku mengunci ponselku dan tidur menghadap tembok.

Di ujung kota, di kamar kos lantai dua nomor tujuh, ada laki-laki yang malam itu sedang menempelkan gambar meja makan ke tembok dengan selotip.

Aku tidak tahu itu. Aku tidak akan tahu selama bertahun-tahun.


[Bersambung ke Bab 7 — POV Bintang]