Chapter Twenty Four
Satu Kali Membantu
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Kirana, Bintang, Bagas, Bu Ratna
Proyek Lumina selesai bulan Juni.
Peluncurannya kecil — acara di lantai dua puluh satu, empat puluh orang, dua meja makanan, satu proyektor. Direktur kami bicara tujuh menit. Pak Har bicara empat menit. Ada tepuk tangan dan foto bersama dan kue.
Aku berdiri di barisan belakang untuk foto bersama itu, dan waktu fotonya keluar seminggu kemudian, aku menemukan diriku sendiri di ujung kanan, hampir terpotong bingkai.
Bintang berdiri di barisan kedua dari depan, di sebelah Kirana.
Aku menyimpan fotonya. Bukan untuk alasan yang kalian pikirkan.
Aku menyimpannya karena itu satu-satunya foto di dunia ini yang memuat kami berdua, dan sebelas bulan sebelumnya aku sudah menyadari bahwa di kehidupan pertama, selama sepuluh tahun, tidak pernah ada satu pun.
Tiga kali ke studio. Tiga kali dia menunggu di lobi memegang dua tiket antrean.
Aku memperbesar fotonya sampai wajahnya buram, dan aku memandanginya cukup lama, dan aku menutupnya lagi.
Bingkai kayu warna terang itu masih ada di apartemen yang tidak pernah kami tempati di dunia ini. Kertas contoh bawaan tokonya sudah dilepas.
Dia melepasnya di hari terakhir. Aku tahu, karena itu hal pertama yang kulihat waktu pulang jam sebelas lewat dua puluh.
Setelah proyek itu selesai, seharusnya tidak ada lagi.
Itu perhitunganku. Delapan bulan, selesai, kembali ke Senin-Selasa-Rabu-Kamis. Dan aku sudah menyiapkan diri untuk itu; aku bahkan agak lega.
Yang terjadi bukan itu.
Yang terjadi adalah Kirana mulai mengirimiku pesan.
Kirana
Mbak Allysa! Ini Kirana dari Elang Pustaka
Mbak masih inget saya kan hahaha
Mbak, saya mau tanya soal metrik retensi yang Mbak tunjukin di rapat terakhir. Bos saya nanyain dan saya blank total
Dan aku menjawabnya, karena itu pertanyaan kerja dan menolaknya akan aneh.
Lalu ada pertanyaan berikutnya dua minggu kemudian. Lalu ajakan makan siang, karena “kebetulan saya lagi di daerah Mbak”.
Lalu, empat bulan setelah proyek itu selesai, dia mengirim pesan jam sepuluh malam yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan sama sekali:
Mbak, boleh curhat nggak? Maaf ya nggak sopan
Aku memandangi layar itu selama tiga menit.
Lalu aku mengetik: Boleh.
Aku ingin menjelaskan sesuatu, karena tanpa ini, apa yang kulakukan berikutnya akan terlihat seperti sesuatu yang direncanakan.
Aku tidak pernah mencari Kirana.
Perempuan itu yang mendatangiku, berulang kali, selama berbulan-bulan, karena — dan ini akhirnya kupahami sekitar bulan kelima — dia sedang kesepian dan aku satu-satunya perempuan seumurannya yang dia kenal yang bukan bagian dari lingkaran kantornya.
Dan aku bisa menghentikannya kapan saja.
Aku bisa menjawab pendek-pendek. Aku bisa selalu sibuk. Aku bisa membuatnya berhenti dalam tiga minggu tanpa harus menyakiti siapa pun.
Aku tidak melakukannya.
Dan alasan sebenarnya kenapa aku tidak melakukannya adalah alasan yang butuh waktu lama untuk kuakui pada diriku sendiri:
Karena aku ingin tahu.
Bukan tentang Bintang. Sumpah, bukan itu — aku tidak pernah sekali pun bertanya tentang dia, tidak sekali pun dalam seluruh pertemanan itu.
Aku ingin tahu tentang perempuan itu.
Aku ingin tahu bagaimana caranya jadi orang seperti Kirana. Aku ingin duduk di dekatnya dan mengamati cara kerjanya, seperti orang yang mempelajari bahasa asing dengan tinggal di negaranya.
Bagaimana caranya mengatakan yang kamu inginkan tanpa takut? Bagaimana caranya marah lalu selesai dalam sepuluh menit? Bagaimana caranya menawarkan sesuatu tanpa menghitung apa yang akan kembali?
Aku berumur tiga puluh tahun dan aku tidak tahu satu pun dari itu.
Jadi aku membiarkan perempuan itu mendekat, dan aku mempelajarinya, dan aku membenci diriku sendiri karena itu — dan tetap melakukannya.
Curhatnya malam itu tentang pekerjaan. Bosnya, promosi yang tidak kunjung datang, penulis yang keras kepala.
Curhat berikutnya, tiga minggu kemudian, bukan.
Kami sedang makan siang di tempat sate dekat kantorku. Dia sedang bercerita tentang liburan yang batal, dan di tengah kalimat dia berhenti dan bilang:
“Mbak, saya nanya beneran ya. Mbak pernah pacaran sama orang yang kayaknya ada yang disimpen nggak?”
Aku menaruh sendokku.
“Maksudnya?”
“Ya—“ Dia menggerakkan tangan, mencari bentuknya di udara. “Yang baik banget. Sayang banget. Semua bener. Tapi kayak ada satu pintu yang nggak pernah dibuka.”
Aku memandanginya.
Dan aku sadar, dengan perasaan dingin yang turun sampai ke perut, bahwa aku tahu persis pintu apa yang dia maksud dan apa yang ada di baliknya.
Aku ada di baliknya.
“Pernah,” kataku.
“Terus gimana?”
Aku menatap piringku.
“Aku yang punya pintunya,” kataku. “Bukan dia.”
Kirana mengerjap. “Oh.”
“Iya.”
“Terus gimana ujungnya?”
Aku mengangkat wajah dan menatap perempuan yang duduk di seberangku — perempuan yang tiga tahun lalu memasak sup ayam di dapur bersama kos-kosan untuk laki-laki yang tidak bisa kuurus selama sepuluh tahun.
“Dia pergi,” kataku.
Kirana diam beberapa saat.
Lalu dia bilang, pelan: “Maaf ya, Mbak.”
Dan aku duduk di warung sate itu dengan tenggorokan yang menutup rapat, dan aku menjawab, “Nggak apa-apa,” dan aku mendengar suaraku sendiri mengucapkan tiga kata itu.
Tiga kata yang selama sepuluh tahun kuterima dari seseorang tanpa pernah sekali pun bertanya lebih jauh.
Yang paling menghancurkan datang empat bulan kemudian, dan bentuknya seperti hal baik.
Kirana meneleponku hari Sabtu pagi, panik.
Penerbitnya sedang mengejar tenggat untuk pameran buku tahunan. Ada masalah teknis dengan berkas cetak — file dari percetakan rusak, versi cadangannya ada di sistem lama yang tidak bisa mereka akses, dan tidak ada satu pun orang IT mereka yang masuk hari Sabtu.
“Mbak, maaf banget, saya nggak tau nanya siapa lagi—“
Aku menyelesaikannya dalam empat puluh menit lewat telepon.
Bukan karena aku hebat. Karena aku kebetulan tahu vendor sistem itu, karena tim kami memakainya juga dua tahun lalu, karena aku punya nomor orang yang bisa dihubungi di hari Sabtu.
Empat puluh menit. Tiga telepon.
“MBAK ALLYSA SAYA CINTA MBAK,” teriaknya di telepon, dan aku mendengar orang-orang di belakangnya bersorak.
Dan lalu, sebelum menutup, dia bilang:
“Mbak, nanti saya bilangin ke tim ya ini Mbak yang nolongin.”
Dan aku berkata, secepat mungkin: “Jangan.”
“Lho, kenapa?”
“Nggak usah. Beneran.” Aku memaksa suaraku terdengar ringan. “Nanti dikira Lumina ikut campur urusan internal kalian. Bilang aja kamu nemu sendiri kontaknya.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Ya ampun, Mbak baik banget.”
Aku menutup telepon dan duduk di tepi kasur.
Aturan nomor tiga. Kalau ada keputusan yang menguntungkan dia, pastikan alasannya bisa dijelaskan tanpa menyebut dia.
Aku menulis aturan itu di kertas yang kusobek dari belakang buku catatan kerjaku, hampir dua tahun lalu.
Dan aku baru menyadari, duduk di tepi kasur hari Sabtu pagi itu, bahwa aturan itu sudah berkembang jadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kuniatkan.
Bukan lagi soal menjaga profesionalitas.
Aku sudah jadi orang yang menghapus dirinya sendiri dari setiap hal baik yang dia lakukan.
Karena kalau namaku menempel di situ, hal baik itu jadi punya pengirim. Dan hal baik yang punya pengirim akan selalu, cepat atau lambat, jadi tagihan.
Jadi aku menghapus namaku. Tiap kali. Selama bertahun-tahun.
Dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu berapa kali.
Aku menangis malam itu untuk alasan yang tidak kuduga.
Bukan karena tidak mendapat pengakuan. Aku sudah lama berhenti menginginkan itu — dan kalaupun masih ingin, aku tahu betul aku tidak berhak.
Aku menangis karena aku baru sadar apa yang sudah kulakukan selama tujuh tahun terakhir.
Sepuluh tahun di kehidupan pertama, ada seorang laki-laki di rumahku yang melakukan seratus hal kecil tiap hari dan tidak pernah menempelkan namanya di satu pun dari hal-hal itu.
Air hangat di meja jam dua pagi. Galon yang selalu terisi. Baju yang selalu ada di lemari, bersih, dilipat. Dan waktu aku bertanya “kenapa tangannya diplester?”, dia bilang: nggak apa-apa. Kepeleset.
Bohong. Supaya aku tidak merasa bersalah.
Dia menghapus dirinya sendiri dari setiap hal baik yang dia lakukan, selama sepuluh tahun, untukku.
Dan aku tidak pernah menyadarinya sekali pun. Karena hal-hal yang tidak punya pengirim itu memang tidak terlihat. Itu memang cara kerjanya. Itu memang tujuannya.
Aku duduk di lantai kamar dan menutup mulutku dengan kedua tangan.
Karena sekarang aku melakukan hal yang sama persis. Dan aku sudah tahu bagaimana rasanya dari sisi yang menerima:
Kamu tidak merasakan apa-apa.
Kamu tidak tahu ada yang memberi. Kamu tidak tahu ada yang menahan diri. Kamu tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun ada orang yang membuat hidupmu sedikit lebih mudah tiap hari dan menghapus jejaknya sendiri supaya kamu tidak perlu berterima kasih.
Kamu cuma menjalani hidup yang terasa biasa saja.
Dan suatu hari orang itu tidak ada lagi, dan kamu menemukan buku abu-abu di laci, dan kamu menghitung tiga ratus dua puluh tujuh entri dengan pensil sampai jam empat pagi.
Ibu menemukanku di lantai kamar jam dua pagi. Pintunya tidak kututup rapat.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dia cuma duduk di tepi kasur, di atasku, dan menaruh tangannya di kepalaku.
“Bu,” kataku.
“Hm.”
“Aku baru ngerti sesuatu.”
“Apa?”
Aku menatap kaki meja belajarku.
“Orang yang baik diem-diem tuh nggak sabar,” kataku. “Itu bukan rendah hati.”
Ibu tidak menjawab.
“Orang yang baik diem-diem tuh lagi ngasih sesuatu ke orang yang dia nggak percaya bakal nerima kalau dikasih terang-terangan.”
Tangan Ibu berhenti di kepalaku.
“Bintang kayak gitu sepuluh tahun,” lanjutku, dan aku tidak peduli lagi bahwa Ibu tidak akan mengerti angka itu, bahwa dia tidak tahu apa-apa, bahwa kalimat ini tidak masuk akal bagi siapa pun di dunia ini kecuali dua orang. “Dan sekarang aku juga.”
Aku menoleh dan menatap ibuku.
“Berarti aku juga nggak percaya sama dia, Bu.”
Ibu memandangiku cukup lama di kegelapan kamar itu.
“Apa,” katanya akhirnya, “kamu nggak percaya sama kamu sendiri?”
Aku memikirkan pertanyaan itu selama berbulan-bulan.
Dan jawabannya — yang akhirnya kutemukan bukan malam itu, bukan bulan itu, tapi jauh nanti, di kamar sewaan di Surabaya dengan koper yang belum kubuka — jawabannya adalah:
Iya.
Aku tidak pernah menempelkan namaku pada hal baik yang kulakukan karena aku tidak percaya bahwa namaku bisa berdiri di sebelah kata “baik” tanpa mencemarinya.
Dan selama aku masih percaya itu, tidak ada satu pun kebaikan yang kulakukan yang benar-benar bersih.
Semuanya masih tentang aku. Semuanya masih tentang menghukum. Semuanya masih, dengan cara yang paling halus dan paling licik, tentang perempuan yang tidak sanggup menerima jeruk gratis dari penjual buah di trotoar Jalan Wijaya.
[Bersambung ke Bab 25 — POV Bintang]