← Chapters Ch. 41 / 51

Chapter Forty One

Yang Kubawa dari Jakarta

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Allysa, Bu Ratna


Aku sampai Surabaya hari Jumat malam dan tidak langsung ke sana.

Aku menginap di hotel murah dekat stasiun, dan hari Sabtu pagi aku sarapan, dan aku berjalan kaki tiga kilometer tanpa arah, dan jam satu siang aku kembali ke hotel dan mandi lagi karena keringatan.

Dan jam dua siang aku berdiri di depan pintu apartemen di daerah Gubeng, lantai sembilan, nomor 12B.

Aku sudah menyusun kalimatnya selama tiga tahun.

Aku ingin menuliskan itu apa adanya: tiga tahun, dan yang akhirnya kupakai adalah versi yang kususun di dalam lift dua menit sebelumnya.

Aku menekan belnya.

Ada suara TV dari dalam. Acara masak, volumenya terlalu keras. Lalu suara perempuan tua berteriak — “LYS! ADA ORANG!” — dan suara dari arah lain, lebih jauh, “Iya, Bu, bentar!”

Suara air keran dimatikan.

Langkah kaki.

Dan pintu terbuka.


Empat puluh tiga tahun.

Dia memakai kaos rumahan dan celana pendek selutut. Rambutnya diikat asal-asalan dan ada beberapa helai putih di pelipisnya. Tangannya masih basah dan dia sedang mengelapnya ke celana waktu pintunya terbuka.

Dan aku berdiri di lorong lantai sembilan itu dan melihat perempuan itu berhenti bergerak.

Kami tidak bertemu selama sebelas tahun.

Dia tidak menutup pintunya. Dia juga tidak mengatakan apa-apa. Dia cuma berdiri di sana dengan tangan setengah terangkat, dan aku bisa melihat seluruh wajahnya berubah tiga kali dalam empat detik.

Dari terkejut. Ke sesuatu yang tidak bisa kubaca. Lalu ke sesuatu yang tenang — dan yang tenang itulah yang membuatku hampir kehilangan seluruh kalimatku.

Karena bukan tenang yang dipasang.

“Bintang,” katanya.

“Halo, Lys.”

Dari dalam, suara perempuan tua: “SIAPA?”

Allysa tidak menoleh.

“Temen, Bu.”

“TEMEN SIAPA?”

“TEMEN LAMA.”

Dan dari dalam terdengar suara TV dikecilkan — pelan, hati-hati, dengan cara yang menunjukkan bahwa perempuan tua itu tidak sedang mengecilkannya untuk mendengarkan lebih baik, tapi untuk memberi ruang.

Allysa masih berdiri di ambang pintu.

“Kamu mau masuk?” tanyanya.

Dan aku bilang, “Belum.”

Dia mengerjap.

“Aku mau ngomong dulu di sini,” kataku. “Kalau aku udah selesai ngomong dan kamu masih mau aku masuk, aku masuk.”


Aku menarik napas.

“Aku ke sini bukan buat balikan.”

Aku mengucapkannya duluan, di kalimat pertama, karena itu satu-satunya cara yang adil.

Wajahnya tidak berubah.

“Aku nggak punya perasaan itu,” lanjutku. “Aku udah cek berkali-kali selama tiga tahun, dan aku nggak nemu. Dan aku nggak mau bohong sama kamu, bahkan kalau bohongnya bikin percakapan ini lebih gampang.”

Allysa mengangguk sekali.

“Iya,” katanya. “Makasih.”

Dan itu — kalimat itu, diucapkan tanpa satu pun getaran, dari perempuan yang menghabiskan dua puluh lima tahun menunggu — kalimat itu hampir membuatku kehilangan sisanya.

“Aku juga nggak ke sini buat minta maaf,” kataku. “Bukan karena aku nggak salah. Aku salah sama beberapa orang. Tapi nggak sama kamu, dan aku nggak akan ngarang.”

“Iya.”

“Dan aku nggak ke sini buat maafin kamu.”

Dia menatapku.

“Bukan karena aku nggak mau.” Aku menelan ludah. “Karena aku nggak tau caranya. Aku udah dua puluh lima tahun mikirin itu dan aku belum nemu bentuknya.”

Lorong lantai sembilan itu sepi. Ada suara lift di ujung koridor.

“Terus kamu ke sini kenapa?” tanya Allysa.

Dan aku mengucapkan kalimat yang butuh tiga tahun.

“Aku ke sini buat minta sesuatu.”


Wajah perempuan itu berubah.

Bukan besar. Cuma sesuatu di sekitar matanya yang bergeser, dan bibirnya sedikit terbuka, dan dia harus memegang kusen pintu.

“Minta,” ulangnya.

“Iya.”

“Kamu—“

Dia berhenti. Dia menarik napas dan mencoba lagi.

“Kamu belum pernah minta apa-apa ke aku.”

“Aku tau.”

“Sepuluh tahun.” Suaranya mulai tidak stabil. “Sepuluh tahun, Bintang. Kamu nggak pernah minta apa-apa. Nggak sekali pun.”

“Aku tau.”

Dan aku berdiri di lorong itu dan menahan diriku sendiri dengan seluruh tenaga yang kupunya, karena setiap bagian dari diriku ingin membatalkannya — ingin bilang ya udah nggak jadi, ingin bilang nggak usah, ingin menarik permintaan itu kembali sebelum sempat membebani siapa pun.

Tiga tahun latihan. Sebelas minggu cuma untuk bisa bilang temenin gue makan siang.

Aku menahannya.

“Aku mau kamu cerita,” kataku.

Allysa mengerjap.

“Cerita apa?”

“Sepuluh tahun itu. Dari sisi kamu.”

Aku menatapnya.

“Semuanya, Lys. Bukan yang di buku itu — buku itu daftar. Aku udah baca dan itu bukan cerita, itu berita acara.”

Aku mengangkat tangan lalu menjatuhkannya lagi.

“Aku mau tau kamu lagi mikirin apa. Aku mau tau gimana rasanya dari kursi kamu. Aku mau tau kenapa kamu ketawa waktu di rumah Vinka, dan apa yang kamu lakuin habis kamu masuk kamar malam ulang tahun itu.”

Suaraku mulai pecah dan aku membiarkannya.

“Dua puluh lima tahun aku nyimpen sepuluh tahun itu sendirian,” kataku. “Aku nggak pernah bisa cerita ke siapa-siapa. Nggak ke Damar. Nggak ke Ibu sebelum dia meninggal. Nggak ke Kirana, dan itu yang bikin dia pergi.”

Aku menyeka mata dengan lengan.

“Dan aku baru sadar tiga tahun lalu bahwa cuma ada satu orang di dunia ini yang tau itu pernah ada.”

Allysa berdiri di ambang pintu dengan tangan menutup mulutnya.

“Aku capek, Lys,” kataku. “Aku capek nyimpen sendirian. Dan aku nggak punya siapa-siapa lagi buat dimintain tolong soal ini.”

Aku menarik napas.

“Jadi aku minta tolong sama kamu.”


Perempuan itu tidak menjawab selama mungkin dua puluh detik.

Lalu dia menurunkan tangannya dari mulutnya, dan menyeka wajahnya dengan cepat, dan dia bilang:

“Bintang.”

“Iya?”

“Kamu tau nggak kamu barusan ngasih aku apa?”

Aku menggeleng.

Dan Allysa tertawa — tawa yang basah dan pendek dan hampir seperti tersedak.

“Kamu ngasih aku kesempatan buat berguna,” katanya. “Yang pertama. Dua puluh lima tahun.”

Dia menyandarkan bahunya ke kusen pintu.

“Dan kamu nggak tau ya, kalau aku dulu minta itu ke kamu, itu bakal jadi racun. Aku udah pernah hampir ngelakuin itu — sebelas tahun lalu, waktu ibu kamu meninggal dan kamu mulai nelepon. Aku hampir bikin diri aku jadi perlu.”

“Aku tau.”

Dia mengangkat wajahnya cepat. “Kamu tau?”

“Kamu yang mutus telepon itu,” kataku. “Kamu nulis ‘aku nggak mau ngasih kamu apa pun yang ada harganya’. Aku baca pesan itu sekitar empat ratus kali selama sebelas tahun.”

Allysa menutup matanya.

“Dan sekarang kamu yang minta,” katanya.

“Iya.”

“Jadi nggak ada harganya.”

“Iya.”

Dia membuka matanya.

“Bintang, itu—“ Dia berhenti, mencari kata, dan tidak menemukannya, dan akhirnya cuma menggeleng. “Itu jahat banget.”

Aku hampir tertawa.

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Dia menyeka wajahnya lagi. “Astaga. Jangan.”


Dari dalam apartemen, suara perempuan tua:

“LYS.”

“Iya, Bu?”

“MASUKIN ORANGNYA. NGGAK SOPAN.”

Allysa menoleh ke dalam.

“BENTAR, BU.”

“UDAH LIMA BELAS MENIT.”

Dan aku berdiri di lorong itu dan tertawa — betulan tertawa, untuk pertama kalinya sejak turun dari kereta — dan Allysa menoleh ke arahku dengan wajah yang setengah kesal dan setengah lega.

Lalu dia menegakkan badan dari kusen pintu.

“Bintang.”

“Hm?”

“Aku nggak akan jawab sekarang.”

Aku mengangguk.

“Bukan karena aku nggak mau,” katanya cepat. “Aku mau. Aku pengen banget, dan itu justru masalahnya.”

Dia menyilangkan tangan.

“Kalau aku jawab sekarang, aku lagi jawab pertanyaan lama. Dan aku udah dua puluh lima tahun jawab pertanyaan lama.”

Aku menatapnya.

Dan sesuatu di dadaku melonggar dengan cara yang tidak kuduga — karena aku sudah menyiapkan diri untuk semua kemungkinan kecuali yang ini.

“Oke,” kataku.

“Oke?”

“Oke.” Aku mengangkat bahu. “Kamu mau berapa lama?”

Dia berpikir.

“Nggak tau.”

“Ya udah.”

“Bintang, aku serius. Bisa dua minggu, bisa enam bulan.”

“Lys.” Aku menatapnya. “Aku nunggu tiga tahun cuma buat bisa berdiri di sini. Aku nggak akan mati kalau nunggu enam bulan lagi.”

Dan perempuan itu berdiri di ambang pintu apartemennya dan menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajahnya dalam dua kehidupan.

Bukan syukur. Bukan lega.

Kaget.

Seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang tidak pernah dia pikir tersedia untuknya.


Aku masuk juga akhirnya, karena ibunya mengancam akan keluar sendiri.

Bu Ratna berumur tujuh puluh enam tahun dan tingginya sampai dadaku dan dia menyalamiku dengan dua tangan lalu langsung berkata:

“Kamu yang gambar buku kucing itu?”

Aku berhenti.

“...Iya, Bu.”

“Ibu punya,” katanya. “Yang matanya sebelah.”

Dan dia berjalan ke rak di ruang tamu, mengambil sesuatu, dan menyerahkannya padaku.

Buku itu. Cetakan lama, edisi pertama, sampulnya sudah pudar dan sudutnya menggulung.

Aku memandanginya.

“Bu—“

“Anak saya yang beliin,” kata Bu Ratna. “Dulu. Tahun berapa ya, Lys?”

Dan aku menoleh.

Allysa sedang berdiri di dapur dengan punggung ke arah kami, sedang mengambil gelas dari rak, dan bahunya kaku.

“Lama, Bu,” katanya, tanpa berbalik.

“Ya iyalah lama, Ibu nanya tahun berapa.”

“Nggak inget.”

Bu Ratna mengibaskan tangan ke arahku, jengkel, dan bergumam sesuatu tentang anak zaman sekarang yang tidak bisa mengingat apa-apa.

Dan aku duduk di sofa apartemen di Gubeng itu dengan buku pertamaku di tangan, cetakan pertama, dibeli oleh seseorang bertahun-tahun sebelum aku pernah membayangkan akan duduk di ruangan ini.

Allysa datang membawa dua gelas air dan menaruhnya di meja.

Satu di depan ibunya.

Satu di depanku — di sebelah kiri.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak menoleh untuk melihat reaksiku. Dia menaruhnya, lalu duduk di kursi seberang dan bertanya apakah aku sudah makan.


[Bersambung ke Bab 42 — POV Allysa]