← Chapters Ch. 4 / 51

Chapter Four

Pintu yang Tidak Dibuka

POV: Allysa

Karakter: Allysa, Bintang, Bu Ratna, Ibu kos (figuran)


Aku sampai di halte jam empat lewat dua puluh.

Empat puluh menit lebih awal. Aku yang seumur hidup selalu datang terlambat ke mana pun, yang menganggap ketepatan waktu sebagai kelemahan orang-orang yang tidak punya hal lebih penting untuk dikerjakan — aku berdiri di halte itu empat puluh menit sebelum waktunya, dengan payung yang belum kubuka, memandangi jalan.

Langit sudah kelabu sejak siang.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Sepanjang perjalanan, di dalam angkot, aku menyusunnya berulang-ulang sampai hafal.

Nanti dia akan datang. Basah kuyup, karena dia akan lupa bawa payung, seperti selalu. Dia akan berdiri di depanku dengan tangan gemetar dan menunduk sedikit — dia selalu menunduk kalau gugup, seperti orang yang minta maaf sebelum melakukan kesalahan — dan dia akan bilang bahwa dia mencintaiku.

Dan kali ini aku akan menjawabnya dengan benar.

Aku sudah menyusunnya. Panjangnya sebelas kalimat. Ada bagian di mana aku bilang aku sudah lama mencintainya, jauh sebelum dia mengatakannya. Ada bagian di mana aku bilang terima kasih. Ada bagian di mana aku minta dia berjanji untuk memberitahuku kalau aku menyakitinya, kapan pun, tanpa takut.

Sebelas kalimat. Aku mengulangnya di kepala seperti orang menghafal doa.

Jam lima kurang sepuluh, hujan mulai turun.

Jam lima tepat, jalanan sudah putih oleh air.

Jam lima lewat lima belas, aku mengeluarkan ponsel dan mengetik udah di jalan? lalu menghapusnya, karena tidak sopan, karena mungkin dia sedang di angkot dan tidak bisa membalas, karena aku tidak berhak menuntut apa pun dari laki-laki itu — tidak sekarang, tidak lagi.

Jam enam, penjual gorengan di seberang halte mulai membereskan dagangannya.

Jam tujuh, aku masih di situ.


Aku tidak akan menuliskan berapa lama aku menunggu, karena angkanya membuatku terlihat seperti sedang meminta dikasihani, dan aku tidak berhak atas itu.

Yang akan kutulis cuma ini: sepanjang jam-jam itu, kepalaku menawarkan tiga penjelasan, satu per satu, seperti orang yang mencoba tiga kunci berbeda di satu pintu.

Kunci pertama: dia terlambat. Motornya mogok, angkotnya macet, ponselnya mati.

Kunci itu patah jam tujuh.

Kunci kedua: aku sudah mengubah sesuatu. Entah bagaimana. Mungkin karena aku bangun dan menangis pagi ini, mungkin karena ada pesan yang tidak kukirim atau kukirim terlalu cepat, mungkin karena keberadaanku di sini — versiku yang ini, yang tahu — sudah cukup untuk merusak hari yang seharusnya terjadi.

Kalau begitu ini salahku. Lagi.

Kunci itu bertahan agak lama. Sampai jam delapan.

Kunci ketiga, yang datang paling akhir dan langsung terasa paling benar, dan justru karena itu paling tidak mau kupegang:

Dia tidak datang karena dia tidak mau datang.

Bukan karena mogok. Bukan karena aku mengubah sesuatu. Karena laki-laki itu, di titik waktu ini, di hari ini, memutuskan bahwa dia tidak ingin mengatakan hal itu kepadaku.

Dan kalau itu benar, artinya sesuatu yang tidak berani kupikirkan sampai selesai.

Aku pulang jam sembilan lewat.

Ibu masih bangun, sedang melipat baju di ruang tengah, dan dia mengangkat wajah waktu aku masuk.

“Kamu ke mana? Basah semua.”

Aku berdiri di ambang pintu, dengan rambut menempel di dahi dan payung yang tidak pernah kubuka menetes ke lantai.

Dan aku menatap perempuan itu — perempuan yang lima belas tahun lalu berdiri di dapur menata piring dengan tangan gemetar dan mengucapkan satu kalimat yang membentuk seluruh sisa hidupku — dan untuk pertama kalinya aku merasa ingin sekali berteriak ke wajahnya.

Ibu tahu nggak, Ibu ngajarin aku apa?

Ibu tahu nggak, gara-gara satu kalimat Ibu, ada orang yang mati sepuluh tahun lagi?

Aku tidak mengatakan apa pun. Aku bilang, “Kehujanan,” lalu masuk kamar.

Kalau ada satu hal yang tidak berubah dari diriku sejak kemarin, itu adalah ini: aku masih perempuan yang menelan semuanya lalu membuat orang lain menanggung akibatnya nanti.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku menyadarinya sambil melakukannya.

Itu belum perbaikan. Itu baru penglihatan.

Tapi harus mulai dari suatu tempat.


Aku ke kosnya keesokan harinya. Dan besoknya. Dan besoknya lagi.

Hari pertama, ibu kosnya yang membukakan gerbang.

“Bintang, Mbak? Wah, pulang kampung dia. Kemarin sore.”

Aku berdiri di situ agak lama.

“Pulang kampung?”

“Iya, ke rumah ibunya. Nggak bilang mau berapa lama.”

Ke rumah ibunya.

Aku berjalan pulang sambil memikirkan itu sepanjang jalan, dan setiap langkah rasanya seperti menekan memar.

Karena begini: di hidup pertama, sepuluh tahun, Bintang cuma tiga kali pulang ke rumah ibunya. Tiga kali. Aku menghitungnya sekarang dan aku ingat semuanya, ingat bagaimana tiap kali dia mau berangkat aku selalu menemukan alasan — ada acara kantor, ada barang yang harus diangkat, ada aku yang butuh diantar.

Dan tiap kali dia bilang, “Ya udah, nggak apa-apa. Lain kali.”

Sekarang, di hari kedua kehidupan keduanya, dia langsung pergi.

Bukan lari dariku. Itu yang paling menyakitkan. Dia tidak lari dariku — dia cuma pulang ke tempat yang seharusnya dia datangi sejak dulu, tempat yang selama sepuluh tahun kutahan-tahan supaya dia tidak ke sana.

Aku bahkan tidak bisa marah. Tidak ada tempat untuk marah dalam hal ini.


Dia kembali sebelas hari kemudian.

Aku tahu karena aku datang tiap sore. Setiap hari, jam lima, selesai jam kuliah — di titik waktu ini aku masih semester akhir, masih belum menjadi perempuan berkemeja rapi yang menjawab orang sambil mengetik — aku datang ke gerbang kos itu dan duduk di warung seberang jalan dan memesan es teh dan menunggu sampai gelap.

Sebelas hari. Ibu warungnya sampai hafal.

“Es teh lagi, Mbak?”

“Iya, Bu.”

Di hari kesebelas, jam setengah tujuh malam, aku melihat sosoknya turun dari angkot di ujung jalan sambil menyandang ransel.

Aku berdiri terlalu cepat sampai kursi plastikku jatuh ke belakang.

Dan aku berdiri di situ, di depan warung, dengan es teh yang belum kubayar, memandangi laki-laki itu berjalan mendekat.

Dia terlihat berbeda.

Ini yang membuatku tidak bisa bergerak. Bukan karena dia lebih kurus atau lebih gemuk — sebelas hari tidak cukup untuk mengubah tubuh siapa pun. Yang berbeda cara jalannya.

Bintang yang kukenal berjalan dengan bahu sedikit ke depan. Selalu. Seperti orang yang sedang meminta maaf karena mengambil tempat.

Laki-laki yang berjalan di seberang jalan ini punggungnya lurus.

Dia melihatku.

Aku tahu dia melihatku karena langkahnya berhenti sepersekian detik — cuma sepersekian detik, hampir tidak kelihatan — lalu lanjut lagi dengan kecepatan yang sama persis.

Aku menyeberang.

“Bintang.”

Dia berhenti di depan gerbang kos. Menoleh. Dan menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya seumur hidup, di dua kehidupan sekaligus.

Ramah.

Ramah yang kosong. Ramah yang dipakai orang untuk satpam gedung, untuk kasir minimarket, untuk orang yang menanyakan arah di jalan.

“Eh,” katanya. “Halo.”

Sebelas hari kususun kalimatnya. Sebelas hari, ditambah sembilan hari sebelumnya, ditambah sepuluh tahun.

Yang keluar cuma: “Kamu ke mana aja?”

“Pulang.” Dia membenahi tali ransel di bahunya. “Ibu lagi sendirian di rumah.”

“Kok nggak bilang?”

Dan detik setelah aku mengatakannya, aku ingin menampar mulutku sendiri.

Kok nggak bilang.

Sepuluh tahun laki-laki ini pergi ke mana-mana dan aku tidak pernah sekali pun bertanya dia ke mana. Sepuluh tahun dia pulang jam berapa pun dan aku tidak pernah mengangkat wajah dari layar. Sepuluh tahun.

Dan hal pertama yang keluar dari mulutku sekarang adalah menuntut laporan.

Bintang tidak menjawab langsung. Dia cuma memandangiku sebentar — dan di detik itu aku merasa seperti diperiksa, seperti barang di konter yang sedang dicek nomor serinya — lalu dia bilang, dengan nada yang benar-benar biasa saja:

“Kayaknya aku nggak perlu bilang, deh.”

Sopan. Tidak ada racun sedikit pun di dalamnya.

Justru itu yang membuatnya masuk sampai ke tulang.

“Bintang,” kataku lagi, dan suaraku mulai kacau, “kemarin, Senin, di halte—“

“Iya, maaf ya.” Dia mengangguk kecil, seperti orang yang lupa membalas undangan. “Aku ada urusan mendadak. Maaf banget.”

“Aku nunggu.”

“Iya. Maaf.”

Dan itu saja.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan yang dikarang. Tidak ada rasa bersalah yang bisa kupegang dan kuputar jadi sesuatu.

Dia cuma berdiri di sana, minta maaf dengan tulus, dan tidak menawarkan apa pun.

Laki-laki yang kukenal akan menjelaskan sampai lima menit. Dia akan gugup, dia akan mengulang maafnya empat kali, dia akan menawarkan mengantarku pulang untuk menebusnya walaupun tidak ada yang perlu ditebus.

Laki-laki ini sudah selesai bicara.

“Aku duluan ya,” katanya. “Capek banget di jalan.”

Dia membuka gerbang.

“Bintang—“

Gerbangnya tertutup.


Aku berdiri di depan gerbang kos itu sampai jam sembilan malam.

Kamarnya di lantai dua, nomor tujuh, jendelanya menghadap jalan. Lampunya menyala jam tujuh kurang.

Aku bisa melihat bayangannya lewat gorden tipis. Bergerak. Duduk. Berdiri lagi.

Dan aku berdiri di bawah, di trotoar, di antara motor-motor yang diparkir, dan aku menekan tombol panggil di ponselku.

Aku melihat bayangan itu berhenti bergerak.

Berhenti. Beberapa detik. Lalu bergerak lagi.

Ponselku terus berdering sampai putus sendiri.

Aku menelepon lagi. Dan lagi. Enam kali.

Di panggilan ketujuh, deringnya cuma satu kali lalu langsung mati — ditolak.

Lalu satu pesan masuk.

Bintang

Maaf ya, aku mau tidur. Besok-besok aja.

Sopan. Bahkan pakai kata maaf.

Aku menatap layar itu di bawah lampu jalan sampai hurufnya berair.

Dan pemahaman yang sejak semalam kutolak itu akhirnya masuk juga, pelan-pelan, seperti air yang naik ke dalam sepatu:

Laki-laki ini tidak sedang menghukumku.

Kalau dia menghukumku, dia akan marah. Dia akan mengungkit. Dia akan memberiku daftar. Orang yang menghukum berarti masih menganggap ada yang perlu diselesaikan, dan selama masih ada yang perlu diselesaikan, masih ada pintu — betapa pun kecilnya.

Bintang tidak marah sedikit pun.

Dia cuma sopan. Sopan seperti kepada orang yang tidak dia kenal.

Dan itu artinya —

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Itu artinya sepuluh tahun itu bukan cuma menghabisiku. Sepuluh tahun itu menghabisi sesuatu di dalam dirinya sampai ke akarnya, sampai ke tempat yang tidak bisa dijangkau lagi oleh permintaan maaf mana pun.

Aku menghancurkan orang yang mencintaiku, dan aku berhasil sepenuhnya, dan sekarang aku diberi kesempatan kedua untuk berdiri di bawah jendelanya dan melihat hasil kerjaku sendiri dari dekat.

Hujan mulai turun lagi, kecil-kecil.

Lampu kamar nomor tujuh mati jam sembilan lewat lima.

Aku masih berdiri di sana beberapa menit setelahnya, memandangi jendela yang gelap, dan aku berbisik ke arah gedung itu — sama seperti aku berbisik ke ruangan kosong di lantai dapur, sepuluh tahun dari sekarang, atau sepuluh tahun yang lalu, atau kapan pun itu:

“Nggak apa-apa.”

Air hujan masuk ke kerah bajuku.

“Aku nggak minta kamu balik. Sungguh.”

Aku menyeka wajah dengan lengan yang sudah basah, jadi tidak ada gunanya.

“Aku cuma nggak mau kamu ngerasa kayak kemarin lagi. Itu aja. Aku janji.”

Tidak ada yang mendengar. Jendelanya tetap gelap.

Aku pulang jalan kaki karena angkot terakhir sudah lewat, dan sepanjang jalan aku menyusun rencana — bukan rencana untuk mendapatkan dia kembali, karena aku sudah mengerti malam itu bahwa itu tidak akan pernah terjadi.

Rencana untuk membayar.

Dan hal pertama dalam daftar itu, yang kutulis di ponselku sambil berjalan di bawah hujan, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bintang.

1. Putus sama Vinka.


[Bersambung ke Bab 5 — POV Bintang]