Chapter Thirty Three
Bayar Utang ke Orang Lain
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Kirana, Damar
Kirana mengakhirinya di hari Sabtu, jam sebelas pagi, di dapur apartemennya, sambil membuat kopi.
Aku ingin menuliskan itu apa adanya karena kalau ada yang membaca ini dan membayangkan pertengkaran, hujan, atau seseorang berteriak di tengah jalan — tidak ada.
Dia sedang menuang air panas dan dia bilang:
“Bin, aku mau ngomong sesuatu, dan aku udah mikirin ini tiga bulan, jadi tolong jangan potong sampai aku selesai.”
Aku menaruh ponselku.
Dan aku tahu. Aku langsung tahu — bukan karena isi kalimatnya, tapi karena bentuknya. Karena itu bentuk kalimat yang sudah dia pakai sejak hari pertama aku mengenalnya: saya lagi nggak main tebak-tebakan.
Perempuan itu tidak pernah sekali pun membuatku menebak. Termasuk hari itu.
“Iya,” kataku.
Dia menaruh tekonya. Menyandarkan pinggangnya ke meja dapur. Dan menatapku.
“Aku udahan ya.”
Aku duduk di kursi meja makannya dan tidak bergerak.
“Dan aku mau kamu tau alasannya,” lanjutnya, “karena aku nggak mau kamu ngarang alasan sendiri nanti. Kamu suka gitu.”
Aku hampir tertawa. Hampir.
“Bukan karena kamu jahat,” katanya. “Kamu nggak pernah jahat sama aku. Nggak sekali pun, empat tahun.”
“Ran—“
“Belum selesai.”
Aku menutup mulutku.
Kirana menarik napas.
“Bukan karena ada orang lain juga,” katanya. “Aku tau kamu nggak selingkuh. Aku nggak pernah mikir gitu, walaupun kamu mungkin ngira aku mikir gitu.”
Dia menyilangkan tangan.
“Aku udahan karena kamu baik banget sama aku.”
Aku mengerutkan kening.
“Ran, itu—“
“Terlalu baik.” Dia mengangkat tangannya. “Bin, kamu tuh baik sama aku kayak orang yang lagi bayar utang ke orang lain.”
Dapur itu sunyi. Ada suara air mendidih di teko yang sudah dimatikan.
“Kamu inget nggak,” katanya, “waktu ulang tahun aku yang kedua? Kamu bikinin aku buku dua belas halaman. Satu-satunya di dunia.”
“Inget.”
“Aku nangis di restoran, di depan orang.”
“Iya.”
“Dan malemnya aku pulang, dan aku duduk di kasur megang buku itu, dan aku ngerasa—“ Dia berhenti, dan untuk pertama kalinya suaranya bergetar. “Aku ngerasa kayak orang yang lagi dikasih hadiah sama orang yang lagi minta maaf.”
Aku menatap meja.
“Empat tahun, Bin. Kamu nggak pernah minta apa-apa dari aku.”
“Itu jelek?”
“IYA.”
Suaranya keras untuk pertama kalinya, dan dia langsung menutup mulutnya dengan tangan, dan lalu menurunkannya lagi.
“Iya,” ulangnya, lebih pelan. “Itu jelek. Karena artinya aku nggak pernah dikasih kesempatan buat ngasih kamu apa-apa.”
Aku membuka mulut dan menutupnya lagi.
“Aku naik bus enam jam berapa kali, Bin?”
“Banyak.”
“Berapa kali kamu minta?”
Aku tidak menjawab.
“Nol,” katanya. “Nol kali. Aku yang selalu bilang duluan, tiap kali, dan tiap kali kamu bilang ‘nggak usah, capek’ dulu sebelum akhirnya iya.”
Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku bukan lagi ngeluh kamu nggak sayang. Kamu sayang banget. Itu bagian yang bikin ini susah.”
“Terus apa?”
Kirana menurunkan tangannya.
“Aku nggak mau jadi orang yang cuma dikasih,” katanya. “Aku mau jadi orang yang dibutuhin.”
Kami duduk di dapur itu selama dua jam setelahnya.
Tidak bertengkar. Kami bicara — benar-benar bicara, mungkin lebih jujur daripada sepanjang empat tahun terakhir digabungkan — dan itu bagian yang paling menyakitkan.
Karena ternyata kami bisa. Sepanjang waktu, kami bisa.
Aku cuma menunggu sampai sudah tidak ada gunanya.
Menjelang aku pulang, dia bertanya satu hal.
“Bin, boleh nanya terakhir?”
“Boleh.”
“Ruangan yang kamu simpen itu.” Dia menatapku. “Isinya orang, apa isinya kejadian?”
Aku berdiri di ambang pintu apartemennya dengan tas di bahu.
Dan aku menjawab dengan jujur, karena aku sudah berhutang terlalu banyak kejujuran pada perempuan itu untuk berbohong di kalimat terakhir.
“Kejadian,” kataku.
Kirana mengangguk pelan.
“Oke.”
“Ran, aku serius. Ini bukan—“
“Aku percaya kamu.” Dia bersandar ke kusen pintu. “Aku beneran percaya, Bin.”
Dia tersenyum, dan senyumnya capek sekali.
“Cuma kejadian itu ada orangnya,” katanya. “Dan cuma dia yang tau. Jadi ujungnya sama aja.”
Aku membantunya mengangkat barang dua minggu kemudian.
Bukan karena dia minta. Dia pindah ke apartemen yang lebih kecil di daerah lain, dan aku menawarkan, dan dia bilang tidak usah, dan aku tetap datang.
Kami mengangkat kardus selama empat jam. Kami memesan makan siang. Kami tertawa dua kali tentang lemari yang tidak muat lewat pintu.
Dan waktu semuanya selesai, dia berdiri di tengah apartemen barunya yang penuh kardus, mengelap keringat dengan lengan, dan bilang:
“Nah. Ini juga.”
“Apa?”
“Ini,” katanya, menunjuk seluruh ruangan dengan dagu. “Kamu bantuin aku pindahan. Empat jam. Padahal aku udah bukan siapa-siapa buat kamu.”
“Ran—“
“Aku nggak lagi marah, Bin. Sumpah.” Dia mengangkat bahu. “Aku cuma pengen kamu denger ini sekali, dari aku, biar kamu bawa.”
Dia menaruh kain lapnya.
“Kamu tuh baik banget sama orang. Semua orang. Terus-terusan.”
Dia menatapku.
“Sekarang coba kamu inget: kapan terakhir kamu minta tolong ke seseorang, dan orangnya bilang iya, dan kamu biarin dia ngelakuinnya sampai selesai tanpa kamu ngerasa harus ngebalas?”
Aku berdiri di tengah apartemen penuh kardus itu.
Dan aku tidak bisa menemukan satu pun.
Tidak dalam empat tahun. Tidak dalam sepuluh tahun sebelumnya. Tidak seumur hidupku, dua kehidupan sekaligus.
Kirana melihat wajahku, dan sesuatu di wajahnya melunak, dan dia melangkah maju dan memelukku.
“Ya udah,” katanya di bahuku. “Ya udah, Bin.”
Kami berdiri begitu cukup lama.
“Nanti kamu perbaiki ya,” katanya. “Bukan buat aku. Buat siapa pun nanti.”
Aku tidak baik-baik saja setelahnya.
Aku ingin menuliskan itu, karena kalau aku melompat langsung ke bagian berikutnya, akan terlihat seperti aku melepas perempuan itu dengan mudah.
Tidak.
Tiga bulan pertama aku bekerja terlalu banyak lagi. Damar yang menyadarinya — dia menelepon jam sepuluh malam di bulan kedua dan bilang, “Bin, lo udah makan?” dan aku sadar aku belum, dan sudah jam sepuluh, dan itu hari ketiga berturut-turut.
Dia datang ke kosku malam itu juga dengan nasi bungkus dan duduk di lantai sampai aku menghabiskannya.
“Mar.”
“Hm.”
“Gue ngerusak orang baik.”
Damar mengunyah.
“Iya,” katanya.
Aku menoleh.
“Lo nggak bakal bilang ‘nggak kok, itu bukan salah lo’?”
“Enggak.” Dia mengangkat bahu. “Lo emang ngerusak orang baik. Dia bilang sendiri ke gue.”
Aku menaruh sendokku.
“Dia telepon lo?”
“Dia telepon gue tiga kali dalam empat tahun,” kata Damar. “Semuanya soal lo. Semuanya nanya gimana caranya biar lo mau cerita.”
Aku menatap lantai.
“Dan gue nggak bisa jawab,” lanjutnya, “karena gue juga nggak tau.”
Kami diam beberapa saat.
“Bin.”
“Hm.”
“Gue mau ngomong satu hal, terus gue nggak akan ngomongin lagi.”
“Iya.”
Damar menaruh nasi bungkusnya.
“Lo tuh selalu bilang lo nggak bisa cerita ke gue karena gue bakal ngira lo sakit,” katanya. “Bener nggak?”
“Iya.”
“Nah, itu bohong.”
Aku mengangkat wajah.
“Bukan bohong ke gue. Bohong ke diri lo sendiri.” Dia menatapku lurus. “Lo nggak cerita bukan karena takut gue nggak percaya, Bin.”
“Terus?”
“Lo nggak cerita karena kalau gue percaya, lo harus nerima bantuan.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Dan lo nggak tau caranya,” kata Damar. “Lo nggak pernah tau caranya. Dari kuliah.”
Dia mengambil nasi bungkusnya lagi.
“Udah. Selesai. Makan.”
Dan aku makan.
Aku ingin mencatat satu hal tentang bulan-bulan itu, karena nanti akan penting.
Aku tidak menghubungi Allysa.
Tidak sekali pun, selama sembilan bulan setelah Kirana pergi.
Dan itu bukan pengorbanan. Itu bukan kekuatan. Aku ingin sangat jelas soal ini, karena kalau aku menuliskannya sebagai kemuliaan, aku sedang berbohong.
Aku tidak menghubunginya karena aku takut.
Karena aku sudah melihat apa yang kulakukan pada perempuan yang mencintaiku selama empat tahun — perempuan yang tidak pernah salah sekali pun, yang naik bus enam jam entah berapa kali, yang berdiri di dapur kos-kosanku dan bilang kamu boleh bilang enggak di hari pertama.
Aku menghabiskannya. Pelan-pelan. Empat tahun.
Bukan dengan kekejaman. Dengan kebaikan yang tidak pernah membalik arah, dengan hadiah dan telepon selamat pagi dan bantuan pindahan, dengan satu ruangan terkunci yang tidak pernah kubuka.
Dan aku duduk di kamar kosku di bulan keempat dan menyadari sesuatu yang membuatku dingin:
Aku baru saja melakukan pada seseorang apa yang dilakukan Allysa padaku.
Bukan bentuknya. Bentuknya kebalikan — dia mengambil, aku memberi terus-menerus.
Tapi hasilnya sama persis: ada perempuan yang menghabiskan bertahun-tahun di dekat seseorang dan pelan-pelan mengecil, karena tidak pernah diberi ruang untuk berdiri sebagai orang yang setara.
Aku selalu berpikir aku korban dari cerita ini.
Dan ternyata aku juga pelakunya. Sekali. Dengan sangat lembut. Selama empat tahun.
Aku menempelkan dahi ke lutut di lantai kamar kos itu.
Dan aku memutuskan sesuatu malam itu, dan aku memegangnya selama sembilan bulan:
Aku tidak akan mendekati siapa pun sampai aku tahu cara meminta tolong.
Bukan sampai aku sembuh. Aku sudah berhenti percaya pada kata itu.
Sampai aku bisa duduk di depan seseorang dan bilang aku butuh kamu, dan membiarkan orang itu melakukannya, dan tidak langsung mencari cara membalasnya dalam tiga hari.
Butuh sembilan bulan sebelum aku berhasil sekali.
Dan orang yang kepadanya aku berhasil bukan Allysa, bukan Damar, bukan siapa pun yang penting.
Namanya Rendra. Ilustrator satu ruangan denganku. Kami tidak dekat.
Aku sedang mengerjakan naskah dengan tenggat tiga hari lagi dan aku sakit kepala sejak pagi dan tidak bisa melihat warnanya dengan benar.
Dan aku berputar di kursiku dan bilang:
“Ren.”
“Hm?”
“Gue butuh bantuan. Halaman enam sampai sembilan. Gue nggak sanggup.”
Rendra menoleh. Dia menatapku selama dua detik dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Lalu dia bilang, “Oke,” dan menggeser kursinya.
Itu saja.
Empat jam. Dia mengerjakan halaman enam sampai sembilan dan aku tidur di ruang istirahat.
Dan waktu aku bangun dan melihat halaman-halaman itu selesai di layarku, hal pertama yang muncul di kepalaku adalah dorongan untuk membelikannya sesuatu. Makan siang. Kopi. Sesuatu.
Aku duduk di kursi itu dan menahan dorongan itu dengan seluruh tenagaku.
Aku bilang, “Makasih, Ren.”
Dan dia bilang, “Santai.”
Dan aku tidak membelikannya apa-apa.
Dan itu — bukan penghargaan buku, bukan pameran, bukan satu pun hal yang tercatat di mana pun — itu pencapaian terbesarku di tahun itu.
[Bersambung ke Bab 34 — POV Allysa]