Chapter Twenty Six
Laki-laki yang Tidak Salah Apa-apa
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Aldi, Kirana, Bu Ratna
Namanya Aldi.
Kepala tim data di lantai enam belas. Tiga puluh empat tahun, tinggi, tenang, dan punya kebiasaan mengetuk meja dua kali sebelum bicara — kebiasaan yang menurut tim-nya menyebalkan dan menurutku sebenarnya lucu.
Dia mengajakku makan malam di bulan April, dan dia melakukannya dengan cara yang membuatku tidak bisa berpura-pura salah paham.
“Allysa.”
“Hm?”
“Saya mau ngajak kamu makan malem. Bukan urusan kerjaan.”
Aku menaruh gelas kopiku.
“Aldi—“
“Sebentar.” Dia mengangkat tangan. “Saya belum selesai, dan saya udah latihan tiga hari, jadi tolong kasih saya selesai dulu.”
Aku menutup mulutku.
“Saya suka sama kamu udah setahun lebih,” katanya. “Saya nggak pernah ngomong karena kita satu proyek dan itu nggak enak. Proyeknya udah selesai bulan lalu.”
Dia mengetuk meja dua kali.
“Kalau kamu nggak mau, bilang nggak mau. Besok kita rapat kayak biasa dan saya nggak akan aneh. Saya nggak akan nanya lagi. Saya juga nggak akan sindir-sindir.”
Aku duduk di kursi itu dan tidak bisa bicara selama beberapa detik.
Karena aku tahu bentuk kalimat itu.
Aku pernah mendengar seseorang menceritakannya — perempuan berambut ikat asal-asalan di warung sate, empat tahun lalu, sambil tertawa. Dia ngajakin saya makan terus dia bilang “kalau kamu nggak mau, bilang enggak, besok kita rapat kayak biasa dan saya nggak akan aneh.”
Bukan kalimat yang sama. Tapi bentuknya sama persis.
Bentuk orang yang membuka pintu keluar untukmu sebelum kamu sempat merasa terjebak.
“Aldi,” kataku. “Kamu orang baik.”
“Waduh.”
“Beneran. Aku serius.”
“Ya saya juga serius. Kalau kalimatnya mulai dari situ, saya udah tau ujungnya.”
Dan dia tertawa. Sungguh tertawa, tanpa dipaksakan.
Dan itu yang paling membuatku ingin menangis.
Aku pulang malam itu dan duduk di lantai kamar dan bertanya pada diriku sendiri satu pertanyaan, dengan sangat serius, selama berjam-jam:
Kenapa nggak?
Karena tidak ada satu pun alasan yang bisa kuucapkan keras-keras tanpa terdengar bodoh.
Aldi baik. Aldi jelas. Aldi tidak menyimpan apa pun. Aldi bertanya lalu menunggu jawaban dan tidak akan menghukumku apa pun jawabannya.
Aku tiga puluh satu tahun. Aku tidak sedang menunggu siapa pun — dan itu bukan kalimat penghiburan, itu fakta yang sudah kupastikan berkali-kali. Aku tidak punya harapan. Aku sudah berhenti mengirim pesan lima tahun lalu. Aku sudah menyaksikan laki-laki itu bahagia dengan mata kepalaku sendiri di depan toko sepatu.
Jadi kenapa tidak?
Aku duduk di lantai kamar sampai jam dua pagi dan akhirnya menemukan jawabannya, dan begitu ketemu, aku ingin sekali tidak pernah menemukannya.
Jawabannya bukan Bintang.
Jawabannya: aku tidak percaya aku aman untuk dimiliki.
Aku punya bukti. Dua ratus tiga belas halaman. Aku punya rekaman lengkap tentang apa yang bisa kulakukan pada seseorang yang mencintaiku — bukan orang jahat, bukan orang yang pantas, tapi orang paling lembut yang pernah kutemui, selama sepuluh tahun, dengan sadar.
Dan aku sudah membuktikan berkali-kali sejak itu bahwa dorongannya masih ada. Di lift antara lantai empat belas dan lantai enam. Di ruang rapat dengan Bagas. Di kepalaku, tiap kali seseorang menunjukkan kelemahannya di depanku dan bagian tertentu dari diriku secara otomatis mencatat letaknya.
Aku tidak sembuh. Aku memilih, tiap hari, berkali-kali sehari.
Dan orang yang harus memilih tiap hari untuk tidak menghancurkan pasangannya tidak berhak menyerahkan dirinya kepada laki-laki baik yang mengetuk meja dua kali sebelum bicara.
Aku menolak Aldi hari Senin.
Dia bilang, “Oke. Makasih udah dijawab.”
Lalu dia mengetuk meja dua kali, berdiri, dan pergi ke rapatnya.
Dan dia tidak pernah aneh. Tidak sekali pun, selama tiga tahun berikutnya sampai dia pindah kerja.
Laki-laki itu menikah dua tahun kemudian dengan perempuan dari tim keuangan, dan aku datang ke pernikahannya, dan aku senang. Sungguh senang.
Ada satu hal lagi dari tahun itu.
Kirana mengirimiku pesan di bulan Oktober.
Kirana
Mbak!! Ibunya Bintang dateng ke Jakarta minggu lalu
Ya ampun Mbak, ibunya lucu banget
Saya ajak ke Monas terus dia bilang “ini kok tinggi banget ya”
Saya ketawa sampe sakit perut
Aku membaca pesan itu di meja kerjaku, lantai sembilan belas, jam tiga sore.
Dan aku duduk di sana dan menatap layar itu sangat lama.
Ibunya Bintang datang ke Jakarta.
Aku tidak pernah bertemu perempuan itu.
Sepuluh tahun. Tidak sekali pun.
Dan aku tahu persis kenapa — bukan karena tidak ada kesempatan, bukan karena jauh. Aku ingat malam di tahun kelima, di meja makan, waktu Bintang berdiri di dekat kulkas dan bilang, “Bu, ke Jakarta yuk, nginep di tempat aku.”
Bukan ke aku. Ke telepon. Dia sedang menelepon ibunya.
Dan waktu dia menutup telepon dan menyampaikannya padaku, aku tidak mengangkat wajah dari laptop.
Aku bilang: “Nginep di mana? Kamarnya kan cuma satu.”
Enam detik. Satu kalimat. Aku bahkan tidak sedang berniat menolak — aku benar-benar cuma menyampaikan informasi tentang jumlah kamar.
Dan dia bilang, “Oh iya ya.”
Dan tidak pernah membicarakannya lagi. Tidak sekali pun, selama lima tahun berikutnya.
Dua tahun setelah itu, perempuan tua yang belum pernah melihat gedung-gedung Jakarta itu meninggal, dan anaknya tidak sempat pulang karena aku minta diantar ke acara kantor.
Aku menutup laptopku, pamit sakit kepala, dan pulang jam empat sore.
Dan di dalam taksi aku membaca ulang pesan Kirana berkali-kali — saya ketawa sampe sakit perut — dan aku menangis dengan cara yang membuat sopir taksinya menawarkan tisu tanpa berkata apa-apa.
Bukan karena cemburu. Aku sudah lama melewati itu.
Aku menangis karena perempuan tua itu jadi melihat Monas.
Karena di dunia yang lain, dia mati tanpa pernah melihatnya, dan yang mencegahnya bukan takdir, bukan uang, bukan jarak.
Cuma satu kalimat tentang jumlah kamar, diucapkan sambil mengetik, oleh perempuan yang bahkan tidak sedang berpikir.
Aku mengetik balasannya dari dalam taksi.
Ikut seneng, Ran. Beneran.
Titip salam ya buat ibunya.
Kirim.
Lalu aku menghapus dua kata terakhir dan mengirim ulang, karena titip salam berarti aku minta namaku disebut, dan aku sudah berjanji tidak akan pernah lagi menempelkan namaku pada apa pun di ruangan itu.
Ikut seneng, Ran. Beneran.
Kirim.
Ibuku pensiun tahun itu.
Bukan pensiun betulan — dia tidak pernah kerja kantoran; dia menjahit sejak aku SD, dari rumah, untuk tetangga dan pesanan pasar. Tapi tangannya mulai bermasalah dan matanya sudah tidak kuat untuk benang.
Jadi dia berhenti.
Dan di bulan pertama setelah berhenti, perempuan itu jadi orang yang tidak kukenali.
Dia bangun jam lima seperti biasa lalu tidak tahu harus apa. Dia membersihkan rumah yang sudah bersih. Dia memasak terlalu banyak. Dia menonton sinetron yang tidak dia sukai sambil mengomel.
Suatu malam aku pulang dan menemukannya duduk di ruang tamu tanpa TV menyala, tanpa lampu, cuma duduk.
“Bu?”
“Eh.” Dia terkejut. “Udah pulang.”
“Ibu ngapain gelap-gelapan?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
Aku menyalakan lampu dan duduk di kursi seberangnya.
Dan aku melihat wajahnya.
Wajah kosong. Bukan sedih. Kosong.
Wajah yang sama dengan foto wisuda kesembilan belas yang masih kusimpan di ponselku.
“Bu,” kataku.
“Hm?”
“Ibu mau belajar sesuatu nggak?”
Dia menoleh. “Belajar apa?”
“Apa aja.” Aku mengangkat bahu. “Yang Ibu pengen dari dulu tapi nggak pernah.”
Ibu menatapku seperti aku baru saja bertanya apakah dia ingin pergi ke bulan.
“Ibu udah tua, Lys.”
“Enam puluh dua.”
“Ya itu tua.”
“Ibunya Bu Har belajar nyetir umur enam puluh lima.”
“Ya itu Bu Har.”
Kami diam.
Lalu, sangat pelan, sambil memandangi lantai:
“Ibu dulu pengen bisa renang.”
Aku mengerjap.
“Renang?”
“Iya.” Dia mengangkat bahu, malu. “Ibu takut air dari kecil. Ibu pengen bisa. Tapi ya—“
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku mendaftarkannya minggu itu juga. Kolam renang komunitas dekat rumah, kelas ibu-ibu, Selasa dan Kamis pagi.
Dia mengomel selama tiga minggu pertama. Dia bilang mahal, dia bilang malu, dia bilang airnya bau kaporit.
Di minggu keempat dia pulang dan bilang, sambil melepas sandal di teras, dengan nada seolah sedang melaporkan cuaca:
“Ibu udah bisa ngambang.”
Dan dia masuk ke dapur.
Aku duduk di ruang tamu sendirian dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku menulis sesuatu malam itu, di aplikasi catatan yang sudah bertahun-tahun tidak kubuka.
Bukan di HAL-HAL YANG KULAKUKAN. Aku sudah menutup yang itu sejak malam aku mendengar Bintang tertawa di mal.
Ini catatan baru. Kosong. Tanpa judul.
Dan aku mengetik satu kalimat, lalu memandanginya lama sekali, lalu tidak menambahkan apa-apa lagi.
Hari ini Ibu bisa ngambang.
Butuh 53 tahun. Nggak ada yang pernah nanya dia pengen apa.
Termasuk aku. 31 tahun.
Aku mengunci ponselku.
Dan sebelum tidur, berbaring menghadap tembok, satu pikiran datang dan tidak mau pergi:
Berapa banyak hal yang Bintang pengen, yang nggak pernah aku tanyain?
Aku tidak tahu jawabannya. Aku tidak akan pernah tahu.
Dan yang paling membuatku tidak bisa tidur bukan itu.
Yang paling membuatku tidak bisa tidur: kalau ada yang menanyakan hal yang sama tentang aku — apa yang Allysa pengen — aku juga tidak punya jawabannya.
Tiga puluh satu tahun, dan aku tidak tahu aku mau apa.
Aku cuma tahu aku mau tidak jadi orang yang seperti dulu.
Dan itu bukan keinginan. Itu cuma menghindar.
[Bersambung ke Bab 27 — POV Allysa]