← Chapters Ch. 21 / 51

Chapter Twenty One

Sebelah Kiri

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Allysa, Kirana, Pak Har


Kabar itu masuk dalam rapat hari Senin dan aku tidak menganggapnya penting sama sekali.

“Kita kerja sama sama Lumina,” kata Pak Har. “Aplikasi baca buku anak. Mereka mau lisensi dua belas judul kita, plus tiga judul baru yang dibikin khusus buat format digital.”

Ada suara-suara setuju di ruangan. Seseorang bertanya soal bagi hasil.

“Ilustrator yang megang tiga judul baru: Bintang.”

Aku mengangguk sambil mencatat.

“Rapat pertama sama tim mereka hari Kamis. Di kantor mereka, Jaksel.”

Aku mengangguk lagi.

Aku baru mencari tahu nama perusahaan itu malamnya, di kos, sambil makan mi instan.

Lumina Teknologi. Gedung tiga puluh dua lantai di Jakarta Selatan.

Aku menaruh sendokku.

Dan aku duduk di lantai kamar dengan ponsel di tangan selama mungkin lima menit sambil berkata pada diriku sendiri bahwa Jakarta Selatan itu luas, bahwa perusahaan teknologi ada ratusan, bahwa kemungkinannya kecil sekali.

Lalu aku mengetik namanya di kolom pencarian.

Halaman profilnya muncul dalam dua detik.

Allysa Prameswari — Product Manager, Lumina.


Aku hampir menolak proyeknya.

Aku duduk di depan pintu ruangan Pak Har hari Selasa pagi selama sepuluh menit dengan alasan yang sudah tersusun rapi di kepalaku — jadwalku penuh, ada dua buku yang belum selesai, Rendra lebih cocok untuk format digital.

Semuanya benar. Tidak satu pun bohong.

Dan aku tetap tidak masuk.

Karena aku duduk di kursi lorong itu dan bertanya pada diriku sendiri pertanyaan yang sudah kupelajari cara menanyakannya selama dua tahun terakhir:

Kamu nolak ini karena kamu nggak mau, atau karena kamu takut?

Jawabannya jelas sekali sampai memalukan.

Aku sudah menghabiskan dua tahun membangun hidup di mana aku tidak menghindar dari apa pun. Aku bilang tidak sembilan kali dan tiap kali karena aku memang tidak mau. Aku pindah kos karena mampu. Aku menolak proyek Bu Rima karena jadwalku memang tidak muat.

Kalau aku menolak yang ini, itu yang pertama kalinya aku menghindar.

Dan aku sudah tahu bagaimana rasanya jadi orang yang mengatur seluruh hidupnya di sekitar satu orang. Aku sudah pernah melakukannya selama sepuluh tahun, dari arah yang berlawanan.

Aku berdiri dari kursi lorong itu dan kembali ke mejaku.


Rapat Kamis. Ruang rapat lantai sembilan belas, kaca dari lantai sampai langit-langit, meja panjang untuk empat belas orang.

Dia sudah di dalam waktu kami masuk.

Berdiri di depan layar, menghubungkan laptop, bicara dengan seseorang dari timnya sambil menunjuk sesuatu di papan tulis.

Kemeja rapi. Rambut diikat. Wajah tenang.

Dan aku berdiri di ambang pintu ruang rapat itu selama sepersekian detik, karena aku baru sadar bahwa dalam dua kehidupan, aku belum pernah sekali pun melihat perempuan itu bekerja.

Sepuluh tahun tinggal serumah dengan seseorang, dan aku tidak pernah tahu dia seperti apa di ruangan tempat dia menghabiskan sebagian besar hidupnya.

“Oh.” Dia melihatku. Ada jeda setengah detik yang mungkin cuma aku yang menyadarinya. “Silakan duduk, teman-teman.”

Profesional. Sempurna. Tidak ada satu pun keretakan.

“Saya Allysa, product manager untuk lini anak. Sebelah saya Bagas, designer.”

Anak muda di sebelahnya mengangguk.

Bagas.

Aku ingat namanya dari buku itu. Halaman dua ratus sebelas, entri terakhir sebelum halaman kosong. Aku bilang ‘nanti lama-lama ngerti’. Semua ketawa. Dia juga ketawa.

Aku menatap anak itu — dua puluh empat tahun, sekarang duduk tegak, sedang membuka laptopnya dengan percaya diri, tidak terlihat hancur sedikit pun.

Dan aku menoleh ke Allysa, dan Allysa sudah melihatku, dan dia langsung memutus tatapannya dan melanjutkan presentasinya.


Rapatnya dua jam dan dia bagus.

Aku tidak akan berpura-pura netral soal ini. Perempuan itu sangat, sangat bagus.

Dia mengerti bukunya. Bukan mengerti secara umum — dia sudah membaca dua belas judul kami, semuanya, dan dia mengutip halaman spesifik. Dia menolak dua permintaan dari timnya sendiri karena akan merusak alur bacanya. Dia bilang ke Pak Har, dengan sopan, bahwa proposal bagi hasil versi pertama tidak adil untuk ilustrator dan dia sudah merevisinya.

Pak Har mengangkat alis. “Ini kamu yang usul?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena ilustrator yang dibayar sekali di depan nggak akan mau ngerjain revisi enam bulan lagi,” katanya. “Dan format digital pasti butuh revisi enam bulan lagi. Jadi ini bukan kebaikan, Pak. Ini biar proyeknya nggak mati.”

Ada yang tertawa kecil di ujung meja.

Dan aku duduk di kursiku dan merasakan sesuatu yang benar-benar tidak nyaman.

Karena aku sedang mengagumi seseorang yang tidak ingin kukagumi.


Makan siangnya di restoran padang dekat gedung. Meja panjang, sebelas orang, piring-piring bertumpuk di tengah.

Aku duduk di ujung. Allysa di ujung yang lain. Aku memastikan itu.

Percakapannya normal. Orang-orang timnya lucu. Bagas ternyata anak yang banyak bicara kalau sudah lepas dari ruang rapat.

Pelayan datang membawa gelas-gelas dan menaruhnya di depan tiap orang.

Aku memindahkan gelasku ke sebelah kiri piring, seperti biasa, tanpa berpikir, seperti tiga puluh enam tahun terakhir.

Dan seseorang bicara.

“Kamu selalu naruh gelas di sebelah kiri.”

Meja itu tidak berhenti. Tidak ada yang menoleh. Percakapan di sekitar kami lanjut terus — seseorang sedang bercerita tentang macet, ada yang tertawa, ada suara sendok.

Cuma aku yang mendengar, karena kalimat itu tidak ditujukan ke meja.

Aku mengangkat wajah.

Allysa tidak menatapku. Dia sedang mengambil sambal dengan sendok kecil, menuangkannya ke piringnya, dan dia mengucapkannya sambil melakukan itu, dengan nada orang yang menyebutkan cuaca.

“Dari dulu,” lanjutnya. “Aku baru sadar sekarang.”

Lalu dia menaruh sendok sambalnya dan mulai makan.

Itu saja.

Dia tidak menunggu jawaban. Dia tidak menoleh untuk melihat reaksiku. Dia tidak menambahkan apa pun.

Dia mengucapkannya, lalu makan.


Aku duduk di kursi itu selama sisa makan siang dan aku tidak tahu apa yang kumakan.

Karena begini — dan aku sudah memikirkan ini berkali-kali sejak hari itu, dan aku masih belum menemukan cara yang lebih baik untuk menjelaskannya:

Aku sudah kebal terhadap hampir semuanya.

Dua tahun lebih, dan aku sudah punya pertahanan untuk setiap hal yang mungkin dia lakukan. Kalau dia minta maaf, aku punya jawabannya. Kalau dia menangis, aku punya jawabannya. Kalau dia bilang mencintaiku, aku punya jawabannya, dan jawabannya sudah kuucapkan di depan pagar rumahnya dua tahun lalu.

Aku sudah menyiapkan diri untuk dirayu, dibujuk, ditagih, dikasihani.

Aku tidak pernah menyiapkan diri untuk diperhatikan.

Karena itu bukan sesuatu yang bisa kutolak.

Kalau dia bilang aku sayang kamu, aku bisa bilang aku nggak. Itu transaksi; dua pihak, dua suara, ada yang bisa kulakukan.

Tapi kamu selalu naruh gelas di sebelah kiri bukan transaksi.

Itu bukan permintaan. Itu tidak meminta apa pun dariku. Aku tidak bisa menolaknya, tidak bisa menjawabnya, tidak bisa membantahnya — karena itu benar, dan karena satu-satunya yang dia lakukan adalah melihat sesuatu yang memang ada.

Dan seumur hidupku, itu satu-satunya hal yang tidak pernah kudapat.

Bukan cinta. Aku dapat cinta dari Ibu, aku dapat dari Damar, aku dapat dari Kirana.

Yang tidak pernah kudapat dari perempuan itu — selama sepuluh tahun, tiga ribu enam ratus lima puluh kali sarapan di meja yang sama — adalah dilihat.

Dan dia baru saja melakukannya di restoran padang, di antara sebelas orang, sambil menuang sambal, tanpa meminta apa pun sebagai gantinya.

Aku pergi ke toilet restoran itu dan berdiri di depan wastafel selama empat menit.

Aku tidak menangis. Aku cuma perlu berdiri di sana sampai wajahku bisa dipakai lagi.


Aku pulang naik ojek sore itu dan aku marah sepanjang jalan.

Marah pada diriku sendiri, bukan padanya. Itu yang membuatnya lebih buruk.

Karena aku menghabiskan dua tahun membangun sesuatu. Aku menggambar sebelas gambar dan menempelkannya di tembok. Aku bilang tidak sembilan kali. Aku pindah kos. Aku menelepon Ibu tiap Minggu selama dua tahun tanpa putus.

Aku membangun seorang laki-laki dari nol, dan aku bangga padanya, dan aku pikir dia sudah selesai.

Dan ternyata cukup satu kalimat tentang gelas untuk membuktikan bahwa ada retakan di dasarnya yang tidak pernah kutambal.

Bukan retakan berbentuk Allysa. Itu yang paling penting, dan butuh waktu berbulan-bulan sampai aku bisa melihatnya dengan jernih.

Retakannya berbentuk: aku akan menyerahkan apa saja pada siapa pun yang benar-benar memperhatikanku.

Itu bukan luka dari sepuluh tahun. Itu jauh lebih tua.

Itu dari anak kecil yang menendang bola lalu langsung menoleh ke ibunya untuk mengecek apakah dia sedang dalam masalah.

Aku turun dari ojek di depan kos dan berdiri di trotoar cukup lama.

Lalu aku menelepon Kirana.

“Halo?”

“Kamu lagi apa?”

“Ngedit. Kenapa?”

“Bisa ketemu?”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Hening sebentar di seberang.

“Kamu kenapa, Bintang?”

“Nggak apa-apa.” Aku menutup mata. “Aku cuma pengen ketemu.”


Kami duduk di warung sate dekat kosnya, jam sembilan malam, di bawah lampu yang menarik ngengat.

Aku tidak menceritakan apa-apa. Aku tidak bisa.

Kami membicarakan naskah yang sedang dia edit, penulis yang keras kepala, ibunya yang mau operasi katarak bulan depan.

Dan di tengah dia bercerita, dia berhenti.

“Bintang.”

“Hm?”

“Kamu tuh kalau lagi nggak apa-apa nggak pernah ngajakin ketemu jam sembilan malem.”

Aku memandangi piringku.

“Iya.”

“Mau cerita?”

“Belum bisa.”

Kirana mengangguk. Dia menyeruput teh tawarnya dan tidak mendesak sama sekali.

“Ya udah,” katanya. “Nanti aja.”

Dan setelah beberapa detik, sambil mengambil tusuk sate dari piring:

“Tapi ‘belum’ itu artinya nanti ada, ya. Bukan nggak akan pernah.”

Aku mengangkat wajahku.

Perempuan itu sedang menatapku dengan ekspresi biasa saja, sambil mengunyah, seperti orang yang baru saja menanyakan jam berapa sekarang.

“Iya,” kataku.

Dan aku berbohong.

Aku tidak tahu bahwa aku sedang berbohong waktu mengatakannya — sungguh, waktu itu aku benar-benar bermaksud suatu hari akan bercerita.

Butuh dua tahun lagi sampai aku mengerti bahwa ada hal-hal yang bukan cuma belum kuceritakan, tapi memang tidak bisa dipindahkan ke orang lain. Dan bahwa perempuan yang duduk di seberangku malam itu berhak mendapatkan seseorang yang tidak menyimpan ruangan terkunci di dalam dirinya.

Malam itu aku cuma tahu satu hal, dan aku memegangnya erat-erat sepanjang perjalanan pulang:

Aku pulang ke rumah yang benar.

Aku terus mengatakannya di kepalaku sampai tertidur.


Aku bangun jam tiga pagi dan tidak bisa tidur lagi.

Aku menyalakan lampu, duduk di meja, dan membuka laci.

Gambar jeruji gerbang itu masih di sana. Dilipat dua kali, seperti kutinggalkan dua tahun lalu.

Aku tidak membukanya.

Aku mengambil kertas baru, pensil, dan menggambar sesuatu yang lain — cepat, dua puluh menit, tanpa berpikir.

Meja restoran padang. Piring-piring bertumpuk. Sebelas gelas.

Sepuluh di sebelah kanan piring.

Satu di sebelah kiri.

Aku memandanginya sebentar, lalu melipatnya dua kali dan memasukkannya ke laci yang sama.

Lalu aku mematikan lampu dan berbaring lagi sampai pagi, dan aku tidak tidur sama sekali, dan jam enam aku bangun dan mandi dan berangkat kerja seperti biasa.


[Bersambung ke Bab 22 — POV Allysa]