← Chapters Ch. 9 / 52

Chapter Nine

Teh di Atap

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 2 — Ciel, Seraphina


Atap asrama F kutemukan di minggu kedua, lewat tangga servis berkarat di balik gudang linen. Dari atas sini, seluruh Astra Academy terhampar seperti maket: menara-menara kelas atas yang menyala keemasan, aula besar, lapangan duel — dan jauh di baliknya, garis gunung utara yang gelap.

Ini satu-satunya tempat di dunia ini yang benar-benar milikku. Tidak ada di naskah. Tidak ada di peta. Figuran pun butuh satu tempat untuk melepas peran.

Karena itu, Sabtu sore itu, ketika aku naik lewat tangga servis dan menemukan seseorang sudah duduk di punggungan atapku — rambut keperakan tertiup angin, sepatu putih dilepas rapi di sampingnya, dan sebuah keranjang piknik kecil di pangkuannya — reaksi pertamaku bukan kaget.

Reaksi pertamaku adalah pasrah kosmik.

“Bagaimana,” kataku, “bagaimana kau menemukan tempat ini.”

Seraphina Elowen menoleh, dan senyumnya adalah senyum orang yang sudah menyiapkan jawaban sejak kemarin. “Kau selalu menghilang ke arah yang sama setiap Jumat malam. Aku murid [Saint] — melacak arah perginya orang yang tidak bisa dilacak sistem itu... anggap saja proyek penelitian.” Dia menepuk genteng di sebelahnya. “Duduk. Ini asramamu; aku yang seharusnya minta izin.”

“Kalau begitu, izin ditolak.”

“Ditolak dicatat, lalu diabaikan.” Dia membuka keranjangnya. “Aku bawa teh.”

Aku berdiri di sana tiga detik lagi demi harga diri, lalu duduk, karena mari jujur: kami berdua tahu operasiku sudah gagal sejak Senin.

Dari keranjang itu keluar termos kuningan kecil, dua cangkir keramik putih, dan kaleng berisi kue kering yang bentuknya terlalu tidak seragam untuk buatan dapur akademi. Dia menuang dengan gerakan yang sangat terlatih — tentu saja terlatih; putri Adipati pasti dididik upacara teh sejak bisa duduk — tapi ada yang aneh dengan cara dia melakukannya sekarang: terlalu bersemangat. Cangkirku terisi sembilan puluh persen penuh, melanggar semua etiket yang pernah ada.

“Maaf,” katanya, menyadari, telinganya memerah. “Kebiasaan buruk. Kalau di rumah, menuang teh ada aturannya — tinggi tuangan, arah putaran, semua dinilai. Jadi kalau sedang tidak dinilai, aku...” dia menatap cangkirku yang kelewat penuh, “...balas dendam, sepertinya.”

Aku menatap gadis yang baru mengakui bahwa menuang teh terlalu penuh adalah bentuk pemberontakannya, dan sesuatu di dadaku terasa aneh. “Balas dendammu sangat kecil.”

“Balas dendamku rahasia. Itu lebih penting daripada besar.” Dia mengangkat cangkirnya sendiri. “Untuk tempat yang tidak ada di peta.”

Kami minum. Tehnya — aku bukan ahli, tapi tehnya seperti sore itu sendiri: hangat, sedikit pahit, dengan sesuatu yang samar seperti bunga yang tidak bisa kutebak namanya.

“Chamomile gunung, dicampur kulit apel kering,” katanya tanpa ditanya, membaca wajahku. “Racikan sendiri. Tidak ada di menu mana pun, jadi jangan cari.” Dia memeluk lututnya, menatap kejauhan. “Kepala pelayan bilang mencampur teh sendiri itu ‘tidak pantas untuk putri Elowen’. Jadi aku melakukannya diam-diam sejak umur dua belas.”

“Kau punya banyak sekali pemberontakan rahasia, ya.”

“Kau tidak tahu setengahnya.” Senyum kecil itu lagi — yang miring, yang tidak ada di novel. “Aku pernah salah menyebut nama bangsawan di pesta, dengan sengaja, dua kali, hanya untuk melihat wajahnya. Aku menyimpan daftar julukan untuk para tetua dewan yang tidak akan pernah kuucapkan keras-keras. Dan aku—” dia berhenti, melirikku, menimbang sesuatu, lalu melanjutkan dengan suara pelaku kejahatan mengakui dosa besar, “—tidak suka posisi dudukku di podium. Sudut kirinya membuat leherku pegal. Tiga tahun. Tidak pernah kubilang siapa-siapa.”

Aku tertawa. Sungguhan — bukan tawa sopan figuran. Dia menoleh dengan mata sedikit membesar, seolah suara itu adalah hasil eksperimen yang tidak dia duga berhasil.

“Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?” tanyaku.

Pertanyaan itu keluar lebih serius dari niatku. Dia tidak langsung menjawab. Diambilnya sebatang kue kering dari kaleng, diputar-putar di jarinya — gerakan memutar yang sama, selalu sama — sebelum menjawab dengan mata tetap pada garis gunung di kejauhan.

“Karena kau tidak mencatat.”

“...Maksudnya?”

“Semua orang mencatat, Ciel.” Suaranya masih lembut, tapi ada kelelahan tua di bawahnya, jauh lebih tua dari tujuh belas tahun. “Setiap kalimatku dicatat seseorang. Setiap salah kata jadi kabar, setiap senyum jadi tanda, setiap orang yang bicara denganku menginginkan sesuatu — koneksi, status, atau sekadar cerita bahwa mereka pernah bicara dengan ‘bunga akademi’. Aku dibesarkan sebagai... tempat orang menggantungkan keinginan.” Dia menunduk, memandangi cangkirnya. “Lalu ada kau. Yang kuminta tolong dan bilang tidak. Yang kuajak bicara dan terlihat ingin pulang. Yang menyelamatkan Fenn, dua kali, dan berusaha keras agar tidak ada yang tahu — padahal satu kata saja, kau bisa jadi terkenal, bisa dekat denganku, bisa minta apa pun.” Dia menoleh, dan mata warna langit sebelum hujan itu menatapku lurus. “Kau satu-satunya orang yang pernah kutemui yang tidak menginginkan apa-apa dariku. Kau tahu itu seperti apa rasanya? Seperti... bisa bernapas.”

Angin lewat di antara kami, membawa bau musim gugur.

Aku harus mengatakan sesuatu. Yang benar untuk dikatakan — yang aman — adalah semacam kalimat sopan yang menutup topik. Aturan Nomor Dua masih tergeletak sekarat di suatu tempat, dan ini kesempatan memberi napas buatan.

Tapi yang keluar dari mulutku adalah kejujuran, karena di atap ini, entah kenapa, hanya itu yang tersedia.

“Aku pernah hidup seperti itu juga,” kataku pelan. “Terbalik darimu — bukan karena semua orang memperhatikanku, tapi karena tidak ada yang memperhatikan sama sekali. Tapi ujungnya mirip, kurasa. Kau dikelilingi orang dan tetap sendirian.” Aku memutar cangkir di tanganku. “Jadi aku mengerti kenapa teh racikan rahasia itu penting. Kalau seluruh hidupmu diatur orang lain, hal kecil yang murni milikmu... itu bukan hal kecil. Itu bukti kau ada.”

Sunyi yang panjang. Ketika aku memberanikan diri menoleh, Seraphina Elowen sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kuterjemahkan — seperti orang yang mencari satu kata di kamus seumur hidupnya dan baru saja mendengar orang lain mengucapkannya dengan santai.

“...Ya,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Persis seperti itu.”

Dia berdehem, membereskan ekspresinya, dan mengangkat termos dengan gaya podium yang sengaja dibuat-buat sampai kami berdua tersenyum. “Baiklah. Karena kau satu-satunya orang yang mengerti pentingnya teh ilegal, kau resmi kujadikan peminum tetap. Minggu depan aku bawa racikan kedua — daun mint utara, sedikit madu. Kau harus memberitahuku mana yang lebih baik.”

“Aku tidak ingat mendaftar jadi—”

“Minggu depan,” ulangnya, dengan senyum yang tidak menerima amandemen. “Di sini. Kau akan datang?”

Dan di sinilah seharusnya figuran yang baik berkata tidak. Menyelamatkan naskah. Menjaga radius.

“...Ya,” kata mulut pengkhianatku. “Aku akan datang. Janji.”

Wajahnya saat mendengar kata terakhir itu — aku akan mengingatnya lama sekali. Bukan senyum podium, bukan senyum miring. Sesuatu yang ketiga, yang baru, yang membuat sistem di sudut mataku berbunyi ting dengan sangat, sangat puas.

[ Seraphina Elowen: 34% ↑ ] [ Note: “Dia berjanji.” ]

Kami minum teh sampai matahari turun di balik gunung utara, membicarakan hal-hal yang tidak penting — kue yang bentuknya gagal, julukan rahasia para tetua dewan, sudut podium yang membuat leher pegal. Hal-hal kecil. Hal-hal yang murni milik sore itu.

Dan jauh di ruang putih di balik semua halaman, seseorang membaca bab ini dengan tangan menutup mulut, karena dia yang menulis gadis di atap itu — menulis kesepiannya, menuang seluruh miliknya sendiri ke sana — dan tidak pernah, tidak sekali pun dalam seratus dua puluh bab, terpikir untuk menulis seseorang yang datang membawakan gadis itu jawaban.