Chapter Twenty Seven
Interlude: Ruang Putih
POV: ??? (orang ketiga terbatas — tanpa nama) Karakter: 1 (+3 bayangan) — seorang wanita, tiga siluet
Ada sebuah ruangan yang tidak memiliki dinding, dan di dalamnya, seorang wanita telah duduk selama waktu yang sudah lama berhenti dia hitung.
Ruangan itu putih dengan cara yang bukan warna — putih seperti halaman, putih seperti belum, putih seperti seharusnya ada sesuatu di sini. Tidak ada pintu. Dulu dia mencari pintu. Itu fase yang sudah lewat, bersama fase berteriak, fase menangis, dan fase yang paling lama: fase diam.
Di depannya ada meja yang selalu ada, dan di atas meja itu, sesuatu yang jarinya kenal lebih baik daripada wajahnya sendiri — deretan tuts yang menunggu. Di sini bentuknya berubah-ubah mengikuti ingatannya: kadang mesin tua, kadang papan hitam tipis yang menyala. Fungsinya tidak pernah berubah.
Kalau dia mengetik, dunia terjadi.
Itu bukan metafora. Dia sudah lama berhenti menganggapnya metafora. Setiap kalimat yang dia ketik di ruangan ini menjadi hujan di suatu tempat, menjadi duel, menjadi festival, menjadi gadis-gadis yang tertawa dan berperang dan menunggu. Dan sebaliknya — dan inilah bagian yang dulu hampir membuatnya gila — kalau dia berhenti mengetik, dunia menunggu. Membeku sopan di ujung kalimat terakhir. Bertahun-tahun, kalau perlu. Dunia itu sabar seperti hanya sesuatu yang tidak hidup yang bisa sabar.
Kecuali belakangan. Belakangan, dunia itu berjalan sendiri.
Wanita itu tidak ingat kapan tepatnya dimulai. Dia ingat malam-malam buruknya — malam ketika cerita di tutsnya terasa seperti tembok, ketika setiap kalimat yang dia tulis untuk arc terakhir berbunyi bohong, ketika tiga gadisnya (dia selalu menyebut mereka begitu: gadis-gadisku) menatapnya dari halaman dengan mata yang dia tulis sendiri dan bertanya, tanpa suara, lalu kami untuk apa? Dia ingat berhenti. Dia ingat gelap yang datang setelah berhenti — gelap yang punya berat, punya suara, yang berdiri di belakang kursinya dan berbisik dengan suaranya sendiri: tidak ada gunanya. tidak ada yang menunggu. bakar saja. Dia ingat lari dari mejanya, di dunia yang dulu, dunia dengan jendela dan hujan sungguhan—
—dan terbangun di sini. Di ruangan tanpa pintu. Bersama meja itu.
Sudah berapa lama? Waktu di sini diukur dengan satuan yang salah. Yang dia tahu: gelap itu ikut. Dia tidak pernah melihatnya, tapi kadang, di tepi ruangan putih, ada noda — seperti tinta yang jatuh di luar halaman — dan noda itu membaca lewat bahunya, dan setiap kali dia menulis sesuatu yang berharap, noda itu bertambah besar.
Lalu, pada suatu titik yang tidak bisa dia tandai, sesuatu masuk ke ceritanya.
Bukan tulisannya. Dia tahu setiap kata yang pernah dia ketik, seperti ibu tahu setiap jahitan di baju anaknya. Yang ini bukan miliknya: satu figur kecil di barisan belakang aula, yang seharusnya tidak punya nama, tidak punya kalimat, tidak punya apa-apa — yang mulai melakukan hal-hal.
Awalnya dia panik. Lalu dia membaca.
Dan sekarang, di ruangan putih tanpa waktu, wanita itu melakukan hal yang sudah bertahun-tahun tidak dia lakukan: dia menunggu kelanjutan sebuah cerita yang tidak dia tulis.
Dia membaca figur kecil itu menolak menolong lalu menolong diam-diam. Membaca roti kacang merah. Membaca lonceng. Dia tertawa untuk pertama kalinya sejak ruangan ini ada — tawa yang mengejutkan dirinya sendiri, memantul aneh di keputihan tanpa dinding — waktu membaca tiga jendela merah muda yang menghancurkan ketenangan hidup pemuda itu. Dan dia menangis, dengan tangan menutup mulut, waktu membaca pemuda itu berkata pada gadis pedangnya: kau bukan patung pedang yang dipajang di etalase.
Karena dia yang memajang gadis itu di sana. Dia yang menulis etalasenya. Dia menulis kesepian tiga gadisnya dari bahan yang paling dia kenal — miliknya sendiri, dibagi tiga, supaya lebih ringan dibawa — lalu tidak pernah tahu cara menyembuhkannya, karena mana mungkin; dia bahkan tidak tahu cara menyembuhkan yang asli.
Dan sekarang seorang figuran — kesalahan cetak, typo yang baik hati — sedang menyembuhkan ketiganya. Satu per satu. Dengan hal-hal kecil. Tanpa tahu bahwa setiap luka yang dia sentuh adalah luka orang yang sama.
Di sekeliling meja, tiga siluet berdiri seperti selalu: samar, setinggi dirinya, tidak pernah bergerak — tapi belakangan, saat dia membaca bab-bab pemuda itu, ketiganya terasa... lebih hangat. Lebih dekat. Seperti pecahan yang mendengar suara rumah.
Wanita itu meletakkan jari-jarinya di atas tuts.
Sudah lama dia tidak berani. Setiap kali dia menulis, koreksi dunia itu — hal dingin yang lahir dari kebiasaannya sendiri, dari semua aturan dan jadwal dan seharusnya yang dia pakai untuk mencambuk dirinya bertahun-tahun — mengambil kalimatnya dan memakainya sebagai senjata. Dia menulis “ujian musim dingin”, koreksi itu menulis serigala. Dia diam saja, koreksi itu tetap berjalan, memakai suaranya, menghapus pemuda itu atas namanya.
Tapi malam ini — kalau ini malam — dia membaca pemuda itu hampir pergi meninggalkan segalanya demi melindungi gadis-gadisnya, dan dibaca pemuda itu dihentikan oleh sebuah ciuman, dan sesuatu dalam dirinya yang sudah lama mati bergerak seperti jari yang kesemutan.
Dia mengetik satu kalimat. Pelan. Ragu. Bukan perintah — dia sudah belajar; perintahnya selalu dibajak. Ini lebih kecil dari perintah. Ini yang selama ini tidak pernah dia tulis di cerita mana pun, karena dia pikir cerita butuh konflik, butuh derita, butuh harga:
“Kali ini, kubiarkan mereka memilih sendiri.”
Kalimat itu tidak mengubah apa pun yang terlihat. Tidak ada cahaya. Tidak ada gemuruh.
Tapi jauh di bawah, di dunia yang berjalan sendiri, seorang gadis pedang terbangun pukul tiga pagi dengan rasa terima kasih tanpa alamat. Seorang penyihir kutukan menulis di jurnalnya, menulislah, aku belum selesai dibaca. Seorang putri memperbarui empat huruf di telapak tangannya dan menambahkan catatan tentang huruf C.
Dan di tepi ruang putih, noda tinta itu bergerak untuk pertama kalinya setelah lama — melebar, pelan, seperti sesuatu yang tersinggung.
Wanita itu menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak ruangan ini ada, dia tidak mundur.
“Kau dengar itu?” katanya, pada noda, pada gelapnya sendiri, dengan suara yang serak karena jarang dipakai. “Mereka memilih sendiri sekarang. Dia mengajari mereka caranya.” Dia menoleh kembali ke tuts, dan jarinya — jari yang gemetar, jari penulis, jari yang diputar-putar tiga gadis di tiga tempat tanpa mereka tahu menirukan siapa — mulai bergerak lagi.
“Dan sepertinya... dia sedang mengajariku juga.”