← Chapters Ch. 6 / 52

Chapter Six

Villainess Membaca Terlalu Banyak

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 2 — Ciel, Lucrezia


Perpustakaan barat punya satu pengunjung tetap selain aku, dan butuh tiga minggu bagiku untuk menyadarinya — yang memalukan, mengingat pekerjaanku adalah memperhatikan.

Dia selalu datang lewat pintu samping, selalu satu jam sebelum tutup, selalu duduk di meja balik rak filsafat — titik buta dari semua sudut ruangan, dipilih oleh orang yang berpikir dengan cara yang sama sepertiku. Dan dia selalu membawa buku sendiri, yang berarti dia tidak datang untuk koleksi perpustakaan.

Dia datang untuk tidak ditemukan.

Aku baru benar-benar melihatnya suatu sore, saat pulang lebih lambat dari biasa: sosok berambut merah gelap di meja pojok, membaca dalam cahaya lilin sendiri, dengan label yang melayang tenang di atas kepalanya —

[ Lucrezia Morgana — Warlock Lv. 9 ]

— dan aku nyaris menjatuhkan buku catatanku.

Lucrezia Morgana. Villainess Starblade Academy. Putri tunggal marga Morgana — keluarga penyihir kutukan yang tiga generasi lalu dituduh bersekongkol dengan Eclipse, dan sejak itu diperlakukan benua sebagai aib yang kebetulan masih diundang ke pesta. Di naskah, dia adalah duri bagi para heroine: licik, tajam, selalu satu langkah di depan — sampai bab enam puluh delapan, ketika dia dijebak dalam skandal yang tidak dia lakukan, dipermalukan di depan seluruh akademi, dan dikeluarkan untuk menyambut kehancuran pelan-pelan.

Aku tahu dia satu angkatan denganku. Aku hanya tidak menyangka dia memilih perpustakaan yang sama untuk bersembunyi.

Sejak sore itu, kami berbagi ruangan dalam diam. Dia di pojok filsafat, aku di pojok jurnal irigasi. Dua orang yang sama-sama profesional dalam ketidakhadiran, saling tidak mengganggu. Sistem yang indah.

Sistem itu bertahan sebelas hari.


Hari kedua belas, aku datang dan menemukan mejaku sudah ditempati.

Lucrezia Morgana duduk di kursiku, di meja pojokku, dengan kaki disilangkan dan sebuah buku terbuka di tangannya — bukan bukunya.

Buku catatanku.

Yang terkunci di laci. Yang lacinya sekarang terbuka dengan cara yang terlalu rapi untuk disebut dibobol.

Darahku turun ke kaki.

“Duduk,” katanya tanpa mendongak, seperti pemilik kantor menyambut pelamar kerja. “Tulisanmu buruk sekali, omong-omong. Butuh dua malam untuk memecahkan sandinya. Campuran aksara lama dan angka substitusi — cerdas untuk ukuran kelas F, menghina untuk ukuranku.”

“Itu barang pribadi—”

“Halaman empat puluh dua.” Dia membalik buku itu ke arahku. Di sana, dalam sandiku, tertulis kronologi Duel Penempatan — ditulis seminggu sebelum duelnya terjadi. Lengkap dengan hasilnya. “Halaman lima puluh: ‘kuda lepas di gerbang timur, hari ke-9, sore.’ Terjadi persis. Halaman tiga puluh tujuh, dan ini favoritku: ‘jangan duduk dekat rak sembilan.’” Dia menutup buku dengan satu tangan. “Rak yang runtuh dan nyaris membunuh anak herbologi itu. Kau menulisnya sebelum kejadian.

Mata merah tembaga itu akhirnya naik menatapku, dan aku mengerti seketika kenapa separuh akademi takut padanya. Tatapan itu tidak mengancam. Tatapan itu membedah.

“Jadi,” katanya. “Peramal, pelaku, atau sesuatu yang lebih menarik?”

Otakku berputar dengan kecepatan yang belum pernah dicapainya. Berbohong total? Dia sudah pegang bukti fisik. Mengaku peramal? Class-ku [Extra]; kemampuan meramal akan tercatat sebagai skill, dan dia cukup pintar untuk minta dibuktikan lewat status. Lari? Dia Warlock Lv. 9 dan aku pernah kalah lomba lari melawan Milo yang sedang sakit.

“...Kau lupa opsi keempat,” kataku akhirnya, menarik kursi di seberangnya dan duduk. Kalau tidak bisa menang, setidaknya jangan kalah sambil berdiri. “Orang gila yang menulis fiksi, dan kebetulan beruntung.”

“Tiga kali berturut-turut.”

“Keberuntungan beruntun.”

“Dengan detail nomor pinjam buku yang bahkan pustakawan tidak tahu.” Dia menyandarkan punggung, dan untuk pertama kalinya bibirnya melengkung — bukan senyum ramah; senyum pemain catur yang lawannya baru saja menyentuh pion. “Oh, ya. Aku juga bicara dengan si anak herbologi. Gadis itu senang sekali bercerita tentang ‘Penolong Tak Dikenal’-nya. Surat bertulisan tangan kiri. Kau tahu apa yang lucu? Orang yang menulis dengan tangan kiri untuk menyamar selalu lupa satu hal — kemiringan kertasnya tetap mengikuti kebiasaan tangan kanan.” Dia mengetuk buku catatanku. “Kemiringan yang sama dengan sandi-sandi ini.”

Sunyi.

“...Kau menyelidikiku,” kataku. “Berapa lama?”

“Sejak lonceng itu.” Dia mengangkat bahu, elegan. “Lonceng tidak berbunyi sendiri — bukan begitu kata bunga akademi kita? Dia romantis, jadi dia menyimpannya sebagai misteri. Aku realis, jadi kujadikan proyek.” Matanya menyipit, dan nada suaranya turun satu tingkat, kehilangan permainannya. “Lalu proyekku menemukan sesuatu yang tidak lucu. Halaman enam puluh sembilan.”

Dia membuka halaman itu dan memutar bukunya ke arahku.

Di sana, dalam sandiku, tertulis: Bab 68 — jebakan skandal L. Morgana. Pelaku: [nama tiga murid]. Bukti palsu disiapkan H-6 di [lokasi]. Hasil: L.M. dikeluarkan. Catatan pribadi: adegan paling tidak adil di seluruh naskah. Penulisnya kejam.

Aku lupa bernapas.

Lucrezia Morgana menatapku dari seberang meja, dan untuk pertama kalinya sejak dia membuka mulut, aku melihat apa yang ada di bawah semua lapisan siletnya: seorang gadis yang sudah membaca vonis atas hidupnya sendiri, ditulis tangan orang asing, tergeletak di laci perpustakaan yang berdebu.

“‘Dikeluarkan,’” katanya. Suaranya sangat, sangat tenang. “Dijebak. Dipermalukan. Oleh tiga nama yang bahkan belum pernah bicara denganku. Dan kau — murid kelas F yang membagikan roti dan membunyikan lonceng — sudah tahu semuanya, lengkap dengan tanggal.” Dia mencondongkan tubuh. “Jadi kutanya sekali lagi, dan pikirkan jawabanmu baik-baik, karena aku sudah menyiapkan tujuh kutukan berbeda kalau kau berbohong: kau ini apa?

Aku menatapnya. Menatap halaman enam puluh sembilan. Menatap kalimat terakhirku sendiri: Penulisnya kejam.

Aturan Nomor Satu berteriak di kepalaku. Tapi Aturan Nomor Satu sudah babak belur sejak bab tiga, dan yang duduk di depanku ini bukan ancaman terhadap naskah.

Yang duduk di depanku adalah korbannya.

“Kalau kubilang,” kataku pelan, “bahwa aku tahu cerita tempat ini akan berjalan ke mana — bukan meramal, tapi tahu, seperti orang yang sudah pernah membacanya — dan bahwa di cerita itu kau ditulis sebagai penjahat dan dihancurkan tanpa pernah diberi kesempatan... kau akan percaya?”

Lucrezia menatapku lama. Lilin di mejanya berkedip.

“Seluruh dunia sudah memutuskan aku penjahat sejak aku lahir,” katanya akhirnya. “Sekarang kau bilang ceritanya pun ikut memutuskan begitu.” Dia bersandar, dan tawanya keluar — pendek, tajam, tanpa kegembiraan sama sekali. “Kau tahu apa yang gila? Itu hal paling masuk akal yang pernah dikatakan orang padaku.”

Dia mendorong buku catatanku kembali ke seberang meja.

“Baik, murid kelas F yang membaca terlalu banyak. Mari buat kesepakatan.” Mata tembaga itu menyala dalam cahaya lilin. “Kau tidak melaporkan bahwa aku membobol lacimu. Aku tidak melaporkan bahwa kau adalah anomali berjalan yang tahu masa depan. Dan sebagai gantinya—” untuk sepersekian detik, hanya sepersekian, silet dalam suaranya menumpul, “—kau ceritakan padaku bagaimana tepatnya tiga orang itu akan menjebakku. Karena aku berencana untuk tidak dihancurkan, dan sepertinya kau satu-satunya orang di dunia ini yang keberatan dengan ending-ku.”

Aku memandangi tangan yang dia sodorkan untuk bersalaman. Rapi. Pucat. Ada bekas tinta di jari tengahnya — dan noda tinta kecil di margin buku yang tadi dia baca, tempat dia rupanya sempat mencoret sesuatu.

Aku melirik coretannya. Di samping paragraf pembuka bukunya sendiri, dengan tulisan kecil dan kejam, tertulis: “pembukaan yang malas. Kalau aku penulisnya, kubakar bab ini.”

Entah kenapa, dari semua hal aneh sore ini, coretan itu yang paling lama tinggal di kepalaku.

Aku menjabat tangannya. “Ciel.”

“Aku tahu namamu. Ada di sampul buku sandimu, bodoh.” Dia berdiri, merapikan jubahnya, dan berhenti sebentar di sampingku dalam perjalanan ke pintu. “Lucrezia. Tapi kurasa kau juga sudah tahu — dari halaman enam puluh sembilanmu.”

Dia pergi. Pintu samping menutup tanpa suara.

Ting.

[ Affection Meter — New Entry ] [ Lucrezia Morgana: 11% ↑ ] [ Note: “Satu-satunya yang keberatan dengan ending-ku.” ]

Aku menatap meter ketiga itu, lalu menatap langit-langit perpustakaan, lalu meletakkan dahiku ke meja dengan bunyi duk yang pelan dan penuh penerimaan.

Tiga meter. Tiga minggu. Aturanku tinggal puing.

“Sistem,” gumamku pada meja. “Kau menikmati ini, kan?”

Sistem, yang tidak pernah menjawab, memilih momen itu untuk berkedip dua kali.