← Chapters Ch. 4 / 52

Chapter Four

Penolong Tak Dikenal

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 4 — Ciel, Seraphina, Fenn, Milo


Ada gosip baru di Astra Academy, dan namanya “Penolong Tak Dikenal”.

“Katanya dia menyelamatkan tugas anak herbologi,” Milo bercerita dengan mulut penuh roti, di meja makan asrama kelas F. “Muncul tengah malam, ketuk pintu, hilang. Seperti hantu. Hantu yang baik.”

“Hm,” kataku, makan dengan tenang.

“Anak-anak cewek menyebutnya romantis. Ada yang bilang dia pasti murid bangsawan yang menyembunyikan identitas. Ada yang bilang dia arwah pustakawan tua. Taruhanku? Dia cuma orang iseng yang kebetulan lewat.”

“Taruhanmu paling masuk akal.”

“Kan? Kau saja yang mengerti aku, Ciel.”

Kau tidak akan bilang begitu kalau tahu “hantu baik” itu duduk di depanmu sedang menghabiskan supnya sambil menyesali seluruh keputusan hidupnya, batinku.

Seminggu berlalu sejak insiden buku, dan aku sudah melakukan evaluasi menyeluruh. Kesimpulan: kesalahan prosedural, bukan kesalahan prinsip. Naskah tetap aman — lusa setelahnya, sesuai prediksi, Cassian tetap membuat kesan baik pada Sera lewat kejadian lain (menghentikan kuda lepas di gerbang; naskah memang selalu punya cadangan). Fenn selamat. Tidak ada jejak menuju aku. Affection meter... yah. Meter itu masih di sana, mengambang di 7%, seperti tagihan yang belum jatuh tempo.

Yang penting: tidak akan ada insiden kedua. Aku sudah menandai semua event dua puluh bab ke depan di buku catatanku, lengkap dengan jalur menghindar. Sistem yang rapi. Antipeluru.

Sistem antipeluru itu bertahan sembilan hari.


Hari kesepuluh, sore, perpustakaan barat. Aku sedang menyalin kronologi arc festival ketika pintu berderit dan suara yang sudah kuhafal — sayangnya — mengalir masuk.

“...cuma mengembalikan buku, sebentar saja.”

Sera. Dan Fenn. Lagi.

Aku sudah setengah jalan mengemasi barang ketika mataku menangkap sesuatu di antara rak-rak — dan seluruh tubuhku berubah jadi es.

Asap hitam.

Mengepul pelan di atas kepala Fenn, menggumpal, membentuk huruf:

[ DEATH FLAG ] [ Cause: Structural Collapse — Bookshelf (Row 9) ] [ Time Remaining: 00:02:47 ]

Rak sembilan. Aku menoleh. Rak sembilan adalah rak jangkung tua di sudut ruangan, yang miring dua derajat dan sudah kucatat sejak hari pertama sebagai “jangan duduk di dekat sini”. Di kakinya, pasak penahan lantainya sudah lepas separuh. Dan Fenn, dengan buku pinjaman di pelukan, sedang berjalan lurus ke arahnya, karena tentu saja slot pengembalian ada di sana.

00:02:31.

Ini tidak ada di novel. Fenn tidak mati di bab mana pun — dia figuran yang selamat sampai akhir. Yang berarti satu dari dua hal: kematian ini memang “kebetulan kosong” yang tidak tercatat naskah... atau naskah sudah mulai bergeser karena ulahku, dan pergeserannya menagih nyawa.

Dua-duanya berarti satu hal yang sama: tidak ada Cassian yang akan lewat. Tidak ada protagonis. Tidak ada cadangan.

Hanya ada aku.

00:02:14.

Oke. Berpikir. Berteriak “awas”? Menarik perhatian dua orang sekaligus, salah satunya heroine utama yang sudah pernah melihat wajahku — dan meter 7% itu bisa jadi 17%. Menahan raknya? STR 4. Raknya menang. Memindahkan Fenn dengan alasan? Alasan apa, “permisi, jangan berdiri di situ, firasatku buruk”? Itu kalimat yang diingat orang seumur hidup.

00:01:52.

Mataku menyapu ruangan dengan panik yang mulai terlatih — dan menemukan jawabannya di dinding: tuas lonceng perpustakaan. Lonceng tanda tutup, yang dibunyikan pustakawan setiap malam. Talinya menjuntai melewati balok atap... balok yang menopang ujung atas rak sembilan dari sisi berlawanan.

Bukan. Bukan itu. Lebih sederhana: lonceng itu berisik. Dan Fenn — aku membacanya di deskripsi setengah kalimatnya, “murid pengantuk yang mudah terkejut” — adalah orang yang paling gampang kaget se-akademi.

00:01:20.

Aku bergerak. Memutar lewat belakang rak, mengambil jalur yang tidak terlihat dari posisi Sera, mencapai dinding, dan menarik tali lonceng dengan seluruh tenaga STR 4-ku.

DANG. DANG. DANG.

Efeknya instan. Fenn melonjak setengah meter ke udara dengan jeritan pendek, buku-bukunya berhamburan, dan dia mundur tiga langkah besar dari rak sembilan — tepat ketika getaran lonceng di balok atap menjadi sentuhan terakhir yang dibutuhkan pasak lapuk itu untuk menyerah.

Rak sembilan runtuh.

Suaranya seperti dunia yang batuk: ratusan buku dan kayu tua menghantam lantai tepat di titik di mana, dua detik lalu, seorang gadis berkacamata berdiri.

Debu mengepul. Sunyi sesaat.

[ DEATH FLAG: Dismissed ]

“FENN!” Sera melesat dari balik rak, menangkap sahabatnya yang terduduk gemetar. “Kau tidak apa-apa?! Kau terluka?!”

“A-aku— loncengnya— lalu raknya— aku hampir—”

Aku tidak mendengar sisanya, karena aku sedang melakukan spesialisasiku: menghilang. Tali lonceng sudah kulepas, tubuhku sudah menyusup ke celah antara rak tujuh dan dinding, kaki melangkah tanpa suara ke arah pintu samping. Sepuluh detik lagi aku hanyalah figuran yang tidak pernah ada di ruangan ini—

“Tunggu.”

Suara itu tidak keras. Tapi dia memotong lurus melintasi ruangan seperti benang perak, dan kakiku — kaki bodoh, pengkhianat — berhenti setengah detik.

Setengah detik itu cukup.

Aku tidak menoleh. Dari sudut mata, di pantulan kaca jendela sore, aku bisa melihatnya: Sera berdiri di tengah lautan buku berhamburan, satu tangan masih memeluk Fenn, dan matanya — mata warna langit sebelum hujan itu — menatap lurus ke arah bayanganku di ambang pintu.

Dia tidak melihat wajahku. Sudut ini mustahil. Yang dia lihat hanyalah siluet: seorang murid jubah hitam kelas F, berdiri di antara cahaya sore dan debu yang berputar pelan.

“...Lonceng tidak berbunyi sendiri,” katanya, setengah pada dirinya sendiri.

Aku melangkah keluar dan tidak berhenti sampai tiga koridor jauhnya.


Di kamar, malam itu, aku melakukan dua hal.

Pertama, aku menulis di buku catatan, halaman khusus yang kuberi judul “Anomali”: Bab 4 versi dunia ini — death flag pada Fenn, tidak ada di naskah. Kemungkinan: (a) kebetulan kosong, (b) efek riak dari intervensi buku. Jika (b): setiap intervensi menciptakan kebutuhan intervensi berikutnya. Catatan: JANGAN diuji lebih lanjut.

Kedua, aku menatap jendela merah muda yang sudah menungguku sejak sore, berpendar dengan kepuasan yang nyaris bisa didengar:

[ Seraphina Elowen: 12% ↑ ] [ Note: “Lonceng tidak berbunyi sendiri.” ] [ Fenn: 31% ↑ ] [ Note: “ORANG BAIK ITU NYATA DAN DIA MENYELAMATKANKU DUA KALI” ]

“...Fenn punya meter juga?!”

[ Semua orang punya meter, ] sistem seolah berkata lewat pendarannya yang kalem. [ Kau saja yang baru sadar sekarang. ]

Aku menjatuhkan wajah ke bantal dan mengerang panjang.

Di kejauhan, di menara asrama putih-keemasan, seorang gadis berambut keperakan duduk di tepi jendela. Di tangannya, surat bertulisan tangan kiri yang sudah dilipat-buka terlalu banyak kali. Di kepalanya, sebuah siluet di ambang pintu perpustakaan, berdiri di antara debu dan cahaya.

Dan di jarinya, sebatang pena berputar, berputar, berputar.