← Chapters Ch. 13 / 52

Chapter Thirteen

Festival Bintang Jatuh

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 7 — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian, Milo, Fenn


Sekali setahun, di malam pertama musim dingin, langit di atas Astra Academy runtuh dengan indah.

Hujan meteor Astra — “Bintang Jatuh” — adalah alasan akademi ini dibangun di sini tiga ratus tahun lalu, dan malam perayaannya adalah satu-satunya malam di mana seluruh hierarki akademi dibubarkan: kelas atas dan kelas F tumpah ke halaman yang sama, di antara lampion, kembang api sihir, dan deretan kios yang menjual segala hal yang bisa digoreng.

Di naskah, Festival Bintang Jatuh bab dua puluh dua adalah bab romansa besar pertama: malam di mana Cassian dan para heroine berbagi momen di bawah hujan meteor. Aku hafal koreografinya sampai ke menit.

Karena itu rencanaku malam ini sederhana dan elegan: makan lima tusuk daging bakar bersama Milo, menonton meteor dari zona kelas F, dan berada sejauh mungkin dari semua koreografi.

“Lima tusuk?” Milo menghitung tusukan kosong di tanganku. “Ini yang ketujuh.”

“Aku makan untuk menenangkan diri.”

“Dari apa? Ini festival. Satu-satunya bahaya di sini adalah kehabisan saus.”

Dari kenyataan bahwa segel event di atas lapangan utama berkedip dua kali sejak sore, tidak kukatakan. [ EVENT: Starfall Festival — Chapter 22 ] sudah menyala sejak lampion pertama, dan statusnya berganti-ganti antara [ On Script ] dan sesuatu yang hanya muncul sepersekian detik, terlalu cepat untuk dibaca — dan justru karena itu tidak bisa berhenti kupikirkan.

“Ciel! Milo!” Fenn muncul dari kerumunan membawa gula kapas sebesar kepalanya, kepangnya dihias pita festival. “Kalian harus coba kios ramalan! Ramalannya buruk sekali, sampai lucu— eh, Ciel, itu tusukan ketujuh?”

“Kedelapan,” kata Milo.

“Pengkhianat,” kataku.

Malam itu, untuk dua jam pertama, dunia berbaik hati. Kami bertiga berkeliling kios; Fenn kalah melawan permainan lempar gelang lima kali berturut-turut dan menyalahkan gravitasi; Milo memenangkan boneka bebek dengan cara yang mungkin curang; aku membiarkan diriku, untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia ini, sekadar ada di sana. Di antara lampion dan bau gula, dikelilingi para figuran yang tertawa — orang-orang yang tidak tertulis, merayakan malam yang untuk sekali tidak peduli siapa yang penting.

Kalau dunia ini berbaik hati terus seperti ini, pikirku, mungkin menunggu ending tidak akan terlalu buruk.

Tentu saja, tepat saat aku berpikir begitu, koreografi datang menjemputku.


Yang pertama Isolde.

Dia muncul dari arah arena — di naskah, malam ini dia seharusnya berduel persahabatan dengan Cassian di panggung festival, kalah tipis, dan mendapat momen “rival yang mulai luluh”. Tapi di sini, sekarang, dia berdiri di depanku dalam jubah musim dingin, memegang dua tusuk daging bakar dengan kekakuan orang memegang dokumen negara.

“Aku menolak duel pertunjukannya,” katanya tanpa pembukaan.

“...Kau apa?”

“Duel persahabatan di panggung. Aku menolak. Panitia terkejut. Cassian terlihat lega, anehnya.” Dia menyodorkan satu tusuk padaku. “Aku sudah tiga belas tahun tampil untuk ditonton. Malam ini aku ingin mencoba yang dilakukan orang-orang di festival. Makan sambil berdiri. Kau akan menemaniku, karena aku tidak tahu protokolnya.”

“Protokol makan sambil berdiri?”

“Jangan menertawakanku. Mulai.”

Jadi kami makan sambil berdiri, dan aku menyaksikan Isolde Vayne menggigit daging bakar festival pertama dalam hidupnya dengan kedua tangan dan konsentrasi penuh seorang duelist, lalu berhenti, menatap tusukannya, dan mengucapkan ulasan resminya: “Ini jauh lebih baik daripada jamuan marga.” Salju pertama mulai turun tipis, hinggap di rambut hitamnya, dan ketika sarung tangan kulit kebesaran di tanganku menangkap matanya — aku memakainya, tentu saja aku memakainya — sudut bibirnya melakukan gerakan kecil yang pada manusia lain disebut senyum.

[ Isolde Vayne: 39% ↑ ]

Yang kedua Lucrezia.

Dia mencegatku di lorong lampion merah, muncul dari bayangan seperti kebiasaan buruknya, memegang dua cangkir anggur apel hangat tanpa alkohol dan ekspresi orang yang baru memenangkan taruhan.

“Daftar pendekku tinggal satu nama,” katanya sebagai salam, menyerahkan satu cangkir. “Pemasok kristal itu menerima pembayaran dari rekening yang tiga kali dicuci. Malam ini aku menemukan ujungnya. Kau mau tahu bagian terbaiknya?” Matanya berkilat dalam cahaya merah. “Ujungnya bukan tiga murid dari bab enam puluh delapanmu. Ini pemain lain. Seseorang yang bahkan naskahmu tidak tahu.”

Kabar itu seharusnya membuatku takut — dan memang membuatku takut — tapi Lucrezia menyampaikannya dengan gairah seorang sarjana menemukan naskah kuno, dan ketakutanku kalah oleh pemandangan itu: villainess yang selama ini membaca sendirian di titik buta perpustakaan, kini berdiri di tengah festival, bercerita padaku dengan tangan bergerak-gerak, sesekali lupa merendahkan suaranya.

“Kau menikmati ini,” kataku.

“Aku hidup untuk ini.” Dia menyesap anggur apelnya. “Misteri, konspirasi, dan satu-satunya orang di dunia yang bisa kuajak membahasnya. Kau tahu, kalau dulu ada yang bilang padaku momen festival terbaikku akan kuhabiskan dengan murid kelas F membahas pencucian uang, aku akan mengutuknya.” Dia mengangkat cangkirnya padaku, dan senyumnya, untuk sekali, tidak menyimpan silet sama sekali. “Untuk selera burukmu, pembaca-ku.”

[ Lucrezia Morgana: 36% ↑ ]

Pembaca-ku. Sistem mencatat kata itu dengan pendaran yang terasa seperti tawa tertahan.

Dan yang ketiga — ketika lonceng menara berbunyi dan seluruh festival mulai mengalir ke lapangan utama untuk puncak hujan meteor — adalah Sera.

Aku menemukannya bukan di tengah lapangan, tempat naskah menempatkannya di sisi Cassian, tapi di tepi barat yang sepi, di undakan batu menghadap gunung, dengan dua cangkir teh dari termos kuningan yang sudah kukenal.

“Aku kabur,” katanya riang, sebagai penjelasan lengkap. “Ada empat puluh orang di lapangan utama yang ingin menonton meteor sambil berdiri di sebelahku, dan tidak satu pun dari mereka berniat menonton meteornya. Duduk. Racikan kedua — mint utara dan madu. Kau berutang penilaian.”

Aku duduk. Langit mulai bergerak.

Bintang jatuh pertama melintas — garis perak panjang membelah malam — dan dari lapangan utama terdengar sorakan ribuan orang. Lalu yang kedua. Kelima. Kedua puluh. Langit menjadi hujan cahaya yang jatuh tanpa suara, dan di sebelahku Seraphina Elowen menonton dengan kepala mendongak dan mata yang memantulkan semuanya, tehnya terlupakan mendingin di tangannya.

“Di rumah,” katanya pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari langit, “kami menonton ini dari balkon utama, dengan daftar tamu. Ayahku selalu bilang bintang jatuh adalah pertanda baik untuk keluarga Elowen. Semua orang bertepuk tangan pada langit. Bertepuk tangan, Ciel. Pada langit.” Dia tertawa kecil, napasnya mengepul putih. “Aku selalu ingin tahu rasanya menontonnya seperti ini. Tanpa daftar tamu. Cuma... jatuh saja, tanpa harus jadi pertanda apa-apa.”

“Dan? Rasanya?”

Dia akhirnya menoleh. Cahaya meteor lewat di matanya.

“Seperti tehnya,” katanya. “Lebih enak yang ilegal.”

Kami tertawa, dan di atas kami langit terus runtuh dengan indah, dan untuk beberapa menit dunia ini terasa seperti tempat yang dibangun seseorang dengan penuh kasih — bukan penjara naskah, bukan mesin koreksi; hanya dunia, di malam terbaiknya, membiarkan semua orang di dalamnya menjadi tidak penting bersama-sama.

Kalau kau yang membangun ini, pikirku pada penulis yang entah ada di mana, kau pasti pernah sangat menginginkan malam seperti ini.

Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan itu. Tapi tepat saat itu, Sera menunduk ke cangkirnya, dan berkata dengan suara yang berbeda — lebih pelan, seperti memberanikan diri:

“Ciel. Minggu depan, teh yang ketiga—”

Dan dunia berkedip.

Bukan kiasan. Dunia — lampion, salju, langit, suara ribuan orang — berkedip, satu kali, seperti gambar di layar yang kehilangan sinyal sepersekian detik. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang sadar. Sera masih bicara, meteor masih jatuh, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi di sudut penglihatanku, segel emas di atas lapangan utama berkedip untuk terakhir kalinya, dan kali ini aku sempat membaca statusnya:

[ EVENT: Starfall Festival — Chapter 22 ] [ Status: Deviation Threshold Exceeded ] [ Initiating review of unregistered entity... ]

Dan di jendela status-ku sendiri, yang membuka diri tanpa kuminta, di baris paling atas tempat sebuah nama seharusnya berada, huruf-huruf itu bergetar — C, i, e, l — goyah seperti tinta di air, pudar, kembali, pudar—

[ Name: C__l ] [ Name: Ciel ] [ Name: [ ] ] [ Name: Ciel ]

—lalu diam, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“—jadi bagaimana?” Sera menatapku, menunggu, dengan senyum ketiga itu, yang baru, yang hangat. “Kau akan datang, kan?”

Bintang jatuh terakhir melintas di belakangnya, terang dan panjang, seperti garis yang dicoretkan seseorang pada sebuah nama.

“...Ya,” kataku, dan berharap dia tidak mendengar apa pun di suaraku. “Aku pasti datang.”