Chapter Thirty
Tiga Gadis, Satu Kebiasaan
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 4 — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia
Perang punya jeda, dan jeda punya kebiasaan menunjukkan hal-hal yang disembunyikan kesibukan.
Minggu kedua, Eclipse menarik diri ke lembah untuk berkumpul kembali — “mereka belajar,” kata Rektor muram, “kegelapan yang belajar adalah kabar terburuk” — dan akademi jatuh ke dalam ritme aneh masa perang: siaga yang bosan. Tembok dijaga, tapi tidak diserang. Semua orang menunggu.
Dan aku, yang otaknya sudah setahun dilatih memperhatikan, akhirnya punya waktu untuk benar-benar melihat — dan tiga hal yang sudah lama mengambang di tepi kesadaranku memutuskan untuk merapat sekaligus, dalam satu sore, di markas aula barat.
Kami berempat sedang di meja peta. Lucrezia memaparkan analisis pergerakan musuh; Sera mendengarkan sambil berpikir; Isolde berdiri di sisi peta memeriksa jalur patroli. Sore yang biasa.
Lalu Lucrezia berhenti bicara sejenak untuk menyusun kalimat berikutnya — dan jarinya, tanpa sadar, mengambil pena penanda dari meja dan memutarnya. Bulat-bulat. Bulat-bulat.
Di seberang meja, Sera — yang sedang berpikir — sedang memutar sendok teh kosongnya. Bulat-bulat. Arah yang sama.
Dan Isolde, di sisi peta, tangannya di gagang pedang, ibu jari dan telunjuknya memutar-mutar tali pengikat gagang. Bulat-bulat. Arah yang sama. Ritme yang sama.
Tiga gerakan identik, dalam satu detik, dalam satu bingkai pandang.
Dunia terasa miring sedikit.
Aku sudah mencatat kebiasaan itu masing-masing, tentu saja — pena Sera sejak upacara, tali gagang Isolde sejak lapangan tua, pena Lucrezia sejak perpustakaan. Tiga catatan terpisah, di tiga halaman terpisah, dijelaskan dengan tiga kalimat masuk akal yang terpisah. Tapi otak manusia adalah pengarsip yang malas: dia tidak membandingkan halaman kecuali dipaksa. Dan sore ini, ketiganya diletakkan bersisian di depan mataku oleh kebetulan — atau oleh apa pun yang belakangan mengatur kebetulanku — dan perbandingannya menolak untuk diarsipkan kembali.
Bukan kebiasaan yang mirip. Kebiasaan yang SAMA. Sampai ke arah putaran. Sampai ke ritmenya.
Kebiasaan tidak menular seperti itu. Kebiasaan sedetail itu diwariskan — atau disalin dari sumber yang sama.
“...Ciel?” Sera menatapku. “Wajahmu aneh. Ada apa?”
“Tidak—” Aku menutup mulut. Lalu, karena kami sudah lama melewati masa saling membohongi: “Sebenarnya, ada. Tapi aku belum tahu bentuknya. Boleh aku bertanya sesuatu yang aneh pada kalian bertiga? Dan tolong jawab tanpa berpikir terlalu lama.”
Tiga wajah menoleh. Aku menarik napas.
“Makanan favorit kalian waktu kecil. Bukan sekarang. Waktu kecil. Sebutkan kenangannya — satu hari spesifik memakannya.”
Sunyi yang mengikuti pertanyaan itu terlalu panjang.
Sera membuka mulut, menutupnya lagi. Keningnya berkerut — kerut orang yang meraih ke laci yang selalu dia kira penuh dan menemukan kosong. “Sup krim putih,” katanya akhirnya, pelan. “Aku... tahu itu jawabannya. Aku tahu faktanya. Tapi kau minta satu hari, dan aku...” Dia menatapku, dan sesuatu di matanya mulai takut. “Tidak ada harinya, Ciel. Aku ingat menyukai sup itu. Aku tidak ingat pernah memakannya.”
“Roti jahe,” kata Isolde, kaku. “Kondisi yang sama. Fakta tanpa adegan. Kupikir selama ini karena masa kecilku... tidak layak diingat. Sekarang kau membuatku bertanya apakah dia layak disebut ada.”
Lucrezia tidak menjawab. Dia menatapku dari seberang meja dengan mata tembaga yang sudah sampai di tempat yang aku baru berangkat, dan perlahan, dia mengeluarkan jurnal bersegel tiganya dari balik jubah.
“Aku berjanji pada diriku menunggu sampai datanya cukup,” katanya. Suaranya tidak sedang bermain. “Kurasa barusan kau melengkapinya. Duduk, kalian semua. Ada hipotesis yang harus kalian dengar — dan Ciel, kau terutama, karena ini mengubah segalanya tentang siapa yang sedang kita perjuangkan.”
Dia membuka segel jurnalnya, satu per satu, dan di antara dua degup jantung, aku sempat memikirkan semuanya sekaligus: mimpi ruang putih. Suara ketukan. Perempuan yang menangis. Kali ini kubiarkan mereka memilih sendiri. Wangi tinta. Masa kecil tanpa adegan. Tiga luka yang kukenali dengan mudah — terlalu mudah — seolah aku sudah pernah membaca pemiliknya. Tiga jendela dari satu ruangan.
Dan satu pikiran terakhir, yang datang bukan seperti kesimpulan tapi seperti pintu terbuka, dingin dan terang:
Novel ini berhenti ditulis tiga tahun lalu — di tengah arc final — tanpa pamit.
Penulis tidak meninggalkan cerita di tengah kalimat.
Kecuali sesuatu terjadi pada penulisnya.
“Sebelum kau mulai,” kataku pada Lucrezia, dan suaraku terdengar jauh di telingaku sendiri, “jawab satu hal. Hipotesismu — dia tentang kalian bertiga... atau tentang satu orang?”
Lucrezia berhenti, jarinya di halaman pertama. Sera dan Isolde menatap kami bergantian, belum paham — tapi tangan mereka, kulihat, sudah saling mencari di bawah meja, seperti tubuh yang lebih dulu mengerti daripada kepala.
“Satu orang,” kata Lucrezia pelan. “Dan Ciel... kurasa dia sedang terjebak. Sama sepertimu.”