Chapter Forty Two
Pelukan untuk Sang Error
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ciel, Noct, Seraphina
Celah di atas Kristal Kebangkitan sudah selebar pintu ketika kami kembali ke aula — dan dia bukan lagi sekadar robekan.
Dari dalamnya, ruang putih terlihat. Bukan cahaya: keputihan — putih halaman, putih belum, putih yang membuat mata sakit bukan karena silau tapi karena kosong. Dan di ambangnya, menuang dirinya dari tinta yang jatuh ke atas, Noct menunggu.
“Tepat waktu, typo.” Kolom-kolom teks di matanya bergulir pelan, hampir tenang. “Naskah sedang sibuk kalah di tiga tempat sekaligus. Dinding antara halaman dan luar-halaman sedang paling tipis tiga abad ini. Kalau kau mau masuk, sekaranglah — dan kau tahu syarat pintunya.”
“Aku tahu.” Penghitung di sudut penglihatanku sudah berkedip merah: [ Time to correction: 00:19:57 ] — Naskah, terdesak, memutuskan menyelesaikan penghapusanku sekarang, dan aku berencana memakai penyelesaian itu sampai tetes terakhir. “Dua puluh menit sebelum aku terhapus penuh. Cukup untuk masuk, menemukan penulisnya, dan keluar lewat pintu yang sama — dengan kau di dalam pelukanku.”
Kolom teks itu berhenti.
“...Ulangi bagian terakhir.”
“Kau dengar aku.” Aku melangkah mendekat, ke jarak yang tidak pernah diambil siapa pun darinya selama tiga ratus tahun. “Itu rencananya, Noct. Bukan mengalahkanmu — tiga abad membuktikan itu mustahil, dan jujur saja, aku tidak pernah mau. Rencananya: penghapusanku adalah pintu keluar satu arah dari dunia ini. Dan aku tidak berniat lewat pintu itu sendirian. Kau ikut. Kita berdua keluar dari halaman — kau bebas dari tiga ratus tahun jadi kemarahan yang tersisa, penulis itu bebas dari keputusasaannya yang berwujud kau, dan cerita ini akhirnya boleh tamat.”
“Kau—” Untuk pertama kalinya sejak menara timur, suara-suara berlapisnya pecah kongsi: yang tua menggeram, yang muda tercekat, dan di dasar semuanya, suara perempuan yang menangis itu berhenti menangis, mendengarkan. “Kau merencanakan penghapusanmu sendiri... sebagai kendaraan. Untuk aku.”
“Untuk kalian berdua.” Aku berhenti selangkah darinya. Di belakangku, aku bisa merasakan Sera — di titik yang dia pilih, pintu terakhir, tidak melangkah lebih jauh dan tidak mundur sejengkal pun. “Kau bilang aku akan berakhir sepertimu. Kau setengah benar. Aku memang akan berakhir — hari ini, dua puluh menit lagi, di luar halaman, sama sepertimu. Bedanya cuma satu, dan aku sudah memutuskannya sejak membaca catatan rektor kesembilan: kau berangkat ke sana sendirian, dengan kemarahan sebagai satu-satunya bekal. Aku berangkat dengan bekal yang berbeda—” aku membuka kedua tanganku, “—dan dengan menjemputmu dulu.”
Noct menatap kedua tangan yang terbuka itu. Tinta di sekujur bentuknya bergolak — mengeras, melunak, mengeras — tiga ratus tahun pertahanan berdebat dengan satu murid berumur sembilan belas yang pernah menyalakan lentera untuk orang tua yang melupakannya.
“Aku menghancurkan hidupmu,” katanya akhirnya, suara muda itu sendirian sekarang, telanjang. “Sabotase ritual gadis Morgana itu — aku. Aku ingin melihat apakah kau akan patah seperti aku patah. Aku membocorkan celah ini padamu bukan untuk menolong — aku ingin kau datang, gagal, dan bergabung denganku, supaya aku tidak—” kalimat itu tersandung tiga abad, “—supaya aku tidak sendirian lagi di luar sana. Aku musuhmu, typo. Aku musuh semua orang. Kenapa tanganmu masih terbuka?”
“Karena aku membacamu,” kataku. “Sampai bab terakhirmu. Bab lentera. Bab gadis yang kau ikat karena tidak sanggup dilupakan. Bab tiga ratus tahun menunggu di tempat yang bahkan gema tidak mau tinggal. Aku membaca semuanya, Noct — dan pembaca yang membaca sampai habis tidak menutup buku dengan kebencian. Dia menutupnya dengan ini.” Aku tetap di sana, tangan terbuka, dan mengatakan kalimat yang kubawa dari dunia lain, dari kamar kos sempit, dari dua puluh enam tahun menjadi orang yang tidak dilihat siapa pun: “Kau tidak sendirian. Terlambat tiga ratus tahun, dan lewat pintu yang salah, dan dari orang yang salah — tapi seseorang datang juga akhirnya. Itu saja isi babnya. Kau mau menyelesaikannya bersamaku, atau tidak?”
Sunyi. Di luar, perang. Di atas, keputihan. Di sudut penglihatanku, dua jendela berdampingan:
[ Time to correction: 00:16:41 ]
[ ??? : 3% → 47% ↑↑↑ ] [ Note: “Seseorang datang juga akhirnya.” ]
Dan hal yang menyebut dirinya kesalahan — hal yang selama tiga abad hanya disentuh oleh penghapus — melangkah maju, kaku dan patah-patah seperti mesin berkarat yang mengingat gerakan lama, dan runtuh ke dalam pelukan yang terbuka.
Memeluknya seperti memeluk musim dingin: dingin yang dalam, dan di jantung dinginnya, jauh di dalam, satu titik yang masih hangat dan tidak pernah berhenti berharap ditemukan. Tinta merembes ke jubahku, ke sarung tangan baru pemberian Isolde, dan tidak melukai apa-apa — untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun, dia menyentuh tanpa menghapus dan disentuh tanpa dihindari.
Tubuh tinta itu gemetar. Suara yang keluar dari bahuku bukan lagi berlapis-lapis; hanya satu suara, sembilan belas tahun, meredam dirinya di jubah orang asing yang datang menjemput:
“...aku menyalakan lenteranya... setiap malam... dan tidak ada yang tahu...”
“Aku tahu,” kataku, dan mengeratkan pelukan. “Sekarang aku tahu. Dan sebentar lagi, dia juga akan tahu — penulis kita. Ayo kita ceritakan langsung.”
Di ambang pintu terakhir, Sera berdiri menjaga — [Saint] yang cahayanya tidak bisa menyentuh kami berdua dan yang keberadaannya menyentuh lebih dalam dari cahaya mana pun — dan ketika aku menoleh padanya, melewati bahu musuh-yang-bukan-musuh dalam pelukanku, dia mengangguk sekali.
Sampai pintu terakhir, kata anggukan itu. Aku di sini.
[ 00:14:02 ]
Aku menatap celah putih di atas kristal, mengeratkan lengan di sekeliling tiga ratus tahun kesepian yang akhirnya berhenti melawan, dan melangkah ke altar.
“Bab terakhir,” kataku. “Ayo.”