Chapter Thirty Nine
Lucrezia Membakar Naskah
POV: Lucrezia (orang ketiga terbatas) Karakter: 2+ — Lucrezia, Kehendak Naskah (manifestasi), lautan Eclipse
Di halaman luar Astra Academy, di tengah mahkota sebelas kutukan yang mulai meredup satu per satu, Lucrezia Morgana kedatangan tamu yang dia tunggu-tunggu seumur hidup tanpa pernah tahu namanya.
Kegelapan di hadapannya berhenti menyerang — membelah, mundur, membentuk lorong — dan dari lorong itu, sesuatu berjalan mendekat yang bukan Eclipse: sosok dari huruf. Benar-benar dari huruf: kalimat-kalimat yang mengalir membentuk jubah, paragraf yang menumpuk menjadi bahu, dan wajah yang berupa halaman kosong dengan satu kata tertulis di tempat mata seharusnya berada:
[ CORRECTION ]
Kehendak Naskah. Turun sendiri. Bukan menemui Ciel, bukan menemui pahlawannya.
Menemui dia.
“Wah,” kata Lucrezia, dan meski dua kutukannya padam saat itu juga oleh kelelahan, seringainya justru melebar. “Aku pasti sudah jadi masalah besar sekali.”
[ Lucrezia Morgana. ] Suara itu tidak lewat udara — dia lewat pemahaman, seperti membaca. [ Kau menyimpang paling jauh. Kau kami tulis sebagai duri, dan kau menjadikan dirimu pagar. Tapi kami datang bukan untuk mengoreksi. Kami datang menawarkan. ]
“Ini bagian favoritku. Silakan.”
[ Naskah aslimu memberi kehancuran — kau tahu; kau sudah membacanya di buku anomali itu. Kami menawarkan revisi: berhenti melindungi typo itu, dan babmu kami tulis ulang. Marga Morgana dipulihkan. Nama bersih. Kursi dewan. Cinta protagonis, jika kau mau. Kau, yang seluruh hidupnya diputuskan dunia sebagai penjahat — kami tawarkan menjadi apa pun yang kau pilih. ]
Angin perang lewat di antara mereka, membawa abu.
Dan Lucrezia Morgana tertawa. Bukan tawa silet; bukan tawa sopan; tawa penuh, dari perut, tawa yang membuat beberapa makhluk Eclipse di kejauhan bergeser mundur dengan gelisah.
“Kau tahu apa yang lucu?” Dia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. “Kau — tata bahasa dunia ini, kekuatan yang menulis takdir — dan tawaranmu persis seperti tawaran para bangsawan di pesta: jadilah yang kami mau, dan kami akan berhenti menghukummu karena menjadi dirimu. Tiga ratus halaman aku hidup di bawah tawaran macam itu.” Dia merogoh balik jubahnya, dan mengeluarkan jurnal bersegel tiganya. “Kebetulan. Aku memang menyiapkan jawaban.”
Dia membuka jurnal itu ke bagian tengah — bagian yang dia tulis bertahun-tahun tanpa tahu untuk apa: salinan lengkap takdirnya sendiri. Bab enam puluh delapan, disalin kata demi kata dari buku Ciel dengan tangannya sendiri di malam-malam awal aliansi mereka, ditambah semua catatan, semua analisis, semua rencana pembatalan. Biografi dari hukumannya. Naskah dari kehancurannya.
Dia merobek bagian itu dari jilidannya, memegangnya tinggi-tinggi di hadapan wajah-halaman-kosong itu—
“Kubilang juga apa, dari dulu, di setiap margin,” katanya, dan suaranya membawa seluruh gadis kecil yang pernah dicoret dunia sebelum sempat menulis apa-apa, “ending-nya sampah.”
—dan membakarnya dengan kutukan apinya sendiri.
Halaman-halaman takdir itu terbakar hijau-hitam, api kutukan Morgana, api yang ditakuti benua — dipakai, untuk pertama kalinya dalam tiga generasi, bukan untuk mengutuk siapa pun, melainkan untuk membebaskan pemiliknya sendiri. Abu naik ke langit sobek.
[ Membakar salinan tidak mengubah naskah. ]
“Oh, aku tahu.” Lucrezia menutup jurnalnya — yang tersisa di dalamnya kini hanya satu bagian: draf keduanya, cerita yang dia tulis sendiri, halaman demi halaman, tentang seorang figuran dan tiga gadis dan ending yang berbeda. Dia menyimpannya kembali dekat jantung. “Ini bukan sihir, tata bahasa. Ini pernyataan. Kau tanya jawabanku atas tawaranmu? Itu jawabannya: aku menolak ending-mu — dua-duanya, yang lama dan yang revisi — karena keduanya sama-sama ditulis untukku dan bukan olehku. Mulai detik ini, Lucrezia Morgana menulis babnya sendiri. Dan bab pertamanya berbunyi—”
Sembilan kutukan yang tersisa menyala serempak, lebih terang dari yang seharusnya bisa, karena ada bahan bakar yang tidak tercatat di sistem mana pun: kemarahan yang akhirnya menemukan alamat yang benar.
“—‘dan di halaman luar itu, sang villainess berdiri di antara dunia dan orang yang dicintainya, dan dunia yang berkedip duluan.’”
Yang terjadi selanjutnya tercatat di log sistem dalam kalimat-kalimat yang makin lama makin bingung:
[ Correction attempt: initiated ] [ Correction attempt: failed — subject rejects revision ] [ Correction attempt: failed — subject rejects original ] [ Analysis: subject operating outside both drafts ] [ Analysis: no valid script exists for current behavior ] [ ...recalculating... ] [ ...recalculating... ]
Karena inilah yang tidak pernah dipahami tata bahasa tentang para penyimpang: kau bisa mengoreksi karakter yang melanggar naskahnya. Kau tidak bisa mengoreksi karakter yang berhenti memakai naskah sama sekali — dia sudah keluar dari yurisdiksimu, ke wilayah yang hanya dihuni para penulis.
Kehendak Naskah mundur selangkah.
Satu langkah. Yang pertama dalam tiga ratus tahun. Di hadapan seorang gadis yang jubah ritualnya robek, kutukannya tinggal sembilan, tubuhnya di ambang tumbang — dan yang berdiri di atas abu takdirnya sendiri seperti berdiri di atas panggung yang akhirnya, akhirnya miliknya.
“Nah,” kata Lucrezia Morgana, mengangkat dagunya, mata tembaga menyala di bawah langit yang salah. “Sekarang kita bernegosiasi ulang. Kau mau lewat sini menuju pembacaku?”
Dia tersenyum, dan di senyum itu ada silet, ada tawa festival, ada margin-margin yang penuh, ada draf kedua di dekat jantungnya.
“Coret dulu aku kalau bisa.”