Chapter Thirty Four
Malam Sebelum Akhir
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 4 — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia
Rencana terakhir disepakati di ruang bawah menara rektorat, dan dia sederhana seperti semua hal yang mahal:
Lusa, saat fajar, Naskah akan menggerakkan Cassian dan seluruh Eclipse dalam serangan penutup — sistem menampilkannya terang-terangan sekarang, [ FINAL CHAPTER: scheduled ], karena Naskah sudah tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun dariku. Di tengah kekacauan itu, celah menuju “luar halaman” akan terbuka di titik yang Noct — lewat cara yang hanya bisa disebut setengah membantu — sudah biarkan bocor padaku. Aku akan masuk. Menemukan penulisnya. Dan mengakhiri ini dari satu-satunya tempat cerita bisa diakhiri: mejanya.
Sisanya — akademi, gerbang, ribuan nyawa — dipegang tiga orang yang malam ini menolak membicarakannya lagi, karena semua yang taktis sudah selesai dibicarakan, dan yang tersisa dari malam terakhir kami hanyalah yang bukan taktik.
Lucrezia menemuiku pertama, di perpustakaan barat, di meja kami.
Dia tidak membawa peta, jurnal, atau rencana. Dia membawa dua cangkir anggur apel hangat — seperti festival — dan sebuah buku tipis yang dia letakkan di antara kami.
“Aku menulis sesuatu,” katanya, dengan nada seseorang mengaku kejahatan. “Jangan tertawa. Aku serius, kalau kau tertawa, kukutuk kau botak di dunia mana pun kau berakhir.” Dia mendorong buku itu padaku. Di sampulnya, dengan tulisan tangan yang rapi dan kejam yang kukenal dari ribuan margin: “[Extra] — draf pertama. Oleh L.M.”
“Ini...”
“Ceritamu.” Dia menopang dagu, menatap lilin, tidak menatapku. “Versiku. Dari lonceng sampai kemarin. Kalau dunia ini berkeras kau tidak boleh ditulis, maka dunia ini harus melawan aku dulu — dan aku penulis yang sangat, sangat pendendam.” Matanya akhirnya pindah padaku, tembaga dalam cahaya lilin. “Kau pernah bilang aku bagian paling tidak adil dari naskah. Kau salah, ternyata. Bagian paling tidak adilnya adalah kau — orang yang memperbaiki cerita semua orang dan tidak diberi cerita sendiri. Jadi kubuatkan. Margin-marginku akhirnya jadi buku, dan itu salahmu.”
Aku membuka halaman pertama. “Bab 1: Ada seorang pembaca yang jatuh ke dalam buku, dan buku itu tidak pernah lebih beruntung dari hari itu.”
“Lu—”
“Kalau kau membacanya sekarang aku akan mati malu, jadi tidak. Bawa. Baca di seberang sana, di luar halaman, di mana pun.” Dia berdiri, merapikan jubahnya, dan berhenti di sampingku — lalu, cepat, seperti mencuri, memelukku dari samping: satu lengan, tiga detik, wangi lilin dan tinta. “Kembalilah, pembaca-ku,” bisiknya di detik ketiga. “Ceritaku belum tamat, dan aku menolak menulis endingnya sendirian.”
Dia pergi sebelum aku bisa melihat wajahnya.
Isolde menungguku di lapangan tua, di antara dua lentera, dengan dua pedang latihan — dan kami berlatih. Tentu saja kami berlatih; itu bahasa kami. Satu jam penuh dia mengoreksi kuda-kudaku untuk terakhir kali, dan menjatuhkanku sembilan kali, dan menyebut jatuhku “hampir bagus”, pujian tertingginya.
Setelahnya, di peti bekas, dia menyodorkan bungkusan kain.
Sarung tangan. Sepasang. Ukuran yang benar.
“Pesanan kedua,” katanya, pada titik tiga meter di kiri kepalaku. “Aku mencuri ukuranmu dari yang lama. Sudah datang sejak musim gugur. Aku...” jarinya memutar tali gagang pedangnya, bulat-bulat, “...menyimpannya. Karena kalau kuberikan, artinya yang lama sudah selesai, dan aku belum siap ada yang selesai.” Dia menarik napas, tegak, prajurit sampai akhir. “Sekarang aku memberikannya, karena kau butuh genggaman terbaikmu untuk lusa. Tapi yang lama—” dia menunjuk sarung tangan kebesaran di tanganku, “—jangan dibuang. Itu perintah.”
“Tidak akan pernah,” kataku, dan menukarnya di depan matanya, dan yang baru pas seperti janji yang ditepati.
Lalu Isolde Vayne melakukan hal terakhir yang tersisa di daftar hal-yang-belum-pernah-dia-lakukan: dia menggeser duduknya, sepuluh senti yang jaraknya tiga belas tahun, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kaku. Hati-hati. Seperti orang meletakkan pedang di tempat yang akhirnya aman.
“Ayahku salah,” katanya pada api lentera, pelan. “Keluarga Vayne tidak menempa pedang. Buktinya di sini: aku pedang yang paling ditempa dan malam ini aku hanya ingin jadi orang.” Jarinya menemukan sapu tangan di pergelanganku, memeriksa simpulnya, seperti setiap malam latihan. “Menangkan itu, Ciel. Jadi orang. Untuk kita berdua. Dan kalau di seberang sana kau lupa segalanya — segalanya — ingat satu ini saja, karena kupilih paling penting: jatuh itu boleh. Asal jatuhnya seperti orang yang berniat bangun lagi.”
Kami duduk sampai lentera pertama padam. Dia tidak menangis. Aku juga tidak. Kami sama-sama bohong dengan cara masing-masing.
Dan Sera — Sera menungguku di atap. Tentu saja di atap. Semua cerita kami berputar pulang ke atap ini.
Termos kuningan. Dua cangkir. Racikan pertama — chamomile gunung dan kulit apel kering, teh dari sore pertama — dituang terlalu penuh, pemberontakan kecil yang malam ini terasa seperti upacara. Kami minum dalam sunyi yang tidak perlu diisi, menghadap akademi yang tidur di bawah dan langit sobek di utara, bahuku dan bahunya bersentuhan, tangannya di tanganku dengan empat huruf pudar di antara telapak kami.
“Aku tidak akan bilang ‘jangan pergi,’” katanya akhirnya. “Sudah kubuang kalimat itu tiga hari lalu. Berat, tapi sudah.” Dia menoleh, dan di matanya ada langit sebelum hujan dan keputusan yang sudah selesai. “Sebagai gantinya aku mau minta satu hal yang lebih sulit. Malam ini — sisa malam ini — jangan jadi pahlawan, jangan jadi figuran, jangan jadi anomali, jangan jadi rencana. Jadilah Ciel saja. Milikku saja. Sampai fajar. Bisa?”
“...Bisa,” kataku, dan suaraku tidak utuh, dan tidak apa-apa.
Dia tersenyum — senyum ketiga, yang tidak pernah ada di novel, yang hanya ada di sini — dan menarik tanganku, dan kami turun dari punggungan atap ke kamar menara kecil di bawahnya, tempat dia sudah menyalakan perapian dan dunia sudah dia larang masuk.
Pintu tertutup.
Dan untuk satu malam, di sebuah cerita yang sedang berusaha menghapus salah satu dari kami, tidak ada naskah, tidak ada penghitung, tidak ada perang — hanya dua orang yang saling menemukan tanpa bantuan sistem mana pun, seperti sejak awal.
Fajar menemukan kami di jendela menara: aku duduk bersandar dinding, Sera tertidur di dadaku, jemari kami masih bertautan — miliknya menggenggam milikku bahkan dalam tidur, seperti orang yang tidak percaya pada pagi.
Aku tidak tidur. Aku memakai setiap menitnya untuk pekerjaan terakhirku sebagai arsip: menghafal. Berat kepalanya. Ritme napasnya. Empat huruf di telapak tangannya yang menempel di telapakku — diperbarui semalam, C-nya tidak miring. Cahaya pertama di rambut keperakannya.
Kalau di seberang sana ada penghapus untuk semua ini, pikirku, pada Naskah, pada Noct, pada penulis yang menunggu di ruang putih, dia harus menghapusku dulu sampai ke huruf terakhir. Dan aku berencana menjadi salah ketik yang paling keras kepala yang pernah kalian temui.
[ 89:02:11:07 ]
Di bawah, lonceng pertama hari terakhir mulai berbunyi.
Sera membuka matanya, menemukanku sudah menatapnya, dan tersenyum tanpa jarak sama sekali.
“Selamat pagi, figuranku,” bisiknya. “Ayo pergi menyelamatkan penulis kita.”