Chapter Forty Seven
Hiatus Berakhir
POV: Ren (orang pertama) Karakter: 2 — Ren, panitia & pengunjung (latar)
Hari itu hujan sejak subuh — hujan sungguhan, hujan dunia asal, yang jatuh lurus ke bawah dan tidak membawa pesan apa-apa dari tata bahasa mana pun — dan aku berdiri di depan gedung serbaguna itu satu jam sebelum pintu dibuka, basah setengah, dengan tiket nomor 214 di saku dada.
Aku bukan yang pertama. Antrean sudah mengular sejak pagi buta: ratusan orang dengan payung dan jas hujan dan buku cetakan pribadi yang dijilid sendiri, karena Starblade Academy belum pernah terbit fisik, jadi para pembaca mencetak sendiri bab-bab favorit mereka untuk ditandatangani. Aku menonton mereka dari tempatku di barisan — dan menyimak, karena kebiasaan arsip tidak hilang hanya karena pindah dunia.
“...pokoknya teori aku, Ciel itu bakal balik di bab 188. Nggak mungkin enggak. Masa iya penulisnya tega—”
“Tega gimana, orang endingnya udah jelas gantung romantis gitu. ‘Dia berjanji akan menemukannya’ — itu kan Sera yang nunggu—”
“BUKAN. Itu bukan Sera. Coba lo baca lagi bab 187, subjek kalimatnya ambigu. ‘Dia’ itu bisa siapa aja. Bisa penulisnya sendiri malah—”
“Halah, sok analisis—”
“Eh serius! Ada yang aneh sama enam puluh tujuh bab terakhir tahu nggak. Detailnya terlalu... hidup. Kayak bukan dikarang. Kayak laporan.”
Aku menunduk dalam-dalam dan mempelajari sepatuku, tersenyum seperti orang bodoh, sementara di depanku dua orang asing memperdebatkan hidupku dengan akurasi yang membuat dada sesak. Enam puluh tujuh bab itu memang bukan karangan. Memang laporan. Laporan cinta sepanjang tiga tahun, ditulis penulisnya untuk satu-satunya pembaca yang tidak kunjung datang.
Pintu dibuka jam sepuluh. Aula di dalam sederhana — deretan kursi, panggung kecil, spanduk dengan sampul Starblade Academy dan satu kalimat: “Terima kasih sudah menunggu.” — dan di ujung aula, meja panjang dengan taplak putih, tumpukan poster, dan satu kursi kosong.
Acara dimulai dengan sesi bincang. Dan ketika pembawa acara mengucapkan, “...mari kita sambut, untuk pertama kalinya di depan publik — S.I.L.!” — dan aula meledak dalam tepuk tangan — aku tidak ikut bertepuk.
Aku lupa caranya.
Karena dari balik tirai samping panggung, seorang wanita berjalan keluar — rambut hitam sebahu, gaun sederhana warna gelap, langkah yang gugup dan dijaga tegak sekaligus — dan meski aku baru melihat wajah itu satu kali, di ruangan tanpa dinding, di ujung segala halaman, tubuhku mengenalinya lebih cepat daripada mataku: itu dia. Itu dia. Elena. Nyata, berwarna, bernapas, tiga meter di atas panggung, hidup.
Dia duduk. Menyapa dengan suara yang sedikit gemetar di kalimat pertama lalu menemukan pijakannya. Dan selama empat puluh lima menit, aku duduk di kursi deretan sembilan, tidak bergerak, menonton wanita yang lukanya pernah kucintai dalam tiga bentuk menjawab pertanyaan para pembaca:
“Ke mana Anda menghilang tiga tahun?” — “Tersesat,” jawabnya, dengan senyum yang hanya bisa kubaca sendirian di seluruh aula. “Di dalam pekerjaan saya. Secara harfiah, sebenarnya, tapi kalian akan mengira saya bercanda.” (Tawa penonton. Aku tidak tertawa.)
“Kenapa Ciel? Kenapa figuran?” — Dia diam sebentar untuk yang ini. Lalu: “Karena selama bertahun-tahun saya menulis pahlawan, dan tidak satu pun menyelamatkan saya. Lalu saya bertemu... saya menemukan sebuah karakter yang tidak ingin jadi apa-apa, yang hanya ingin orang-orang di sekitarnya baik-baik saja. Dan karakter seperti itu, ternyata, yang menyelamatkan. Bukan yang bercahaya. Yang datang.”
“Apakah Ciel dan Sera akan bersatu di bab terakhir?”
Dan untuk pertanyaan itu, Elena — S.I.L. — memandangi aula pelan-pelan, deretan demi deretan, dengan tatapan yang kusadari bukan tatapan menjawab.
Tatapan mencari.
“Bab terakhir belum saya tulis,” katanya akhirnya, pelan, dan mikrofon membawa kalimat itu ke setiap sudut. “Saya menulisnya nanti malam, sepulang dari sini. Isinya tergantung satu hal — dan maafkan saya, ini akan terdengar seperti seniman nyentrik—” dia tersenyum, tapi jarinya, kulihat, memutar pulpen di tangannya, bulat-bulat, bulat-bulat, “—isinya tergantung apakah hari ini janji kecil saya ditepati. Kalau ya... endingnya bahagia. Kalau tidak, saya akan menulis bab 188 tentang gadis yang tetap menuang dua cangkir teh. Selamanya, kalau perlu. Karena ada orang-orang yang sepadan ditunggu melewati batas waktu yang masuk akal.”
Aula terdiam, lalu ber-aww serempak, lalu bertepuk tangan — mereka pikir itu gimik promosi yang manis.
Aku duduk di deretan sembilan dengan tiket 214 di saku, jantung memukul rusuk, menghitung mundur menuju sesi tanda tangan.
Dua jam lagi, Elena. Aku di sini. Nomor 214.
Maaf membuatmu menuang lama sekali.