Chapter Eighteen
Orang yang Mulai Lupa
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ciel, Milo, Seraphina
Dimulai dari hal-hal kecil, seperti semua keruntuhan.
Penjaga gerbang asrama yang biasa mengangguk padaku setiap pagi, suatu hari menghentikanku dan meminta kartu identitas. Petugas kantin yang hafal porsiku bertanya apakah aku murid baru. Fenn — Fenn yang meternya pernah berteriak dalam huruf kapital — berpapasan denganku di koridor, tersenyum sopan, senyum untuk orang asing, dan berjalan terus.
Aku mencatat semuanya di halaman Anomali, dengan tulisan yang makin lama makin datar, karena kalau kubiarkan tidak datar, dia akan gemetar:
Minggu ke-3 setelah festival: NPC radius jauh — lupa total. Radius menengah (Fenn, penjaga, staf) — lupa dalam 1-2 hari setelah interaksi. Pola: makin kecil peran seseorang dalam naskah, makin cepat mereka melupakanku. Seolah daya ingat tentang aku adalah anggaran, dan dunia mulai memotongnya dari yang termiskin.
Yang belum terpengaruh: Sera, Isolde, Lucrezia (ingatan utuh, bahkan menajam). Cassian (kasus khusus — dia dibuat lupa secara aktif, berbeda mekanismenya). Rektor (tidak bisa dipastikan; orang itu sendiri seperti setengah berada di luar halaman).
Dan Milo.
Milo masih ingat.
Milo masih ingat, dan aku mulai hidup dari itu seperti orang hidup dari denyut nadi. Setiap pagi dia melempar roti dan mengomel soal jadwal, dan setiap pagi ada bagian dari diriku yang baru berani bernapas setelahnya. Masih. Hari ini masih.
Aku tahu apa yang sedang kulakukan. Aku sedang menghitung mundur tanpa tahu angkanya.
Hari itu hari Kamis, dan hujan.
Kami baru pulang dari kelas sejarah — Milo tertidur di menit kesepuluh, seperti biasa, dan aku membangunkannya sebelum pengajar melihat, seperti biasa — dan berlari menembus hujan ke arah asrama sambil berbagi jubahnya yang dia rentangkan di atas kepala kami berdua, karena jubahku ketinggalan, karena dia mengomel “dasar tidak bisa diurus”, karena begitulah kami, karena semuanya biasa, biasa, biasa—
Di lorong asrama, sambil memeras ujung jubah, Milo tertawa tentang sesuatu — wajah pengajar sejarah saat bel berbunyi — dan berkata, “kau lihat tidak tadi mukanya, dia—”
Dan berhenti.
Di tengah kalimat. Di tengah tawa. Tawanya masih di wajahnya, tertinggal di sana seperti mantel di gantungan, tapi matanya — matanya meluncur. Aku menonton fokusnya lepas dariku persis seperti yang terjadi pada Cassian di lapangan es: air di kaca, pegangan yang terbuka.
“...kau...” Milo mengerjap. Menatapku. Menatap jubah basah di tangannya — jubah yang barusan dia rentangkan untuk dua orang. Keningnya berkerut, bingung yang polos dan mengerikan. “Maaf. Kau... siapa ya? Kau anak asrama sini?”
Lorong itu sangat sunyi. Hujan di luar sangat keras.
“...Milo,” kataku. Suaraku keluar jauh lebih tenang daripada apa pun di dalam dadaku. “Aku Ciel. Kamarmu — kamar kita — nomor tujuh. Kau melemparku roti setiap pagi. Kemarin kau menang taruhan lengan melawan anak kembar dan uangnya kau pakai beli bantal baru karena bantalmu kau bilang ‘sudah wafat’.”
Sesuatu berjuang di wajahnya. Aku bisa melihatnya berjuang — kenangan itu masih ada di suatu tempat, tenggelam, menggedor dari bawah es. “Bantal...” dia mengulang, pelan. “Aku memang beli bantal... dengan uang taruhan... bersama...” Tangannya naik ke pelipis. Wajahnya pucat. “Aneh. Kepalaku aneh. Ada... ada lubangnya. Kenapa ada lubangnya—”
Dan aku membuat keputusan tercepat dan mungkin terlembut dalam hidupku:
Aku berhenti melawan.
Karena di depanku, teman pertamaku sedang kesakitan — sistem sedang merobek sesuatu dari kepalanya secara paksa, dan setiap detik aku memaksanya mengingat, robekannya makin lebar. Ini bukan pertarungan yang dimenangkan dengan bertahan. Yang kupertahankan bukan ingatannya. Yang kupertahankan adalah rasa sakitnya.
“Tidak apa-apa,” kataku. Aku tersenyum. Entah bagaimana, aku tersenyum. “Kau benar. Aku anak asrama sini. Baru pindah. Maaf sudah sok akrab — kudengar dari anak-anak kau orangnya baik, jadi kupikir bisa langsung kenalan.”
Perjuangan di wajah Milo mereda. Lubang di kepalanya menutup, rapi, tanpa bekas, dan senyum santai yang kukenal kembali ke tempatnya — ditujukan, sekarang, pada orang asing.
“Ooh, anak baru! Bilang dari tadi. Aku Milo, kamar tujuh.” Dia menjulurkan tangan. “Kau sudah makan? Kantin tutup jam delapan, tapi aku tahu cara minta sisa roti ke bibi dapur. Anak baru harus diurus, soalnya asrama ini kalau bukan kita yang saling mengurus, siapa lagi?”
Aku menjabat tangan teman terbaikku, yang baru saja menawariku, untuk kedua kalinya dalam dua kehidupan berbeda, roti dan kebaikan tanpa alasan.
“...Ya,” kataku. “Aku sudah dengar itu tentangmu.”
Aku tidak ingat naik ke atap. Aku hanya tahu-tahu di sana, di bawah hujan yang mulai reda, duduk di punggungan genteng dengan status window terbuka dan tidak ada satu pun pikiran yang mau berbaris lurus.
Tidak apa-apa, aku terus berkata pada diri sendiri. Sudah diperhitungkan. Ada di buku. Ada di pola. Kau figuran; dilupakan itu keahlianmu; kau sudah dilupakan seumur hidupmu di dunia asal, ini cuma... versi yang lebih jujur. Tidak apa-apa. Tidak apa—
“Ciel.”
Aku menoleh. Di mulut tangga servis, dengan payung yang meneteskan air dan napas yang memburu seperti habis berlari, berdiri Seraphina Elowen.
“Fenn tidak mengenalmu tadi sore,” katanya, tanpa pembukaan, suaranya gemetar oleh sesuatu yang lebih besar dari dingin. “Aku melihatnya di koridor. Dia menatapmu seperti orang asing, dan kau — kau tersenyum, senyum yang sama seperti waktu bilang ‘alatnya rusak’. Lalu barusan aku ke asramamu dan anak bernama Milo bilang kamar tujuh dihuni ‘anak baru’. Anak baru.” Dia melangkah ke genteng basah, payungnya miring, tidak dipedulikan. “Jadi aku lari ke sini. Dan aku butuh kau mengatakan yang sebenarnya padaku, sekarang, karena aku baru saja memeriksa buku harianku sendiri dan menemukan halaman-halaman yang kosong dengan bekas tulisan di atasnya, dan satu-satunya halaman yang selamat adalah halaman tempat aku menulis namamu besar-besar seperti orang yang tahu akan datang pencuri—”
Suaranya pecah di ujung. Dia berdiri di sana, di atapku, di bawah gerimis, putri paling bercahaya di seluruh naskah, memegang payung miring dan buku harian yang dipeluk di dada seperti perisai.
“Katakan aku tidak gila, Ciel. Katakan kau nyata. Katakan sesuatu sedang mencoba mengambilmu — karena aku menolak. Kau dengar? Apa pun itu, aku menolak.”
Hujan turun tipis di antara kami. Di sudut penglihatanku, meter yang sudah setengah tahun jadi sumber komedi hidupku berpendar — dan untuk pertama kalinya, angkanya tidak terasa lucu sama sekali. Terasa seperti tali. Terasa seperti tangan yang menggenggam di tepi jurang.
[ Seraphina Elowen: 51% ] [ Note: “Dia menolak.” ]
Aku menepuk genteng di sebelahku, dan ketika bicara, suaraku serak:
“Duduk dulu. Ini... cerita yang panjang. Dan kau orang pertama yang akan mendengarnya sampai habis.”