← Chapters Ch. 1 / 52

Chapter One

Halaman yang Salah

POV: Ren / Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ren/Ciel, Milo, para figuran kelas F


Ada tiga hal yang kusadari begitu membuka mata.

Pertama: langit-langit di atasku terbuat dari kayu tua, bukan beton kos-kosan yang bocor setiap musim hujan.

Kedua: tanganku bukan tanganku. Terlalu kurus. Terlalu muda. Terlalu... putih, seperti orang yang belum pernah lembur menatap layar sampai jam tiga pagi.

Ketiga — dan ini yang paling tidak masuk akal — ada tulisan melayang di udara, tepat di depan hidungku. Biru transparan, berpendar pelan, seperti jendela notifikasi yang lupa ditutup.

[ Name: Ciel ] [ Class: Extra — Lv. 1 ] [ Description: This character has no role. ]

Aku menatap tulisan itu selama kira-kira sepuluh detik.

Lalu aku melakukan hal paling rasional yang bisa dilakukan pria dewasa berumur dua puluh enam tahun dalam situasi seperti ini.

Aku menariknya dengan tangan, berharap dia sobek.

Tanganku menembus begitu saja. Jendela itu bergeming, tetap berpendar dengan kalimat yang sama, seolah menegaskan ulang: This character has no role.

“...Sistem,” kataku pelan, dengan suara yang juga bukan suaraku — lebih ringan, lebih muda, “kalau ini mimpi, kamu boleh bangunkan aku sekarang. Aku masuk kerja jam delapan.”

Sistem tidak menjawab. Tentu saja. Tapi entah kenapa, kalimat deskripsinya terasa seperti sedang menatapku balik dengan tatapan kasihan.

Aku duduk di tepi ranjang keras itu dan memaksa diriku berpikir. Panik boleh nanti. Sekarang, data dulu. Aku menatap jendela biru itu dan mencoba perintah yang paling masuk akal — dalam bahasa yang entah kenapa kuyakini akan dimengerti benda ini.

“Open status window.”

Jendela itu melebar patuh, dan aku hampir berharap dia tidak melakukannya.

[ Ciel — Class: Extra — Lv. 1 ] [ STR: 4 | VIT: 5 | AGI: 6 | MP: 3 ] [ Skill: — ] [ Skill Tree: Not available for this class. ] [ Note: Nothing worth noting. ]

Empat. STR-ku empat. Aku tidak tahu skalanya, tapi aku cukup yakin di novel, kekuatan Cassian di bab satu saja sudah dua digit — dan itu sebelum class [Hero]-nya bangkit. Kolom skill-ku bukan kosong; dia bahkan tidak diberi kehormatan untuk kosong. Dia diberi tanda strip, seperti kolom tanggal lahir di formulir yang tidak penting.

Dan catatan itu. Nothing worth noting.

“Kau tahu,” kataku pada jendela itu, “kau bisa saja menulis ‘none yet’. Itu lebih sopan.”

Jendela itu berpendar tenang, tak terusik, seperti pegawai administrasi yang sudah kebal disemprot orang.

Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. Baik. Rangkum situasi: aku terjebak di dunia lain, di dalam novel yang kuhafal, dengan tubuh remaja yang stat-nya kalah dari rata-rata petani pembawa cangkul, class tanpa masa depan, dan sistem yang hobinya menghina secara pasif-agresif.

Di novel-novel yang kubaca, bagian ini biasanya diikuti penemuan bakat tersembunyi. Class rahasia. Warisan naga. Sesuatu.

Aku menunggu tiga puluh detik penuh.

Tidak ada apa-apa.

“...Yah,” kataku akhirnya, “setidaknya konsisten.”


Namaku Ren. Dua puluh enam tahun. Pekerja kantoran divisi yang bahkan atasanku sendiri sering lupa namanya. Hidupku bisa dirangkum dalam tiga kalimat: berangkat pagi, pulang malam, dan membaca web novel sampai tertidur.

Bukan sembarang web novel. Satu web novel.

Starblade Academy.

Cerita tentang Cassian Valeheart, murid biasa yang ternyata mewarisi class [Hero], masuk ke Astra Academy — akademi pedang dan sihir paling bergengsi di benua — lalu tumbuh menjadi pahlawan yang menghentikan Eclipse, invasi kegelapan yang menelan dunia. Ada duel. Ada dungeon. Ada tiga heroine yang membuat kolom komentar perang saudara setiap minggu.

Aku sudah membacanya empat kali. Empat kali penuh, dari bab satu sampai bab terakhir yang ada.

Kubilang “yang ada”, karena Starblade Academy tidak pernah tamat.

Tiga tahun lalu, tepat di tengah arc final — di bab paling gantung sedunia — penulisnya berhenti mengunggah. Tanpa pengumuman. Tanpa pamit. Akun bernama pena “S.I.L.” itu diam begitu saja, seperti lampu rumah yang mati dan tidak pernah dinyalakan lagi.

Aku menunggu. Tiga tahun. Sesekali membuka halaman profilnya seperti orang bodoh, memeriksa apakah ada tanda kehidupan.

Dan semalam — aku ingat jelas — aku tertidur sambil membaca ulang bab kesukaanku, bab tujuh belas, sambil berpikir setengah sadar: seandainya aku bisa tahu kelanjutannya. Sekali saja.

Rupanya ada yang salah dengar.

Aku tidak minta dimasukkan ke dalamnya.


Pintu kamar terbuka tanpa diketuk.

“Ciel! Kau belum bangun juga—oh. Sudah. Tumben.”

Seorang pemuda berambut cokelat berantakan menjulurkan kepala dari balik pintu. Wajahnya tipe wajah yang ramah tapi gampang dilupakan; kalau dia berdiri di tengah pasar, matamu akan melewatinya tanpa berhenti.

Di atas kepalanya, melayang tulisan kecil:

[ Milo — Extra Lv. 2 ]

Milo. Aku mengenali nama itu. Butuh dua detik untuk mengingat dari mana — dan begitu ingat, perutku mendingin.

Milo adalah figuran di Starblade Academy. Muncul satu kali. Satu. Di bab tiga puluh sembilan, dalam satu kalimat: “Beberapa murid kelas bawah ikut mengangkut korban luka, salah satunya pemuda bernama Milo.” Itu saja. Seluruh eksistensinya dalam cerita: tujuh belas kata.

Dan sekarang dia berdiri di depanku, hidup, bernapas, mengomel soal jadwal.

“Kau kenapa? Wajahmu seperti melihat hantu.” Milo melempar sesuatu ke arahku. Refleks tubuh ini menangkapnya — sebuah roti keras sebesar kepalan tangan. “Makan. Upacara penerimaan murid baru dimulai satu jam lagi. Kalau kita telat, mereka bahkan tidak akan menyadarinya, tapi tetap saja.”

“...Upacara penerimaan,” ulangku.

“Iya. Upacara. Penerimaan.” Dia mengeja seperti bicara pada orang yang baru jatuh dari tangga. “Astra Academy? Tempat kita mendaftar? Kau menabung tiga tahun untuk uang masuknya? Halo?”

Upacara penerimaan Astra Academy.

Bab satu.

Aku sedang berdiri di dalam bab satu.

Roti di tanganku tiba-tiba terasa sangat berat. Karena kalau ini bab satu, maka hari ini, di aula besar akademi, Cassian Valeheart akan membangkitkan class [Hero]-nya untuk pertama kali di depan seluruh murid. Hari ini Seraphina Elowen akan berdiri di podium sebagai perwakilan murid baru. Hari ini roda takdir yang kubaca empat kali itu mulai berputar.

Dan aku — entah bagaimana, entah kenapa — terjebak di pinggir halamannya, dalam tubuh figuran yang bahkan tidak pernah disebut namanya.

“Ciel.” Milo melambaikan tangan di depan wajahku. “Kau benar-benar aneh pagi ini. Sakit?”

“Tidak,” kataku. Lalu, karena otakku sedang sibuk terbakar, aku menambahkan pertanyaan terbodoh yang mungkin: “Milo. Menurutmu... kita ini apa?”

Milo mengerjap. “Murid kelas F?”

“Bukan, maksudku—” Apakah kau tahu kau hidup di dalam novel? Apakah kau tahu seluruh hidupmu cuma tujuh belas kata? “—lupakan. Ayo berangkat.”

Dia menatapku sebentar, mengangkat bahu, dan berjalan keluar sambil bersiul sumbang.

Aku menunduk, menatap jendela status yang masih setia melayang.

Karakter ini tidak memiliki peran.

“Ya,” gumamku. “Aku juga senang bertemu denganmu.”


Asrama figuran — secara resmi disebut Asrama Kelas F, tapi ayolah — terletak di sudut paling belakang kompleks akademi, di belakang gudang peralatan, di belakang kandang kuda, di belakang segalanya. Arsiteknya jelas diberi instruksi satu kalimat: “buat yang penting ada atapnya.”

Sepanjang jalan menuju aula utama, aku melihat mereka. Para murid kelas F. Figuran-figuran Starblade Academy.

Anak laki-laki bertubuh kecil yang menjatuhkan bukunya dua kali dalam sepuluh langkah. Gadis berkacamata tebal yang berjalan sambil menghafal sesuatu dengan bibir komat-kamit. Kembar identik yang saling menyalahkan soal sarapan. Di atas kepala mereka semua, label yang sama berpendar pelan: [ Extra ], [ Extra ], [ Extra ].

Tidak satu pun dari mereka ada di dalam novel. Empat kali kubaca Starblade Academy — aku hafal nama panglima musuh yang cuma muncul dua bab, aku hafal menu kantin yang disebut selewat di bab enam puluh — dan tidak satu pun wajah di sekitarku ini pernah tertulis.

Ratusan orang. Hidup. Tertawa. Mengeluh soal roti yang keras.

Dan cerita tidak pernah repot-repot menoleh ke arah mereka.

Ada sesuatu yang menekan dadaku saat menyadari itu. Entah kenapa rasanya... familier. Seperti naik kereta pagi yang penuh, dikelilingi ratusan orang yang tidak akan pernah tahu namamu.

Ternyata di dunia mana pun, jadi figuran rasanya sama saja.

“Jalanmu lambat sekali,” Milo menoleh ke belakang. “Kau yakin tidak sakit?”

“Aku sehat.” Secara fisik. “Milo, satu pertanyaan. Kalau — misalnya, ya, misalnya — kau tahu persis semua yang akan terjadi mulai hari ini sampai bertahun-tahun ke depan. Kau akan bagaimana?”

Milo berpikir dengan sangat serius selama tiga detik penuh.

“Aku akan taruhan hasil turnamen musim gugur dan jadi kaya.”

“...Kenapa jawabanmu masuk akal sekali.”

“Karena aku jenius yang terjebak di kelas F.” Dia menyeringai. “Memangnya kenapa? Kau bermimpi jadi peramal?”

“Semacam itu.”

Aku tidak berbohong. Aku memang tahu semua yang akan terjadi. Dan justru karena itu, sepanjang jalan menuju aula, aku menyusun sesuatu di kepala. Bukan rencana jadi kaya. Bukan rencana jadi kuat — dengan class [Extra] Lv. 1, opsi itu bahkan tidak lucu untuk dijadikan lelucon.

Aturan. Aku menyusun aturan.

Aturan Figuran Nomor Satu: jangan mengubah cerita.

Aku pernah membaca cukup banyak novel transmigrasi untuk tahu polanya. Tokoh yang tahu masa depan lalu mengacak-acak plot demi keuntungan sendiri? Setengah dari mereka berakhir mengerikan, dan setengahnya lagi hanya selamat karena mereka protagonis. Aku bukan. Aku bahkan bukan tokoh pendukung. Aku adalah kesalahan cetak yang bernapas.

Starblade Academy punya ending yang baik. Cassian menang. Dunia selamat. Para heroine menemukan kebahagiaan masing-masing — yah, itu asumsiku, karena penulisnya kabur sebelum menuliskannya, tapi arahnya jelas ke sana. Selama cerita berjalan di jalurnya, dunia ini aman.

Jadi tugasku sederhana: jangan sentuh apa pun. Jangan dekati tokoh penting. Jadilah latar belakang yang baik. Bertahan hidup dengan tenang di pinggir halaman, dan sambil begitu, cari cara pulang.

Aturan Nomor Dua: jauhi Cassian Valeheart dan tiga heroine, dalam radius sejauh mungkin.

Aturan Nomor Tiga—

Aturan nomor tiga tidak pernah selesai kususun, karena tepat saat itu kami tiba di lapangan depan aula utama, dan aku melihat itu.


Aula utama Astra Academy menjulang seperti katedral yang memutuskan untuk menjadi benteng. Ratusan murid baru mengalir masuk melalui gerbangnya, jubah seragam mereka berkibar — hitam untuk kelas bawah, biru untuk menengah, dan putih-keemasan untuk mereka yang lahir dengan takdir di tangan.

Tapi bukan itu yang membuatku berhenti melangkah.

Di atas gerbang aula, melayang di udara terbuka, ada sebuah tanda.

Berbentuk seperti segel lilin berwarna emas, sebesar perisai, berputar pelan. Cahayanya lembut tapi tidak bisa diabaikan, seperti matahari sore yang jatuh persis di matamu. Dan di tengahnya, dalam aksara yang entah bagaimana bisa kubaca, tertulis:

[ EVENT: Awakening Ceremony — Chapter 01 ] [ Status: On Script ]

Aku menoleh ke Milo. Milo berjalan santai, menguap, melewati gerbang tanpa sekali pun mendongak.

Aku menoleh ke murid-murid lain. Ratusan pasang mata, dan tidak satu pun melirik ke arah tanda emas raksasa yang berputar-putar di atas kepala mereka.

Tidak ada yang melihatnya.

Tidak ada yang bisa melihatnya. Kecuali aku.

“...Oke,” kataku pelan pada diri sendiri, pada sistem, pada siapa pun yang iseng melempar pekerja kantoran ke dalam novel. “Oke. Jadi begini caranya kau memperlakukan kesalahan cetak.”

Jendela status di sudut pandanganku berkedip sekali, seolah menjawab. Untuk sesaat — mungkin cuma perasaanku — deskripsi di bawah namaku tampak bergeser, hurufnya bergetar seperti sinyal buruk, sebelum kembali diam:

This character has no role.

Aku menarik napas panjang, merapikan jubah hitam kelas F yang kebesaran di tubuh kurus ini, dan melangkah melewati gerbang — melewati bagian bawah segel emas yang menandai halaman pertama dari cerita yang kutahu luar kepala.

Di dalam aula, sebentar lagi, seorang pahlawan akan bangkit dan cerita akan dimulai.

Aku hanya perlu memastikan satu hal: bahwa di halaman mana pun dari cerita itu, namaku tidak akan pernah tertulis.

Setidaknya, begitulah rencananya.

Dan kalau kalian pernah membaca novel — novel apa pun — kalian pasti tahu satu hal tentang rencana yang diucapkan di bab satu.

Rencana itu tidak akan bertahan sampai bab tiga.