← Chapters Ch. 8 / 52

Chapter Eight

Meter yang Tak Seharusnya Naik

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 4 — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia (+ Milo sekilas)


Ada tiga jendela merah muda yang sekarang mengambang permanen di sudut penglihatanku, tersusun rapi seperti daftar tagihan:

[ Seraphina Elowen: 26% ] [ Isolde Vayne: 24% ] [ Lucrezia Morgana: 19% ]

Dua puluh enam. Dua puluh empat. Sembilan belas. Seminggu setelah dungeon, angka-angka itu naik seperti demam, dan aku sudah mencoba segalanya untuk menutup jendelanya: perintah verbal (“close window” — diabaikan), perintah mental (diabaikan), mengibaskan tangan seperti mengusir lalat (diabaikan, plus Milo bertanya apakah aku baik-baik saja), dan memohon (sangat diabaikan).

Sistem jelas sudah memutuskan bahwa penderitaanku adalah konten.

Maka minggu ini aku meluncurkan operasi baru, yang kunamai — dalam buku catatan, halaman paling belakang — Operasi Radius Aman: penghindaran total, terstruktur, dan profesional terhadap tiga orang tertentu, dengan pemetaan jadwal, jalur alternatif, dan protokol darurat.

Hari Senin, operasi dimulai.

Hari Senin juga, operasi menemui masalah struktural pertamanya.

Masalah #1: Target A menguasai medan.

Aku mengubah rute makan siang — memutar lewat koridor timur, jalur terjauh dari aula makan kelas atas. Perhitungan sempurna. Yang tidak masuk perhitungan: koridor timur menempel pada taman infirmari, dan Seraphina Elowen, sebagai murid [Saint], berdinas di infirmari setiap Senin.

“Ciel!”

Aku mempertimbangkan pura-pura tuli. Meter di sudut mataku berkedip seolah menantangku mencoba.

“Ciel — pundakmu.” Dia sudah di depanku, dan matanya langsung turun ke pundak kananku dengan gaya pemeriksaan yang membuatku mengerti kenapa pasien infirmari konon pura-pura sakit lebih lama. “Yang kemarin tidak bisa kusembuhkan. Masih nyeri? Kau mengganti perbannya sendiri? Duduk.”

“Aku baik-baik—”

Duduk.

Sepuluh menit kemudian aku duduk di bangku taman infirmari dengan perban baru yang dipasang tangan langsung — karena sihirnya masih membentur [ Target: Not Found ], dan alih-alih menyerah, gadis ini memutuskan untuk belajar pertolongan pertama non-sihir dalam seminggu, khusus untuk satu pasien yang tidak bisa dideteksi mananya.

“Selesai.” Dia mengikat ujung perban, rapi. Lalu, tanpa mendongak, dengan suara yang jauh lebih pelan: “Kau tahu, sistem penyembuhan tidak pernah gagal menemukan orang. Tidak pernah. Aku membaca semua literaturnya minggu ini.”

“...Alat kelas F memang—”

“Kalau kau menyebut ‘alatnya rusak’ sekali lagi, perban berikutnya kupasang menutupi mulutmu.” Dia mendongak, dan senyum podiumnya tidak ada di sana — yang ada senyum kecil, miring, yang tidak pernah muncul di novel. “Tapi baiklah. Simpan rahasiamu. Aku akan menemukannya sendiri. Aku ternyata cukup menikmati... menyelidiki sesuatu yang tidak masuk akal.”

[ Seraphina Elowen: 29% ↑ ]

Bagaimana. Bagaimana caranya diperban bisa menaikkan angka. Jelaskan padaku mekanismenya.

Masalah #2: Target B tidak memahami konsep penghindaran.

Hari Rabu, aku mengambil rute pulang paling absurd yang tersedia — memutari lapangan latihan lama yang tidak dipakai siapa pun sejak renovasi.

Tidak dipakai siapa pun, kecuali, ternyata, seorang genius pedang yang sejak kekalahannya berlatih di tempat yang jauh dari mata orang.

Kami bertatapan melintasi lapangan kosong. Aku, dengan tas dan niat mundur perlahan. Dia, dengan pedang latihan dan ekspresi yang tidak bisa dibaca manusia biasa.

Isolde menyarungkan pedangnya, berjalan lurus ke arahku, berhenti tepat di jarak formal, dan berkata:

“Kau menghindariku.”

“Tidak—”

“Senin kau berbalik arah di koridor barat. Selasa kau makan di jam yang berbeda. Ini bukan tuduhan.” Dia mengangguk sekali, seolah baru menyelesaikan analisis taktik. “Ini konfirmasi pola. Aku hanya ingin tahu alasannya, karena aku sudah memeriksa semua kemungkinan kesalahanku dan menemukan satu: aku belum berterima kasih. Untuk roti itu.”

“Itu tidak perlu—”

“Perlu.” Sunyi. Jarinya bergerak gelisah di gagang pedang — gerakan memutar kecil yang entah kenapa familier. “Keluargaku tidak... kami tidak diajari cara berterima kasih. Jadi aku menyusun sendiri prosedurnya.” Dia menarik napas, seperti sebelum duel. “Latihan. Malam ini. Datang.”

“...Itu prosedur berterima kasih?”

“Aku akan mengajarimu bertahan hidup. Kau hampir mati minggu lalu dengan STR yang—” dia berhenti, memilih kata dengan susah payah diplomatis, “—yang sebaiknya tidak diucapkan keras-keras. Itu tidak boleh terjadi lagi.” Sesuatu melintas di wajah datarnya, cepat sekali. “Aku tidak suka melihatnya.”

Dia berbalik dan pergi sebelum aku bisa menolak, dengan langkah cepat yang, kalau ada di orang lain, akan kusebut melarikan diri.

[ Isolde Vayne: 27% ↑ ]

Masalah #3: Target C adalah rekan konspirasi dan menolak diklasifikasikan sebagai target.

“Kau sadar operasimu bodoh, kan?”

Kamis malam, perpustakaan barat. Lucrezia duduk di seberang mejaku — sekarang kami resmi berbagi meja, karena “dua orang yang menyembunyikan hal yang sama lebih efisien menyembunyikannya bersama”, katanya — dengan buku catatanku terbuka di halaman Operasi Radius Aman.

“Berhenti membaca halaman belakangku.”

“Berhenti menulis hal lucu di halaman belakangmu.” Dia mengetuk daftar itu. “‘Penghindaran total terhadap tokoh penting.’ Kau menyelamatkan dua puluh anak di depan empat tokoh terpenting naskah. Kuda sudah keluar, kandangnya kau kunci sekarang untuk apa?”

“Prinsip.”

“Prinsipmu menggemaskan.” Dia menopang dagu, mata tembaganya menyala jahil dalam cahaya lilin. “Omong-omong, aku menganalisis kasus ‘sihir penyembuhan gagal menemukanmu’. Tiga hipotesis. Satu: kau tidak punya jiwa — kubatalkan, membosankan. Dua: kau semacam eksistensi yang tidak terdaftar di sistem dunia ini — menarik. Tiga—” dia mencondongkan tubuh, dan suaranya turun jadi bisikan panggung, “—dunia ini yang salah catat, dan kau satu-satunya yang dicatat benar. Itu hipotesis favoritku. Kau tahu kenapa?”

“...Kenapa?”

“Karena kalau dunia bisa salah mencatatmu,” katanya, dan untuk sesaat semua permainan hilang dari suaranya, “berarti dunia juga bisa salah mencatatku.”

Kami saling menatap melewati lilin. Di luar, hujan pertama musim gugur mulai turun.

“...Naskahmu,” kataku pelan. “Bab enam puluh delapan. Aku sudah mulai menyusun daftar cara menggagalkannya.”

“Aku tahu.” Dia kembali ke bukunya, tapi sudut bibirnya naik. “Aku membaca halaman belakangmu, ingat?”

[ Lucrezia Morgana: 23% ↑ ]


Jumat malam, aku duduk di atap asrama F — tempat pelarian terakhirku yang belum ditemukan siapa pun — dan melakukan evaluasi mingguan Operasi Radius Aman.

Hasil: tiga dari tiga target kini memiliki jadwal rutin bersamaku. Satu memasang perbanku setiap Senin. Satu melatihku setiap malam mulai besok. Satu berbagi meja dan konspirasi. Radius aman rata-rata: nol koma lima meter.

“Operasi gagal total,” kataku pada langit malam.

Ting.

[ Weekly Summary ] [ Seraphina Elowen: 29% ] [ Isolde Vayne: 27% ] [ Lucrezia Morgana: 23% ] [ Trend: ↑ ↑ ↑ ]

“Aku tahu. Terima kasih. Sangat membantu.”

Aku berbaring di genteng dingin, menatap dua bulan dunia ini, dan membiarkan diriku memikirkan hal yang seminggu ini kuhindari lebih keras daripada tiga gadis itu digabungkan:

Kenapa mereka?

Bukan — kenapa aku? Aku figuran. Wajahku dirancang untuk dilupakan. Statku bahan lelucon. Di novel, ketiganya jatuh pada protagonis bercahaya emas yang menyelamatkan dunia. Itu masuk akal. Itu tertulis. Sedangkan ini... yang kulakukan cuma roti, lonceng, dan keberatan pada sebuah ending.

Hal-hal kecil. Hal-hal yang tidak dilakukan siapa pun hanya karena tidak ada yang kepikiran melakukannya.

Angin malam lewat. Dan entah dari mana — mungkin dari kelelahan, mungkin dari tempat yang lebih dalam — sebuah pikiran muncul, sunyi dan tidak bisa diusir:

Tiga gadis yang paling dicintai di seluruh naskah... dan tidak satu pun dari mereka pernah ditanya kabarnya oleh orang yang tidak menginginkan apa-apa.

Penulis macam apa yang membangun dunia sekesepian itu?

Di sudut mataku, ketiga meter berpendar pelan dalam gelap, naik-turun seperti napas. Dan jauh, jauh di balik langit dunia ini, di ruang putih tempat semua halaman berasal, seseorang membaca kalimat terakhir itu dan berhenti mengetik untuk waktu yang lama.