Chapter Five
Genius yang Kalah
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 4 — Ciel, Isolde, Cassian, para penonton
Setiap awal semester, Astra Academy menggelar Duel Penempatan: turnamen terbuka yang menentukan peringkat murid tahun pertama. Bagi kelas atas, ini panggung. Bagi kelas F, ini hari libur — kami tidak diundang bertanding, hanya diundang menonton, dan bahkan itu pun terasa seperti formalitas.
Aku datang. Bukan karena ingin. Karena naskah.
Duel Penempatan bab dua belas adalah salah satu adegan terpenting Starblade Academy: hari di mana Cassian Valeheart, class [Hero] yang baru berumur sebulan, mengalahkan Isolde Vayne — genius pedang yang tak pernah kalah seumur hidupnya — dan mengumumkan pada dunia bahwa era baru dimulai. Aku perlu memastikan adegan ini berjalan sesuai naskah. Setelah insiden rak, aku tidak percaya apa pun lagi.
Arena utama penuh sesak. Aku berdiri di tribun paling atas, di zona kelas F, tempat suara sorak sampai dalam keadaan sudah bekas.
“Final Duel Penempatan — Cassian Valeheart melawan Isolde Vayne!”
Mereka masuk dari dua gerbang berseberangan.
Cassian, dengan pedang standar akademi dan senyum gugup yang membuat separuh tribun meneriakkan namanya. Dan dari gerbang satunya—
[ Isolde Vayne — Sword Saint Apprentice Lv. 11 ]
Novel mendeskripsikan Isolde dalam tiga kata yang diulang-ulang: dingin, tepat, sempurna. Melihatnya langsung, aku paham kenapa penulisnya tidak repot-repot mencari kata lain. Gadis berambut hitam legam itu berjalan ke tengah arena seperti pisau berjalan ke sarungnya — tidak ada gerakan berlebih, tidak ada tarian untuk penonton, bahkan tidak ada ekspresi. Pedang di punggungnya adalah pedang keluarga Vayne, dan menurut naskah, dia sudah mengayunkannya delapan jam sehari sejak umur lima tahun.
Delapan jam sehari. Tiga belas tahun. Untuk hari ini.
Dan aku satu-satunya orang di arena ini yang tahu dia akan kalah.
Duel dimulai.
Tiga menit pertama, Isolde mendominasi mutlak — persis seperti di novel. Pedangnya bergerak seperti kaligrafi: setiap tebasan adalah kalimat sempurna, setiap tangkisan adalah titik yang diletakkan tepat. Cassian terdesak, mundur, jatuh satu lutut, dan tribun mulai senyap.
Lalu, persis di paragraf yang kuhafal, class [Hero] melakukan apa yang selalu dilakukan class [Hero]: tumbuh di tengah pertarungan.
Cahaya emas. Kecepatan yang tiba-tiba menyamai lawannya. Pedang standar akademi yang mulai berpendar. Tribun meledak. Isolde — untuk pertama kalinya dalam hidupnya — melangkah mundur.
Dan di menit kesebelas, pedang keluarga Vayne terlempar dari tangan pemiliknya, berputar di udara, dan menancap di pasir arena dengan bunyi yang akan didengar Isolde dalam mimpinya selama bertahun-tahun.
“Pemenang — Cassian Valeheart!”
Arena meledak. Nama Cassian dinyanyikan. Sejarah dicatat. Semua mata di tempat itu tertuju pada pemuda beraura emas di tengah arena.
Semua mata kecuali sepasang.
Aku menonton Isolde.
Novel menghabiskan dua halaman untuk kemenangan Cassian dan satu kalimat untuk kekalahan Isolde: “Isolde Vayne memungut pedangnya dan meninggalkan arena tanpa berkata apa-apa.” Satu kalimat. Lalu naskah melupakannya selama enam bab.
Yang tidak ditulis novel adalah ini: caranya berdiri di sana tiga detik terlalu lama, menatap pedang yang menancap di pasir seperti menatap jenazah. Caranya berjalan ke pedang itu dengan langkah yang masih berusaha sempurna, karena sempurna adalah satu-satunya cara berjalan yang dia tahu. Caranya menarik pedang itu dari pasir dan gagal — gagal — pada tarikan pertama, karena tangannya gemetar.
Dan yang paling tidak ditulis novel: para murid berjubah biru-putih di tribun bawah — teman-teman satu angkatannya, orang-orang yang kemarin berlomba duduk di dekatnya — yang satu per satu berpaling, mengalir turun ke arena untuk mengerumuni pemenang baru mereka.
Tidak ada satu pun yang mengikutinya keluar.
Aku menatap punggung yang menghilang di gerbang barat itu, lalu menatap Cassian yang tenggelam dalam lautan manusia, lalu menatap langit-langit arena, dan mengucapkan kalimat yang belakangan ini terlalu sering kuucapkan:
“...Sialan.”
Aku menemukannya di belakang paviliun perlengkapan, di lorong sempit antara tembok arena dan gudang — tempat yang hanya diketahui orang-orang yang hidupnya dihabiskan mencari tempat untuk tidak terlihat. Sesama ahli, kalau boleh kubilang.
Isolde Vayne duduk di undakan batu, punggung lurus bahkan saat hancur, pedang keluarga tersandar di sampingnya. Dia tidak menangis. Kurasa dia tidak tahu caranya. Dia hanya duduk di sana menatap kedua telapak tangannya seperti menatap alat yang rusak.
Rencana awalku — untuk transparansi — adalah lewat saja. Lorong ini jalan pintas ke asrama F. Aku akan lewat, dia tidak akan mendongak, dunia berlanjut.
Tapi kakiku, kaki pengkhianat yang sama seperti di perpustakaan, melambat. Karena aku kenal postur itu. Bukan dari novel. Dari kaca jendela kereta pagi, bertahun-tahun, di dunia lain: postur orang yang baru saja tahu bahwa nilainya di mata dunia ternyata bersyarat, dan syaratnya baru saja tidak terpenuhi.
Di tanganku ada roti. Dua. Milo memaksaku membawa bekal — “duel panjang, kau pasti lapar” — dan aku baru makan satu.
Jangan, kata otakku. Aturan Nomor Dua. Dia heroine. Kau figuran. Lewat. Saja.
“Mau roti?”
Kata mulutku.
Isolde mendongak. Mata abu-abu gelap itu menatapku dengan kekosongan orang yang butuh tiga detik untuk memproses bahwa dunia masih berisi orang lain. Lalu kekosongan itu menajam.
“...Kau menonton.”
Bukan pertanyaan. “Semua orang menonton,” jawabku.
“Lalu kau datang untuk melihat lebih dekat.” Suaranya datar, tapi ada silet di bawahnya. “Genius yang kalah. Tontonan langka. Silakan puas—”
“Rotinya isi kacang merah,” potongku. “Yang satunya sudah kumakan, jadi kau tidak punya pilihan rasa. Maaf.”
Dia berhenti. Menatapku. Menatap roti yang kusodorkan. Menatapku lagi. Sistem penargetan di kepalanya jelas sedang gagal mengklasifikasikan situasi: objek tidak dikenal mendekat, tidak membawa hinaan, tidak membawa rasa kasihan, membawa... kacang merah.
“...Aku tidak butuh belas kasihan dari murid kelas F.”
“Bagus, karena ini bukan belas kasihan, ini kelebihan bekal.” Aku meletakkan roti itu di undakan batu, satu jengkal darinya — jarak yang bisa dia abaikan kalau mau. Lalu, karena aku memang tidak pernah tahu kapan harus berhenti, aku menambahkan: “Lagi pula, menurutku kau tidak sedang butuh belas kasihan. Kau cuma sedang butuh makan. Orang yang baru pertama kali kalah biasanya lupa bedanya.”
Keheningan yang mengikuti kalimat itu punya berat fisik.
“‘Baru pertama kali,’” ulangnya pelan. “Kau bicara seolah tahu.”
“Tebakan. Orang yang sudah biasa kalah tidak duduk dengan punggung selurus itu.”
Sesuatu melintas di matanya — terlalu cepat untuk dibaca. Dia memalingkan wajah ke tembok arena, dan untuk waktu yang lama hanya ada suara sorak samar dari kejauhan, meneriakkan nama orang lain.
“Tiga belas tahun,” katanya akhirnya, sangat pelan, mungkin bukan padaku. “Delapan jam setiap hari. Ayahku bilang, keluarga Vayne tidak melahirkan anak. Keluarga Vayne menempa pedang.” Jarinya menelusuri gagang pedang di sampingnya. “Pedang yang kalah itu... apa?”
Aku memandangnya — gadis tujuh belas tahun yang bertanya dengan serius apakah dirinya masih punya nilai — dan merasakan sesuatu yang panas dan tua naik dari dadaku. Bukan untuk naskah. Bukan untuk novel. Untuk dia.
“Bukan apa-apa,” kataku. “Pedang yang kalah itu bukan apa-apa. Tapi untungnya kau bukan pedang.”
Dia menoleh, tajam.
“Pedang tidak duduk di lorong belakang supaya tidak ada yang melihatnya hancur,” lanjutku. “Pedang tidak gemetar waktu mencabut senjatanya dari pasir. Itu perbuatan manusia. Dan jujur saja — selama sebulan ini, baru hari ini kau terlihat seperti manusia, bukan patung pedang yang dipajang keluarga Vayne di etalase. Menurutku itu bukan kemunduran.”
Aku membungkuk kecil, sopan, ala figuran. “Rotinya jangan dibuang. Kacang merahnya enak.”
Lalu aku pergi, karena kuota keberanianku untuk satu dekade sudah habis dalam tiga menit.
Di ujung lorong, aku menoleh sekali — refleks bodoh — dan melihatnya: Isolde Vayne, genius pedang yang tak pernah kalah, duduk di undakan batu dengan punggung yang akhirnya, akhirnya melengkung, memegang roti kacang merah dengan dua tangan seperti benda asing yang berharga, mengambil gigitan pertama.
Dan tersedak. Karena ternyata dia menangis juga. Cuma tidak tahu caranya, jadi keluarnya berantakan, di sela-sela mengunyah, dengan punggung yang naik-turun.
Aku berbalik cepat-cepat dan berjalan pergi. Ada hal-hal yang tidak boleh ditonton bahkan oleh pembaca.
Ting.
[ Affection Meter — New Entry ] [ Isolde Vayne: 15% ↑ ] [ Note: “Kacang merah.” ]
“...Sistem, tolong. Aku mohon.”
[ Isolde Vayne: 15% ]
Meter itu berpendar puas. Dan di suatu tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, di ruang putih di balik dunia, seseorang yang sedang membaca adegan ini tersenyum untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat, sangat lama.