Chapter Two
Aturan Pertama Figuran
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 4 — Ciel, Milo, Cassian (dari jauh), Sera (dari jauh)
Aula utama Astra Academy dari dalam ternyata lebih megah daripada yang pernah dideskripsikan novel — dan novel sudah mendeskripsikannya selama empat paragraf penuh.
Pilar-pilar marmer setinggi pohon. Kaca patri yang menumpahkan cahaya warna-warni ke lantai. Dan di tengah panggung, sebuah kristal sebesar manusia dewasa berdiri di atas altar: Kristal Kebangkitan, benda yang akan membaca class setiap murid baru dan menentukan seluruh sisa hidup mereka.
Kami, murid kelas F, ditempatkan di barisan paling belakang. Tentu saja. Dari posisiku, kristal itu terlihat sebesar ibu jari.
“Gugup?” bisik Milo di sebelahku.
“Tidak juga.”
“Bohong. Semua orang gugup. Ini momen yang menentukan segalanya.”
Tidak untuk kita, batinku. Aku sudah tahu isi bab ini luar kepala. Murid dipanggil satu per satu, menyentuh kristal, dan class mereka diumumkan ke seluruh aula. Sebagian besar mendapat class petarung atau penyihir standar. Beberapa mendapat class langka dan disambut tepuk tangan.
Dan satu orang akan mendapat class yang belum pernah muncul selama tiga ratus tahun.
“Murid selanjutnya — Cassian Valeheart.”
Itu dia.
Seorang pemuda berambut hitam berjalan menuju altar. Bahkan dari barisan belakang, ada sesuatu pada caranya melangkah — tegak, tapi tidak sombong; seperti orang yang belum tahu dirinya penting, tapi dunia sudah tahu lebih dulu. Di novel, paragraf ini kubaca sambil senyum-senyum. Melihatnya langsung, bulu kudukku berdiri.
Cassian menyentuh kristal.
Selama dua detik, tidak terjadi apa-apa.
Lalu aula meledak dalam cahaya emas.
Kristal itu menyala seperti matahari kecil, memuntahkan pilar cahaya ke langit-langit, dan di udara — terlihat oleh semua orang, bukan cuma aku — huruf-huruf raksasa menyusun diri:
[ Class Awakened: HERO ] [ Rarity: ??? — No Records Found ]
Aula senyap sesaat. Lalu pecah. Guru-guru berdiri dari kursi mereka. Murid-murid berteriak. Seseorang di barisan depan pingsan.
Di sampingku, Milo menganga. “Class apa itu? Hero? Kau pernah dengar?”
“Belum,” jawabku. Sudah. Empat kali. Aku bahkan tahu dia akan pura-pura tenang sekarang padahal tangannya gemetar — tuh, kan, dia menyembunyikan tangannya ke balik jubah.
Di tengah kekacauan itu, mataku bergerak sendiri ke sisi panggung — ke barisan perwakilan murid baru. Dan di sana, berdiri dengan punggung lurus sempurna di antara para murid jubah putih-keemasan, seorang gadis berambut keperakan memperhatikan Cassian dengan ekspresi yang tak terbaca.
[ Seraphina Elowen — Saint Lv. 8 ]
Heroine utama Starblade Academy. “Bunga Akademi”. Gadis yang deskripsi kemunculan pertamanya menghabiskan setengah bab dan membuat kolom komentar penuh emoji hati.
Novel tidak melebih-lebihkan. Dari jarak lima puluh meter pun dia seperti salah tempat — seperti lukisan yang dipajang di gudang. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ditulis novel, yang hanya bisa dilihat dari sudut mati barisan belakang: saat semua mata di aula tertuju pada Cassian, bahu gadis itu turun setengah senti. Rileks. Lega.
Lega karena untuk pertama kalinya sejak masuk ke aula ini, tidak ada yang sedang menatapnya.
Aku buru-buru memutus pandangan. Bukan urusanku. Bukan urusanku. Aturan Nomor Dua: jauhi tokoh penting.
Prosesi berlanjut. Nama demi nama. Cahaya demi cahaya. Ketika akhirnya barisan kelas F dipanggil — paling akhir, saat setengah aula sudah mulai mengobrol sendiri — kristal itu menyambut kami dengan kilau seadanya, seperti lampu teras yang menyala karena kewajiban.
“Milo.”
Milo menyentuh kristal. Kilau redup. [ Class: Extra ]. Beberapa murid di depan terkikik. Milo kembali ke barisan dengan wajah datar yang sudah terlatih.
“Ciel.”
Giliranku.
Berjalan menuju altar di depan ribuan orang yang tidak memperhatikanmu adalah pengalaman yang aneh. Seperti jadi jeda iklan. Aku menyentuh kristal — dingin, halus — dan untuk sepersekian detik, aku merasakan sesuatu yang tidak kuduga.
Kristal itu ragu.
Kilaunya tersendat, berkedip dua kali, seperti mesin yang membaca kartu rusak. Di sudut pandanganku, status window-ku membuka diri tanpa diminta dan bergetar.
[ Reading... ] [ Reading... ] [ Class: Extra ] [ Note: — ]
Lalu selesai. Kilau redup yang sama. Ketidakpedulian yang sama. Aku kembali ke barisan, dan tidak ada satu orang pun di aula itu yang akan mengingat wajahku besok.
Sempurna. Persis seperti rencana.
Jadi kenapa jantungku berdebar tidak karuan?
Kristal itu ragu. Benda yang sudah membaca jutaan jiwa selama tiga ratus tahun tersendat saat membacaku — seperti lidah yang tersandung kata asing. Seperti mata yang menemukan salah ketik.
Upacara ditutup oleh pidato perwakilan murid baru. Seraphina Elowen naik ke podium, dan aula yang sudah lelah mendadak tegak kembali.
Suaranya jernih, mengalir, setiap kalimat tersusun rapi tanpa satu pun kata terbuang: tentang kehormatan, tentang masa depan, tentang cahaya benua. Pidato yang sama persis dengan yang ada di novel — aku hampir bisa membacakannya bersamaan.
Dan mungkin karena aku satu-satunya orang di aula yang tidak sedang terpesona, aku melihat hal kecil yang lain: jemari kanannya, tersembunyi di balik podium, memutar-mutar sebatang pena dengan gerakan cepat dan gelisah, berputar-putar tanpa henti — bertolak belakang total dengan suaranya yang tenang.
Aneh. Detail seperti itu tidak ada di novel.
Aku mencatatnya di kepala, entah untuk apa, lalu memaksa diriku berhenti memperhatikan. Aturan Nomor Dua, Ciel. Aturan Nomor Dua.
Masalah dimulai sepulang upacara.
Kami dibubarkan lewat halaman timur. Para murid mengalir keluar dalam rombongan-rombongan riuh, dan aku berjalan paling belakang bersama Milo, mendengarkan dia berteori soal class [Hero] dengan semangat orang yang baru menonton final turnamen.
Lalu aku melihatnya.
Di seberang halaman, seorang pekerja tua sedang menurunkan peti-peti dari gerobak, dibantu dua murid senior. Pemandangan biasa. Sangat biasa.
Kecuali asap hitam yang mengepul pelan di atas kepala pekerja itu — asap yang tidak tertiup angin, yang bergerak melawan arah, yang menggumpal membentuk tulisan:
[ DEATH FLAG ] [ Cause: Impact — Falling Object ] [ Time Remaining: 00:04:12 ]
Kakiku berhenti sendiri.
“Ciel?” Milo menoleh. “Kenapa lagi?”
Aku tidak menjawab. Mataku melompat dari asap hitam itu ke sekeliling — dan menemukannya: di lantai tiga gedung samping, sebuah katrol tua sedang menaikkan balok batu. Talinya berjumbai. Persis di bawah jalurnya, pekerja tua itu bolak-balik memindahkan peti.
00:03:58.
Otakku terbelah dua dan langsung berkelahi.
Selamatkan dia, kata belahan pertama. Dia akan mati. Kau bisa melihatnya. Kau SATU-SATUNYA yang bisa melihatnya.
Diam di tempat, kata belahan kedua, dingin. Aturan Nomor Satu. Kau tidak tahu orang ini. Dia tidak ada di novel — atau ada, dan kematiannya adalah bagian naskah. Kalau kau mengubah satu hal kecil hari ini, apa yang berubah lima puluh bab lagi? Kau berani menanggungnya?
00:03:31.
Pekerja itu tertawa tentang sesuatu bersama para senior. Giginya ompong satu. Dia punya wajah. Dia punya suara. Dia bukan tujuh belas kata.
00:03:14.
Tanganku terkepal. Aku melangkah—
—dan asap hitam itu tiba-tiba menipis.
Di lantai tiga, seorang guru muncul di jendela, meneriaki para senior yang mengoperasikan katrol. Balok batu diturunkan kembali. Talinya diganti. Pekerja tua itu bahkan tidak pernah tahu apa yang barusan tidak menimpanya.
[ DEATH FLAG: Dismissed ]
Asap itu buyar seperti tidak pernah ada.
Aku berdiri di tengah halaman, jantung berpacu, dengan satu kaki masih setengah terangkat ke arah yang tidak pernah kutempuh.
“Serius, kau kenapa hari ini?” Milo menarik lenganku. “Dari pagi kau seperti orang yang lupa menutup kompor.”
“...Aku baik-baik saja.”
Bohong. Aku tidak baik-baik saja. Karena baru saja aku belajar dua hal sekaligus, dan dua-duanya membuatku ingin muntah.
Satu: dunia ini punya mekanisme koreksinya sendiri. Flag bisa muncul dan padam tanpa campur tanganku. Naskah menjaga dirinya.
Dua — dan ini yang lebih buruk: selama tiga menit empat belas detik tadi, aku hampir melanggar aturanku sendiri di hari pertama. Untuk orang asing. Tanpa berpikir panjang.
Kalau flag itu tidak padam sendiri... aku akan lari. Aku tahu aku akan lari.
Malam itu, berbaring di ranjang keras asrama kelas F, aku menatap status window yang berpendar di kegelapan dan menyusun ulang aturanku dengan tambahan satu klausul, ditulis dengan huruf besar di dinding kepalaku:
Aturan Pertama Figuran: jangan mengubah cerita —
— dan jangan pernah, PERNAH, berdiri cukup dekat untuk tergoda mengubahnya.
Sistem berkedip pelan, seolah mencatat.
Sayangnya, tidak ada satu pun dari kami — aku maupun sistem — yang tahu bahwa lusa, di perpustakaan barat, aturan itu akan diuji oleh gadis berambut keperakan dengan pena yang berputar gelisah di jarinya.