Chapter Seventeen
Interlude: Pedang & Kutukan
POV: Isolde → Lucrezia (orang ketiga terbatas, dua bagian) Karakter: 2 — Isolde, Lucrezia
I. Pedang
Isolde Vayne bermimpi tentang ruangan putih.
Mimpi itu datang sejak kecil, selalu sama, selalu tanpa cerita: sebuah ruangan tanpa dinding yang terlihat, terang tapi tanpa sumber cahaya, dan sunyi — kecuali satu suara. Tak. Tak. Tak-tak-tak. Ketukan kecil beruntun, seperti hujan di jendela, seperti jari-jari di atas sesuatu. Dalam mimpi itu dia tidak punya tubuh; dia hanya berada, mendengarkan ketukan itu, dan merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan saat terjaga: bahwa di suatu tempat, seseorang sedang bekerja keras, dan pekerjaan itu adalah dirinya.
Kecil dulu, dia mengira itu mimpi tentang bengkel pandai besi keluarga — palu kecil di logam. Masuk akal. Keluarga Vayne menempa pedang; tentu anaknya bermimpi ditempa.
Tapi malam ini, mimpi itu berbeda untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun.
Malam ini, ketukan itu berhenti.
Dan dalam sunyi yang mengikutinya — sunyi yang terasa seperti ditahannya napas seseorang — Isolde mendengar suara lain, jauh dan teredam, seperti didengar dari dalam air: suara seorang perempuan, menangis pelan, dan sebuah bisikan yang bukan ditujukan padanya tapi menembusnya seperti pedang menembus sarung:
“...maaf. Aku tidak tahu cerita ini mau kubawa ke mana lagi.”
Isolde terbangun pukul tiga pagi dengan jantung berpacu dan pipi basah — pipinya basah — dan duduk tegak di ranjang asrama, kebingungan dengan cara yang tidak bisa diselesaikan latihan pedang.
Dia tidak kembali tidur. Dia melakukan yang selalu dia lakukan saat dunia tidak masuk akal: turun ke lapangan tua, menyalakan dua lentera — dua, selalu dua sekarang, meski malam ini hanya ada dia — dan mengayunkan pedang sampai pikirannya lurus.
Seribu ayunan kemudian, pikirannya belum lurus, jadi dia duduk di peti bekas dan melakukan hal yang lebih memalukan: mengeluarkan kertas pesanan dari pengrajin ibu kota — pesanan kedua, sarung tangan dengan ukuran yang kali ini dia curi diam-diam dengan meminjam sarung tangan lamanya “untuk diperiksa jahitannya” — dan memeriksa ulang kolom ukurannya untuk kali kedua puluh.
Kau bilang tidak bisa merawat orang. Menurutku kau melakukannya terus-menerus.
Isolde menekan pangkal lehernya — kebiasaan saat lelah, titik pegal yang anehnya selalu di tempat yang sama, seperti bekas dari pekerjaan menunduk bertahun-tahun yang tidak pernah dia lakukan — dan membiarkan dirinya, dalam gelap yang tidak dilaporkan pada siapa pun, tersenyum.
Ketukan dalam mimpinya boleh berhenti. Di sini, di dunia yang terjaga, ada orang yang menyebut kesunyiannya dengan nama yang benar.
Itu cukup untuk diperjuangkan.
II. Kutukan
Di sisi lain akademi, di kamar yang penuh buku dan lilin, Lucrezia Morgana tidak tidur — karena dia sedang membedah mimpinya sendiri seperti membedah mayat.
Di mejanya terbuka jurnal pribadi berlapis tiga segel kutukan, dan di halamannya, dalam tulisan kecil yang rapi dan kejam, sebuah daftar berjudul: “Anomali Pribadi — Data.”
1. Mimpi berulang: ruang putih, suara ketukan beruntun. Frekuensi meningkat sejak festival. Malam ini: ketukan berhenti. Terdengar suara menangis (perempuan, muda). Kalimat tertangkap: “cerita ini”. CATAT: Isolde Vayne pagi ini di kelas taktik terlihat kurang tidur. Kutanya iseng apakah mimpinya buruk. Jawabannya: “ruangan putih.” Dia tidak menyadari apa yang baru dia berikan padaku. DUA ORANG. MIMPI YANG SAMA.
2. Kebiasaan motorik tanpa asal: memutar benda panjang di jari. Kuamati pada diriku (pena, sejak bisa menulis), pada Vayne (gagang pedang, saat gugup), dan pada Elowen (SEMUA BENDA, sepanjang waktu). Tiga orang. Gerakan identik sampai ke arah putarannya. Probabilitas kebetulan: menghina untuk dihitung.
3. Ingatan masa kecil: berlubang. Aku ingat “fakta” masa kecilku — marga terkutuk, tatapan orang, pelajaran sihir — tapi bukan “adegan”-nya. Tidak ada satu hari spesifik yang bisa kuputar ulang utuh. Seperti biografi yang ditulis ringkas oleh orang yang sedang buru-buru. Kuuji pada Vayne dengan pertanyaan santai (“makanan masa kecil favoritmu?”). Dia butuh sebelas detik dan jawabannya adalah nama makanan, bukan kenangan. SAMA.
4. Margin. Aku selalu mencoret margin buku — mengkritik, memperbaiki, menulis ulang kalimat orang. Kupikir itu kebiasaan orang cerdas yang kesepian. Tapi malam ini kuperiksa coretan-coretanku bertahun-tahun dan menemukan polanya: aku tidak mengkritik seperti pembaca. Aku mengkritik seperti orang yang MENGENALI PEKERJAANNYA SENDIRI dan tidak puas. “Pembukaan malas.” “Karakter ini kau sia-siakan.” “Kalau aku penulisnya—”
Penanya berhenti di frasa itu.
Kalau aku penulisnya.
Lucrezia bersandar, menatap lilin, dan membiarkan otaknya — otak terbaik di akademi, otak yang selalu dia banggakan sebagai satu-satunya miliknya yang sejati — menyusun hipotesis yang sudah seminggu dia tunda karena terlalu besar, terlalu gila, terlalu menyakitkan untuk salah.
Ciel tahu jalan cerita dunia ini karena dia pernah membacanya. Berarti dunia ini ditulis. Berarti ada penulisnya. Sejauh itu, logika lama.
Tapi kalau dunia ini ditulis... lalu apa artinya tiga gadis dengan mimpi yang sama tentang ruang kerja seorang penulis? Tiga gadis dengan kebiasaan jari yang sama — kebiasaan memegang pena? Tiga gadis dengan masa kecil yang ditulis ringkas, seperti latar belakang yang dibuat belakangan? Tiga gadis yang — dan ini yang membuat tangan Lucrezia dingin — di seluruh naskah versi Ciel, tidak pernah benar-benar diberi kebahagiaan sendiri, hanya diberi kedekatan dengan protagonis, seperti tiga cara berbeda untuk menginginkan hal yang sama?
Dia menulis, pelan, di baris paling bawah halaman:
Hipotesis 4 (JANGAN dibagikan dulu, bahkan pada Ciel): kami bertiga bukan tiga karakter.
Kami tiga jendela dari satu ruangan.
Pertanyaan sebenarnya: siapa yang tinggal di ruangan itu — dan kenapa malam ini dia menangis?
Lucrezia menutup jurnalnya, menyegel tiga lapis, dan meniup lilin. Dalam gelap, di ambang tidur, dia mendengarnya lagi — samar, di dasar kesadaran, tempat mimpi menunggu: ketukan itu mencoba mulai lagi. Tak. Tak... tak. Ragu-ragu. Tersendat. Seperti seseorang yang duduk kembali menghadap pekerjaannya setelah menangis panjang, dan tidak tahu harus mulai dari kalimat yang mana.
Menulislah, pikir Lucrezia pada suara itu, dengan kelembutan yang tidak akan pernah dia akui memiliki. Siapa pun kau. Aku belum selesai dibaca.