Chapter Twenty Nine
Stat Figuran di Medan Perang
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 7+ — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian, Milo, Rektor Aldric, para pembela akademi
Hari ketiga perang, aku menemukan kegunaan sejati dari class [Extra].
Bukan bertarung — STR-ku, setelah setahun dan empat belas level, adalah 11, angka yang membuat prajurit Eclipse terendah pun tidak repot-repot menganggapku ancaman. Bukan sihir — MP 7-ku cukup untuk menyalakan lentera, dalam cuaca baik.
Kegunaanku adalah ini: tidak ada di catatan siapa pun.
Makhluk-makhluk Eclipse berburu seperti Naskah menulis — lewat registrasi. Mereka mencium jiwa yang tercatat, mengejar cahaya yang terdaftar; Sera menyala seperti mercusuar bagi mereka, Cassian seperti matahari. Sedangkan aku, dengan registrasi yang tinggal empat persen dan terus menipis, berjalan di antara mereka seperti angin lewat: dilirik, dilupakan, dilewati.
Naskah menghapusku untuk membuangku dari cerita.
Aku memakai penghapusan itu untuk berjalan menembus pasukannya.
“Ini gila,” kata Lucrezia di malam ketiga, menandai peta di markas darurat aula barat, “dan aku mengatakan itu sebagai pujian tertinggi. Tidak ada pengintai yang bisa masuk sarang di lembah. Kau berjalan kaki ke sana dan kembali membawa posisi tiga jenderal mereka.”
“Mereka tidak melihatku.”
“Mereka melihatmu,” koreksi Sera pelan, dari tempatnya membalut lenganku — luka gores, bukan dari musuh; dari reruntuhan, karena kegelapan tidak menganggapku layak dilukai. “Lalu mereka memutuskan kau bukan apa-apa. Aku melihat wajahmu setiap kali kau kembali dari sana, Ciel. Jangan pura-pura itu tidak melukaimu dengan caranya sendiri.”
Dia benar, dan aku tidak membahasnya, dan dia membiarkanku tidak membahasnya, dan begitulah kami berperang.
Beginilah bentuk hari-hariku: fajar bersama Rektor dan peta, mencocokkan gerakan Eclipse dengan naskah asli di kepalaku — mereka menyimpang, tapi menyimpang dengan pola, seperti lagu yang dimainkan terlalu cepat namun nadanya sama. Pagi menyusup keluar, menandai death flag yang bermunculan di tembok seperti jamur hitam — regu yang akan disergap, titik yang akan runtuh — lalu kembali dan menerjemahkannya lewat empat suaraku: geser regu tujuh, kosongkan menara timur, tarik penyembuh dari gerbang dalam. Siang menonton prediksiku menyelamatkan orang-orang yang tidak akan pernah tahu mereka diselamatkan. Malam menghitung yang tidak sempat.
Tiga belas, sejauh ini. Tiga belas flag yang kutemukan terlambat. Aku menuliskan nama mereka di buku catatan — yang kuminta kembali dari Lucrezia — di halaman baru berjudul satu kata: “Diingat.” Kalau dunia ini tidak mau mencatat figurannya, biar aku yang jadi arsipnya.
“Kau tahu apa yang lucu?” kata Milo suatu sore, di dapur umum, menyodorkan roti ke tanganku tanpa diminta — tubuhnya ingat apa yang kepalanya tidak. “Anak-anak mulai cerita aneh-aneh. Katanya ada penunggu akademi. Setiap regu yang harusnya celaka, selamat, dan pasti ada yang ingat lihat ‘seseorang’ sebelumnya — tapi tidak ada yang bisa jelaskan orangnya yang mana. Mereka mulai menyebutnya ‘Figuran Pelindung’.” Dia terkekeh. “Nama yang payah, kan?”
“Payah sekali,” kataku, dan memakan roti itu pelan-pelan supaya wajahku sempat kembali normal.
Figuran Pelindung. Dunia melupakan wajahku, namaku, kalimat-kalimatku — lalu berkeras menyimpan akibatku dalam bentuk dongeng. Rektor benar sejak awal: halaman bisa dihapus; yang sudah dibaca mencari jalan pulang lewat cerita.
Malam ketujuh, Eclipse melancarkan serangan besar pertama, dan semua persiapan kami diuji sekaligus.
Mereka datang dari tiga arah — dua yang kami duga, satu yang hanya kuduga: jalur air tua, mulut kedua, tempat evakuasi lama yang kosong berkat satu keputusan di hari pertama. Pertempuran malam itu adalah kekacauan yang menyala: tembok utara berlubang, menara timur terbakar, dan di setiap titik patah, entah bagaimana, bantuan tiba semenit lebih awal — regu yang “kebetulan” digeser kemarin, penyembuh yang “kebetulan” ditarik mundur, pintu yang “kebetulan” sudah diperkuat.
Kebetulan bernama empat suara dan satu arsip berjalan.
Aku melewati malam itu berlari dari flag ke flag dengan Isolde sebagai bayanganku — dia menolak berpisah dariku di malam serangan, titik, tidak menerima banding — dan menyaksikan hal-hal yang akan kubawa ke mana pun aku pergi setelah dihapus: Sera berdiri di gerbang dalam dengan kubah cahaya menaungi tiga ratus pengungsi, bercahaya begitu terang sampai makhluk-makhluk itu melolong; Lucrezia di menara barat mengubah ilmu kutukan marganya — ilmu yang ditakuti benua — menjadi jaring pelindung yang menjerat kegelapan di udara; Cassian di lubang tembok utara, sendirian menahan gelombang, bertarung dua perang sekaligus — satu melawan Eclipse, satu melawan Guidance yang terus berteriak bahwa dia harus membiarkan sektor figuran jatuh demi jadwal.
Dia tidak membiarkan apa pun jatuh. Kulihat dia meninju kepalanya sendiri di sela pertarungan, sekali, keras, dan berteriak pada langit: “SEKTOR ITU ORANG-ORANGKU JUGA!” — dan cahaya emasnya, untuk sesaat, menyala dengan warna yang sedikit berbeda. Lebih hangat. Miliknya sendiri.
Fajar menemukan tembok bertahan.
Aku duduk di puing menara timur bersama tiga gadis yang jubahnya sudah tidak bisa disebut putih, hitam, atau warna apa pun, berbagi satu kantung air dan sunyi para penyintas. Di bawah, akademi menghitung: luka banyak, hilang sedikit — sangat sedikit; angka yang membuat Rektor, saat mendengarnya, menutup mata dan berterima kasih pada sesuatu yang tidak dia sebutkan namanya.
[ EVENT: Eclipse Assault I — Repelled ] [ Casualties: 3% of projection ] [ Script note: Projection variance — cause unregistered. ] [ Investigating... ]
Cause unregistered. Naskah bahkan tidak bisa melihat siapa yang merusak proyeksinya. Untuk pertama kalinya sejak vonis, aku tersenyum pada layar itu dengan tulus.
“Kau menyeringai pada udara kosong lagi,” kata Lucrezia, tanpa membuka mata, kepalanya bersandar di dinding puing.
“Kebiasaan orang yang mau dihapus. Nikmati selagi ada.”
“Jangan,” kata Isolde. Satu kata, datar, tapi dia mengatakannya dengan mata terbuka lurus ke arahku, dan pegangannya pada pedang mengencang.
“...Bercanda soal itu,” lanjut Sera pelan, mengambil tanganku, jarinya menemukan jariku tanpa mencari. “Dilarang. Mulai sekarang. Kami sedang berperang untuk kalimat-kalimatmu juga, Ciel. Jangan kau sendiri yang menghapusnya duluan.”
Matahari naik di atas akademi yang bertahan satu malam lagi. Dan di halaman “Diingat” buku catatanku, malam itu aku menambahkan baris pertama yang bukan nama orang mati:
Malam ketujuh. Nol nama baru. Dunia bisa dilawan.