← Chapters Ch. 45 / 52

Chapter Forty Five

Dunia Asal

POV: Ren (orang pertama) Karakter: 2 — Ren, ibu kos


—langit-langit beton.

Dengan noda bocor berbentuk pulau yang kukenal, di sudut yang kukenal, di kamar kos yang kukenal, diterangi cahaya sore yang masuk lewat gorden yang tidak pernah kuganti sejak pindah.

Aku berbaring di kasurku sendiri, di dunia asalku, dan selama beberapa menit yang panjang aku tidak bergerak sama sekali — hanya bernapas, dan mendengarkan: motor lewat di gang. Tetangga menonton berita. Penjual roti keliling, jauh, dengan nada klakson yang sama.

Dunia asal. Utuh. Biasa. Berisik dengan cara yang sudah setahun tidak kudengar.

Hal pertama yang kulakukan adalah mengangkat kedua tanganku ke cahaya.

Tangan dua puluh enam tahun. Tangan Ren. Bukan tangan kurus Ciel — dan kosong: tidak ada sarung tangan kulit cokelat, tidak ada sapu tangan bersulam pedang kayu di pergelangan. Aku menepuk dadaku, panik mendadak — dan tidak menemukan buku tipis berjudul [Extra] karya L.M. di balik jubah, karena tidak ada jubah, karena tidak ada apa-apa; semua yang kubawa tinggal di sisi lain halaman, atau terhapus bersamanya, dan satu-satunya yang berhasil menyeberang adalah aku.

Aku, dan semua yang kuhafal.

Berat kepala Sera di dadaku. Sembilan puluh tujuh jatuh yang dihitung Isolde. Kalimat pembuka draf Lucrezia. Aku arsipnya. Itu pekerjaanku. Aku memejamkan mata dan memeriksa arsip itu, kenangan demi kenangan, dengan ketakutan orang memeriksa rumah setelah gempa — dan menemukan semuanya di tempatnya, utuh, tidak terhapus satu pun.

Kekebalan hati, kata catatan pendahulu Rektor. Naskah bisa mengambil nama. Naskah tidak pernah berhasil mengambil kehilangan.

Baru setelah itu aku memperhatikan hal-hal yang salah.

Debu. Setebal ini tidak tumbuh dalam semalam. Ponselku di lantai dekat kasur, mati total, tidak mau menyala dengan tombol apa pun. Kalender di dinding — kalender bank yang kudapat gratis — menunjukkan bulan yang benar tapi terasa keliru dengan cara yang tidak bisa langsung kutunjuk. Dan tumpukan surat yang diselipkan lewat bawah pintu: tebal, menguning di lapisan bawahnya, tagihan bertumpuk tagihan bertumpuk satu amplop bertuliskan tangan — “Nak, kalau kamu baca ini, tolong kabari Ibu Kos. Ibu tidak tega mengosongkan kamarmu.”

Aku membuka pintu dengan kaki yang mendadak dingin, menuruni tangga kos yang berderit di anak tangga ketiga — masih ketiga — dan menemukan ibu kos di terasnya, menyiram pot, seperti selalu.

Dia menoleh. Selangnya jatuh.

“...Nak Ren?” Suaranya seperti melihat hantu — yang, kupikir kemudian, cukup akurat. “Ya ampun— ya AMPUN— kamu dari mana saja?! Tiga tahun! Kamu hilang TIGA TAHUN, Nak! Kantor kamu ke sini, polisi ke sini, Ibu sampai— aduh, sini duduk, sini— kamu kurusan? Kamu makan tidak selama ini?!”

Tiga tahun.

Aku duduk di kursi plastik teras itu, dijejali teh manis oleh wanita yang menahan kamarku tiga tahun karena tidak tega, dan membiarkan angka itu menetap: satu tahun di dalam halaman, tiga tahun di luarnya. Waktu mengalir beda kecepatan melintasi sampul.

Dan sepanjang ceramah leganya ibu kos — polisi yang menyerah, barang-barangku yang dia doakan tiap malam, “Ibu bilang ke semua orang, anak itu pasti pulang, orangnya tipe yang pulang” — kepalaku hanya memutar satu hitungan, berulang-ulang, dengan jantung yang makin kencang:

Elena jatuh ke ruang putih tiga tahun sebelum aku jatuh menyusul — dalam waktu dunia ini. Aku setahun di dalam. Kalau dia keluar bersamaan denganku, atau lebih dulu—

Dia ada di dunia ini. Sekarang. Di suatu tempat.

Malam itu, setelah ponsel dicas dari mati tiga tahunnya dan menyala dengan protes, aku melakukan hal yang sudah kulakukan ribuan kali di kehidupan lamaku — ritual lama, jalan pulang paling tua yang kupunya: aku membuka aplikasi baca, dan mencari Starblade Academy.

Dia ada. Sampulnya sama. Penulis: S.I.L.

Dan di bawah judul, angka yang membuat tanganku berhenti: Bab: 187.

Seratus delapan puluh tujuh. Terakhir kubaca — tiga tahun lalu, semalam sebelum jatuh — dia berhenti di bab 120, gantung, mati. Enam puluh tujuh bab baru. Tanggal unggah: tersebar sepanjang tiga tahun terakhir, dimulai... dimulai hampir persis dari tanggal aku menghilang.

Aku membuka bab 121 dengan jari yang tidak bisa diam.

Dan berhenti bernapas di paragraf pertama.

“Tidak ada yang memperhatikan murid di barisan paling belakang aula — dan memang begitulah dia menginginkannya. Namanya Ciel. Class-nya [Extra]. Dan dunia belum tahu bahwa kesalahan cetak kecil ini akan menyelamatkan mereka semua.”

Bab demi bab, sampai jauh melewati tengah malam, aku membaca hidupku sendiri — ditulis dari luar, oleh tangan yang mengenal setiap detiknya: lonceng yang tidak berbunyi sendiri. Roti kacang merah. Margin yang dicoret. Teh yang ilegal. Sarung tangan yang salah ukuran. Duel tiga belas menit. Malam sebelum akhir, ditulis dengan kelembutan yang membuat mataku panas. Pelukan untuk sang error. Altar. Penghapusan.

Namaku — nama Ciel — tercetak di sana, di halaman resmi, ratusan kali. Aku, yang seumur hidup di dua dunia tidak pernah tercatat di mana pun, kini tertulis permanen di tempat jutaan orang bisa membacanya.

Kau mau menulis dirimu di mana, Rektor pernah bertanya.

Dia yang menjawabnya. Untukku.

Bab 187, bab terakhir, diunggah tiga minggu lalu. Dia pendek. Dia menceritakan seorang gadis berambut keperakan menuang dua cangkir teh di sebuah atap, bertahun-tahun setelah perang, dengan tanggal yang belum diisi. Dan dia berakhir — bukan dengan kata tamat — dengan satu kalimat yang berdiri sendirian di baris terakhirnya, seperti lentera yang dinyalakan di menara:

“...karena dia berjanji akan menemukannya.”

Aku duduk di lantai kamar kos, jam tiga pagi, di dunia yang berisik dan biasa dan tiba-tiba tidak cukup besar untuk jantungku, menatap kalimat itu sampai hurufnya kabur.

Lalu aku menggulir ke profil penulisnya, ke halaman yang tiga tahun kupelototi seperti orang bodoh, dan menemukan status yang diperbarui dua hari lalu — dua hari — dengan pengumuman yang membuatku berdiri sebelum selesai membacanya:

S.I.L. — “Setelah tiga tahun menghilang: aku kembali. Starblade Academy akan tamat. Dan untuk pertama kalinya, aku akan menemui pembaca — jumpa penggemar pertama & terakhir, akhir bulan ini.”

Lokasi acara: kotaku.