← Chapters Ch. 16 / 52

Chapter Sixteen

Interlude: Bunga yang Kesepian

POV: Seraphina (orang ketiga terbatas) Karakter: 2 — Seraphina, Ciel (dalam kenangan)


Seraphina Elowen berumur enam tahun ketika pertama kali menyadari bahwa dirinya bukan seorang anak, melainkan sebuah jawaban.

Jawaban atas doa keluarga Elowen untuk pewaris. Jawaban atas kebutuhan Adipati akan putri yang bisa dipajang. Jawaban, sejak class [Saint]-nya bangkit di umur sebelas — paling muda dalam sejarah — atas harapan seluruh benua yang menua dan ketakutan pada kabar-kabar dari utara.

Semua orang datang padanya membawa pertanyaan mereka masing-masing, dan tugasnya adalah menjadi jawaban yang tepat. Dia mempelajarinya seperti mempelajari sihir: senyum dengan tujuh gradasi, tawa dengan tiga volume, cara memiringkan kepala yang membuat lawan bicara merasa didengarkan. Pada umur empat belas, dia sudah begitu mahir sampai kadang, di depan cermin malam hari, dia kesulitan menemukan gradasi kedelapan — yang asli — di antara ketujuh senyum itu.

Dia tidak membenci hidupnya. Itu yang tidak dimengerti orang. Bagaimana membenci sesuatu yang begitu... penuh? Setiap hari penuh orang, penuh suara, penuh tangan yang terulur. Hanya saja semua tangan itu terulur untuk menerima. Dan di tengah kepenuhan itu, Seraphina hidup dengan sebuah kelaparan yang tidak punya nama, yang tidak pantas dia rasakan, yang dia simpan seperti menyimpan teh racikan ilegal: rapat, malu-malu, di laci paling bawah.

Sampai seorang murid kelas F menolak menolongnya mencari buku.


Malam ini, di kamarnya di menara, Seraphina duduk di meja tulis dengan surat bertulisan tangan kiri yang sudah setengah tahun umurnya, yang lipatannya sudah selembut kain.

“— dan pengurus perpustakaan yang akan dianggap lalai, bukan kau. Tugasmu aman. — Seseorang yang kebetulan lewat.”

Dia tahu sekarang. Tentu saja dia tahu. Dia mungkin sudah tahu sejak lonceng itu — dan sisanya hanyalah proses panjang membiarkan dirinya sendiri percaya. Lonceng yang tidak berbunyi sendiri. Sihir yang tidak bisa menemukan orangnya. Pemuda yang menghilang ke arah atap setiap Jumat, yang meneriakkan kelemahan monster dari tepi kabut lalu berdiri di sana seperti berharap tidak ada yang menoleh.

Orang-orang selalu berusaha dilihat olehnya. Seumur hidup, ke mana pun dia menoleh, dia menemukan wajah-wajah yang sudah menghadap ke arahnya lebih dulu, dipoles dan disiapkan. Lalu ada satu orang ini, yang seluruh keberadaannya menghadap ke arah lain — dan yang justru, dari arah lain itu, terus-menerus melakukan hal-hal yang membuat orang lain selamat, hangat, hidup.

Fenn selamat dua kali. Dua puluh anak keluar dari dungeon. Empat ratus murid pulang dari hutan. Dan pemuda itu mengumpulkan semua itu seperti orang mengumpulkan utang yang tidak mau ditagih.

Kau satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa-apa dariku, pernah dia katakan di atap. Itu tidak sepenuhnya jujur. Ada yang dia inginkan, Seraphina bisa melihatnya sekarang: pemuda itu menginginkan agar dia — dan Isolde, dan bahkan Lucrezia Morgana, dan Fenn, dan rasanya siapa pun yang lewat di dekatnya — baik-baik saja. Sesederhana dan seaneh itu. Keinginan yang tidak mengambil apa pun.

Seraphina meraih penanya — dan menyadari, dengan geli yang samar, bahwa pena itu sudah berputar di jari-jarinya entah sejak kapan. Kebiasaan yang tidak dia ingat mempelajarinya. Kebiasaan yang muncul begitu saja, seperti bawaan dari kehidupan lain: setiap kali dia berpikir, setiap kali dia menunggu, jarinya memutar benda panjang — pena, sendok teh, batang lavender — bulat-bulat, bulat-bulat, seperti mengulur benang dari tempat yang jauh.

Dia menghentikannya, meletakkan pena itu, dan membuka buku hariannya.

Kebiasaan anehnya yang lain: buku harian itu wangi tinta. Bukan wangi tinta biasa milik semua buku — wangi tinta yang dia bawa, yang melekat di jarinya sejak kecil betapapun sering dia mencuci tangan, yang membuat pelayan lama pernah berkomentar, “Nona muda wanginya seperti ruang tulis, padahal jarang menulis.” Seraphina tidak pernah bisa menjelaskannya. Seperti tubuhnya mengingat sebuah pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan.

Dia menulis:

Malam ini aku memikirkan hal yang tidak pantas: aku bersyukur sistemnya tidak bisa menemukan dia.

Kalau sihirku bisa menyembuhnya seperti menyembuhkan orang lain — jarak jauh, sekali ucap, selesai — mungkin aku tidak akan pernah belajar membalut luka dengan tangan. Tidak akan tahu bahwa merawat seseorang bisa selambat dan sedekat itu. Tidak akan tahu bahwa tanganku, yang seumur hidup dipakai untuk memberkati orang banyak, ternyata paling terasa seperti tanganku sendiri saat sedang mengikat ujung perban satu orang.

Ayah selalu berkata cahaya keluarga Elowen adalah milik semua orang. Mungkin karena itu tidak pernah terasa milikku.

Tapi Jumat sore, di atap yang tidak ada di peta, ada satu cangkir teh yang kutuang terlalu penuh untuk satu orang yang berjanji akan datang lagi. Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku adalah jawaban atas pertanyaan yang tidak diajukan siapa pun—

Penanya berhenti.

Dari jendela menara, angin malam masuk, dan halaman-halaman buku hariannya berkibar sendiri — mundur, mundur, mundur — lalu diam di halaman kosong yang seharusnya tidak kosong. Seraphina mengerutkan kening. Dia yakin — hampir yakin — minggu lalu dia menulis sesuatu di halaman ini. Sesuatu tentang dungeon? Tentang seseorang di dungeon? Bekas tekanannya masih ada di kertas, alur-alur halus tanpa tinta, seperti tulisan yang isinya pergi mendahului bentuknya.

Dadanya sesak oleh ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan.

Dengan gerakan yang lebih cepat dari pikirannya, Seraphina membalik ke halaman baru dan menulis satu nama, besar, dalam huruf yang ditekan kuat-kuat sampai nyaris merobek kertas:

CIEL.

Lalu, di bawahnya, lebih kecil, dengan tangan yang mulai tenang:

Kalau suatu hari aku membuka halaman ini dan tidak mengenali nama di atas — percayalah pada dirimu yang menulisnya. Dia nyata. Dia ada. Dia orang yang membuat tehmu terasa seperti milikmu.

Jangan biarkan siapa pun — apa pun — mengambil yang satu ini.

Dia menutup buku hariannya, memeluknya di dada, dan duduk lama di jendela menara, memandangi satu titik cahaya kecil di atap asrama kelas F di kejauhan — sementara di jarinya, tanpa dia sadari, pena itu sudah berputar lagi: bulat-bulat, bulat-bulat, seperti seseorang, di suatu tempat yang sangat jauh, sedang menggulung benang cerita ini kembali ke tangannya sendiri.