← Chapters Ch. 26 / 52

Chapter Twenty Six

Bab yang Hilang

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 2 — Ciel, Seraphina


Aku mengetahuinya di depan cermin kamar mandi asrama, tiga hari setelah duel, pukul enam pagi.

Cahaya jendela jatuh dari arah timur, melewati bahuku — dan terus. Melewati. Di lantai ubin, bayanganku berdiri dengan lubang: pundak kiri dan sebagian lengannya tidak ikut tergambar, dan di cermin, kalau aku berdiri di sudut tertentu, ubin di belakangku terlihat samar menembus dadaku, seperti aku adalah kaca yang mulai lelah berpura-pura jadi manusia.

[ Phase 3 — Physical erasure: initializing ] [ Progress: 4% ] [ Note: acceleration approved following public deviation. ]

Empat persen. Dipercepat. Karena duel itu — karena tiga gadis yang berdiri di pasir arena — Naskah memutuskan berhenti sabar.

Aku berdiri di depan cermin lama sekali, mempelajari lubang di bayanganku sendiri, dan pikiran yang datang bukan ketakutan. Ketakutan sudah lewat berminggu-minggu lalu. Yang datang adalah kalkulasi yang dingin dan sangat, sangat menyakitkan:

Setiap kali mereka melindungiku, penghapusan dipercepat.

Berarti setiap hari aku berada di dekat mereka, aku memakai mereka sebagai perisai — dan mengubah mereka jadi target berikutnya.

Escalation approved. Next correction will not be public.

Koreksi yang tidak publik. Yang tidak butuh penonton. Yang bisa berbentuk apa saja: rak yang runtuh, ritual yang disabotase, boss yang ditulis mendadak — dan kali ini bukan untukku. Naskah sudah belajar. Kau tidak bisa menghapus sesuatu yang dijangkarkan oleh banyak hati; maka kau potong jangkarnya satu per satu.

Aku membuat keputusan pagi itu, di depan cermin berlubang, dengan kepala dingin dan dada yang seperti diremas:

Aku akan pergi. Dari akademi. Dari mereka. Membawa target ini sejauh mungkin dari semua orang yang meternya pernah berpendar untukku — dan mencari [ERROR] sendirian, karena semua jalan yang tersisa mengarah ke sesuatu di luar halaman, dan mungkin, mungkin, ada jawaban di tempat yang bahkan Naskah tidak bisa membaca.

Rencana yang bagus. Rasional. Berani.

Yang tidak masuk rencana adalah bahwa malam itu, saat aku menyelinap ke atap untuk terakhir kali — untuk berpamitan pada satu-satunya tempat milikku — seseorang sudah duduk di punggungan genteng, di bawah dua bulan, dengan termos kuningan dan dua cangkir.

“Aku tahu,” kata Sera, sebelum aku sempat bersuara. Dia tidak menoleh. “Sejak sore. Kau melakukan hal yang sama seperti sebelum duel — kau mengunjungi tempat-tempat. Perpustakaan barat, dua jam. Lapangan tua, satu jam, kau merapikan lenteranya. Kau menitipkan buku catatanmu pada Lucrezia dengan alasan yang jelas bohong. Orang yang berpamitan diam-diam selalu berpamitan pada tempat dulu, Ciel, karena tempat tidak bisa menahan mereka.” Dia akhirnya menoleh, dan matanya tenang dengan cara yang lebih menakutkan dari tangisan. “Jadi aku memutuskan menunggu di tempat terakhirmu.”

Aku berdiri di mulut tangga servis, tertangkap total, dengan tas di punggung.

“Sera—”

“Duduk dulu. Tehnya masih panas.”

“Kalau aku duduk, aku tidak akan sanggup berdiri lagi.”

Kalimat itu keluar begitu saja — jujur, telanjang, kalah. Sera menatapku lama, lalu meletakkan cangkirnya, dan berdiri sendiri. Berjalan mendekat sampai jarak kami satu lengan, di genteng yang miring, di bawah langit musim dingin yang terlalu terang.

“Katakan alasannya,” katanya pelan. “Yang sebenarnya. Kau berutang itu padaku.”

“Kau melihat lenganku hari ini?” Aku mengangkat lengan kiriku ke cahaya bulan. Di sudut tertentu, samar tapi tidak bisa disangkal, cahaya menembusnya. Kudengar napasnya tertahan. “Empat persen, kata sistem. Dipercepat — karena kalian membelaku. Setiap kali kalian berdiri di antara aku dan Naskah, dia mencatat kalian sebagai kerusakan baru. Koreksi berikutnya tidak akan publik, Sera. Artinya dia akan datang seperti rak buku itu. Seperti kristal ritual itu. Ke arah kalian, di saat aku tidak sedang melihat.” Suaraku turun sampai hampir habis. “Aku bisa menanggung dihapus. Sungguh. Aku sudah berlatih tidak ada seumur hidupku. Yang tidak bisa kutanggung adalah matematika yang baru: setiap hari aku di sini, harga keberadaanku dibayar pakai keselamatan kalian. Aku figuran, Sera. Figuran tidak boleh semahal itu.”

Sunyi. Angin. Dua bulan.

Lalu Sera melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan siapa pun dalam dua kehidupanku: dia mengambil wajahku dengan kedua tangannya — tangan yang bisa menemukanku tanpa sistem, tangan dengan empat huruf pudar di telapak kirinya yang kini menempel hangat di rahangku — dan memaksaku menatapnya.

“Dengar baik-baik, karena aku hanya akan mengatakan ini sekali,” katanya, dan suaranya gemetar bukan karena ragu tapi karena penuh. “Kau baru saja menyebut dirimu ‘harga’. Kesalahan pertama. Kau menghitung keselamatan kami sebagai biaya keberadaanmu. Kesalahan kedua. Dan kau berpikir pergi diam-diam adalah melindungi kami — kesalahan ketiga, yang terbesar, karena kau, dari semua orang, seharusnya paling tahu: dihapus dari luar itu bisa dilawan. Ditinggalkan dari dalam, tidak ada obatnya.

“Sera, aku—”

“Aku belum selesai.” Ibu jarinya bergerak di pipiku, satu gerakan kecil yang meruntuhkan seluruh sisa argumenku. “Kau mau pergi mencari sesuatu di luar halaman? Baik. Pergilah — dengan rencana, dengan kami tahu, dengan jalan pulang. Tapi kalau kau mau pergi dari kami, malam ini, diam-diam, dengan tas itu dan wajah martir itu, maka jawab dulu satu pertanyaan.” Dia menarik napas, dan pertanyaan itu keluar pecah, akhirnya, dengan semua yang dia tahan: “Kalau kau memang figuran — kalau kau memang latar belakang, kesalahan cetak, bukan siapa-siapa — kenapa hanya kau yang kulihat? Di aula penuh seribu orang, kenapa mataku mencarimu? Di dunia yang katamu ditulis untuk orang lain, kenapa semua halaman yang kupilih sendiri ada kau di dalamnya? Jawab itu, Ciel. Jawab, atau—”

Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Mungkin dia. Mungkin aku. Mungkin — untuk sekali, untuk satu-satunya kali — kami berdua, tanpa naskah siapa pun.

Ciuman itu terasa seperti kalimat pertama yang ditulis di halaman kosong: gemetar, tidak sempurna, dan lebih nyata dari seluruh dunia di sekelilingnya. Tangannya berpindah dari wajahku ke kerah jaketku, menggenggam seperti orang menggenggam tali penyelamat; tanganku menemukan punggungnya, dan aku bisa merasakan dia menangis sekarang, akhirnya, di tengah-tengahnya, dan itu tidak menghentikan apa pun.

Ketika kami terpisah — hanya sejauh dahi yang bersandar ke dahi — napas kami mengepul jadi satu awan kecil di udara dingin, dan Sera berbisik, mata masih terpejam:

“Itu jawabannya, kalau kau butuh diterjemahkan.”

“...Cukup jelas,” bisikku. “Tapi mungkin perlu diulang. Untuk memastikan.”

Dia tertawa — basah, pendek, paling indah yang pernah kudengar — dan mengulangnya.

Malam itu aku tidak pergi. Tas itu kami turunkan bersama dari atap, dan rencananya kami susun ulang bertiga—berempat, sampai fajar: bukan pelarian diam-diam seorang martir, tapi ekspedisi yang direncanakan, dengan jalan pulang.

Dan di sudut penglihatanku, dua angka berdampingan sepanjang malam — satu berjalan mundur, dingin dan rapi; satu diam di tempatnya, hangat dan keras kepala, seperti tulisan di telapak tangan yang diperbarui setiap malam:

[ 103:11:07:19 ]

[ Seraphina Elowen: 71% ] [ Note: “Kenapa hanya kau yang kulihat.” ]