Chapter Fifty
Naskah Baru
POV: Ren ↔ Elena (orang pertama bergantian, dua bagian) Karakter: 2 — Ren, Elena
I. Ren
Enam bulan kemudian, aku menemukan atap.
Bukan atap sembarangan — aku menyeleksinya dengan standar seorang mantan figuran profesional: rooftop gedung tempat Elena pindah kerja jadi penulis penuh waktu, lantai delapan, akses lewat tangga servis yang berderit (wajib; Elena bersikeras “atap tanpa tangga berderit itu palsu”), menghadap barat supaya dapat matahari sore, dan cukup tersembunyi untuk dua orang yang keahlian bersamanya adalah tidak ditemukan.
Setiap Jumat sore, kami minum teh di sana. Termos — kuningan; dia mencarinya tiga minggu di pasar loak sampai dapat yang “bunyinya benar” — dan dua cangkir keramik putih, dan racikan yang berganti-ganti.
Racikan keenam sudah ditunaikan di Jumat pertama: daun mint musim semi, sedikit jahe. Rasanya seperti janji yang akhirnya muat.
Hidup, di luar Jumat-Jumat itu, berjalan dengan kecepatan dunia asal. Aku bekerja lagi — kantor kecil, pekerjaan arsip, secara harfiah; ternyata dua kehidupan melatihku untuk persis satu profesi dan aku menyayanginya. Starblade Academy tamat di bab 188 dan meledak; tawaran cetak, tawaran adaptasi, pembaca yang berkabung dan berbahagia dan menulis ribuan teori tentang kalimat terakhirnya. Tidak satu pun teori menebak bahwa kalimat itu pernah diucapkan langsung, di gedung serbaguna, pada pria yang sekarang bertugas membawa termos.
Dan Elena menulis karya baru.
Dia merahasiakan isinya dariku berbulan-bulan — “penulis butuh satu rahasia, pembaca butuh satu penantian; itu hukum alam” — sampai Jumat ini, ketika dia naik lewat tangga berderit membawa map cokelat tebal dan meletakkannya di pangkuanku dengan wajah yang berusaha keras terlihat santai dan gagal di kedua telinganya.
“Draf satu,” katanya. “Kau pembaca pertama. Jelas.”
Di sampul map itu, judulnya, ditulis tangan:
[Extra]
Dengan kurung siku.
“...Elena.”
“Kubaca semua gaya penamaan sistem di duniaku dulu — dari laporanmu, dari ingatanku. Kurung siku itu cara sistem menandai class.” Dia duduk di sebelahku, lutut menyentuh lutut, dan menuang teh terlalu penuh — pemberontakan kecil yang ternyata memang miliknya sejak awal, sebelum dibagi ke siapa pun. “Ini cerita tentang seorang pembaca yang jatuh ke dalam novel dan menjadi figuran. Berbasis kisah nyata yang tidak akan dipercaya siapa pun. Kuubah seperlunya — nama-nama, beberapa kejadian, endingnya kubuat sedikit lebih masuk akal karena yang asli terlalu kebetulan; editor akan protes.” Dia melirikku. “Tapi ada satu hal yang tidak kuubah, dan kau akan menemukannya di halaman pertama.”
Aku membuka map itu.
“[Extra] — Bab 1.
Ada tiga hal yang perlu kau tahu tentang tokoh utama cerita ini.
Pertama: dia mengira dirinya figuran. Kedua: semua orang yang pernah benar-benar melihatnya tahu itu keliru. Ketiga—”
II. Elena
—ketiga: dia selalu datang pada janji kecil. Dan cerita ini, pada akhirnya, hanyalah daftar panjang janji-janji kecil yang ditepati.
Aku menonton Ren membaca kalimat-kalimat pembukaku — menonton dengan jantung penulis di hari pertama rilis, dikali seribu — dan menonton wajahnya melakukan hal yang kutunggu-tunggu: kehilangan semua leluconnya sekaligus.
“Elena. Ini—”
“Tokoh utama. Iya.” Aku menyesap tehku supaya tanganku ada kerjaan. “Aku menulis pahlawan bercahaya lima belas tahun, Ren. Kupikir tokoh utama itu soal panggung — soal siapa yang disorot. Lalu seorang figuran masuk ke duniaku dan mengajariku definisi yang benar: tokoh utama adalah orang yang kehadirannya membuat semua tokoh lain menjadi lebih hidup. Dengan definisi itu, kau tokoh utama di setiap ruangan yang pernah kau masuki — kamar kos, barisan belakang aula, perpustakaan barat, hidupku.” Aku menoleh padanya, dan mengucapkan kalimat yang sudah kuedit tiga puluh kali di kepala dan akhirnya kubiarkan keluar apa adanya, draf pertama, jujur: “Di ceritaku yang ini, kau tokoh utamanya. Sejak halaman pertama. Dan aku berencana menulis serinya panjang sekali.”
Matahari sore turun di antara gedung-gedung. Di bawah, kota berisik dengan sejuta figuran yang menjaga dunia tetap berjalan. Di pangkuan Ren, draf pertamaku; di pergelangan tangannya — dia tidak tahu aku menyadarinya — seutas kain putih kecil yang dia beli sendiri dan sulam sendiri dengan kikuk: dua garis bersilang, seperti pedang latihan kayu; caranya berkabung, caranya membawa mereka; aku tidak pernah membahasnya dan tidak akan, karena beberapa halaman adalah miliknya saja.
Dia menutup map itu, hati-hati, seperti menutup sesuatu yang bernapas. Lalu dia melakukan hal yang paling dia kuasai di semua dunia: dia menepati janji kecil yang bahkan tidak sadar pernah dia buat — meraih tanganku, membuka telapaknya yang bertinta, dan mencium empat huruf di sana, satu per satu.
“Untuk arsip,” katanya serak. “Supaya tercatat.”
“Sistem mana yang mencatatnya?”
“Yang paling tua.” Dia menunjuk dadanya sendiri. “Kapasitas tak terbatas. Tidak bisa dihapus. Kelemahannya cuma satu: pemiliknya menangis kalau penuh.”
“Sepertinya sekarang sedang penuh.”
“Sedang sangat penuh.”
Kami tertawa, dan menangis sedikit, dan minum teh yang dituang terlalu penuh, di atap yang kami pilih sendiri, di dunia yang berisik dan biasa dan cukup — dua orang yang pernah menjadi typo dan penjara bagi diri masing-masing, kini duduk bahu ke bahu di halaman pertama dari cerita yang tidak ditulis siapa pun untuk mereka.
Cerita yang mereka tulis sendiri. Setiap Jumat. Cangkir demi cangkir. Janji kecil demi janji kecil.
Dan di baris terakhir bab ini — karena aku penulisnya, dan penulis boleh memilih baris terakhirnya — kucatat apa yang dikatakan Ren pada langit sore itu, sambil menggenggam tanganku, dengan senyum figuran yang menyelamatkan dua dunia:
“Kau tahu, Elena... untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, aku tidak ingin tahu jalan ceritanya.”
[ TAMAT ]
— bersambung ke halaman berikutnya, selamanya.
- 1 Halaman yang Salah
- 2 Aturan Pertama Figuran
- 3 Gadis yang Tidak Kutolong
- 4 Penolong Tak Dikenal
- 5 Genius yang Kalah
- 6 Villainess Membaca Terlalu Banyak
- 7 Dungeon Orientasi
- 8 Meter yang Tak Seharusnya Naik
- 9 Teh di Atap
- 10 Latihan Tengah Malam
- 11 Flag Kematian Sang Villainess
- 12 Sang Protagonis Merasa Janggal
- 13 Festival Bintang Jatuh
- 14 Typo
- 15 Boss yang Tidak Ada di Naskah
- 16 Interlude: Bunga yang Kesepian
- 17 Interlude: Pedang & Kutukan
- 18 Orang yang Mulai Lupa
- 19 Kehendak Naskah
- 20 Healer yang Tak Bisa Menyentuhku
- 21 Nama di Telapak Tangan
- 22 Protagonis yang Diperalat
- 23 Sapu Tangan Isolde
- 24 Perpustakaan Terlarang
- 25 Duel yang Ditulis
- 26 Bab yang Hilang
- 27 Interlude: Ruang Putih
- 28 Perang Datang Lebih Cepat
- 29 Stat Figuran di Medan Perang
- 30 Tiga Gadis, Satu Kebiasaan
- 31 [ERROR]
- 32 Transmigrator yang Dihapus
- 33 Jatuhnya Sang Pahlawan
- 34 Malam Sebelum Akhir
- 35 Rencana yang Kusembunyikan
- 36 Surat yang Tak Terkirim
- 37 Gerbang Bab Terakhir
- 38 Isolde Menahan Pasukan
- 39 Lucrezia Membakar Naskah
- 40 Cangkir Kedua
- 41 Melawan Sang Protagonis
- 42 Pelukan untuk Sang Error
- 43 Typo yang Memilih Dihapus
- 44 Halaman Putih
- 45 Dunia Asal
- 46 Tiga Tahun
- 47 Hiatus Berakhir
- 48 Jumpa Penggemar
- 49 Elena
- 50 Naskah Baru reading
- 51 SIDE STORY: “Milo Bermimpi”
- 52 SIDE STORY: “Margin”