Chapter Twenty Two
Protagonis yang Diperalat
POV: Cassian (orang ketiga terbatas) Karakter: 3 — Cassian, “suara” Naskah, para murid (3 FL sekilas)
Kekuatan Cassian Valeheart tumbuh empat kali lipat dalam empat minggu, dan tidak ada satu malam pun di antaranya yang bisa dia ingat dengan jernih.
[ Hero Class — Emergency Growth Protocol ] [ Reason: Script schedule at risk ] [ Level 19 → 24 → 28 → 33 ]
Dia bangun setiap pagi lebih kuat dari malam sebelumnya, dengan otot yang mengingat teknik-teknik yang tidak pernah dia latih dan mimpi yang menguap saat disentuh. Guru-guru menyebutnya keajaiban. Teman-temannya menyebutnya takdir. Kepala Akademi Militer mengiriminya surat.
Cassian menyebutnya — dalam kepala saja, di ruang kecil dalam dirinya yang entah bagaimana masih miliknya — diberi makan.
Karena begitulah rasanya. Seperti angsa di peternakan bibinya dulu: disayang, dipuji, diberi makan lebih banyak dari yang dia minta, untuk sebuah tujuan yang semua orang tahu kecuali angsanya.
Dan Bimbingan tidak lagi berbisik. Bimbingan sekarang bicara.
[ Guidance ] [ “You are behind schedule, Hero.” ] [ “The maiden of light should be at your side. The sword should chase your shadow. The witch should envy your glory. This is the shape of your story.” ] [ “Something is standing where your story should be.” ]
“Sesuatu,” ulang Cassian, sendirian di puncak menara latihan, tempat dia sekarang menghabiskan malam-malamnya karena tidur berarti diberi makan lagi. “Katakan namanya, kalau begitu.”
[ “It has no name.” ]
“Semua orang punya nama.”
[ “It is not a person, Hero. It is an error. You have seen it — in the dungeon, in the forest, in the winter field. Each time, We have kindly helped you forget. Errors are contagious to those who look too long.” ]
“Kalian membantuku lupa.” Cassian tertawa, dan suaranya asing di telinganya sendiri — terlalu tajam untuk pemuda yang dulu gugup di depan kristal. “Kalian merapikan kepalaku seperti merapikan kamar. Dan aku harus berterima kasih?”
[ “You should be grateful. We are making you the greatest hero in three hundred years.” ]
[ “All We ask is that you play your part.” ]
Cassian memandangi kedua tangannya — tangan yang empat minggu lalu masih tangannya. Di bawah sana, di halaman malam akademi, dia bisa melihat mereka bertiga tanpa mencari: Seraphina berjalan pulang dari arah asrama kelas F dengan keranjang kosong dan langkah ringan; Isolde di lapangan tua, mengajari seseorang yang matanya tidak bisa dikunci Cassian; Lucrezia menyeberangi taman dengan setumpuk buku dan senyum kecil yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun di kelas.
Tiga gadis yang menurut Bimbingan adalah miliknya — pilar-pilar kisahnya, hadiah-hadiah di jalannya.
Dan yang Cassian rasakan, menatap mereka, bukan cinta yang dijanjikan naskah. Yang dia rasakan adalah iri yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih jujur: mereka bertiga terlihat bebas. Mereka menemukan sesuatu di luar peran mereka. Sedangkan dia — sang protagonis, pemilik cerita, pusat dunia — adalah satu-satunya tokoh di sini yang tidak diizinkan keluar panggung bahkan untuk tidur.
“Kalau aku menolak?” tanyanya pelan. “Kalau malam ini aku berhenti. Turun dari menara ini, minta maaf pada Isolde karena kemenangan itu bukan milikku, dan hidup sebagai murid biasa. Apa yang akan kalian lakukan?”
Keheningan Bimbingan kali ini panjang. Dan ketika jawabannya datang, dia datang tanpa kehangatan sama sekali — datar dan administratif, dan justru karena itu paling menakutkan:
[ “Then the story fails. And when a story fails, Hero, it is not corrected. It is rewritten.” ]
[ “Rewritten from the last stable chapter.” ]
[ “Do you understand what that means for everyone who has changed since then?” ]
Cassian mengerti. Pemahaman itu turun ke perutnya seperti batu: ditulis ulang dari bab stabil terakhir. Seraphina yang kembali menjadi tujuh gradasi senyum. Isolde yang kembali menjadi pedang. Lucrezia yang kembali menjadi ular yang menunggu dihancurkan. Semua kebebasan kecil yang membuatnya iri — dihapus, digulung mundur, dikembalikan ke halaman yang “benar”.
Disandera. Dia sedang disandera, dan sanderanya adalah semua orang yang dia — ya. Yang dia sayangi. Dengan caranya yang canggung dan dari kejauhan, tapi sayang.
“...Apa yang kalian mau dariku,” katanya. Bukan pertanyaan lagi.
[ “Small things first. A duel.” ] [ “The error has made itself beloved. Beloved things are hard to erase — the readers protest. So the story must first show everyone what the error truly is: nothing. A background. An extra.” ] [ “Challenge it. Publicly. Win, gloriously, as heroes do.” ] [ “Break the false story, and the true one resumes.” ]
[ New Quest: “Correct the Record” ] [ Objective: Public duel — defeat [ ] ] [ Reward: Level +5. Schedule restored. All characters preserved. ] [ Refusal: Rollback protocol armed. ]
Cassian Valeheart berdiri lama di puncak menara, di antara angin musim dingin dan jendela quest yang berpendar menunggu — pahlawan pertama dalam tiga ratus tahun, angsa paling gemuk di peternakan — lalu menekan “accept” dengan tangan yang dia benci, dan berbisik pada malam, pada sesuatu yang dia harap bisa mendengar:
“Siapa pun kau... maafkan aku. Dan kalau kau memang seperti kata mereka — sesuatu yang tidak tertulis—”
Dia memejamkan mata.
“—kumohon. Jadilah lebih kuat dari ceritaku.”