Chapter Thirty Six
Surat yang Tak Terkirim
POV: Seraphina → Isolde → Lucrezia (orang ketiga terbatas, tiga bagian) Karakter: 4 — Seraphina, Isolde, Lucrezia, Ciel
I. Seraphina
Surat itu ditemukan Seraphina dua jam sebelum fajar, di tempat yang hanya akan diperiksa oleh orang yang mengenal Ciel sampai ke kebiasaannya: terselip di dalam termos kuningan, digulung rapi, di atap.
Dia naik ke sana karena tidak bisa tidur. Dia turun dari sana berlari.
“Sera. Kalau kau membaca ini sebelum semuanya selesai, berarti aku gagal menyembunyikannya, dan jujur saja — aku setengah berharap begitu, karena aku pengecut untuk urusan perpisahan. Rencananya sederhana: celah itu pintu satu arah, dan pintunya adalah aku. Aku akan membawa [ERROR] keluar bersamaku saat Naskah menyelesaikan penghapusanku. Penulis kalian bebas. Cerita kalian tamat dengan benar. Hanya itu ending yang bisa kuterima.
Jangan cari cara membatalkannya. Kumohon. Kau akan menemukan caranya kalau kau cari — kau selalu menemukan — dan caranya pasti berupa dirimu. Aku tidak akan pernah selesai kalau begitu.
Terima kasih untuk teh yang ilegal. Untuk perban yang dipasang tangan. Untuk empat huruf yang C-nya tidak miring. Aku pernah hidup dua puluh enam tahun tanpa dilihat siapa pun, Sera. Lalu kau melihatku bahkan setelah dunia melarangnya. Apa pun yang terjadi padaku setelah halaman terakhir — bagian yang itu tidak ikut terhapus. Aku sudah memeriksa aturannya.
— Figuranmu.”
II. Isolde
Isolde menemukan suratnya di lapangan tua, dilipat di bawah lentera kedua — lentera yang dulu dinyalakan untuk matanya yang buruk dalam gelap.
Dia membacanya berdiri, dalam posisi sempurna, sampai kalimat keempat. Sisanya dia baca terduduk di peti bekas, karena kaki, ternyata, punya batas yang tidak tercantum di kurikulum mana pun.
“Isolde. Sembilan puluh tujuh kali kau menjatuhkanku, dan sembilan puluh tujuh kali kau mengulurkan tangan. Kau pikir kau mengajariku bertahan hidup. Kau salah hitung — kau mengajariku hal yang lebih besar: bahwa jatuh bukan akhir, asal jatuhnya seperti orang yang berniat bangun.
Lusa aku akan jatuh dengan cara yang tidak ada di kurikulum. Tapi aku berjanji padamu, guru pertamaku: aku akan jatuh dengan benar. Dengan niat bangun — di mana pun bangunnya nanti.
Sarung tangan lama kutitipkan di kotak perlengkapanmu. Kau melarangku membuangnya; sekarang aku melarangmu. Dan Isolde — kalau suatu hari ada yang bertanya siapa yang mengajarimu bahwa pedang boleh jadi orang, kau boleh lupa namaku. Asal jangan lupa jawabannya: kau yang mengajari dirimu sendiri. Aku cuma penonton yang datang membawa roti.
— Muridmu yang jatuhnya paling berkembang.”
Di dalam kotak perlengkapan, sepasang sarung tangan kulit cokelat menunggunya — kebesaran untuk pemilik lamanya, dan ketika Isolde memakainya dengan tangan gemetar, pas di tangannya seperti dibuat untuknya sejak awal.
Dia menatap kedua tangannya lama sekali. Lalu berdiri, dan mulai berjalan, lalu berlari.
III. Lucrezia
Lucrezia tidak menemukan surat.
Dia menemukan Ciel — di halaman depan aula utama, satu jam sebelum fajar, sedang menatap gerbang tempat semuanya akan terjadi — karena dia tidak tidur, tidak mencari surat, dan sudah tahu segalanya sejak perpustakaan. Yang dia bawa bukan pertanyaan. Yang dia bawa adalah dua orang yang berlari di belakangnya, dengan surat masing-masing teremas di tangan.
Konfrontasi itu terjadi dalam cahaya biru sebelum pagi, dan Lucrezia menontonnya dari jarak tiga langkah, sebagai satu-satunya yang sudah melewati babnya sendiri:
Sera yang tiba lebih dulu, napas memburu, mengangkat gulungan surat itu seperti barang bukti — dan tidak jadi mengatakan apa pun yang dia siapkan sepanjang lari, karena Ciel berbalik, melihat mereka bertiga, melihat surat-surat di tangan mereka... dan berlutut.
Di batu dingin halaman, di hadapan tiga orang itu, figuran itu berlutut dengan punggung yang dijaga tetap lurus — ajaran Isolde sampai ke penyerahan dirinya — dan berkata:
“Maaf. Untuk suratnya, bukan untuk rencananya. Rencananya tidak akan kutarik.” Dia mengangkat wajah, dan tidak ada apa pun yang disembunyikan di sana lagi; habis sudah semua persembunyiannya. “Aku sudah menghitung semua jalan lain. Semuanya. Berhari-hari. Setiap jalan yang membiarkanku pulang, membiarkan [ERROR] tinggal — dan selama dia tinggal, penulis kalian membeku, cerita kalian menggantung, dan Naskah akan mengulang koreksinya selamanya pada orang-orang yang kucintai. Aku tidak memilih mati, kalian harus tahu itu. Aku memilih ending. Untuk kalian semua. Dan aku berlutut karena aku tahu persis betapa lancangnya memilih itu sendirian — tapi aku akan tetap memilihnya, hari ini, besok, di setiap draf.”
Sunyi. Angin fajar. Tiga surat teremas.
Yang memecah sunyi adalah Isolde — yang berjalan mendekat dengan sarung tangan barunya, berlutut di depannya dengan gerakan upacara militer, menyamakan tinggi mata, dan berkata dengan suara datar yang retak di setiap sambungan:
“Laporan diterima. Satu koreksi: kau tidak akan melakukannya sendirian. Kami tidak bisa masuk ke pintumu — baik. Maka kami akan pastikan kau sampai ke pintu itu tanpa satu goresan pun, dan itu bukan tawaran.” Dia mengulurkan tangan bersarung cokelat, membantu Ciel berdiri, dan tidak melepaskannya. “Susun formasinya, Lucrezia.”
“Sudah kususun dari kemarin,” kata Lucrezia. Suaranya ringan; matanya tidak. “Tiga lapis. Aku pagar luar. Isolde pagar tengah. Sera—”
“Aku ikut sampai pintu terakhir,” kata Sera.
Bukan permintaan. Bukan usul. Dia mengatakannya sambil melipat surat itu dan menyimpannya di balik jubah, dekat jantung, lalu menatap Ciel dengan mata yang sudah selesai menangis di sepanjang lari dan kini hanya berisi keputusan: “Kau dengar aku. Sampai pintu terakhir. Kau boleh memilih ending-mu, figuranku — tapi kau tidak berhak memilih aku menontonnya dari mana. Itu halamanku.”
Ciel menatap mereka bertiga — dan Lucrezia, yang seumur hidup membaca orang, membaca apa yang melintas di wajah pemuda itu dengan mudah: keinginan untuk membantah, yang datang, dan kalah, dan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tua dari usianya. Rasa terima kasih yang menyerah.
“...Baik,” katanya serak. “Sampai pintu terakhir.”
Di ufuk timur, garis pertama fajar menyentuh langit yang sobek. Lonceng-lonceng menara mulai berbunyi — pola perang, pola bab terakhir — dan dari lembah, kegelapan mulai bergerak naik seperti pasang yang terakhir.
Lucrezia menyentuh jurnal di balik jubahnya — dan draf kedua di dalamnya, yang belum selesai, yang dia kerjakan diam-diam setiap malam sejak perpustakaan — dan berbisik pada dirinya sendiri, terlalu pelan untuk didengar siapa pun:
“Belum, Ciel. Belum berlutut dulu pada ending itu. Penulismu yang ini masih menulis.”