← Chapters Ch. 38 / 52

Chapter Thirty Eight

Isolde Menahan Pasukan

POV: Isolde (orang ketiga terbatas) Karakter: 3+ — Isolde, pasukan Eclipse, (Ciel & Seraphina di kejauhan)


Isolde Vayne dibesarkan dengan satu kalimat yang dipahat ke tulangnya sebelum dia bisa membaca: pedang yang kalah bukan apa-apa.

Tiga belas tahun dia hidup di dalam kalimat itu. Delapan jam sehari. Ayunan demi ayunan, musim demi musim, sampai kalimat itu bukan lagi ajaran melainkan denyut — sampai kekalahan pertamanya di arena terasa seperti berhenti ada.

Lalu seseorang menyodorkan roti kacang merah dan mengganti kalimatnya.

Sekarang, di taman tengah Astra Academy, di bawah langit sobek yang menghujankan bentuk-bentuk bersayap, Isolde berdiri sendirian dengan pedang pinjaman dan sarung tangan kulit cokelat yang pas seperti dibuat untuknya — dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia bertarung tanpa satu pun penonton, tanpa satu pun penilai, tanpa satu pun alasan yang pernah diajarkan keluarganya.

Dia bertarung untuk membeli waktu bagi punggung dua orang yang menaiki tangga aula di kejauhan.

Dan dia belum pernah sekuat ini.

Bentuk bersayap pertama turun — dia membelahnya di udara. Tiga berikutnya datang serempak dari sudut mati — dia sudah tidak di sana; lari itu teknik, dia mengajarkannya sendiri pada seseorang, dan mengajar, ternyata, adalah cara belajar yang paling dalam. Gelombang kelima, kesembilan, keempat belas — pedang pinjaman itu bernyanyi dengan nada yang tidak pernah keluar dari pedang keluarga Vayne, karena pedang keluarga ditempa untuk kemenangan, dan pedang ini diayunkan untuk sesuatu yang lain sama sekali.

Aku tidak tahu cara kalah, pikirnya, memutar gagang di jarinya — bulat, ritual kecil, salam untuk seseorang yang jauh — sambil membaca gelombang berikutnya. Kau yang mengajariku bahwa itu bukan akhir.

Maka aku tidak akan kalah hari ini. Bukan karena takut akhirnya.

Karena hari ini akhirnya bukan milikku untuk diberikan.

Mereka mulai datang lebih cerdas — kegelapan yang belajar, kabar terburuk. Mengepung. Berlapis. Memancing staminanya, menukar sepuluh bidak untuk satu goresan di lengannya, dua puluh untuk satu di pahanya. Isolde mencatat setiap luka dengan ketelitian bendahara dan menolak membayar bunga: setiap goresan dibalas satu langkah mundur yang terencana, menyempitkan medan, menyeret lautan itu ke lorong taman tempat sayap tidak bisa mengembang dan jumlah tidak berarti.

Taktik untuk yang lemah, dari kurikulum yang dia susun untuk murid ber-STR sebelas.

Murid itu tidak pernah tahu gurunya mencatat balik setiap pelajaran.

Satu jam. Lorong taman menjadi sungai hitam yang mati mengalir. Lengan kirinya sudah setengah mati rasa; napasnya berhitung; sarung tangan cokelat itu lembap oleh darah yang sebagian miliknya. Di kejauhan, dari arah halaman luar, dia bisa merasakan denyut sebelas kutukan Lucrezia masih menyala — melemah, tapi menyala — dan dari aula, kilat emas dan putih beradu di balik jendela-jendela tinggi.

Masih berdiri. Semuanya masih berdiri.

Gelombang terbesar datang saat lonceng menara — yang tersisa — memukul jam kedua: bukan lagi bentuk-bentuk kecil, tapi sesuatu yang besar, lambat, dan pasti, kegelapan yang dipadatkan menjadi raksasa tanpa wajah, melangkah masuk ke lorong tamannya sambil menyeret malam di belakangnya.

Isolde menatapnya, menghitung, dan menemukan hasil hitungan yang jujur: tidak menang.

Lalu dia menemukan hitungan kedua, yang lebih penting: tidak perlu menang. Perlu sebelas menit.

Dia mengencangkan sarung tangan cokelat itu — kau akan tumbuh, dia pernah berkata pada pemiliknya, salah ukuran dan salah tebak dan ternyata tidak salah apa-apa, karena lihat: tangannya tumbuh mengisi janji itu — dan mengangkat pedang pinjamannya dalam kuda-kuda yang tidak ada di kurikulum keluarga mana pun. Kuda-kuda yang dia ciptakan sendiri, malam-malam ini, di lapangan tua, di antara dua lentera: kaki sedikit lebih rileks dari sempurna, bahu sedikit lebih rendah dari anggun.

Kuda-kuda orang. Bukan patung.

“Aku Isolde Vayne,” katanya pada raksasa itu, pada lorong, pada langit sobek, pada ayahnya di ibu kota sana, pada seseorang yang sedang menaiki tangga menuju pintunya — dengan suara yang untuk pertama kalinya seumur hidup tidak dia atur sama sekali. “Murid dari seorang figuran. Dan di lorong ini, sebelas menit ke depan—”

Raksasa itu mengangkat lengannya yang seperti malam.

“—bukan apa-apa yang akan lewat.”

Baja bertemu kegelapan. Dan di taman tengah Astra Academy, sampai lama setelah perang itu selesai, orang-orang akan menemukan jejak pertarungan yang tidak bisa dijelaskan hitungan mana pun: satu pasang jejak kaki melawan ribuan, mundur selangkah demi selangkah tanpa pernah patah — dan di ujungnya, di mulut lorong yang tidak pernah berhasil dilewati, sepasang bekas lutut di tanah, dalam posisi orang yang jatuh...

...dengan kedua tangan masih menggenggam pedang tegak di depannya. Jatuh yang seperti berdiri.

Jatuh orang yang berniat bangun.