← Chapters Ch. 52 / 52

Chapter Fifty Two

SIDE STORY: “Margin”

POV: — (disusun sebagai kumpulan coretan margin) Karakter: 2 — Elena, Ren


Ditemukan di margin naskah cetak “Starblade Academy” milik pribadi sang penulis, tiga tahun coretan, tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca siapa pun. Diterbitkan di sini atas izin pemiliknya — dengan syarat halaman terakhirnya ikut.


Tahun pertama.

(margin bab 121, tinta biru:) Bab pertama setelah pulang. Tanganku gemetar terus. Kutulis kau apa adanya dan rasanya seperti berdoa.

(margin bab 124:) Pembaca komplain: “kenapa MC barunya lemah sekali?” Oh, sayangku. Kalian belum mengerti. Tunggu saja.

(margin bab 129:) Hari ini aku ke toko roti dan membeli roti kacang merah dan menangis di trotoar. Ibu-ibu penjualnya panik. Kubilang rotinya enak sekali. Tidak sepenuhnya bohong.

(margin bab 133, tinta hampir habis:) Sebelas ribu pesan masuk. Semua mengaku “figuranmu”. Kubaca tiap malam sampai mataku perih. Belum ada yang tahu racikan keenam. Kau di mana?

Tahun kedua.

(margin bab 145:) Editor bilang: “karakter Ciel ini terlalu sempurna, tidak realistis.” KUCORET SURATNYA. Kau kurang kutulis bagusnya, itu masalahku.

(margin bab 150, tulisan miring, buru-buru:) Stasiun lagi. Peron lagi. Bodoh lagi. Pulang, beli teh jahe, menulis. Sistem bertahan hidupku: tiga langkah, ulangi.

(margin bab 158:) Menemukan termos kuningan di pasar loak. Bunyinya SALAH. Pencarian dilanjutkan. (Penting: ini bukan gila. Ini riset.)

(margin bab 162:) Malam ini kutulis ulang adegan atap untuk kali kedelapan dan akhirnya kubiarkan mereka berciuman di draf. Lalu kuhapus. Itu milik kalian berdua. Ada halaman yang bahkan penulisnya harus mengetuk pintu dulu.

(margin bab 166:) Mimpi ruang putih lagi — tapi dari luar. Dari kursiku. Kosong dan tenang. Bangun-bangun tidak takut. Kurasa aku mulai sembuh. Kurasa kau tetap menyembuhkanku bahkan dari seberang.

Tahun ketiga.

(margin bab 171, tinta belang bekas air:) Hampir menyerah. Tertulis di catatan penulis, biar jujur. Yang menahanku: kau tidak pernah melewatkan janji kecil. Baik. Kupotong kecil-kecil. Seminggu. Seminggu lagi.

(margin bab 178:) Hari ini seorang pembaca menulis: “cerita ini menyelamatkan hidupku.” Kubalas: “aku juga.” Dia kira aku bercanda.

(margin bab 183:) Kuputuskan: jumpa penggemar. Satu kali. Mercusuar terakhir, dinyalakan paling terang. Kalau kau tidak datang... tidak. Tidak ada kalau. Kau selalu datang. Titik. (Ditulis dengan huruf besar supaya aku percaya.)

(margin bab 187, tulisan sangat rapi, seperti upacara:) Bab terakhir sebelum tamat. Kalimat penutup sudah kupilih tiga tahun lalu, di malam pertama pulang: “dia berjanji akan menemukannya.” Sekarang tinggal menunggu tanggal. Telapak tangan: ditulis ulang. C: tegak. Semua lentera: menyala.


Sesudahnya.

(margin halaman judul, tinta baru, tulisan tangan yang sama tapi lebih ringan:) Dia datang. Nomor antrean 214. Kalimat pembukanya menagih teh. TENTU SAJA kalimat pembukanya menagih teh.

(margin acak, tinta berbeda-beda, berbulan-bulan:) — Dia membaca semua marginku semalam suntuk dan sekarang memanggilku “penulis nyentrik kesayangan editor”. Perang dideklarasikan. — Termos: DITEMUKAN. Bunyinya benar. Dia tidak paham maksudku soal bunyi. Dia tidak perlu paham. Dia membawakannya tiap Jumat, itu yang penting. — Dia menyulam sapu tangan sendiri, kikuk sekali jahitannya, dan berpikir aku tidak tahu. Aku menulis 187 bab tentang orang yang berpikir dirinya tidak terlihat. Sayangku. Aku selalu melihat. — Draf [Extra] bab 12 selesai. Pembaca pertamaku tertidur di bab 9 di sofaku. Kucatat di sini sebagai kritik pedas: bab 9 kurang menegangkan. Atau sofaku terlalu nyaman. Riset lanjutan diperlukan.

(margin terakhir yang bertanggal, dua tahun setelah jumpa penggemar:) Dia melamar di atap. TENTU SAJA di atap. Pakai dua cangkir. Pakai kalimat: “Aku ingin memperpanjang janji kecilnya jadi seumur hidup, kalau jadwal kematianmu— maksudku, jadwal hidupmu masih menerima pendaftar.”

Dia gugup sampai salah kutip lelucon sendiri.

Kujawab sebelum dia selesai.


(Dan di halaman paling akhir naskah itu — halaman kosong sesudah kata TAMAT, tempat penulis biasanya tidak menulis apa-apa — tertempel sebuah foto.)

(Sebuah atap. Sore. Dua orang dalam pakaian sederhana yang bagus — dia berkeras menikah kecil-kecilan, “kami berdua alergi jadi tontonan” — sedang tertawa ke arah satu sama lain, bukan ke kamera; fotografernya jelas mencuri momen. Di tangan wanita itu, buket kecil. Di pergelangan pria itu, seutas kain putih bersulam dua pedang kayu. Di antara mereka, di atas peti kayu yang dijadikan meja: termos kuningan dan dua cangkir yang dituang terlalu penuh.)

(Di bawah foto, dengan tulisan tangan yang tegak lurus sempurna:)

“Untuk arsip. Supaya tercatat: figuran juga mendapat halamannya.

— Elena & Ren.

[ TAMAT — dan kali ini, tidak ada yang menggantung. ]”