Chapter Seven
Dungeon Orientasi
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 6 — Ciel, Milo, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian
[ EVENT: Orientation Dungeon — Chapter 14 ] [ Status: On Script ]
Segel emas itu berputar pelan di atas mulut gua, dan aku menatapnya dengan perasaan seorang karyawan menatap jadwal lembur yang sudah dia tahu sejak lama tapi tetap saja menyebalkan.
Dungeon Orientasi. Setiap tahun, seluruh murid tahun pertama diturunkan ke Dungeon Latihan Astra — dungeon buatan berlantai lima yang monsternya dijinakkan sampai level aman — untuk ujian bertahan hidup selama satu hari. Kelas atas mendapat lantai empat dan lima, tempat naskah menempatkan adegan-adegan kerennya. Kelas F mendapat lantai satu: lorong-lorong lembap berisi slime yang gerakannya kalah cepat dari antrean kantin.
Menurut naskah, bagi kelas F hari ini membosankan dan aman. Membosankan dan aman adalah dua kata favoritku sedunia.
“Semangat sekali wajahmu,” kata Milo, menyeret tombak latihannya. “Seperti mau piknik.”
“Lantai satu, Milo. Slime. Kita jalan pelan, pukul pelan, pulang sore. Ini memang piknik.”
Seharusnya begitu.
Masalahnya, di buku catatanku, di halaman “Anomali” yang makin tebal, ada satu baris yang kutulis seminggu lalu dan tidak bisa berhenti kupikirkan: Sejak insiden rak — event kecil mulai bergeser dari jadwal. Rata-rata pergeseran: makin besar.
Dan pagi ini, saat kelompok kelas F berbaris masuk mulut gua, aku melihat sesuatu yang membuat lambungku jatuh: segel emas di atas dungeon berkedip. Sekali. Seperti lampu yang tegangannya goyah.
[ Status: On Script ] [ Status: On Scr—ipt ] [ Status: On Script ]
Tidak ada orang lain yang bisa melihatnya. Tidak ada orang lain yang ikut merasakan udara dingin turun di tengkuknya.
“Milo,” kataku pelan, sambil kami menuruni tangga batu menuju lantai satu. “Hari ini, apa pun yang terjadi, jangan jauh-jauh dariku.”
“Hah? Kenapa?”
“Firasat.”
“Firasatmu menyeramkan akhir-akhir ini, tahu tidak.”
Dua jam pertama berjalan sesuai naskah. Kelompok kelas F — dua puluh anak dengan senjata latihan — menyisir lorong lantai satu, menghajar slime dengan efisiensi piknik keluarga. Aku berjalan paling belakang, menghitung belokan, mencocokkan peta di kepalaku dengan kenyataan. Semua cocok. Semua aman.
Sampai lorong ketujuh, ketika seluruh dungeon bergetar.
Bukan gempa. Lebih seperti... halaman yang dibalik terlalu keras. Debu jatuh dari langit-langit. Cahaya kristal penerangan meredup separuh. Dan di ujung lorong, pintu batu yang seharusnya — seharusnya, menurut naskah, menurut peta, menurut empat kali baca — tersegel sampai arc tahun kedua, berderak terbuka.
Dari kegelapan di baliknya, terdengar suara yang tidak pernah dijinakkan siapa pun.
[ WARNING ] [ Dungeon Anomaly Detected ] [ Floor Boss “Stone Maw” has deviated from designated area ] [ Threat Level: C — LETHAL for current party ]
“Ciel,” suara Milo tiba-tiba kecil. “Pintu itu... harusnya tidak terbuka, kan?”
Stone Maw. Boss lantai lima. Kadal batu sebesar gerobak ganda, kulit sekeras tembok benteng, yang di naskah dikalahkan Cassian dua tahun dari sekarang sebagai ujian kenaikan tingkat. Ancaman level C — lelucon bagi kelas atas di lantai bawah sana.
Vonis mati bagi dua puluh anak kelas F bersenjata kayu.
Makhluk itu keluar dari kegelapan, dan lorong dipenuhi jeritan.
“LARI! ARAH TANGGA!” teriak seseorang, dan itu kesalahan pertama — karena aku tahu, aku tahu dari naskah, tangga masuk lantai satu punya mekanisme darurat: menutup otomatis saat anomali terdeteksi, mengunci monster di dalam. Bersama semua orang di dalamnya.
Benar saja: dari arah tangga terdengar gemuruh batu yang menutup, dan jeritan berubah putus asa.
Otakku, anehnya, justru menjadi sangat dingin. Seperti selalu. Panik itu untuk affection meter; untuk hal seperti ini, entah kenapa, kepalaku berubah jadi ruang baca yang sunyi.
Baik. Data. Stone Maw: buta, berburu lewat getaran. Kulit kebal senjata — kecuali celah sendi di bawah kaki depan, itu pun butuh serangan Lv. 8 ke atas. Kami tidak punya. Berarti bukan bertarung — bertahan. Naskah, bab ujian Cassian: Stone Maw mengejar sumber getaran terbesar dan TIDAK BISA berbelok tajam; radius putarnya lebar. Lantai satu... lantai satu punya ruang penyimpanan tua dengan pintu besi, koordinat tiga lorong ke timur, disebut di naskah sebagai tempat Cassian menemukan item tersembunyi—
“SEMUA DENGAR AKU!” Suaraku memantul di lorong, dan dua puluh kepala menoleh — termasuk beberapa yang baru pertama kali menyadari aku ada. “Lepas sepatu kalian, SEKARANG! Dia berburu lewat getaran — langkah kalian adalah umpannya! Jalan merapat ke dinding kiri, ikuti aku, jangan lari kecuali kubilang lari!”
“K-kenapa kami harus dengar—”
“Karena aku satu-satunya di sini yang tidak sedang menjerit!”
Itu, ternyata, argumen yang sangat efektif.
Dua puluh anak bertelanjang kaki merayap di sepanjang dinding sementara Stone Maw menghancurkan lorong di belakang kami, dipancing oleh tombak-tombak kayu yang kusuruh lempar bergantian ke arah berlawanan — satu getaran, tunggu dia bergerak, getaran berikutnya lebih jauh. Tiga lorong. Dua persimpangan. Pintu besi ruang penyimpanan muncul di ujung, berkarat dan indah seperti gerbang surga.
“Masuk! Satu-satu, jangan dorong-dorongan—”
Sembilan belas anak masuk. Milo, di ambang pintu, menoleh — dan wajahnya berubah putih.
“CIEL, BELAKANGMU—”
Tombak kayu terakhir sudah dilempar. Tidak ada getaran umpan lagi. Dan Stone Maw, di ujung lorong, kepalanya berputar ke arah sumber getaran terakhir yang tersisa di dunia: detak jantungku sendiri.
Dia menerjang.
Ada momen aneh, di detik-detik itu, ketika waktu melambat dan aku sempat berpikir dengan sangat jernih: jarak pintu empat langkah, jarak dia sembilan, kecepatannya tiga kali lipatku, artinya kurang satu langkah, artinya— artinya matematikanya tidak masuk, dan satu-satunya variabel yang bisa kuubah adalah memastikan pintu besi itu tertutup dengan aku di sisi yang salah.
“TUTUP PINTUNYA!” teriakku, dan melompat ke samping.
Dua hal terjadi bersamaan.
Pertama: Milo — bodoh, keras kepala, tujuh belas kata di naskah asli — tidak menutup pintu, dan malah melompat keluar sambil melempar dirinya dan aku sekaligus ke ceruk dinding, membuat Stone Maw menghantam tembok di tempat tubuhku berada sepersekian detik sebelumnya. Dunia meledak jadi debu dan pecahan batu. Sesuatu yang panas merobek pundakku.
Kedua: dari lorong timur, sebuah cahaya keemasan mengoyak kegelapan, dan suara-suara yang terlalu kukenal memenuhi lantai satu.
“Di sana! Ada murid!”
“Sanctuary Field!” — dan kubah cahaya putih menyelimuti aku dan Milo tepat sebelum reruntuhan menimpa kami. Sihir [Saint]. Hanya ada satu di angkatan ini.
Regu penyelamat lantai bawah. Cassian di depan, pedang berpendar emas. Isolde di sisinya, sudah setengah gerakan menghunus. Lucrezia di belakang, jarinya terangkat dengan tiga lingkaran kutukan menyala. Dan Sera — Sera berlari ke arah kubahnya sendiri, ke arah kami, dengan wajah yang belum pernah kulihat di novel: podium yang runtuh total.
Sisanya berlangsung cepat, persis seperti seharusnya adegan protagonis: [Hero] menghadapi Stone Maw, genius pedang memotong celah sendinya, kutukan Warlock memperlambat regenerasinya. Indah. Sesuai kelas. Aku menontonnya sambil terduduk di dinding, dengan pundak yang berdenyut dan Milo yang mengomel panik di sebelahku.
“—dua puluh anak! Kau menyelamatkan dua puluh anak dan hampir mati dan KENAPA KAU MENYURUHKU MENUTUP PINTU, dasar—”
“Milo.”
“APA?”
“Terima kasih.”
Dia tersedak omelannya sendiri.
Ketika Stone Maw akhirnya tumbang dan cahaya kembali, Sera berlutut di depanku, kedua tangan sudah menyala hijau lembut — lalu berhenti. Cahayanya tersendat di udara, sejengkal dari pundakku, seperti membentur kaca.
[ Healing Target: Not Found ]
Dia mengerjap. Mencoba lagi. [ Target: Not Found ]. Mencoba ketiga kalinya dengan kedua tangan gemetar, dan sistem — sistemku, di sudut pandanganku, berkedip dengan huruf-huruf yang membuat darahku lebih dingin daripada semua monster hari ini:
[ Notice: Entity “Ciel” — registration inconsistent. ]
“Kenapa...” bisik Sera. “Kenapa sihirku tidak bisa menemukanmu?”
Di sekelilingku, tiga heroine dan satu protagonis menatapku — murid kelas F penuh debu yang baru memandu dua puluh anak keluar dari kematian dengan hafalan dan sepatu lepas — dan aku menatap balik mereka semua dengan satu-satunya keahlian yang benar-benar kumiliki.
“Mungkin alatnya rusak,” kataku. “Sering begitu, kalau barang kelas F.”
Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat percaya.
Dan di atas kami semua, jauh di mulut dungeon, segel emas itu berkedip lagi — lebih lama kali ini — sebelum menyala tenang dengan tulisan yang baru:
[ EVENT: Orientation Dungeon — Complete ] [ Deviation Logged. ]