← Chapters Ch. 32 / 52

Chapter Thirty Two

Transmigrator yang Dihapus

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 2 — Ciel, Noct


Aku menemuinya lagi dua belas hari kemudian — sendirian, dan dengan sengaja.

Keputusan itu memicu pertengkaran terbesar kami berlima. Isolde menyebutnya bunuh diri taktis. Lucrezia menyebutnya bunuh diri biasa. Sera tidak menyebutnya apa-apa; dia hanya menatapku dengan cara yang lebih berat dari semua argumen, lalu berkata, “Kalau kau pergi tanpa jalan pulang, aku tidak akan memaafkanmu” — dan membantuku menyusun jalan pulangnya, karena begitulah dia mencintai.

Tapi mereka semua tahu, seperti aku tahu: Noct adalah satu-satunya pintu menuju penulis itu, dan aku satu-satunya yang bisa mengetuknya. Dan ada satu hal lagi yang tidak kukatakan keras-keras — bahwa di dalam celah yang kulihat waktu itu, waktu dia bertanya dia menyimpan catatan tentangku?, ada sesuatu yang belum mati. Dan kau tidak mengirim pasukan untuk bicara dengan sesuatu yang belum mati. Kau datang sendiri, membawa bukti.

Aku menemukannya di tempat yang kupilih dengan sengaja: reruntuhan menara timur, tengah malam, di batas antara wilayah akademi dan kegelapan Eclipse — tanah tak bertuan, cocok untuk dua hal tak bertuan. Aku duduk di puing, membuka buku catatanku di halaman salinan arsip rektor kesembilan, dan menunggu.

Dia datang dalam satu jam. Kurasa dia selalu tahu di mana aku; sesama pudar saling terlihat.

“Berani,” kata Noct, menuang dirinya dari udara ke puing di seberangku, “atau bodoh. Tiga ratus tahun, dan aku masih tidak bisa membedakan keduanya pada diriku sendiri dulu.”

“Aku bawa sesuatu untukmu.” Aku memutar buku catatan itu menghadapnya. “Salinan tanganku. Arsip rektor kesembilan. Semuanya — termasuk bagian yang dia tulis tentang siapa kau sebelum akhir. Kau mau membacanya, atau matamu sudah lupa caranya membaca yang bukan dirimu sendiri?”

Kolom teks di matanya berhenti bergulir. Untuk waktu yang lama, makhluk itu tidak bergerak sama sekali — lalu, dengan gerakan yang hati-hati dengan cara yang menyakitkan untuk ditonton, seperti orang yang tangannya sudah tiga abad tidak dipakai untuk menerima, dia menarik buku itu mendekat.

Dia membaca. Aku menunggu. Angin malam membawa bau salju dan bau tinta.

“‘Dia bukan orang jahat,’” Noct membaca pelan, suara pemuda di lapisan teratasnya sendirian lagi. “‘Kutegaskan itu, sebab sejarah yang tersisa akan mengingat akhir dan bukan awalnya.’” Tawa kecil, retak. “Orang tua sentimental. Aku menyalakan lentera menaranya setiap malam di tahun terakhirku, kau tahu? Supaya dia tidak jatuh di tangga. Dia tidak pernah tahu itu aku. Lalu dia lupa aku, seperti semua orang, dan aku tetap menyalakan lenteranya, karena...” Kalimat itu menggantung tiga ratus tahun. “...karena kalau aku berhenti, berarti mereka benar. Berarti aku memang tidak pernah ada.”

“Ceritakan,” kataku. “Dari awal. Aku pembaca yang baik.”

Dan makhluk yang menyebut dirinya kesalahan itu bercerita.

Namanya Noct. Sembilan belas tahun waktu jatuh ke dunia ini — dari mana, dia sudah tidak ingat; ingatan dunia asal adalah hal pertama yang dimakan waktu. Seperti aku, dia tahu cerita ini. Seperti aku, dia menyayanginya. Tidak seperti aku, dia mencoba memperbaikinya — dia tahu perang yang akan datang, kematian-kematian yang bisa dicegah, dan dia berlari ke setiap halaman dengan tangan terbuka, mengubah, menyelamatkan, memperbaiki, sampai Naskah menandainya, dan orang-orang mulai lupa.

“Dan di situ aku patah,” katanya. “Bukan waktu ditandai. Waktu lupa dimulai. Ada seorang gadis—” kolom teks di matanya bergulir cepat, seperti orang berkedip menahan sesuatu, “—tidak penting siapa. Ada seorang gadis, dan dia lupa, dan aku... aku tidak bisa menerimanya seperti kau menerima temanmu yang di asrama itu. Aku melihat kau melakukannya, omong-omong — melepaskan, tersenyum, menjadi orang asing yang ramah. Aku tidak sanggup. Aku mengikatnya. Sihir ingatan, kontrak jiwa, apa pun yang bisa kucuri dari perpustakaan terlarang. Aku memaksanya mengingatku.”

“Dan?”

“Dan dia mengingatku.” Suaranya datar seperti kuburan. “Setiap pagi dia bangun dengan ingatan yang dijahit paksa ke kepalanya, tentang orang yang seluruh dunia bilang tidak ada. Kau tahu apa itu namanya, dari sisi dia? Itu namanya gila. Aku menontonnya hancur — karena aku. Karena caraku dicintai lebih penting bagiku daripada dia.” Dia menutup buku catatanku, sangat pelan. “Waktu Naskah akhirnya datang menghapusku, aku tidak melawan karena ingin hidup. Aku melawan karena marah. Dan kemarahan, typo, ternyata satu-satunya bagian manusia yang tidak bisa dihapus sempurna. Sisanya pergi. Kemarahan tinggal. Tiga ratus tahun kemudian—” dia merentangkan tangan tintanya, “—inilah aku. Bagian yang tinggal.”

“Lalu penulisnya,” kataku pelan. “Tiga tahun lalu. Apa yang kau lakukan?”

“Yang kulakukan?” Dia memiringkan kepala sketsanya. “Aku tidak melakukan apa-apa, typo. Dia yang datang ke tempatku. Kau tidak paham bentuknya, ya? Tempatku — luar halaman — bukan tempat. Dia adalah semua hal yang ceritanya tolak: keraguan, jalan buntu, kalimat yang dihapus. Selama tiga ratus tahun aku sendirian di sana. Lalu suatu malam, seorang wanita jatuh masuk — dari atas, dari arah yang tidak pernah kutahu ada — penuh keraguan, penuh jalan buntu, membenci setiap kalimatnya sendiri. Dia cocok dengan tempatku seperti kunci dengan gembok.” Kolom teksnya melambat. “Aku tidak menahannya, Ciel. Itu yang tidak dipahami siapa pun. Keputusasaannya sendiri yang menahannya. Aku hanya... tidak membantunya keluar. Karena selama dia di sana, ceritanya membeku. Dan selama ceritanya membeku, naskah yang menghapusku tidak pernah tamat. Buku yang tidak tamat tidak pernah menang. Itu balas dendam terbaik yang bisa disusun oleh sisa-sisa kemarahan: bukan membakar buku. Membiarkannya menggantung. Selamanya.”

Aku duduk di puing itu, di seberang masa depanku yang mungkin, dan membiarkan sunyi menyusun kata-kataku.

“Kau salah tentang satu hal,” kataku akhirnya.

“Oh?”

“Kau bilang kemarahan satu-satunya yang tidak terhapus. Tapi kau membaca catatan rektor tadi sampai habis. Kau menyalakan lentera tiga ratus tahun lalu dan kau masih ingat kenapa. Dan waktu aku bilang seseorang menolak melupakanmu, matamu tersendat.” Aku berdiri, mengambil buku catatanku dari tangannya — dia membiarkannya diambil. “Kemarahan bukan yang tersisa, Noct. Kemarahan cuma yang paling keras suaranya. Yang tersisa adalah semua yang membuatmu marah karena kehilangannya. Itu beda jauh.”

Sunyi. Kolom teks di matanya berhenti total — dan untuk satu detik, hanya satu, aku bersumpah melihat sepasang mata manusia di baliknya, cokelat dan muda dan sangat lelah.

“...Sembilan puluh hari, typo,” katanya akhirnya, luruh menjadi tinta yang jatuh ke atas. “Kau akan berakhir sepertiku. Semua sepertimu berakhir sepertiku.”

“Mungkin,” kataku pada celah yang menutup. “Atau kau yang akan berakhir sepertiku. Belum ada yang mencoba arah itu.”

Dan di sudut penglihatanku, jauh di bawah penghitung yang terus mundur, satu jendela kecil membuka diri tanpa suara — jendela yang belum pernah kulihat, dengan bingkai yang bukan merah muda dan bukan biru; abu-abu, seperti sesuatu yang belum memutuskan:

[ ??? : 3% ↑ ] [ Note: “Dia menyimpan catatan tentangku.” ]