← Chapters Ch. 33 / 52

Chapter Thirty Three

Jatuhnya Sang Pahlawan

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 5 — Ciel, Cassian, Seraphina, Isolde, Lucrezia


Naskah, kami pelajari kemudian, menonton pertemuanku dengan Noct dari awal sampai akhir.

Dan Naskah menarik kesimpulannya sendiri: dua anomali yang bicara adalah dua anomali yang bisa bersekutu. Ancaman ganda. Jadwal dalam bahaya. Dan untuk ancaman selevel itu, koreksi kecil-kecilan sudah tidak cukup.

Naskah memutuskan memakai senjata terbesarnya sampai habis.


Kami dipanggil ke tembok utara saat fajar oleh alarm yang salah bunyi — bukan pola serangan Eclipse; pola yang lebih tua, yang hanya kukenal dari naskah: pahlawan maju sendirian.

Cassian berdiri di gerbang luar, menghadap lembah kegelapan, dalam perlengkapan perang lengkap. Dan bahkan dari atas tembok, aku bisa melihat bahwa yang berdiri di sana bukan lagi pemuda yang menurunkan pedangnya di arena.

[ Hero Unit — Full Synchronization: 99.7% ] [ Guidance override: TOTAL ] [ Quest: “Restore the Story” — FINAL ] [ Objective 1: Eliminate anomaly [ ] ] [ Objective 2: Subjugate anomaly [ERROR] ] [ Objective 3: Resume Chapter 41 as scheduled ]

Sinkronisasi total. Naskah berhenti membujuk Cassian dan mulai mengemudikannya — dan harga yang dibayar terlihat bahkan dari sini: cahaya emasnya tidak hangat lagi; dia putih kertas, datar, cahaya lampu ruang operasi. Wajahnya tenang dengan ketenangan yang tidak pernah dimiliki manusia hidup.

“Ciel.” Suaranya menggelegar melintasi lapangan, tapi datar, seperti dibacakan. “Turunlah. Naskah bermurah hati: serahkan dirimu untuk koreksi, dan tidak ada orang lain yang perlu ditulis ulang.”

“Dan kalau tidak?”

“Maka aku mulai dari yang paling mencintaimu.”

Kalimat itu — kalimat yang tidak akan pernah keluar dari Cassian yang asli bahkan di mimpinya yang terburuk — adalah cara Naskah memberi tahu kami bahwa negosiasi sudah selesai sejak sebelum dimulai.

Pertarungan yang terjadi kemudian tidak layak disebut pertarungan.

Sera, Isolde, dan Lucrezia turun ke lapangan lebih dulu — bukan untuk mengalahkannya; kami semua tahu itu mustahil; mereka turun untuk memperlambat, memberi waktu Rektor menyegel gerbang dalam dan mengevakuasi tembok. Dan selama sebelas menit paling panjang dalam hidupku, aku menonton tiga orang yang paling kucintai bertarung melawan puncak dari segala yang bisa ditulis Naskah.

Isolde bertahan paling lama. Genius pedang melawan pedang yang dikemudikan takdir — dan untuk empat menit penuh, tiga belas tahun latihannya menari sejajar dengan sinkronisasi 99.7%. Tapi Naskah tidak lelah, tidak ragu, tidak manusia, dan pada tukikan kelima, pedang keluarga Vayne patah di gagangnya, dan pemiliknya dihempas melintasi lapangan seperti kalimat yang dicoret.

Kutukan-kutukan Lucrezia — sembilan lingkaran, lebih dari yang pernah dia pakai, wajahnya pucat oleh harganya — memperlambat kaki emas itu tepat tiga langkah. Kubah cahaya Sera menahan tebasan yang ditujukan pada Lucrezia yang jatuh, dan pecah seperti musim semi yang datang terlalu dini, dan pecahannya melukai tangan Sera sendiri.

Sebelas menit. Lalu tiga penjaga terkuatku tergeletak di lapangan yang sama, hidup — Naskah menjaga mereka hidup, karena mereka masih dibutuhkan naskah — dan sepasang mata putih kertas berpaling mencari objektif satu.

Aku sudah di lapangan. Sudah sejak menit kedua, berjalan pelan melintasi kekacauan yang tidak bisa melihatku, mendekat dari sudut mati, dengan satu-satunya rencana yang tersisa di buku catatanku — halaman terakhir, rencana yang kutulis malam setelah duel arena dan kuharap tidak pernah kupakai.

Guidance membaca naskah. Naskah membaca dunia. Tapi aku tidak tertulis — gerakanku hanya bisa dibaca lewat mata dan telinga Cassian sendiri.

Dan mata serta telinga itu masih milik Cassian.

“CASSIAN!” Aku berteriak dari jarak tiga langkah, di titik butanya, dan tubuh emas itu berputar dengan kecepatan yang seharusnya mengakhiriku — dan tebasannya tersendat di udara, dua senti dari leherku, gemetar seperti tangan yang berebut kemudi. “Nol koma tiga persen, Cassian! Aku menghitung! Mereka hanya dapat sembilan puluh sembilan koma tujuh — kau tahu kenapa tidak pernah bulat seratus? KARENA KAU MASIH DI DALAM SANA MENOLAK!”

[ Synchronization: 99.7% — 99.4% — fluctuating ]

“Anomali terdeteksi berbicara,” kata mulut Cassian, datar. “Mengabaikan.”

“Kau menyalakan lentera untuk sektormu sendiri di malam serangan!” Aku tidak mundur. Mundur membunuh kami semua. “Kau bilang ‘sektor itu orang-orangku juga’ dan cahayamu berubah warna! Itu bukan tulisan Naskah — aku sudah baca semua tulisannya tentangmu, empat kali, dan kalimat itu TIDAK ADA! Itu punyamu! Kau dengar aku, Cassian Valeheart? Kau sudah punya kalimat sendiri!”

[ 99.1% — 98.6% — WARNING ]

Pedang itu bergetar makin keras. Di balik putih kertas, sesuatu berenang naik ke permukaan mata itu — tenggelam, meraih, tenggelam lagi.

“ciel—” Satu suara kecil, suaranya sendiri, terjepit di antara dua huruf besar. “—jangan— di sini— dia memakaiku untuk—”

“Aku tahu dia memakaimu! Dengar! Kau pernah minta padaku, di menara, malam itu — kau tidak ingat, tapi aku ingat, aku arsipnya, itu pekerjaanku—” suaraku pecah dan aku membiarkannya, karena yang di depanku ini butuh manusia, bukan strategi, “—kau bilang: ‘jadilah lebih kuat dari ceritaku.’ Aku di sini, Cassian. Aku sedang berusaha. Tapi aku tidak bisa lebih kuat dari ceritamu SENDIRIAN. Bantu aku. Lawan dari dalam. Serahkan sisanya—”

[ 97.9% — CRITICAL — initiating full suppression ]

“—pada pembacamu.”

Untuk satu detik — satu detik penuh yang dibeli dengan segalanya — mata Cassian Valeheart menjadi miliknya. Dan dalam satu detik itu, pahlawan pertama dalam tiga ratus tahun tidak menyerang, tidak bertahan, tidak berkata-kata.

Dia tersenyum padaku. Senyum gugup anak bab satu.

Lalu dia memutar pedangnya terbalik, menghunjamkan cahaya emasnya sendiri ke tanah — meledakkan lapangan di antara kami menjadi tembok debu dan cahaya, memberiku dan tiga gadis di belakangku tiga puluh detik yang tidak akan pernah diberikan Naskah — dan di dalam badai itu aku mendengar suaranya, suaranya sendiri, berteriak dengan sisa kendali yang dia miliki:

“LARI! AKU TIDAK BISA MENAHANNYA LAMA — BAWA MEREKA, SELAMATKAN PENULISNYA, DAN CIEL—” suara itu mulai mendatar, tenggelam, huruf demi huruf, “—maafkan aku untuk yang akan kulakukan setelah ini—”

[ Synchronization: 100% ]

[ Hero Unit: fully operational ]

[ All objectives: active ]

Kami membawa yang terluka dan lari — lari dengan cara yang diajarkan Isolde, lari sebagai teknik, lari sebagai satu-satunya kalimat yang tersisa untuk kami tulis — sementara di belakang kami, di lapangan yang terbakar, sesuatu yang memakai wajah sahabat kami berdiri diam menunggu perintah, sempurna dan kosong, di bawah langit yang sobek.

Titik tergelap, kata pembaca mana pun tentang bab seperti ini.

Mereka benar. Tapi pembaca yang baik tahu satu hal lagi tentang titik tergelap:

Dia selalu tepat satu bab sebelum fajar dinyalakan.