← Chapters Ch. 21 / 52

Chapter Twenty One

Nama di Telapak Tangan

POV: Seraphina (orang ketiga terbatas) Karakter: 2 — Seraphina, Ciel


Ritualnya dimulai secara tidak sengaja, di malam setelah patroli utara.

Seraphina pulang ke menaranya dengan darah orang lain di bawah kukunya dan tangan yang masih mengingat setiap simpul perban. Dia mandi, duduk di meja tulis, membuka buku harian — dan menemukan tiga halaman lagi yang kosong. Tiga. Bekas tekanan penanya masih di sana, alur-alur halus seperti sungai kering; isinya sudah diambil arus.

Dia tahu halaman apa itu. Dia menulisnya dua hari lalu: tentang pondok patroli, tentang menjahit luka dengan tangan, tentang kalimat yang dia ucapkan sambil menangis. Kenangannya sendiri masih utuh — masih — tapi tintanya sudah menyerah lebih dulu.

Naskah tidak bisa mengambil ingatannya. Jadi dia mengambil catatannya. Mengepung dari luar. Membiarkan waktu dan lupa yang alami menyelesaikan sisanya, karena ingatan tanpa jangkar akan hanyut sendiri, pelan-pelan, manusiawi, rapi.

“Begitu caramu bermain,” kata Seraphina pada kamarnya yang kosong, dengan suara yang sangat tenang — suara yang di keluarga Elowen hanya keluar tepat sebelum seseorang memenangkan perang dagang. “Baiklah.”

Dia meraih pena — pena yang berputar dulu di jarinya, satu putaran penuh, seperti mengambil ancang-ancang — lalu membuka telapak tangan kirinya, dan menulis di kulitnya sendiri, dengan tinta yang dipakai keluarganya untuk menandatangani dokumen abadi:

CIEL.

Empat huruf. Kecil, di cekungan telapak, tempat yang tertutup saat tangan menggenggam.

“Halaman bisa kau ambil,” katanya pada udara, pada tata bahasa, pada apa pun yang sedang membaca. “Kulitku, coba saja.”


Sejak malam itu, menjadi ritual: setiap malam sebelum tidur, dia memperbarui tulisannya. Setiap pagi, hal pertama yang dia lakukan adalah membuka telapak tangan dan membaca namanya sendiri — bukan namanya; nama itu — dan merasakan semua kenangan berbaris pulang ke tempatnya: atap, teh, lonceng, perban, salju.

Dia mempelajari hal-hal kecil tentang perang ini. Bahwa tulisan di telapak memudar lebih cepat dari seharusnya — tinta abadi keluarga Elowen, yang di dokumen bertahan seratus tahun, di kulitnya pudar dalam sehari; Naskah menggerus dari segala arah. Bahwa menulis ulang setiap malam justru menjadi bagian terbaik harinya: satu menit hening, pena di kulit, seperti doa. Dan bahwa kadang, di kelas atau di rapat dewan murid, dia mendapati dirinya menggenggam tangan kirinya erat-erat tanpa sadar — memegang nama itu seperti orang memegang batu hangat di saku mantel musim dingin.

Fenn bertanya suatu hari, polos: “Sera, tanganmu kenapa? Dari kemarin kau genggam terus.”

“Jimat,” jawab Seraphina, tersenyum gradasi ketiga.

Itu bahkan bukan bohong.


Ciel mengetahuinya di minggu kedua, di atap, hari Jumat, teh racikan kelima (kulit jeruk dan sejumput kayu manis; musim dingin menuntut kehangatan).

Dia sedang menuang — terlalu penuh, pemberontakan kecilnya, seperti biasa — ketika lengan bajunya tersingkap dan Ciel melihatnya: empat huruf di telapak kirinya, sedikit pudar oleh hari.

Dia melihat pemuda itu membeku. Melihat matanya membaca. Melihat pemahaman turun ke wajahnya lapis demi lapis — dan bersama pemahaman itu, sesuatu yang membuat dada Seraphina sesak: rasa bersalah.

“Sera,” kata Ciel pelan. “Sejak kapan?”

“Sejak halaman-halamanku mulai dicuri.”

“Kau tidak perlu—”

“Berhenti.” Dia meletakkan termos, dan menatapnya lurus, karena kalimat berikutnya sudah dia siapkan berhari-hari untuk momen ini. “Aku tahu apa yang mau kau katakan. ‘Kau tidak perlu berkorban untukku. Jangan melawan Naskah demi aku. Aku tidak mau kau terluka.’ Benar?”

“...Kurang lebih urutannya begitu.”

“Kalau begitu dengarkan urutanku.” Dia mengambil tangan pemuda itu — tangan yang bisa dia temukan tanpa sistem, selalu — dan membuka telapaknya sendiri di atasnya, huruf bertemu kulit. “Seumur hidupku, semua yang kulakukan adalah kewajiban. Senyumku dijadwalkan. Kebaikanku diagendakan. Bahkan sihir penyembuhku adalah pajak yang dibayar keluargaku pada benua. Kau tahu apa satu-satunya yang pernah benar-benar kupilih sendiri, tanpa disuruh siapa pun, tanpa naskah siapa pun?” Suaranya turun, tapi tidak goyah sedikit pun. “Ini. Menulis empat huruf setiap malam. Ini bukan pengorbanan, Ciel. Ini hal paling egois yang pernah kulakukan. Aku menolak kehilanganmu — bukan demi kau. Demi aku. Jadi jangan berani-berani meminta maaf untuk hal terbaik yang kupunya.”

Angin musim dingin lewat di antara mereka. Pemuda itu menatapnya lama — dan Seraphina melihat sesuatu yang jarang di matanya: Ciel, yang selalu punya lelucon, yang selalu punya jalan keluar, kehabisan kata-kata sama sekali.

Akhirnya dia tertawa — pendek, kalah, hangat — dan balas menggenggam tangannya, hati-hati, seperti orang menggenggam sesuatu yang menulis dirinya sendiri setiap malam.

“Kalau begitu setidaknya,” katanya, “biar kuajari cara menulis ‘C’-nya lebih bagus. Punyamu miring ke kiri.”

“Punyaku sempurna. Aku juara kaligrafi tiga tahun—”

“Miring. Ke kiri. Sedikit.”

“Kau menulis dengan tangan kiri yang diburuk-burukkan, kau tidak punya hak bicara soal kaligrafi—”

Mereka bertengkar tentang huruf C sampai teh dingin, dan tertawa terlalu keras untuk dua orang yang sedang diperangi oleh dunia, dan di sudut penglihatan pemuda itu — Seraphina tidak bisa melihatnya, tapi belakangan dia akan diberitahu — sebuah meter berpendar naik dengan catatan yang disimpan sistem seperti sistem itu sendiri tidak rela menghapusnya:

[ Seraphina Elowen: 63% ↑ ] [ Note: “Hal paling egois yang pernah kulakukan.” ]

Malam itu, di menaranya, Seraphina memperbarui tulisannya seperti biasa. Tapi sebelum menutup tangan, dia menambahkan sesuatu di bawah empat huruf itu, kecil sekali, untuk dibaca dirinya sendiri saja:

jangan lupa: C-nya jangan miring.

Dan untuk pertama kalinya sejak perang sunyi ini dimulai, dia tertidur sambil tersenyum.