Chapter Forty
Cangkir Kedua
POV: Seraphina (orang ketiga terbatas) Karakter: 2 — Seraphina, Ciel
Di ruang kecil di sisi aula utama — ruang tunggu tua tempat para murid dulu menanti giliran menyentuh kristal — Seraphina Elowen menuang teh.
Di luar pintu, badai emas dan putih masih beradu: Ciel sedang bertarung dengan kata-kata melawan pahlawan yang dikemudikan, dan tugas Seraphina di babak itu sudah selesai — kubahnya sudah memancing tiga serangan besar, membeli tiga celah bicara, dan kini Cassian terkunci dalam perang di dalam kepalanya sendiri, sinkronisasi naik-turun seperti demam, dan Ciel memintanya mundur sebentar: “Dia hampir kembali. Bagian ini harus antara kami berdua. Lima menit, Sera. Tunggu aku di ruang sebelah.”
Maka dia menunggu. Dan karena tangannya harus melakukan sesuatu atau dia akan gila, dia menuang teh.
Termos kuningan itu ikut sampai sini — tentu saja ikut; dia membawanya ke perang seperti prajurit membawa jimat. Racikan pertama: chamomile gunung, kulit apel kering. Dua cangkir keramik putih yang selamat dari segalanya, diletakkan di bangku tunggu tua yang berdebu.
Cangkir pertama untuknya. Cangkir kedua...
Tangannya berhenti.
“Aku akan minum teh buatanmu lagi minggu depan,” pemuda itu pernah berkata, di sore pertama di atap, dengan gaya pasrah orang yang direkrut paksa jadi peminum tetap. Dan dia datang minggu depannya. Dan minggu depannya lagi. Racikan kedua, ketiga, kelima. Musim berganti dua kali, dunia mencoba menghapusnya berkali-kali, dan tidak sekali pun — tidak sekali pun — cangkir kedua itu dituang sia-sia. Dia selalu datang. Janji-janji kecil yang selalu ditepati; itu mata uangnya; begitulah cara figuran itu mencintai jauh sebelum dia berani menyebutnya cinta.
Seraphina menuang cangkir kedua sampai sembilan puluh persen penuh — pemberontakan kecilnya, upacaranya — dan meletakkannya di sisi cangkirnya sendiri, mengepul di udara dingin ruang tunggu.
Lalu dia duduk, dan menatap kedua cangkir itu, dan membiarkan dirinya memikirkan pikiran yang sudah seminggu dia kurung:
Setelah hari ini, siapa yang akan meminum cangkir kedua?
Pintu terbuka.
Ciel masuk — hidup, terhuyung, jubah hangus di satu sisi, dan di belakangnya badai emas sudah reda menjadi cahaya yang hangat dan bingung; suara Cassian, suaranya sendiri, samar terdengar memberi perintah pada pasukan pembela. Berhasil. Bagian itu berhasil.
Pemuda itu melihatnya. Melihat bangku. Melihat dua cangkir.
Dan berhenti di ambang pintu seperti tertembak.
Seraphina menonton wajahnya — wajah yang selalu punya lelucon — kehilangan semua leluconnya sekaligus, karena dia juga sedang membaca cangkir kedua itu, dan dia pembaca terbaik di dunia mana pun: dia tahu persis apa artinya, tahu janji mana yang sedang ditagih, tahu bahwa dalam beberapa menit dia akan berjalan melewati pintu di ujung aula dan janji kecil itu — untuk pertama kalinya, untuk terakhir kalinya — tidak akan ditepati.
“Sera—”
“Duduk dulu.” Suaranya keluar tenang. Dia sudah berlatih. “Tehnya masih panas. Dan kau pernah bilang, di atap: kalau kau duduk, kau tidak akan sanggup berdiri lagi.” Dia menepuk bangku di sebelahnya. “Aku sudah memikirkan itu berhari-hari, dan aku menemukan jawabannya: tidak apa-apa. Duduklah dan jangan sanggup berdiri, Ciel. Sebentar saja. Aku yang akan membuatmu sanggup lagi setelahnya — itu keahlianku, ingat? Merawat. Yang lambat, yang dekat, yang pakai tangan.”
Dia duduk. Mereka minum.
Teh itu — chamomile dan kulit apel, rasa sore pertama, rasa dari sebelum semua vonis dan penghitung dan perang — dan mereka meminumnya pelan, bahu ke bahu, dalam sunyi yang tidak perlu diisi, sementara di luar dunia menunda akhirnya beberapa menit demi upacara kecil dua orang.
“Kau tahu yang paling kusesali?” kata Ciel akhirnya, menatap cangkirnya. “Bukan yang besar-besar. Yang kecil. Aku tidak akan tahu rasanya racikan keenam.”
“Daun mint musim semi,” kata Seraphina. “Dengan sedikit jahe. Sudah kususun resepnya.”
“...Kedengarannya enak.”
“Dia akan enak.” Dia meletakkan cangkirnya, dan mengambil wajah pemuda itu dengan kedua tangan — telapak kiri dengan empat huruf yang diperbarui tadi malam, C yang tidak miring, menempel di rahangnya — dan mengucapkan kalimat yang dia susun sepanjang minggu, kalimat pengganti semua jangan pergi yang sudah dia buang: “Maka dengarkan baik-baik janjiku, penepat janji. Aku akan meracik teh keenam. Dan ketujuh. Dan kelima puluh. Aku akan menuang cangkir kedua setiap minggu, di atap, sampai rambutku memutih kalau perlu — bukan karena berkabung. Karena menunggu. Karena kau, Ciel, adalah orang yang selalu datang pada janji kecil, dan aku menolak percaya bahwa kematian, penghapusan, atau tata bahasa mana pun lebih kuat dari kebiasaanmu yang satu itu.” Matanya, langit sebelum hujan, tidak hujan kali ini; dia sudah menghabiskan hujannya; yang tersisa terang. “Jadi ini bukan perpisahan. Ini undangan minum teh yang tanggalnya belum diisi. Kau mengerti?”
Ciel menatapnya lama — lalu tertawa, patah dan penuh, dan menyandarkan dahinya ke dahi gadis itu.
“Kau tahu kau baru saja mengubah penghapusan eksistensial menjadi janji temu minum teh.”
“Aku putri Adipati. Kami ahli membingkai ulang negosiasi.”
Mereka tertawa bersama, dahi ke dahi, di ruang tunggu berdebu di jantung perang — dan kemudian berdiri bersama, karena waktu di sudut penglihatan pemuda itu (dia tidak memberitahunya, tapi Seraphina bisa membaca dari matanya) sudah menipis, dan pintu di ujung aula menunggu.
Cangkir kedua tertinggal di bangku tua itu, setengah terminum.
Setengah terminum — bukan penuh dan dingin. Seraphina memandangnya sekali dari ambang pintu, dan menetapkan gambar itu dalam hatinya sebagai pertanda, dengan keyakinan penuh seorang [Saint]:
Janji yang setengah ditepati bukan janji yang gagal.
Dia janji yang sedang berjalan pulang.