Chapter Twenty Four
Perpustakaan Terlarang
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 2 — Ciel, Lucrezia
“Anomali sebelummu,” kata Lucrezia, membanting setumpuk kertas ke meja perpustakaan barat, “punya nama. Dan menemukannya membutuhkan tiga minggu, dua penyuapan, dan satu pemalsuan izin yang kalau ketahuan akan membuatku dikeluarkan lebih cepat dari jadwal naskahmu. Kau berutang padaku seumur hidup.”
“Sudah dari lama.”
“Bagus, asal tercatat.” Dia menyebar kertas-kertas itu — salinan tangan dari dokumen yang jelas sangat tua. “Petunjuk Rektormu benar. Tiga ratus tahun arsip para rektor, disimpan di tempat yang tidak ada di katalog mana pun: lantai bawah perpustakaan timur. Perpustakaan Terlarang. Dan sebelum kau tanya — ya, aku sudah menyusup sekali untuk memetakan, dan tidak, aku tidak bisa membawa dokumen aslinya keluar, segelnya menua bersama gedungnya. Kita harus membaca di tempat. Malam ini. Berdua, karena empat mataku dan mata anehmu melihat hal yang berbeda.”
Maka malam itu, dua figuran dunia ini — yang dihapus dan yang difitnah — menyusup ke jantung perpustakaan timur.
Lucrezia bergerak di kegelapan seperti dia dilahirkan di sana: tiga segel dilewati dengan kontra-sihir yang dia gumamkan seperti nyanyian, satu patroli penjaga dihindari dengan jadwal yang sudah dia hafal, dan satu pintu besi tua di balik rak sejarah kuno terbuka dengan kunci yang dia buat dari lilin dan kesabaran. Di baliknya: tangga spiral turun, udara yang berbau tiga abad, dan ruangan bundar berisi rak-rak yang melengkung mengelilingi satu meja baca.
“Arsip rektor kesembilan,” bisik Lucrezia, menyalakan lentera kecilnya yang cahayanya dia redam dengan sihir. “Rak timur, menurut petaku. Cari tahun 214 era akademi.”
Kami menemukannya di laci bersegel yang segelnya sudah lama mati: satu bundel tipis, ditulis tangan gemetar seorang tua, berjudul sederhana — “Catatan tentang Murid yang Tidak Pernah Ada.”
Kami membacanya bersisian di meja baca, kepala hampir bersentuhan di atas kertas rapuh, dan lembar demi lembar, ruangan itu terasa makin dingin.
“...murid itu datang seperti kau, dari tempat yang tidak bisa dia jelaskan, dengan pengetahuan tentang hari-hari yang belum terjadi. Namanya kutulis di sini setiap tahun, dan setiap tahun tulisan itu memudar; maka kutulis ulang, sebab seseorang harus melakukannya...”
“...dia bukan orang jahat. Kutegaskan itu, sebab sejarah yang tersisa — jika tersisa — akan mengingat akhir dan bukan awalnya. Dia menyayangi dunia ini. Terlalu, mungkin. Dia berusaha memperbaiki apa yang menurut hari-esoknya akan salah, dan setiap perbaikan mempercepat penghapusannya...”
“...pada tahun ketiganya, orang-orang yang mencintainya mulai lupa. Dan di sinilah dia berbeda darimu, wahai pembaca masa depan yang kudoakan tidak pernah ada: dia berusaha MEMAKSA mereka ingat. Dia mencari cara mengikat ingatan dengan sihir, dengan kontrak, dengan luka. Dia berpikir: jika cinta bisa dihapus, maka cinta kurang kuat; yang kuat adalah rantai...”
“...aku menemuinya terakhir kali di malam penghapusannya. Dia sudah bukan dia. Sesuatu yang lain memakai keputusasaannya seperti jubah — sesuatu yang lahir di celah antara halaman, yang memakan setiap kisah yang gagal. Dia berkata padaku, dan kalimat ini kutulis persis: ‘Kalau naskah menolak menulisku, akan kutunggu di luar naskah. Dan akan kubuat naskah ini tahu rasanya tidak dibaca.’”
“...esoknya, tidak ada yang mengingatnya kecuali aku. Sistem mencatat penghapusan itu dalam satu baris. Kusalin di sini, sebab baris itu tidak pantas menjadi satu-satunya nisannya:”
[ Entity: [ERROR] — deletion incomplete. Residual detected outside record. Monitoring impossible. ]
“Deletion incomplete,” Lucrezia membaca ulang, sangat pelan. “Residual detected outside record.” Dia mengangkat wajah, dan di cahaya lentera redam itu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Lucrezia Morgana terlihat takut. “Ciel. Penghapusannya gagal. Dia masih di suatu tempat — di luar catatan, tempat tidak ada yang bisa mengawasi. Tiga ratus tahun. Dan sabotase ritualku — pelaku yang ‘bahkan naskahmu tidak tahu’—”
“—bukan berasal dari dalam cerita,” aku menyelesaikan. Mulutku kering. “Ada pemain ketiga. Bukan aku, bukan Naskah. Sesuatu yang dulu seperti aku... dan berhenti.”
Dan tepat saat itu, dari puncak tangga spiral, terdengar pintu besi berderit dan langkah patroli — jadwal yang seharusnya masih setengah jam lagi, karena tentu saja, tentu saja dunia memilih malam ini untuk merevisi jadwal penjaganya.
Yang terjadi berikutnya adalah tiga puluh detik kekacauan senyap: Lucrezia memadamkan lentera dengan satu cubitan, menyambar kerahku, dan menarik kami berdua ke satu-satunya titik buta ruangan bundar itu — ceruk arsip di balik rak timur, yang dirancang untuk satu lemari dan kini harus memuat satu lemari dan dua manusia.
Kami berdiri berdesakan dalam gelap total, punggungku di dinding batu, dia menghadapku dengan jarak yang diukur dalam napas, sementara cahaya obor patroli menyapu ruangan di luar rak — sekali, dua kali, berhenti terlalu lama di meja baca yang untungnya sudah dia rapikan dengan refleks kriminal kelas satu.
“Berhenti bernapas keras,” bisiknya, nyaris tanpa suara.
“Kau yang jantungnya kedengaran,” bisikku balik.
Keheningan tersinggung. Lalu, sangat pelan, dengan nada orang yang kalah telak dan memutuskan menyerang balik: “Itu jantungmu, bodoh.”
Kami berdiri di sana sampai obor pergi dan langkah kaki naik kembali, yang memakan waktu empat menit dan terasa seperti empat musim, dan ketika akhirnya aman dan Lucrezia menyalakan lentera lagi, kami saling memandang — kusut, berdebu, masih terlalu dekat — dan dia mengeluarkan tawa pendeknya yang tanpa silet, yang belakangan makin sering keluar.
“Catat di bukumu, anomali,” katanya, merapikan rambutnya dengan martabat yang dipaksakan. “Malam ini kita menemukan musuh yang lebih tua dari kita berdua, konspirasi berumur tiga ratus tahun, dan fakta bahwa jantungmu berisik. Produktif.”
Ting.
[ Lucrezia Morgana: 57% ↑ ] [ Note: “Itu jantungmu, bodoh.” ]
Kami menyalin catatan rektor kesembilan sampai fajar hampir menyusul, dan pulang lewat jalan memutar dengan satu pengetahuan baru yang mengubah bentuk segalanya:
Aku tidak sedang berperang melawan satu hal. Aku terjepit di antara dua — Naskah yang ingin menghapusku dengan rapi, dan sesuatu di luar halaman yang sedang menunggu, sudah tiga abad, untuk membuktikan bahwa penghapusan bisa gagal.
Dan entah kenapa, dari keduanya, yang membuat tidurku tidak nyenyak adalah yang kedua — karena Naskah ingin aku hilang, dan itu bisa kupahami.
Tapi [ERROR] ingin aku bergabung.