← [Extra]

Chapter Twenty Five

Duel yang Ditulis

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 6 — Ciel, Cassian, Seraphina, Isolde, Lucrezia, para penonton


Tantangan itu diumumkan di papan besar aula utama, pagi hari, dengan segel resmi akademi:

DUEL KEHORMATAN Cassian Valeheart (Kelas S) menantang murid kelas F atas nama tak tercantum. Arena utama. Sabtu. Terbuka untuk umum.

“Atas nama tak tercantum”. Bahkan papan pengumuman tidak bisa lagi menulis namaku. Naskah pasti menganggap itu sentuhan artistik.

“Kau tidak akan datang,” kata Lucrezia. Kami bertiga — dia, Sera, Isolde — mengepungku di perpustakaan barat sore itu seperti dewan perang, dan suasananya memang perang. “Duel kehormatan bisa ditolak. Aturannya jelas.”

“Ditolak oleh murid yang tercatat,” kataku pelan. “Aku sudah membaca aturannya juga. Penolakan harus diajukan lewat sistem administrasi. Coba tebak siapa yang tidak bisa mengakses sistem administrasi.”

Keheningan yang mengikutinya penuh dengan tiga orang yang berpikir keras dan menemukan tembok yang sama. Jebakan itu bersih. Aku tidak bisa menolak. Tidak datang berarti “pengecut kelas F” — dan Naskah akan mendapat versi lain dari hal yang sama: pembuktian publik bahwa aku bukan siapa-siapa, tontonan yang membuat penghapusanku diterima oleh dunia. Karena itulah tujuan sebenarnya duel ini; aku sudah paham sejak membaca papan. Naskah tidak butuh membunuhku di arena. Naskah butuh semua orang melihat aku kalah sebagai figuran, supaya saat aku hilang, tidak ada yang merasa kehilangan apa-apa.

“Kalau begitu aku yang maju,” kata Isolde. “Duel kehormatan mengizinkan wakil—”

“Untuk bangsawan. Aku bukan.”

“Maka aku yang meracuni Cassian,” kata Lucrezia, dengan nada yang membuatku tidak seratus persen yakin dia bercanda.

“Lu.”

“Setengah dosis. Diare saja. Tiga hari.”

Lu.

Sera, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara — dan suaranya tenang dengan cara yang membuat dua lainnya menoleh. “Ciel. Lihat aku.” Aku menatapnya. “Kau sudah memutuskan datang. Aku bisa melihatnya dari tadi. Jadi jangan buang waktu kami dengan berdebat apakah — katakan saja bagaimana, supaya kami bisa membantu.”

Aku menatap tiga wajah itu — dan berpikir, tidak untuk pertama kalinya, bahwa Naskah membuat kesalahan besar sekali waktu memberi ketiganya alasan untuk duduk satu meja.

“Aku tidak berencana menang,” kataku. “Menang melawan level 33 itu fantasi. Tapi aku juga tidak berencana kalah dengan cara yang mereka tulis. Naskah ingin pertunjukan ‘pahlawan menghancurkan figuran’. Jadi rencanaku sederhana: bertahan. Selama mungkin. Semakin lama figuran berdiri, semakin cerita mereka tidak berjalan — dan aku hanya butuh satu hal dari kalian bertiga.” Aku menarik napas. “Duduklah di tribun. Itu saja. Apa pun yang terjadi di arena, aku ingin mengangkat kepala dan menemukan kalian.”


Sabtu. Arena penuh — lebih penuh dari Duel Penempatan, karena tidak ada tontonan yang lebih laku daripada eksekusi yang dibungkus kehormatan.

Cassian menungguku di tengah pasir, dan dari dekat, aku bisa melihat apa yang tidak terlihat tribun: matanya. Mata itu tidak menyala kebencian. Mata itu meminta maaf — dan di atasnya, hanya untukku, sistem menampilkan apa yang sedang menungganginya:

[ Quest active: “Correct the Record” ] [ Guidance: engaged — combat support 84% ]

Delapan puluh empat persen. Yang akan bertarung melawanku bukan Cassian. Cassian hanya pedangnya.

“Maaf,” katanya pelan, di detik sebelum aba-aba, terlalu pelan untuk penonton. “Aku mencoba menolak. Mereka menyandera semua orang.”

“Aku tahu,” jawabku, sama pelan. “Buat ini terlihat bagus, pahlawan. Dan kalau ada celah — sekecil apa pun — antara kau dan suara itu... aku akan mencarinya.”

Gong berbunyi.

Menit-menit pertama adalah pelajaran tentang jurang. Cassian — Guidance — bergerak dengan kecepatan yang membuat mataku hanya menangkap akibat: ledakan pasir, tekanan udara, cahaya emas. Aku bertahan dengan tiga hal: sarung tangan kebesaran di kedua tangan, sapu tangan di pergelangan, dan seratus malam jatuh-dengan-benar di lapangan tua. Baca bahunya. Jatuh searah tebasan. Lari itu teknik. Isolde ada di setiap gerakanku, dan tribun — yang datang menonton eksekusi tiga puluh detik — mulai berubah suaranya di menit kelima, ketika figuran itu masih berdiri.

Tapi Naskah, seperti biasa, curang.

Di menit kesembilan, pasir arena bergeser sendiri di bawah kakiku — sepetak kecil, tidak terlihat siapa pun, tepat saat aku mendarat. Di menit kesebelas, cahaya matahari menembus celah atap arena persis ke mataku pada detik yang salah. Dunia sendiri ikut bertarung, dengan kecurangan-kecurangan kecil yang tak terbuktikan, dan setiap kali, serangan Cassian datang tepat di sana — karena Guidance membaca naskah arena satu paragraf lebih dulu.

Menit ketiga belas, sebuah tebasan yang tidak mungkin kulihat merobek pertahananku dan melempar tubuhku melintasi arena.

Aku mendarat, berguling — dengan benar — dan ketika debu turun, aku berlutut di pasir dengan lengan kiri yang tidak mau diajak bicara dan penglihatan yang berkedip merah. Tribun bergemuruh. Di atas kepala Cassian, quest window berpendar puas: [ Objective: nearly complete ]. Dia melangkah mendekat, pedang emas terangkat untuk pukulan penutup yang akan “meluruskan cerita” — dan matanya, matanya yang terjebak di balik 84%, menjerit maaf.

Dan saat itulah naskah kehilangan kendali atas arenanya sendiri.

Karena tiga orang berdiri dari tribun.

Bukan berteriak. Berdiri saja — tapi tiga orang itu, di arena ini, adalah gempa. Seraphina Elowen menuruni undakan tribun kehormatan dengan langkah podium yang dilatih seumur hidup, melewati pagar pembatas seperti melewati garis yang tidak pernah berarti, dan berdiri di pasir arena, di antara aku dan pedang emas itu. Isolde Vayne mendarat di sisinya sedetik kemudian — dia melompati pagar, tentu saja. Dan Lucrezia Morgana masuk lewat gerbang peserta sambil melambai riang pada panitia yang terlalu bingung untuk menghentikannya.

Arena senyap total.

“Duel kehormatan,” suara Sera mengisi arena tanpa perlu berteriak — suara yang dilatih untuk pidato benua, dipakai sekarang untuk perang, “mensyaratkan kehormatan. Aku, Seraphina Elowen, menyatakan di depan semua saksi: pasir arena ini bergerak tidak wajar tiga kali. Aku menghitungnya. Ada pihak yang bertarung di duel ini selain kedua peserta — dan aku menolak menyebut itu kehormatan.”

“Aku bersaksi hal yang sama,” kata Isolde, dan pedang keluarga Vayne keluar dari sarungnya dengan dering yang didengar sampai baris terakhir. “Dan aku menyatakan diri sebagai pengawal murid ini. Siapa pun yang ingin melanjutkan duel, lanjutkan melewatiku.”

“Sedangkan aku,” kata Lucrezia manis, “cuma ingin semua orang tahu bahwa aku sudah mendokumentasikan kejanggalan arena ini secara sihir sejak menit pertama, tersegel dan siap dibuka kapan pun. Silakan lanjutkan pertunjukannya. Aku senang punya penonton sebanyak ini untuk pembuktianku.”

Ribuan orang menatap tiga gadis paling penting angkatan ini berdiri mengelilingi satu murid kelas F yang berlutut di pasir — dan aku mengangkat kepala, seperti rencana, dan menemukan mereka, seperti janji.

Di atas kepala Cassian, quest window berkedip panik: [ Objective: compromised ][ Public opinion: deviating ][ Guidance: recalculating... ] — dan untuk sepersekian detik, delapan puluh empat persen itu goyah, dan yang menurunkan pedangnya bukan Guidance.

Cassian Valeheart menurunkan pedangnya sendiri.

“Duel selesai,” katanya, pada arena, pada tribun, pada langit. “Aku menang. Semua orang melihatnya. Dan semua orang juga melihat—” dia menatapku, dan untuk pertama kali sejak upacara kristal, aku melihat pemuda dari bab satu itu utuh, “—bahwa butuh tiga belas menit, satu class Hero, dan bantuan yang tidak diminta siapa pun, untuk menjatuhkan seorang ‘figuran’. Catat itu baik-baik.”

Dia menyarungkan pedang, berbalik, dan meninggalkan arena melawan arah dorongan hangat di dadanya — perlawanan pertama yang berhasil, sekecil apa pun.

Dan aku berlutut di pasir, dikelilingi tiga penjaga, ditonton ribuan orang yang mulai malam ini akan menyebarkan cerita yang salah menurut naskah — dan mendengar, di sudut penglihatanku, suara yang paling kubenci sekaligus kutunggu:

[ EVENT: “Correct the Record” — FAILED ] [ Public erasure: rejected by audience ] [ Note: Escalation approved. Next correction will not be public. ]