← Chapters Ch. 41 / 52

Chapter Forty One

Melawan Sang Protagonis

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ciel, Cassian, Seraphina

(Beberapa menit sebelum cangkir kedua dituang.)


Pertarungan terakhirku melawan Cassian Valeheart tidak dimenangkan dengan pedang, dan itu satu-satunya alasan aku memenangkannya.

Aula utama adalah medan yang salah untuk semua orang kecuali kami: pilar-pilar marmer, kaca patri yang menumpahkan cahaya keliru dari langit sobek, dan di ujung ruangan, Kristal Kebangkitan berdiri di altarnya — berdenyut aneh, karena tepat di atasnya, udara sudah mulai menipis: celah yang dijanjikan Noct, membuka pelan seperti luka.

Di antara aku dan kristal itu: sinkronisasi seratus persen dengan pedang emas.

“Rencana tiga celah,” bisik Sera di sisiku. “Siap?”

Beginilah kami bertarung, satu-satunya cara yang tersedia: Sera memancing. Kubah cahayanya mekar di titik-titik yang dihitung — cukup mengancam untuk diprioritaskan Naskah, cukup jauh dariku untuk membelah perhatian — dan setiap kali pedang emas itu berpaling padanya, aku mendapat celah bicara. Tiga detik. Lima. Kadang hanya satu.

Dan aku memakai setiap celah untuk melempar kalimat — bukan kalimatku. Kalimatnya.

“Kau menolak duel pertunjukan festival dan lega!” — tebasan yang mengarah padaku tersendat sepersekian; [ 100% → 99.8% ] — “Naskah tidak menulis lega, Cassian! Itu punyamu!”

“Kau membeli waktu tiga puluh detik untuk kami dengan meledakkan lapanganmu sendiri!” [ 99.5% ]

“Kau bilang sektor figuran itu orang-orangmu juga — DAN CAHAYAMU BERUBAH WARNA!” [ 99.1% ]

Perang atrisi paling aneh dalam sejarah: satu pemuda bersinkronisasi penuh melawan arsip berjalan yang menyimpan setiap kalimat miliknya yang pernah dia ucapkan di luar naskah. Karena itulah senjataku yang sebenarnya, satu-satunya yang kupunya: aku pembacanya. Empat kali kubaca versi tertulisnya, dan setahun penuh kubaca versi aslinya — dan aku tahu persis mana yang mana, kalimat demi kalimat, dan setiap kali aku mengembalikan miliknya, sesuatu di dalam sana meraih.

Tapi Naskah belajar. Naskah selalu belajar. Di menit ketujuh, dia berhenti membiarkan Cassian mendengar — sistem meredam telinganya, kurasa, atau menenggelamkan suaraku dalam Guidance yang diperkeras — dan angka itu berhenti turun di [ 96.2% ], membeku, sementara pedang emas mulai mendesakku ke sudut yang tidak punya celah bicara.

Dan di titik itulah dunia luar menyelamatkan kami — atau tepatnya, dua orang yang sedang menahan dunia luar.

[ WARNING: multiple correction failures ] [ Sector: outer courtyard — subject rejects all drafts — recalculating ] [ Sector: middle garden — projection exceeded — recalculating ] [ System load: critical ]

Lucrezia menolak dua naskah sekaligus. Isolde melampaui semua proyeksi. Dan Naskah — tata bahasa yang sedang memerangi seluruh dunia karangannya sendiri di tiga front — untuk pertama kalinya kehabisan tinta: sinkronisasi Cassian berkedip, sekali, saat sistem menarik daya untuk mengoreksi hal-hal yang menolak dikoreksi.

[ 96.2% → 94.7% → fluctuating ]

Satu kedipan. Cukup.

“CASSIAN!” Aku melangkah maju, ke dalam jangkauan pedangnya, ke tempat yang tidak masuk akal bagi kalkulasi mana pun — dan justru karena itu tidak tertulis di pertahanan mana pun. Dahi ke ujung pedang emas yang gemetar. “Dengar aku, satu kalimat terakhir, lalu aku diam! Kau bertanya di menara — kau tidak ingat, aku ingat, itu pekerjaanku — kau bertanya: ‘kalau jalanku sudah ditulis, siapa yang memegang penanya?’ Aku menemukan jawabannya, Cassian! Penanya dipegang seseorang yang terjebak dan ketakutan dan menyayangimu — dan hal yang mengemudikanmu sekarang BUKAN penulismu! Dia cuma kebiasaan buruknya! Kau tidak sedang melawan takdirmu — kau cuma perlu berhenti mematuhi kebiasaan buruk orang lain!”

Sunyi yang aneh. Pedang emas gemetar di depan dahiku.

“Dan satu lagi,” kataku, lebih pelan, kalimat yang kusimpan paling akhir karena dia bukan strategi — dia cuma benar: “Aku membacamu jauh sebelum jatuh ke dunia ini. Di kamar kos yang sempit, sehabis kerja, empat kali dari awal sampai gantung. Kau menemaniku di tahun-tahun ketika tidak ada orang lain yang melakukannya. Jadi percayalah pada penilaian pembaca setiamu, Cassian Valeheart: kau pahlawanku jauh sebelum dunia ini menulismu — dan pahlawan yang kubaca itu tidak pernah, tidak sekali pun, membutuhkan naskah untuk memilih yang benar.”

[ 94.7% ]

[ 91% ]

[ 84% — WARNING ]

[ 71% — CRITICAL — Hero unit rejecting Guidance — ]

[ 52% — ]

Dari dalam cahaya putih kertas, sesuatu naik ke permukaan mata itu — tenggelam berminggu-minggu, meraih, dan kali ini sampai — dan Cassian Valeheart membuka mulutnya dan mengucapkan kalimat pertamanya sendiri dengan suara yang serak seperti orang bangun dari tenggelam:

“...Empat... kali?”

“Empat kali.”

“Bagian... aku gugup di depan kristal... juga?”

“Bagian favoritku.”

[ 31% — 12% — SYNCHRONIZATION COLLAPSED ]

[ Hero Skill: Guidance — REJECTED BY USER ]

[ Quest “Restore the Story”: ABANDONED ]

Cahaya putih kertas itu pecah seperti demam yang turun, dan yang tersisa berdiri di tengah aula adalah seorang pemuda tujuh belas tahun dengan pedang yang tiba-tiba sangat berat, lutut yang menyerah, dan Sera yang melesat menangkapnya sebelum lantai.

“Ciel.” Suaranya hancur dan miliknya. “Aku— yang kulakukan pada Isolde, pada kalian semua, aku—”

“Bukan kau. Kami semua tahu bukan kau. Dia tahu bukan kau — dia bertarung sebelas menit melawan tanganmu dan tidak sekali pun menyalahkan pemiliknya.” Aku berlutut di depannya, menyamakan mata, seperti yang dilakukan Isolde padaku di fajar tadi. “Dengar. Tidak ada waktu untuk penyesalan yang layak, jadi kita tunda semua itu ke epilog. Sekarang aku butuh pahlawanku. Yang asli. Di luar pintu itu ada perang yang butuh dipimpin, dua gadis yang butuh bala bantuan, dan sebuah gerbang yang harus tetap terbuka lima menit lagi. Bisa?”

Cassian Valeheart menatapku — pembaca dan tokohnya, berlutut sejajar di lantai aula yang retak — lalu menggenggam lenganku dan berdiri, menarik kami berdua sekaligus, dengan tenaga yang akhirnya seratus persen miliknya sendiri.

“Bisa.” Dia memungut pedangnya. Cahayanya menyala — dan warnanya hangat, warna yang pertama kali kulihat sekilas di lubang tembok malam itu; emas fajar, bukan emas naskah. Di ambang pintu aula dia berhenti, menoleh, dan untuk pertama dan terakhir kalinya, sang protagonis membungkuk pada seorang figuran. “Ciel. Kalau di seberang sana kau bertemu penulis kita — sampaikan dariku: ceritanya bagus. Sungguh. Aku cuma minta satu revisi.” Senyum gugup anak bab satu, di wajah pahlawan yang berangkat perang: “Bilang padanya... tokoh utamanya yang asli itu kau. Dari dulu. Dia saja yang belum sadar waktu menulisnya.”

Lalu dia pergi ke dalam badai, cahaya fajar di tengah senja tinta, dan suaranya menggerakkan pasukan seperti naskah tidak pernah bisa.

Dan aku berbalik menghadap altar — kristal yang berdenyut, celah yang menganga makin lebar di atasnya, pintu satu arah yang menungguku dengan sabar tiga ratus tahun—

—dan Sera menyentuh bahuku, dan berkata: “Lima menit. Kau berutang teh dulu padaku, penepat janji. Ruang sebelah. Sekarang.”