Chapter Forty Eight
Jumpa Penggemar
POV: Ren (orang pertama) Karakter: 3+ — Ren, Elena, panitia & pengunjung
Sesi tanda tangan adalah penyiksaan yang diciptakan khusus untuk orang sepertiku.
Lima ratus nomor antrean, dipanggil dua puluh-dua puluh. Aku menonton dari kursi tunggu selama dua jam: pembaca demi pembaca maju ke meja bertaplak putih, menyodorkan cetakan jilid sendiri, mendapat tanda tangan dan dua-tiga kalimat, difoto, pergi dengan wajah berseri. Elena melayani semuanya dengan hangat — dan aku, yang sudah setahun berlatih membaca orang yang kusayangi, bisa melihat apa yang tidak dilihat antrean: caranya mengangkat wajah setiap kali nomor baru dipanggil, sepersekian detik lebih cepat dari perlu. Caranya tatapan itu memindai wajah berikutnya — berharap — lalu turun kembali ke buku dengan senyum profesional yang menutup sesuatu.
Lima ratus kali berharap dalam sehari. Tiga tahun kali entah berapa.
“Nomor 201 sampai 220, silakan merapat.”
Kakiku berdiri sebelum kepalaku selesai panik. Barisan kami bergerak maju; meja itu mendekat dengan kecepatan mimpi; dan aku menemukan diriku menghitung mundur dalam satuan manusia — tiga belas orang, sembilan, lima — sambil meremas buku catatan baruku dan menyadari, dengan horor komedi yang sangat khas hidupku, bahwa dari semua hal yang kusiapkan tiga minggu ini, aku tidak menyiapkan kalimat pertama.
Dua orang. Satu.
“Silakan.”
Aku melangkah ke depan meja.
Dari dekat, tiga tahun terlihat: garis lelah halus di bawah matanya, bekas tinta permanen di sisi jari tengahnya, dan di lehernya — kalung sederhana dengan liontin kecil berbentuk... cangkir. Dia belum mendongak; sedang menyelesaikan tutup pena dari pembaca sebelumnya; dan tangannya terulur otomatis untuk menerima buku yang akan ditandatangani.
“Atas nama siapa?” tanyanya, ramah, lelah, kali kedua ratus empat belas hari ini.
Dan aku meletakkan buku catatanku di tangannya — terbuka di halaman pertama — dan mengucapkan kalimat yang akhirnya datang sendiri, seperti semua kalimat terpenting dalam hidupku:
“Atas nama peminum tetap teh ilegal. Racikan keenam katanya daun mint musim semi, sedikit jahe — dan aku datang menagih, karena aku selalu datang pada janji kecil. Maaf... yang ini janjinya kebesaran. Butuh tiga tahun sampai muat.”
Sunyi.
Tangan yang memegang buku catatanku berhenti total. Aku menonton matanya — masih tertunduk ke halaman itu, ke tulisan tanganku, ke kata Ren dan kata Ciel bersebelahan — dan menonton bahunya mulai gemetar, dan menonton satu tetes jatuh ke kertas, tepat di samping namaku, dan tidak menghapus apa-apa.
Lalu Elena mendongak.
Dan menemukanku.
Tidak ada sistem yang mencatat momen itu. Tidak ada meter, tidak ada jendela, tidak ada ting — hanya sepasang mata cokelat gelap yang memuat tiga warna sekaligus, membesar, memenuhi diri, mengenali — bukan wajahku; dia tidak pernah melihat wajah Ren — mengenali sesuatu yang lebih dalam dari wajah, dengan cara yang sama tubuhku mengenalinya di panggung tadi: jiwa yang sudah setahun saling membaca tidak butuh perkenalan.
Dia berdiri. Kursinya berderit mundur. Panitia di sisi meja bergerak bingung; antrean di belakangku berbisik-bisik; dan Elena — S.I.L., penulis yang tiga tahun menyalakan mercusuar enam puluh tujuh bab — mengangkat tangan kanannya perlahan, membuka telapaknya, dan menunjukkannya padaku.
Di cekungan telapak itu, dalam tinta yang masih segar — diperbarui pagi ini, seperti setiap pagi, ritual yang dibawa pulang dari balik sampul oleh pecahan jiwanya yang paling setia — tertulis empat huruf:
CIEL.
Dengan huruf C yang tegak lurus sempurna.
“Aku menulisnya setiap malam,” katanya. Suaranya pecah dan tidak dipedulikannya; separuh aula sudah menoleh dan tidak dipedulikannya. “Tiga tahun. Awalnya kupikir kebiasaan aneh yang kubawa dari... sana. Lalu kusadari itu doa. Satu-satunya doa yang kutahu caranya.” Dia tertawa — basah, patah, dan di dalamnya kudengar tiga tawa sekaligus: tawa atap, tawa peti bekas, tawa festival — dan mengambil satu langkah memutari meja, mengabaikan protokol, panitia, dunia. “Dan C-nya. Kau lihat? Tidak miring. Ada yang pernah cerewet sekali soal itu.”
“Dia terdengar seperti orang yang menyebalkan.”
“Dia orang paling menyebalkan yang pernah kutulis.” Satu langkah lagi. Kami sejangkauan lengan sekarang, di depan lima ratus saksi yang tidak mengerti sedang menonton bab terakhir ditulis secara langsung. “Datang ke ceritaku tanpa izin. Mengacaukan semua plotku. Menyembuhkan gadis-gadisku yang bertahun-tahun tidak bisa kusembuhkan sendiri. Membebaskan pahlawanku. Memeluk mimpi burukku sampai jinak. Lalu pergi lewat pintu belakang, seperti figuran, tepat ketika aku ingin memberinya seluruh panggung.” Tangannya naik — tangan bertinta, tangan penulis, tangan yang jarinya diputar-putar tiga gadis di dunia lain — dan berhenti di udara di depan dadaku, gemetar, seperti takut aku akan menembus seperti di ruang putih. “Katakan kau nyata. Katakan kali ini kau bisa disentuh. Katakan aku tidak sedang menulis adegan ini di kepalaku untuk kali keseribu—”
Aku mengambil tangannya dan meletakkannya di dadaku, di atas jantung yang memukul-mukul, telapak bertinta menempel di kemeja — empat huruf namaku yang lama, menekan detak namaku yang sekarang.
“Nyata,” kataku. “Terlambat tiga tahun. Tapi nyata.”
Dan Elena tersenyum — senyum yang akhirnya utuh, gradasi kedelapan dan sudut kikuk dan silet-tanpa-silet menyatu jadi miliknya sendiri — menarik napas, dan mengucapkan kalimat yang sudah tiga tahun dia simpan, yang kelak akan menjadi kalimat penutup bab 188, dibaca jutaan orang yang tidak akan pernah tahu bahwa dia diucapkan lebih dulu di sebuah gedung serbaguna yang bocor hujan:
“Kau terlambat tiga tahun, figuranku.”
“...Maaf. Antreannya panjang.”
Dia tertawa, dan menangis, dan memukul dadaku sekali dengan tangan yang bertinta, dan kemudian — di depan lima ratus pembaca yang mulai berdiri, mengangkat ponsel, berteriak teori, menyaksikan misteri tiga tahun terjawab tanpa memahaminya — Elena melakukan hal yang lebih berani dari semua yang pernah kutonton dari tiga pecahannya digabungkan:
Dia memeluk pembacanya. Erat. Di depan semua orang. Wangi tinta dan hujan.
“Sesi tanda tangan,” bisiknya di bahuku, “resmi selesai. Aku ada janji minum teh yang tertunda tiga tahun, dan penulis yang baik tidak membuat tokoh utamanya menunggu.”
“Kukira aku figuran.”
Dia melepas pelukan sejauh dahi ke dahi, dan matanya — tiga warna, satu orang, pulang — menatapku dari jarak paling dekat di dua dunia:
“Di Starblade Academy, iya.” Senyum itu. “Tunggu sampai kau baca karyaku berikutnya.”