Chapter Fifteen
Boss yang Tidak Ada di Naskah
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 6 — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian, para murid korban
Ujian Praktik Musim Dingin seharusnya membosankan.
Naskah bab dua puluh enam menuliskannya dalam dua paragraf: seluruh angkatan pertama dibawa ke Hutan Batas di kaki gunung utara untuk ujian berburu — target: monster kelas rendah, es-serigala dan sejenisnya. Cassian mencetak rekor, para heroine bersinar, semua pulang sebelum gelap. Dua paragraf. Bahkan penulisnya menganggap bab ini formalitas.
Jadi ketika kami berbaris memasuki hutan pagi itu — empat ratus murid dibagi regu-regu kecil, kelas F seperti biasa ditempatkan di zona terluar yang paling aman — aku hanya waspada dengan level standar. Level “dunia belakangan tidak bisa dipercaya”, bukan level “hari ini orang akan mati”.
Kesalahan.
Segel event di atas hutan menyala saat regu terakhir masuk:
[ EVENT: Winter Field Exam — Chapter 26 ] [ Status: On Script ] [ Status: REWRITING... ]
Rewriting. Aku belum pernah melihat status itu. Aku berhenti di tengah jalur, dan tepat ketika Milo menoleh untuk bertanya kenapa, seluruh hutan bernapas.
Suhu jatuh sepuluh derajat dalam satu detik. Kabut putih menggulung dari tanah seperti pasang naik. Dan dari jantung hutan, jauh di zona dalam tempat regu-regu kelas atas berburu, terdengar suara yang membuat empat ratus murid membeku serempak — lolongan yang terlalu besar, terlalu dalam, seperti serigala yang dilolongkan oleh gunung itu sendiri.
[ Anomaly: Field Boss “Winter Sovereign” — SPAWNED ] [ Origin: Not found in registry ] [ Threat Level: A ]
Not found in registry. Bahkan sistem tidak mengenalnya. Makhluk itu bukan dari dungeon, bukan dari naskah, bukan dari dunia ini — dia ditulis barusan, dijahitkan ke bab ini oleh sesuatu yang sedang menulis ulang halaman di sekitarku.
Dan aku mengerti, dengan kejernihan dingin yang datang bersama semua bencana: ini bukan event yang menyimpang.
Ini jebakan. Untukku. Dan empat ratus anak dijadikan kertasnya.
“MILO!” Aku menyambar kerahnya. “Regu kita, semua regu kelas F — tarik ke jurang kering di tenggara, yang kita lewati tadi. Dinding batunya tinggi, mulutnya sempit, angin tidak masuk. Paham? Kau yang pimpin.”
“Aku?! Kau mau ke mana—”
“Zona dalam.”
“Zona dalam ARAHNYA KE LOLONGAN ITU—”
“Karena itu aku yang pergi.” Aku sudah berlari. “Percaya padaku. Seperti di dungeon!”
“KAU HAMPIR MATI DI DUNGEON!”
Poin yang bagus, yang tidak sempat kubantah.
Aku berlari menembus kabut, melawan arus murid-murid yang lari menyelamatkan diri, mengikuti satu-satunya penunjuk yang kupunya: death flag. Mereka mulai bermunculan di kabut seperti obor hitam — satu, tiga, tujuh — mengambang di atas kepala anak-anak yang terpisah dari regunya, dan aku memadamkannya satu per satu dengan cara paling bodoh yang tersedia: berteriak arah, menarik tangan, mendorong mereka ke jalur keluar yang kuhafal dari peta dua paragraf yang tidak pernah dianggap penting siapa pun kecuali aku.
[ DEATH FLAG: Dismissed ]. [ Dismissed ]. [ Dismissed ].
Di tengah zona dalam, aku menemukan pusat badainya.
Winter Sovereign berdiri setinggi menara lonceng — serigala yang tubuhnya tersusun dari es hitam dan kabut, dengan mata seperti dua bulan mati. Di hadapannya, garis pertahanan terakhir: Cassian dengan pedang emasnya yang untuk pertama kalinya terlihat kecil; Isolde di sisi kirinya, jubah robek, darah di pelipis; Lucrezia di belakang dengan tujuh lingkaran kutukan menyala sekaligus — aku tidak tahu dia bisa tujuh; dan Sera, di tengah, menopang kubah Sanctuary yang melindungi dua lusin murid terluka, dengan kedua lengan gemetar dan cahaya yang menipis setiap kali cakar es menghantam.
Mereka bertahan. Empat orang terkuat angkatan ini, bertahan — dan kalah pelan-pelan. Karena makhluk itu tidak bertarung seperti monster. Dia bertarung seperti editor: setiap celah dieksploitasi, setiap serangan datang tepat ketika formasi mereka terbuka, seolah dia membaca gerakan mereka satu paragraf lebih dulu.
Tentu saja dia membaca lebih dulu. Dia bagian dari naskah. Mereka juga.
Tapi aku bukan.
“LUCREZIA!” teriakku dari tepi zona, dan tujuh lingkaran kutukan itu goyah sedetik saat dia menoleh. “Kaki kiri belakang! Es-nya disusun ulang setiap sembilan detik — saat menyusun, dia BUTA SATU DETIK! Hitung dari hantaman cakar!”
Aku tidak bisa melihat kelemahan monster. Tapi aku bisa melihat polanya — karena selama dua puluh menit berlari ke sini, aku menonton makhluk itu lewat setiap death flag yang dia nyalakan, dan makhluk yang ditulis tergesa-gesa oleh penulis yang marah selalu punya pola yang malas.
Satu detik cukup untuk orang-orang selevel mereka.
Lucrezia berteriak hitungan. Isolde masuk di detik buta pertama — pedang keluarga Vayne mengoyak sendi es. Cassian di detik buta kedua, emas membelah hitam. Sera memindahkan kubahnya maju, gila dan berani, memaksa makhluk itu memilih target dan kehilangan ritme. Dan di detik buta ketiga, tujuh kutukan Lucrezia menghantam titik yang sama sekaligus.
Winter Sovereign runtuh seperti musim yang berakhir: pecah, hening, lalu hilang menjadi kabut yang menguap — tidak meninggalkan bangkai, tidak meninggalkan inti, tidak meninggalkan bukti bahwa dia pernah ada.
[ Anomaly: Deleted from record ]
Deleted from record. Bahkan monsternya sendiri dihapus setelah gagal. Betapa rapinya.
Kabut menipis. Matahari musim dingin kembali. Dan di tengah lapangan es yang hancur, empat orang terkuat angkatan ini berdiri terengah — lalu, satu per satu, menoleh ke arah tepi zona.
Ke arahku.
Empat pasang mata. Sera, dengan lengan masih berpendar sisa kubah. Isolde, menyarungkan pedang tanpa melepas tatapannya. Lucrezia, yang sudut bibirnya berkata aku-tahu-kau-akan-datang. Dan Cassian — Cassian yang menatapku dengan kening berkerut dalam, seperti orang yang berusaha keras membaca tulisan yang terus mengabur, sementara sesuatu yang hangat dan dingin sekaligus bertarung di dadanya.
“Kau,” kata Cassian pelan, melintasi lapangan es. “Yang di dungeon. Yang selalu— ” dia berhenti, tangannya naik setengah jalan ke pelipisnya, dan aku melihatnya terjadi secara langsung: fokus di matanya meluncur, seperti air di kaca. “...Maaf. Aku... apa yang mau kukatakan tadi?”
“Kau mau bilang terima kasih sudah meneriakkan polanya,” kata Lucrezia halus, sambil lewat di sampingnya, “dan sekarang kau lupa. Jangan dipikirkan, pahlawan. Hari yang panjang.”
Dia menyelamatkanku dengan satu kalimat, seperti biasa. Tapi saat dia melewatiku, suaranya turun jadi bisikan sedingin hutan itu:
“Dia melihatmu, lalu berhenti bisa melihatmu, dalam tiga detik. Aku menontonnya. Perpustakaan, malam ini. Kita perlu bicara tentang seberapa cepat ini memburuk.”
Di atas hutan, segel event menyala untuk terakhir kalinya sebelum padam:
[ EVENT: Winter Field Exam — Complete ] [ Casualties: 0 ] [ Note: Outcome inconsistent with revision. Escalating. ]
Escalating.
Nol korban. Aku menyelamatkan semuanya, dan hadiahnya satu kata di layar yang hanya bisa kubaca sendiri, di tengah lapangan es, dikelilingi orang-orang yang sebagian sudah mulai kesulitan mengingat wajahku.