Chapter Fourteen
Typo
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ciel, Milo, Rektor Aldric
Sejak festival, aku menguji namaku sendiri setiap pagi.
“Open status window.”
[ Name: Ciel ]
Setiap pagi dia di sana. Utuh. Tenang. Empat huruf yang berpura-pura tidak pernah bergetar. Dan setiap pagi aku menatapnya sedikit lebih lama dari kemarin, seperti orang memeriksa retakan di langit-langit yang mereka bilang cuma bayangan.
Aku tahu apa yang kulihat malam itu. [ Name: [ ] ]. Kurung siku kosong. Sistem tidak salah ketik — sistem tidak pernah salah ketik. Yang kulihat malam itu adalah koreksi yang sedang dicoba.
Maka seminggu terakhir kuhabiskan melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan figuran dengan STR 4 melawan dunia yang mulai menghapusnya: riset.
“Kau tahu kau sudah meminjam buku yang sama tiga kali?” Milo menatap tumpukan di mejaku — Prinsip Pencatatan Jiwa, Sejarah Sistem Benua, Anomali Registrasi: Studi Kasus. “Dan kau tahu semua buku ini membosankan sampai bisa dipakai hukuman?”
“Aku sedang tertarik administrasi.”
“Kau sedang aneh. Lebih aneh dari biasanya. Sejak festival.” Dia duduk di seberangku, dan untuk sekali, wajah santainya serius. “Ciel. Kita teman, kan? Kalau kau kena masalah — masalah sungguhan — kau akan bilang?”
Aku menatap teman pertamaku di dunia ini. Tujuh belas kata di naskah asli, dan di sini: orang yang melempariku roti setiap pagi, yang menolak menutup pintu besi, yang sekarang duduk condong ke depan dengan kening berkerut karena mencemaskanku.
“Akan kubilang,” aku berbohong, “kalau ada.”
Karena apa yang bisa kukatakan? Milo, aku bukan bagian dunia ini, dan dunia baru saja menyadarinya? Ada masalah yang menjadi lebih ringan saat dibagi. Ada masalah yang hanya menyebar.
Buku-buku itu, ternyata, tidak sepenuhnya sia-sia. Anomali Registrasi mencatat tiga kasus dalam sejarah benua: orang-orang yang “catatannya rusak” — sihir gagal menargetkan mereka, kenalan mulai lupa, dan dokumen tentang mereka lapuk lebih cepat dari kertas di sekelilingnya. Ketiganya berakhir dengan kalimat yang sama, ditulis sejarawan dengan nada bingung:
“Setelah itu, tidak ada catatan lagi. Seolah dia tidak pernah ada.”
Aku menutup buku itu pelan-pelan, dan duduk diam cukup lama.
Rektor Aldric menemukanku di taman belakang perpustakaan — atau aku yang membiarkan diriku ditemukan; sulit dibedakan dengan orang tua itu.
Di naskah, Rektor Aldric adalah kakek bijak standar: pemberi nasihat, pembuka gerbang arc, pemilik janggut. Tapi versi hidupnya punya sesuatu yang tidak tertulis — cara menatapnya yang kadang berhenti terlalu lama di tempat-tempat kosong, seperti pembaca yang menyadari halaman bukunya ada yang hilang.
“Murid kelas F yang gemar administrasi,” katanya, duduk di bangku sebelahku tanpa diundang, memandangi kolam beku. “Buku-buku pinjamanmu menarik. Pencatatan jiwa. Anomali registrasi.” Dia melirikku dari sudut mata. “Pertanyaan akademis, tentu.”
“Tentu, Rektor.”
“Hmm.” Dia mengangguk pada kolam. “Kalau begitu, jawaban akademis. Dunia ini, Nak, seperti buku besar. Semua yang ada, tercatat. Semua yang tercatat, dijaga oleh... sebut saja penjaganya buku itu. Dan penjaga buku yang baik—” dia mengetuk-ngetuk tongkatnya pelan di tanah bersalju, “—tidak suka coretan yang bukan tulisannya. Sebagus apa pun coretannya. Terutama kalau coretannya bagus. Karena coretan yang bagus mengubah cerita, dan penjaga buku tidak melayani cerita yang bagus. Dia melayani cerita yang sesuai.”
Jantungku berdebar pelan dan berat. “Dan... apa yang terjadi pada coretan seperti itu, secara akademis?”
Rektor Aldric diam lama. Ketika dia menjawab, suaranya tua sekali.
“Penghapus, Nak. Setiap buku besar punya penghapus.” Dia berdiri, membersihkan salju dari jubahnya, dan menepuk pundakku sekali — dan tepukannya meleset setengah jengkal, mendarat di udara, seolah tangannya sendiri tidak yakin di mana pundakku berada. Kami berdua pura-pura tidak menyadarinya. “Buku-bukunya dikembalikan sebelum akhir bulan. Dan, Ciel—”
Dia sudah berjalan pergi, membelakangiku, ketika mengucapkan sisanya:
“—coretan yang bagus, kalau ingin bertahan... jangan bertahan di halamannya. Bertahanlah di pembacanya. Halaman bisa dihapus. Yang sudah dibaca, tidak bisa.”
Aku menatap punggungnya sampai hilang di ujung taman, dan tidak tahu — belum tahu — bahwa kalimat itu akan menjadi satu-satunya peta yang kupunya untuk semua yang akan datang.
Malam itu aku duduk di atap, sendirian, dengan status window terbuka di depanku, berpendar biru dalam gelap.
“Jadi begitu,” kataku padanya. “Kau dengar kata Rektor. Ada penghapus. Dan sepertinya aku coretan.”
[ Name: Ciel ]
“Jangan pura-pura polos. Kau berkedip duluan waktu festival. Kau tahu sesuatu.” Aku menyandarkan punggung ke genteng dingin. “Ayolah. Kita sudah lama bersama. Kau satu-satunya yang menyambutku hari pertama — oke, sambutanmu ‘karakter ini tidak memiliki peran’, tapi niatnya kuhargai. Kau mencatat semua rotiku, semua jatuhku, semua meter yang menghancurkan ketenangan hidupku. Kau sekretaris terburuk dan paling setia yang pernah kupunya.”
[ Name: Ciel ]
Jendela itu berpendar tenang. Tidak menjawab. Tidak pernah menjawab.
“Kalau nanti,” kataku, lebih pelan, pada langit sebanyak pada jendela itu, “orang-orang mulai lupa — seperti tiga kasus di buku itu — teman-temanku, maksudku. Kalau Milo lupa. Kalau mereka semua lupa...” Aku berhenti, karena kalimat itu punya ujung yang belum berani kudatangi, jadi kuganti dengan tawa pendek dan lelucon, senjata terakhir para figuran: “...yah. Setidaknya kau tidak akan melupakanku ya, Sistem. Kau kan tidak bisa. Aku satu-satunya kolommu.”
Angin malam lewat. Jendela biru itu berpendar, berpendar, dan untuk sesaat — sangat singkat, mungkin cuma udara dingin di mataku — cahayanya seperti meredup sedikit, dengan cara yang pada manusia akan disebut tidak sanggup menjawab.
[ Name: Ciel ]
Empat huruf. Utuh. Tenang.
Dijaga.