Chapter Fifty One
SIDE STORY: “Milo Bermimpi”
POV: Milo (orang ketiga terbatas) — dunia novel, satu tahun setelah perang Karakter: 5 — Milo, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian, Rektor Aldric (sekilas)
Di dunia di balik sampul, musim semi datang lagi ke Astra Academy, dan Milo bermimpi tentang seseorang.
Mimpinya selalu sama dan selalu tidak bisa dia ceritakan: sebuah kamar asrama dengan dua ranjang, roti yang dilempar melintasi meja, dan suara tawa yang wajah pemiliknya tidak pernah mau terbentuk — seperti kata yang menggantung di ujung lidah, seperti nama yang kau tahu kau tahu. Dia terbangun dari mimpi itu dengan perasaan yang tidak punya sumber: rindu. Sebesar rumah.
“Kau lagi?” tanya anak sebelah kamarnya suatu pagi, melihat wajahnya. “Mimpi ‘orang itu’ lagi?”
“Iya.”
“Aku juga. Kemarin. Anak-anak angkatan kita banyak yang begitu, tahu tidak? Ada yang bilang itu arwah Figuran Pelindung.” Anak itu terkekeh. “Ada-ada saja.”
Tapi bukan ada-ada saja, dan diam-diam semua orang tahu. Perang sudah setahun berlalu — dimenangkan, kata sejarah, oleh Pahlawan Cassian dan Tiga Bunga Astra dan strategi Rektor Aldric — dan dunia sudah pulih dan berjalan. Hanya saja dunia yang berjalan itu meninggalkan jejak-jejak kecil yang tidak bisa dijelaskan penghuninya:
Rektor Aldric, tahun ini, memulai kebiasaan baru: memanggil murid-murid tertentu ke menaranya, satu per satu — anak-anak biasa, anak-anak kelas F, anak-anak yang tidak pernah dipanggil siapa pun — dan membacakan pada mereka potongan-potongan dari sebuah buku catatan tua bersandi yang hanya dia yang bisa membaca. “Ini catatan tentangmu,” katanya pada setiap mereka. “Seseorang pernah memperhatikanmu dengan sangat baik. Dia berpesan agar kau tahu.” Murid-murid itu keluar dari menara dengan mata merah dan punggung yang lebih tegak, dan tidak satu pun bisa menjelaskan kenapa.
Kapten Ksatria Cassian Valeheart — pahlawan benua, penolak semua jabatan di ibu kota, memilih tetap mengajar di akademi — punya kebiasaan yang para murid pelajari untuk tidak ditanyakan: setiap tanggal yang sama tiap bulannya, dia membawa sekuntum bunga ke aula pelatihan barat dan meletakkannya di satu kursi kosong di barisan paling belakang. Berdiri di sana sebentar. Kadang bicara pelan, seperti melapor. Sekali, seorang murid pemberani bertanya kursi itu kursi siapa. Cassian menatap kursi kosong itu lama, tersenyum dengan cara yang membuat semua orang di ruangan itu ingin menangis tanpa tahu kenapa, dan menjawab: “Pembaca pertamaku.”
Guru Pedang Isolde Vayne — yang memutus hubungan dengan marganya dan membangun perguruan sendiri di lapangan tua, khusus untuk murid-murid berbakat rendah — mengajar dengan sepasang sarung tangan kulit cokelat yang tidak pernah lepas dan kurikulum yang termasyhur aneh: pelajaran pertamanya selalu, selalu, cara jatuh. “Jatuh itu boleh,” katanya pada setiap angkatan baru, di kalimat pembuka tahun ajaran, “asal jatuhnya seperti orang yang berniat bangun.” Dan setiap malam sebelum pulang, dia menyalakan dua lentera — meski dia berlatih sendirian — dan tidak ada yang berani bertanya untuk siapa lentera kedua.
Penyihir Agung Lucrezia Morgana — nama marganya kini disebut dengan hormat di seluruh benua, berkat perang, berkat pembuktian sabotase lama yang dia buka dengan dramatis di sidang dewan — menulis buku. Novel, tepatnya, dengan nama pena, dan bukunya digilai seantero benua: kisah seorang murid tanpa peran yang menyelamatkan semua orang dan tidak diingat siapa pun. Para kritikus memuji imajinasinya. Lucrezia menerima pujian itu dengan seringai yang menyimpan sesuatu, dan menulis di halaman persembahan setiap cetakan: “Untuk pembaca-ku. Kubilang juga apa — aku selalu punya draf kedua.”
Dan Seraphina Elowen — [Saint] termuda dalam sejarah, kini kepala penyembuh akademi yang mengajarkan hal revolusioner bernama “merawat dengan tangan” — naik ke atap asrama kelas F setiap Jumat sore.
Milo tahu itu karena asrama itu asramanya, dan sudah setahun dia diam-diam menonton dari kejauhan ritual yang paling tidak bisa dijelaskan di seluruh akademi: putri Adipati duduk di punggungan genteng dengan termos kuningan, menuang dua cangkir teh — selalu dua — meletakkan cangkir kedua di sebelahnya, dan duduk menemani cangkir itu sampai matahari turun. Kadang dia bicara pada udara sore, pelan, bercerita. Kadang dia hanya duduk. Dan setiap kali pulang, dia tersenyum — bukan senyum sedih; senyum orang yang menunggu sesuatu yang dia yakini datang.
Suatu Jumat, Milo memberanikan diri. Dia naik lewat tangga servis yang berderit dan berdiri canggung di mulut atap.
“Nona Seraphina. Maaf. Aku cuma... teh itu. Untuk siapa?”
Seraphina Elowen menoleh — dan menatapnya dengan cara yang aneh dan hangat, seperti menatap sepotong kenangan yang berjalan — lalu menepuk genteng di sisi lain cangkir kedua.
“Duduklah, Milo. Kau suka roti kacang merah?”
“...Bagaimana Nona tahu aku—”
“Seseorang pernah cerita.” Dia menuang cangkir ketiga, dari cadangan yang entah kenapa selalu dia bawa, dan menyerahkannya. Lalu, menatap langit sore yang mulai jingga, dia menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang akan Milo bawa seumur hidup tanpa pernah sepenuhnya paham dan tanpa pernah sepenuhnya lupa:
“Teh itu untuk orang yang selalu datang pada janji kecil. Dia sedang menempuh janji yang paling besar sekarang, jadi butuh waktu.” Dia mengangkat cangkirnya sendiri ke arah cangkir kedua, seperti bersulang dengan sore itu sendiri. “Tapi kau tahu, Milo... belakangan ini, setiap Jumat, angin di atap ini hangatnya persis seperti ada yang duduk di situ. Jadi kurasa, di mana pun dia—”
Di ujung genteng, cangkir kedua mengepul dalam cahaya sore, dan uapnya menari sebentar melawan arah angin.
“—dia datang, dengan caranya.”