← Chapters Ch. 28 / 52

Chapter Twenty Eight

Perang Datang Lebih Cepat

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 7+ — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian, Milo, Rektor Aldric, para murid


Di naskah, Eclipse datang di tahun ketiga.

Seratus dua puluh bab yang kubaca membangunnya pelan-pelan: kabar-kabar dari utara, desa yang hilang dari peta, kegelapan yang merambat seperti pasang. Cassian dan para heroine punya dua tahun untuk tumbuh, bersiap, menjadi legenda yang dibutuhkan benua. Perang itu klimaks yang dijadwalkan dengan sabar oleh penulis yang menyayangi dunianya.

Kehendak Naskah tidak menyayangi apa pun. Kehendak Naskah punya jadwal yang gagal dan anomali yang menolak mati dengan sopan.

Maka pada pagi hari keseratus dua sebelum penghapusanku — sembilan hari setelah atap, delapan hari setelah kami mulai menyusun ekspedisi keluar — aku terbangun oleh suara yang tidak seharusnya ada di bab ini: lonceng menara akademi, semuanya sekaligus, membunyikan pola yang hanya kubaca di halaman-halaman jauh di depan.

Serangan. Bukan latihan.

Aku sampai di jendela tepat saat langit utara sobek.

Tidak ada kata lain. Cakrawala di atas pegunungan terbelah seperti kain, dan dari sobekan itu, kegelapan tumpah — bukan awan, bukan asap; kegelapan yang punya tekstur, yang bergerak melawan angin, yang di dalamnya ada bentuk-bentuk bergerak yang matamu menolak menghitung. Eclipse. Dua tahun lebih awal. Menuju akademi yang setengah penghuninya belum lulus kelas sihir dasar.

[ EVENT: The Eclipse War — Chapter ??? ] [ Status: OFF SCHEDULE — force-inserted ] [ Script note: Acceptable losses recalculated. ]

Acceptable losses recalculated. Naskah menghitung ulang berapa banyak orang yang boleh mati — supaya jadwalnya kembali. Aku berdiri di jendela membaca kalimat itu dan merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan pada Naskah selama ini, melewati takut, melewati lelah:

Kebencian. Sederhana dan panas.

Karena aku tahu persis apa yang sedang terjadi. Ini bukan invasi Eclipse yang asli — yang asli punya sebab, punya jenderal, punya cerita. Ini adalah Naskah yang memajukan bencana dua tahun demi memaksa dunia kembali ke bentuk yang dia kenal: Cassian di depan, para heroine di sisinya, semua yang menyimpang ditelan perang. Dan kalau ribuan figuran ikut terbakar dalam prosesnya — acceptable losses.

Dunia ini akan dihancurkan oleh editornya sendiri, demi kerapian.


Aula utama, satu jam kemudian, adalah kekacauan yang berusaha berbaris. Rektor Aldric berdiri di podium tempat Sera dulu berpidato, dan suara tuanya memenuhi ruangan dengan ketenangan yang dipinjamkan pada semua orang: gerbang pertahanan diaktifkan, murid tahun ketiga ke tembok, tahun kedua ke titik penyokong, tahun pertama—

“—tahun pertama dan seluruh kelas F dievakuasi ke ruang bawah tanah.”

Keputusan yang benar. Keputusan naskah yang mana pun. Anak-anak tidak dikirim ke perang.

Masalahnya, aku sudah membaca perang ini — versi aslinya, dua tahun dari sekarang — dan aku tahu apa yang tidak diketahui siapa pun di aula ini: Eclipse tidak menyerang seperti pasukan. Eclipse merembes. Di naskah asli, tembok akademi bertahan gagah di depan sementara kegelapan masuk lewat tempat yang tidak dijaga siapa pun — terowongan air di bawah, gua es di tebing timur, dan ya: ruang bawah tanah, yang fondasinya menyentuh jalur air tua.

Tempat evakuasi itu adalah mulut kedua.

Aku menerobos ke depan aula — melewati murid-murid yang tidak melihatku, karena hampir tidak ada lagi yang bisa — dan hanya empat orang yang menoleh saat aku mencapai podium: Rektor, dan tiga gadis yang sudah bergerak mendekat sejak melihatku menerobos.

“Rektor. Ruang bawah tanah tidak aman. Jalur air tua di fondasi timur — Eclipse akan masuk dari sana dalam...” aku menghitung cepat dari kronologi naskah yang dipercepat, “...tiga jam, paling lama. Evakuasinya harus ke aula pelatihan barat: satu pintu masuk, batu pejal, tidak menyentuh jalur air mana pun.”

Aula senyap. Seribu pasang mata menatap podium — dan aku bisa merasakan tatapan mereka meluncur dariku, mencari siapa yang barusan bicara, menemukan tempat kosong. Seorang pengajar mengerutkan kening: “Siapa anak itu? Dari mana dia—”

“Dia,” kata Rektor Aldric, dengan suara yang menutup semua pertanyaan, “adalah murid yang laporannya paling akurat di akademi ini. Ubah rencana evakuasi. Aula barat. Sekarang.”

Dan karena tiga ratus tahun kebijaksanaan berkata begitu, dunia menurut — dan aku belajar sesuatu yang akan kupegang sampai akhir: kau tidak perlu diingat untuk didengar, selama satu orang yang tepat masih mau mendengarkan.

Sisa pagi itu menjadi hal yang paling dekat dengan pengalaman menjadi jenderal hantu. Aku tidak bisa memimpin — tidak ada yang bisa melihatku cukup lama untuk dipimpin. Jadi aku bekerja lewat empat suara: Sera, yang otoritasnya membelah kerumunan; Isolde, yang satu anggukannya menggerakkan seluruh klub pedang; Lucrezia, yang jaringan informasinya ternyata mencakup separuh staf dapur dan semua orang yang pernah diremehkan; dan Cassian — Cassian yang mendatangiku di tengah kekacauan, dengan Guidance menjerit protes di sekelilingnya seperti lalat, dan berkata lima kata yang dia bayar dengan sakit kepala membutakan sepanjang hari:

“Katakan di mana aku dibutuhkan.”

Kukatakan. Dia pergi. Titik demi titik, jam demi jam, kami menyusun ulang pertahanan akademi mengikuti peta perang yang hanya ada di kepalaku — versi asli, versi dua tahun lagi, dipetakan mundur ke tembok yang belum siap dan anak-anak yang belum lulus.

Dan saat matahari mencapai puncak, kegelapan mencapai lembah.

Dari tembok utara, kami menontonnya datang: pasang hitam yang menelan hutan tempat kami dulu ujian musim dingin, pohon demi pohon padam seperti lilin. Di sebelahku — di tembok, karena tentu saja mereka bertiga menolak semua penempatan yang bukan di sebelahku — Sera memeriksa telapak tangannya sekali, seperti orang memeriksa jimat; Isolde memutar pedangnya satu kali, gerakan kecil yang sama; Lucrezia menutup jurnalnya dan menyimpannya di balik jubah, dekat jantung.

“Ciel,” kata Milo — Milo yang tidak mengenalku, yang ditugaskan di regu logistik tembok, yang sepanjang pagi bekerja di dekatku tanpa tahu kenapa dia merasa nyaman melakukannya. Dia mengernyit ke arah kegelapan yang mendekat, lalu ke arahku, fokusnya meluncur dan kembali dan meluncur. “...Aneh. Aku mau bilang sesuatu padamu, tapi lupa apa. Padahal rasanya penting. Rasanya seperti... sudah lama mau kubilang.”

“Nanti saja bilangnya,” kataku, dan tersenyum dengan cara yang kupelajari dari semua perpisahan yang sudah lewat. “Sesudah kita menang. Janji?”

“Janji.” Dia menyeringai — seringai yang sama, dua kehidupan, tiga perkenalan. “Kau anak yang aneh, tahu tidak? Tapi anehnya bikin tenang.”

Lonceng menara berbunyi untuk terakhir kalinya. Di bawah, gerbang pertahanan menyala. Di atas, langit yang sobek melebar.

[ 101:20:15:33 ]

Seratus satu hari sisa umurku, pikirku, mengencangkan sarung tangan kebesaran yang mulai — akhirnya — hampir muat.

Ayo lihat berapa banyak orang yang bisa diselamatkan seorang typo dalam seratus satu hari.